صحيح ابن حبان ١١١٨: أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْمُعَدَّلُ بِالْفُسْطَاطِ، وَعِمْرَانُ بْنُ فَضَالَةَ الشَّعِيرِيُّ بِالْمَوْصِلِ، قَالاَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ، وَنَافِعِ بْنِ أَبِي نُعَيْمٍ الْقَارِئِ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إِلَى فَرْجِهِ، وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا سِتْرٌ وَلاَ حِجَابٌ، فَلْيَتَوَضَّأْ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: احْتِجَاجُنَا فِي هَذَا الْخَبَرِ بِنَافِعِ بْنِ أَبِي نُعَيْمٍ دُونَ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ النَّوْفَلِيِّ لأَنَّ يَزِيدَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ تَبَرَّأْنَا مِنْ عُهْدَتِهِ فِي كِتَابِ الضُّعَفَاءِ.
Shahih Ibnu Hibban 1118: Ali bin Al Husain bin Sulaiman Al Mu'addal di Fusthath dan Imran bin Fadhalah Asy-Sya’iri di Moshil (Irak utara, Gd) mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ahmad bin Sa’id Al Hamdani menceritakan kepada kami, ia berkata: Ashbagh bin Al Faraj menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Al Qasim menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abdul Malik dan Nah’ bin Abu Nu’aim Al Qari’ dari Al Maqburi, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Apab salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya dengan tangannya dan tidak ada tabir di antara keduanya dan juga tidak ada penghalang, maka hendaklah ia berwudhu.” 37 [1:23] Abu Hatim RA berkata, “Pengambilan hujjah kami pada hadits ini didasarkan pada Nafi’ bin Abu Nu’aim bukan Yazid bin Abdul Malik An-Naufali, karena Yazid bin Abdul Malik telah kami bebaskan dari kedhaifannya. di dalam kitab Adh-Dhu ’afa 38
مسند الشافعي ١١١٨: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْمَجِيدِ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «مَنْ أَصَابَهُ رُعَافٌ، أَوْ مَنْ وَجَدَ رُعَافًا، أَوْ مَذْيًا أَوْ قَيْئًا انْصَرَفَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ فَبَنَى»
Musnad Syafi'i 1118: Abdul Majid mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, ia mengatakan: Barangsiapa yang terkena mimisan atau mengalami mimisan atau mengeluarkan madzi atau muntah, hendaklah ia pergi, lalu berwudhu, kemudian kembali dan melanjutkan shalatnya. 364
صحيح ابن حبان ١١١٩: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ الشَّيْبَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ نَصْرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مُلاَزِمُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَدْرٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجْنَا وَفْدًا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، مَا تَقُولُ فِي مَسِّ الرَّجُلِ ذَكَرَهُ بَعْدَمَا يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ: هَلْ هُوَ إِلاَّ مُضْغَةٌ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1119: Al Hasan bin Sufyan Asy-Syaibani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Nashr bin Ali bin Nashr menceritakan kepada kami, ia berkata: Mulazim bin Amru mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Badar, dari Qais bin Thalq, dari ayahnya, ia berkata: Kami pernah keluar sebagai utusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu seseorang datang dan bertanya: “Wahai Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa menurut pendapat engkau tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah ia berwudhu?” Beliau balik bertanya, “Bukankah kemaluannya itu hanya sekerat daging dari orang tersebut? ”39 [1:23]
صحيح ابن حبان ١١٢٢: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُلاَزِمُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: حَدَّثَنَا جَدِّي عَبْدُ اللهِ بْنُ بَدْرٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: بَنَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ فَكَانَ يَقُولُ: قَدِّمُوا الْيَمَامِي مِنَ الطِّينِ، فَإِنَّهُ مِنْ أَحْسَنِكُمْ لَهُ مَسًّا.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَبَرُ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ خَبَرٌ مَنْسُوخٌ، لأَنَّ طَلْقَ بْنَ عَلِيٍّ كَانَ قُدُومُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ سَنَةٍ مِنْ سِنِيِّ الْهِجْرَةِ، حَيْثُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَبْنُونَ مَسْجِدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ. وَقَدْ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ إِيجَابَ الْوُضُوءِ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ، عَلَى حَسَبِ مَا ذَكَرْنَاهُ قَبْلُ وَأَبُو هُرَيْرَةَ أَسْلَمَ سَنَةَ سَبْعٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ خَبَرَ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ بَعْدَ خَبَرِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ بِسَبْعِ سِنِينَ.
