صحيح ابن حبان ١٢٧١: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سِنَانٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَغْلِقُوا الأَبْوَابَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَخَمِّرُوا الإِنَاءَ، وَأَطْفِئُوا الْمِصْبَاحَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ غَلَقًا، وَلاَ يَحُلُّ وِكَاءً، وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً، وَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى النَّاسِ بَيْتَهُمْ.
Shahih Ibnu Hibban 1271: Abu Bakr Umar96 bin Sa’id Sinan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Ahmad bin Abu Bakar telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Malik dari Abu Az-Zubair Al Makki dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Kuncilah pintu, ikatlah ujung geriba, tutuplah wadah dan matikan lampu. Karena syetan tidak bisa membuka kunci, tidak bisa melepaskan ikatan, dan tidak bisa membuka wadah dan sesungguhnya tikus bisa membakar rumah manusia (hingga merugikan mereka).”97
صحيح ابن حبان ١٢٧٢: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَطْفِئْ مِصْبَاحَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، وَأَوْكِ سِقَاءَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرْ إِنَاءَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، وَلَوْ بِعُودٍ يُعْرَضُ عَلَيْهِ.
Shahih Ibnu Hibban 1272: Umar bin Muhammad Al Hamdani telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Amr bin Ali telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Yahya Al Qaththan telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Atha telah mengabarkan kepadaku dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kunci pintumu dan sebutlah nama Allah. Karena syetan tidak bisa membuka pintu yang terkunci. Matikan lampumu dan sebutlah nama Allah. Ikat geribamu dan sebutlah nama Allah Tutup wadah-wadahmu dan sebutlah nama Allah, meskipun dengan kayu yang kamu letakkan melintang diatasnya.”98 [95:1]
صحيح ابن حبان ١٢٧٣: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُوسَى عَبْدَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْبَعٍ، وَنَهَانَا عَنْ خَمْسٍ، إِذَا رَقَدْتَ فَأَغْلِقْ بَابَكَ، وَأَوْكِ سِقَاءَكَ، وَخَمِّرْ إِنَاءَكَ، وَأَطْفِئْ مِصْبَاحَكَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا، وَلاَ يَحُلُّ وِكَاءً، وَلاَ يَكْشِفُ غِطَاءً، وَإِنَّ الْفَأْرَةَ الْفُوَيْسِقَةَ تُحْرِقُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ، وَلاَ تَأْكُلْ بِشِمَالِكَ، وَلاَ تَشْرَبْ بِشِمَالِكَ، وَلاَ تَمْشِ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ، وَلاَ تَشْتَمِلِ الصَّمَّاءَ، وَلاَ تَحْتَبِ فِي الدَّارِ مُفْضِيًا.
Shahih Ibnu Hibban 1273: Abdullah bin Ahmad bin Musa Abdan telah mengabaikan kepada kami, ia berkata, “Muhammad bin Ma’mar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Abu Ashim telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Ibnu Juraij dari Abu Az-Zubair dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah S A W memerintahkan kepada kami empat hal dan melarang kepada kami lima hal: jika kamu hendak tidur, kuncilah pintumu, ikatlah geribamu, tutuplah wadahmu, matikan lampumu, karena syetan tidak bisa membuka pintu, tidak bisa melepaskan ikatan dan tidak bisa membuka penutup. Sesungguhnya tikus bisa membakar rumah para penghuninya. Janganlah kamu makan dengan tangan kirimu. Janganlah kamu minum dengan tangan kirimu. Jangan berjalan dengan memakai satu sandal. Jangan menyelimuti seluruh tubuh dengan pakaian dan jangan duduk memeluk lutut di rumah dengan memakai satu pakaian (hingga kemaluannya terbuka).” 36 [95: 1]
صحيح ابن حبان ١٢٧٤: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّارُ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ، قَالَ: أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَقِيلِ بْنِ مَعْقِلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: أَوْكُوا الأَسْقِيَةَ، وَغَلِّقُوا الأَبْوَابَ إِذَا رَقَدْتُمْ بِاللَّيْلِ، وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي، فَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْبَابَ مُغْلَقًا دَخَلَ، وَإِنْ لَمْ يَجِدِ السِّقَاءَ مُوكًى شَرِبَ مِنْهُ، وَإِنْ وَجَدَ الْبَابَ مُغْلَقًا وَالسِّقَاءَ مُوكًى لَمْ يَحْلِلْ وِكَاءً وَلَمْ يَفْتَحْ بَابًا مُغْلَقًا، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ لِإِنَائِهِ الَّذِي فِيهِ شَرَابُهُ مَا يُخَمِّرُهُ، فَلْيَعْرِضْ عَلَيْهِ عُودًا.