Shahih Ibnu Hibban 1122: Al Fadhl bin Al Hubab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Musaddad bin Musarhad menceritakan kepada kami, ia berkata: Mulazim bin Amru menceritakan kepada kami, ia berkata: kakekku Abdullah bin Badar menceritakan kepada kami, dari Qais bin Thalq, dari ayahnya, ia berkata: Aku membangun Masjid Madinah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu saat itu beliau bersabda, “Serahkanlah urusan pengolahan tanah ini kepada orang Yamami, karena sesungguhnya ia adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam mengolahnya.”42 [1:23] Abu Hatim RA berkata, “Hadits Thalq bin Ali yang telah kami sebutkan itu adalah hadits yang telah dihapus (mansukh), karena kedatangan Thalq bin Ali kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terjadi pada permulaan tahun hijriyah, ketika kaum muslimin membangun masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (Masjid Nabawi) di Madinah. Dan Abu Hurairah sungguh meriwayatkan mengenai wajibnya wudhu karena menyentuh kemaluan, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya. Sedangkan Abu Hurairah masuk Islam pada tahun 7 Hijriyah. Maka dengan demikian menunjukkan bahwa hadits Abu Hurairah terjadi sekitar 7 tahun setelah hadits Thalq bin Ali. 43
صحيح ابن حبان ١١٢٣: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُلاَزِمُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بَدْرٍ الْحَنَفِيُّ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجْنَا سِتَّةً وَفْدًا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَمْسَةٌ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ وَرَجُلٌ مِنْ بَنِي ضُبَيْعَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَايَعْنَاهُ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ، وَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّ بِأَرْضِنَا بَيْعَةً لَنَا، وَاسْتَوْهَبْنَاهُ مِنْ فَضْلِ طُهُورِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهُ وَتَمَضْمَضَ، وَصَبَّ لَنَا فِي إِدَاوَةٍ، ثُمَّ قَالَ: اذْهَبُوا بِهَذَا الْمَاءِ، فَإِذَا قَدِمْتُمْ بَلَدَكُمْ، فَاكْسِرُوا بِيعَتَكُمْ، ثُمَّ انْضَحُوا مَكَانَهَا مِنْ هَذَا الْمَاءِ، وَاتَّخِذُوا مَكَانَهَا مَسْجِدًا، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْبَلَدُ بَعِيدٌ، وَالْمَاءُ يَنْشَفُ، قَالَ: فَأَمِدُّوهُ مِنَ الْمَاءِ، فَإِنَّهُ لاَ يَزِيدُهُ إِلاَّ طِيبًا. فَخَرَجْنَا فَتَشَاحَحْنَا عَلَى حَمْلِ الإِدَاوَةِ، أَيُّنَا يَحْمِلُهَا، فَجَعَلَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَوْبًا لِكُلِّ رَجُلٍ مِنَّا يَوْمًا وَلَيْلَةً، فَخَرَجْنَا بِهَا حَتَّى قَدِمْنَا بَلَدَنَا فَعَمِلْنَا الَّذِي أَمَرَنَا، وَرَاهِبُ ذَلِكَ الْقَوْمِ رَجُلٌ مِنْ طَيِّئٍ، فَنَادَيْنَا بِالصَّلاَةِ، فَقَالَ الرَّاهِبُ: دَعْوَةُ حَقٍّ، ثُمَّ هَرَبَ فَلَمْ يُرَ بَعْدُ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: فِي هَذَا الْخَبَرِ بَيَانٌ وَاضِحٌ أَنَّ طَلْقَ بْنَ عَلِيٍّ رَجَعَ إِلَى بَلَدِهِ بَعْدَ الْقِدْمَةِ الَّتِي ذَكَرْنَا وَقْتَهَا، ثُمَّ لاَ يُعْلَمُ لَهُ رُجُوعٌ إِلَى الْمَدِينَةِ بَعْدَ ذَلِكَ. فَمَنِ ادَّعَى رُجُوعَهُ بَعْدَ ذَلِكَ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَأْتِيَ بِسُنَّةٍ مُصَرِّحَةٍ، وَلاَ سَبِيلَ لَهُ إِلَى ذَلِكَ.
Shahih Ibnu Hibban 1123: Abu Khalifah mengabarkan kepada kami ia berkata: Musaddad menceritakan kepada kami, ia berkata: Mulazim bin Amru menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Badar Al Hanafi menceritakan kepada kami, dari Qais bin Thalq, dari ayahnya, ia berkata: Kami pernah datang bersama enam orang utusan menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lima orang berasal dari Bani Hanifah dan satu orang dari Bani Dhubai’ah bin Rabi’ah, hingga kami sampai di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah kami berbai’at kepada beliau, maka kami ikut shalat bersama beliau. Kemudian kami beri tahukan kepada beliau bahwa di desa kami ada sebuah biara. Kami mohon kepada beliau agar diberikan kepada kami sisa air wudhu beliau, kemudian meminta diambilkan satu bejana air. Setelah berwudhu dan berkumur-kumur, maka sisanya dimasukkan ke dalam idaawah (bejana kecil yang terbuat dari kulit) lalu beliau bersabda, “Pulanglah kalian dengan membawa air ini. Apabila telah sampai di negeri kalian, hancurkanlah biara kalian, kemudian siramlah tempatnya dengan air ini, lalu bangunlah di atasnya sebuah masjid.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Sesungguhnya negeri kami itu jauh dan udaranya sangat panas, karena itu kami takut bila air ini akan mengering”. Beliau bersabda, “Tambahkanlah air lain, sesungguhnya air itu akan menjadi jernih.” Kemudian kami pun segera pulang. (Namun) kami saling berebutan membawa idaawah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatur giliran untuk tiap-tiap orang dari kami sehari semalam. Lalu kami pulang dengan membawa idaawah hingga kami tiba di negeri kami. Setibanya, kami pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami. Sementara ada seorang pendeta di desa kami yang berasal dari suku Thayyi'. Setelah itu kami mengumandangkan adzan. Sang pendeta berkata, “Sesungguhnya seruan ini adalah seruan kepada kebenaran.” Setelah itu ia pergi dan tidak pernah terlihat lagi.” 44 [1:23] Abu Hatim RA berkata, “Pada hadits ini terdapat keterangan yang sangat jelas bahwa Thalq bin Ali kembali ke negerinya setelah kedatangannya yang telah kami jelaskan waktunya. Kemudian setelah itu tidak ada yang mengetahui kembalinya Thalq ke Madinah. Maka barangsiapa yang berargumen tentang kembalinya ia ke Madinah, maka ia wajib untuk menunjukkan bukti tahun kedatangannya yang jelas, karena tidak ada jalan lain lagi selain itu untuk membuktikan pernyataannya.”
صحيح ابن حبان ١١٢٤: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ الْعَقَدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَوْهَبٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ، وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَتَوَضَّأْ، قَالَ: أَنَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ؟ قَالَ نَعَمْ، قَالَ: أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الإِبِلِ؟ قَالَ: لاَ.
Shahih Ibnu Hibban 1124: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Mu’adz Al Aqadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Awanah menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab, dari Ja'far bin Abu Tsaur, dari Jabir bin Samurah, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah kami harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Beliau menjawab: “Jika kamu mau, maka berwudhulah. Dan jika tidak, maka tidak usah berwudhu.” Orang itu bertanya kembali, “Apakah kami harus berwudhu setelah makan daging unta?”. Beliau menjawab, “Iya”. Orang itu bertanya, “Apakah kami boleh shalat di kandang unta?”. Beliau menjawab, “Tidak boleh."45 [3:65]
صحيح ابن حبان ١١٢٥: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَوَضَّأَ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ، وَلاَ نَتَوَضَّأَ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ.