Shahih Ibnu Hibban 1274: Al Hasan bin Sufyan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Al Hasan bin Ash-Shabbah Al Bazzar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Isma’il bin Abdul Karim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Ibrahim bin Aqil bin Ma’qil telah mengabarkan kepadaku dari ayahnya dari Wahab bin Munabbih, ia berkata, “Jabir bin Abdullah telah mengabarkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ujung geriba (wadah air). Kuncilah pintu jika kamu hendak tidur malam. Tutuplah makanan dan minuman. Karena syetan akan datang. Jika ia menemukan pintu tidak terkunci, maka ia akan masuk. Jika ia menemukan geriba tidak diikat, ia akan meminum (air) nya. Jika ia menemukan pintu terkunci dan geriba (wadah air) terikat, ia tidak akan bisa melepas ikatan dan tidak akan bisa membuka pintu yang terkunci. Jika salah seorang dari kalian tidak menemukan sesuatu yang menutupi wadah tempat air minumnya, maka hendaklah ia meletakkan kayu yang melintang diatasnya.”100 [95:1]
صحيح ابن حبان ١٢٧٥: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ فِطْرِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: غَلَّقُوا أَبْوَابَكُمْ، وَأَوْكُوا أَسْقِيَتَكُمْ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ، وَأَطْفِئُوا سُرُجَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ غَلَقًا، وَلاَ يَحُلُّ وِكَاءً، وَلاَ يَكْشِفُ غِطَاءً، وَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا أَضْرَمَتْ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ، وَكُفُّوا فَوَاشِيَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ عِنْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى أَنْ تَذْهَبَ فَجْوَةُ الْعِشَاءِ.
Shahih Ibnu Hibban 1275: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Jarir telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Fithr bin Khalifah dari Abu Az-Zubair dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Kunci pintu-pintumu, ikat geriba-geribamu, tutup wadah-wadahmu dan matikan lampumu. Karena syetan tidak bisa membuka kunci, tidak bisa melepas ikatan dan tidak bisa membuka penutup. Dan sesungguhnya tikus terkadang membakar rumah penghuninya Laranglah binatang- binatang peliharaanmu101 dan keluargamu ketika matahari terbenam agar tidak bepergian ketika malam sangat gelap. ”102 [95:1]
صحيح ابن حبان ١٢٧٦: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ حَبِيبٍ الْمُعَلِّمِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُفُوا فَوَاشِيَكُمْ حَتَّى تَذْهَبَ فَزْعَةُ الْعِشَاءِ، فَإِنَّهَا سَاعَةٌ يَخْتِرَقُ فِيهَا الشَّيْطَانُ.
Shahih Ibnu Hibban 1276: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Ibrahim bin Al Hajjaj telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Habib Al Mu’allim dari Atha’ bin Abu Rabah dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Laranglah binatang-binatang (berkeliaran) hingga berlalunya Isya yang mencekam.104 Karena sesungguhnya ini adalah saat di mana syetan sedang terbakar (semangatnya). ” 105 [95:1]
صحيح ابن حبان ١٢٧٧: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْكَبِيرِ بْنُ عُمَرَ الْخَطَّابِيُّ، بِالْبَصْرَةِ بِخَبَرٍ غَرِيبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْكَرْمَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ تَغْلِبَ، عَنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ، قَالَ: كَتَبَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِشَهْرٍ: أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ.
Shahih Ibnu Hibban 1277: Abdul Qadir bin Umar Al Khithabi di Bashrah telah mengabarkan kepada kami dengan hadits yang gharib (tanpa didukung oleh periwayat lain), ia berkata, “Bisyr bin Ali Al Kirmani telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Hassan bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aban bin Taghlib telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Hakam bin Abdurrahman bin Abu Ya’la dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menulis surat kepada kami satu bulan sebelum meninggalnya, “Janganlah kalian memanfaatkan dari bangkai dengan (mengambil) kulit dan urat syarafnya.” 106 [106:2]
صحيح ابن حبان ١٢٧٨: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ الْجُهَنِيِّ، قَالَ: قُرِئَ عَلَيْنَا كِتَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ بِأَرْضِ جُهَيْنَةَ: أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ.
Shahih Ibnu Hibban 1278: Abdullah bin Muhammad Al Azdi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “An-Nadhr bin Syumail telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Syu’bah telah menceritakan kepada kami ia berkata, “Al Hakam telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku mendengar Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan dari Abdullah bin Ukaim Al Juhani, ia berkata, “Dibacakan kepada kami surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kami sedang berada di bumi Juhainah, “ Janganlah kalian memanfaatkan dari bangkai dengan mengambil kulit dan urat sarafnya. ” 107 [106:2]
صحيح ابن حبان ١٢٧٩: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَشْيَخَةٌ لَنَا مِنْ جُهَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَيْهِمْ: أَنْ لاَ تَسْتَمْتِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِشَيْءٍ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: هَذِهِ اللَّفْظَةُ حَدَّثَنَا مَشْيَخَةٌ لَنَا مِنْ جُهَيْنَةَ، أَوْهَمَتْ عَالَمًا مِنَ النَّاسِ أَنَّ الْخَبَرَ لَيْسَ بِمُتَّصِلٍ، وَهَذَا مِمَّا نَقُولُ فِي كُتُبِنَا:إِنَّ الصَّحَابِيَّ قَدْ يَشْهَدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَسْمَعُ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ يَسْمَعُ ذَلِكَ الشَّيْءَ عَنْ مَنْ هُوَ أَعْظَمُ خَطَرًا مِنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرَّةً يُخْبِرُ عَمَّا شَاهَدَ، وَأُخْرَى يَرْوِي عَمَّنْ سَمِعَ، أَلاَ تَرَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ شَهِدَ سُؤَالَ جِبْرِيلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الإِيمَانِ، وَسَمِعَهُ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَمَرَّةً أَخْبَرَ بِمَا شَاهَدَ، وَمَرَّةً رَوَى عَنْ أَبِيهِ مَا سَمِعَ، فَكَذَلِكَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُكَيْمٍ شَهِدَ كِتَابَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قُرِئَ عَلَيْهِمْ فِي جُهَيْنَةَ، وَسَمِعَ مَشَايِخَ جُهَيْنَةَ يَقُولُونَ ذَلِكَ، فَأَدَّى مَرَّةً مَا شَهِدَ، وَأُخْرَى مَا سَمِعَ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ فِي الْخَبَرِ انْقِطَاعٌ، وَمَعْنَى خَبَرِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ: أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ، وَلاَ عَصَبٍ يُرِيدُ بِهِ قَبْلَ الدِّبَاغِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى صِحَّتِهِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.