Shahih Ibnu Hibban 1125: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Asy’ats bin Abu Asy-Sya’tsa', dari Ja’far bin Abu Tsaur, dari Jabir bin Samurah, ia berkata, "‘Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami berwudhu karena makan daging unta. Dan beliau tidak memerintahkan kami berwudhu karena makan daging kambing.” 46 [1:100]
صحيح ابن حبان ١١٢٦: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ثَوْرِ بْنَ عِكْرِمَةَ بْنِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِي مَبَاتِ الْغَنَمِ، فَرَخَّصَ فِيهَا، وَسُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِي مَبَاتِ الإِبِلِ فَنَهَى عَنْهَا، وَسُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ، فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ، وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَتَوَضَّأْ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَبُو ثَوْرِ بْنُ عِكْرِمَةَ بْنِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ اسْمُهُ: جَعْفَرٌ، وَكُنْيَةُ أَبِيهِ: أَبُو ثَوْرٍ، فَجَعْفَرُ بْنُ أَبِي ثَوْرٍ هُوَ: أَبُو ثَوْرِ بْنُ عِكْرِمَةَ بْنِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَوَى عَنْهُ عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَوْهَبٍ، وَأَشْعَثُ بْنُ أَبِي الشَّعْثَاءِ، وَسِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ. فَمَنْ لَمْ يُحْكِمْ صِنَاعَةَ الْحَدِيثِ تَوَهَّمَ أَنَّهُمَا رَجُلاَنِ مَجْهُولاَنِ، فَتَفَهَّمُوا رَحِمَكُمُ اللَّهُ كَيْلاَ تُغَالِطُوا فِيهِ.
Shahih Ibnu Hibban 1126: Abdullah bin Muhammad Al Azdi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, ia berkata: An-Nadhr bin Syumail mengabarkan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Simak, ia berkata: Aku mendengar Abu Tsaur bin47 Ikrimah bin Jabir bin Samurah, dari Jabir bin Samurah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, maka beliau meringankan (membolehkan) shalat di dalam kandang kambing. Beliau di tanya tentang shalat di kandang unta, beliau melarangnya. Beliau ditanya tentang wudhu karena makan daging kambing, maka beliau bersabda, “Jika kamu mau, maka berwudhulah. Dan jika kamu tidak mau, maka tidak usah berwudhu.,/i>”48 [1:100] Abu Hatim RA berkata, Abu Tsaur bin Ikrimah bin Jabir bin Samurah; namanya adalah Ja’far. Julukan ayahnya adalah Abu Tsaur. Ja’far bin Abu Tsaur adalah Abu Tsaur bin Ikrimah bin Jabir bin Samurah. la diriwayatkan oleh Utsman bin Abdullah bin Mauhab, Asy’ats bin Abu Asy-Sya’tsa', dan Simak bin Harb. Maka orang yang tidak memiliki kedalaman ilmu hadits akan menyangka bahwa keduanya adalah orang yang tidak dikenal. Maka dari itu perdalamlah ilmu kalian, mudah-mudahan Allah SWT mengasihi kalian, agar kalian tidak mengalami kekeliruan.
مسند الشافعي ١١٢٦: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ يَنَامُ وَهُوَ قَاعِدٌ ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ
Musnad Syafi'i 1126: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi', dari Ibnu Umar: Bahwa ia pernah tidur sambil duduk, kemudian shalat tanpa berwudhu lagi. 368
مسند الشافعي ١١٢٧: أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ نَامَ مُضْطَجِعًا وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ، وَمَنْ نَامَ جَالِسًا فَلَا وُضُوءَ عَلَيْهِ»
Musnad Syafi'i 1127: Orang yang terpercaya menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar , ia mengatakan: Barangsiapa yang tidur dengan berbaring, wajib baginya berwudhu lagi; dan barangsiapa yang tidur sambil duduk, maka tidak wajib mengulang wudhu baginya. 369