Shahih Ibnu Hibban 1279: Al Husain bin Abdullah Al Qaththan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Shadaqah bin Khalid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Al Qasim bin Mukhaimirah dari Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata,' Para syaikh kami telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Juhainah, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menulis surat kepada mereka yang isinya, Janganlah kalian mengambil manfaat sedikitpun dari bangkai.” [106:2] Abu Hatim RA berkata, “Lafazh حَدَّثَنَا مَشْيَخَةٌ لَنَا مِنْ جُهَيْنَةَ memberikan kesan kepada segenap manusia bahwa hadits ini tidak bersambung sanadnya. Ini termasuk yang sering kami ungkapkan di beberapa hadits kami, “Sesungguhnya seorang sahabat terkadang menyaksikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mendengar hadits dari beliau. Kemudian ia mendengar hadits yang sama dari orang yang lebih tinggi derajatnya109 yang mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun dalam waktu yang lain, ia meriwayatkan apa yang ia dengar dari orang yang lebih tinggi derajatnya. Tidakkah anda perhatikan bahwa Ibnu Umar menyaksikan langsung pertanyaan Jibril kepada Rasulullah tentang keimanan, dan ia juga mendengar itu dari Umar bin Khaththab. Dalam hal ini, satu waktu ia mengabarkan apa yang ia saksikan bersama Nabi. Namun dalam waktu yang lain ia meriwayatkan dari ayahnya apa yang ia dengar. Demikian pula halnya dengan Abdullah bin Ukaim. Ia menyaksikan langsung tulisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat tulisan itu dibacakan kepada mereka di Juhainah110, namun ia juga mendengar para syaikh (tokoh senior) Juhainah mengatakan isi tulisan itu. Maka ia pun pada satu waktu menyampaikan apa yang ia saksikan dan pada waktu yang lain menyampaikan apa yang ia dengar. Jadi tidak ada keterputusan sanad dalam hadits ini. Makna dari hadits Abdullah bin Ukaim yang berbunyi: أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ “Jangan memanfaatkan dari bangkai dengan mengambil kulit dan urat sarafnya bila belum disimak (dicuci dan dibersihkan). Dalil yang mendukung keshahihan makna di atas adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ artinya, “Kulit apa saja yang sudah disamak, maka (hukumnya) suci. ”
صحيح ابن حبان ١٢٨٠: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْجُنَيْدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: مَاتَتْ شَاةٌ لَزَوْجَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ، فَقَالَ: أَلاَ انْتَفَعْتُمْ بِمَسْكِهَا؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ مَسْكُ مَيْتَةٍ؟ قَالَ: فَقَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ لاَ أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً} إِلَى آخِرِ الآيَةِ، إِنَّكُمْ لَسْتُمْ تَأْكُلُونَهُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَبَعَثَتْ إِلَيْهَا، فَسُلِخَتْ، فَجَعَلَتْ مِنْ مَسْكِهَا قِرْبَةً، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَرَأَيْتُهَا بَعْدَ سَنَةٍ.
Shahih Ibnu Hibban 1280: Muhammad bin Abdullah bin Al Junaid telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Al Ahwash telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata, Seekor domba milik istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mati. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepadanya. Kemudian ia memberitahukan (kematian dombanya) kepada beliau112. Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak manfaatkan kulitnya?”. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah! Bukankah itu kulit bangkai?”. Ibnu Abbas berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat قُلْ لاَ أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً Katakanlah,“Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai” (Qs. Al An’aam [6]: 145) —sampai akhir ayat—; Sungguh, kalian tidak memakannya (namun sekedar memanfaatkan kulitnya, penterj). Ibnu Abbas berkata, “Lalu aku mengutus orang ke sana. Istri Nabi pun menguliti bangkai itu, lalu ia mengolah kulitnya menjadi sebuah geriba (wadah air)”. Ibnu Abbas berkata, “Aku masih melihatnya setahun yang lalu.”113 [46:4]