Hasil Pencarian: wudhu 1334 Hadits

Shahih Ibnu Hibban #1106

صحيح ابن حبان ١١٠٦: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ، أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَمَرَهُ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ إِذَا دَنَا مِنْ أَهْلِهِ فَخَرَجَ مِنْهُ الْمَذْيُ مَاذَا عَلَيْهِ‏؟‏ فَإِنْ عِنْدِي ابْنَتَهُ وَأَنَا أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَهُ، قَالَ الْمِقْدَادُ‏:‏ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ‏:‏ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ ذَلِكَ، فَلْيَنْضَحْ فَرْجَهُ، وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ‏:‏ قَدْ يَتَوَهَّمُ بَعْضُ الْمُسْتَمِعِينَ لِهَذِهِ الأَخْبَارِ مِمَّنْ لَمْ يَطْلُبِ الْعِلْمَ مِنْ مَظَانِّهِ، وَلاَ دَارَ فِي الْحَقِيقَةِ عَلَى أَطْرَافِهِ، أَنْ بَيْنَهَا تَضَادًّا أَوْ تَهَاتُرًا، لأَنَّ فِي خَبَرِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ‏:‏ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏ وَفِي خَبَرِ إِيَاسِ بْنِ خَلِيفَةَ، أَنَّهُ أَمَرَ عَمَّارًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏وَفِي خَبَرِ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ أَمَرَ الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏ وَلَيْسَ بَيْنَهَا تَهَاتُرٌ، لأَنَّهُ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَمَرَ عَمَّارًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ، ثُمَّ أَمَرَ الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَهُ، فَسَأَلَهُ، ثُمَّ سَأَلَ بِنَفْسِهِ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالدَّلِيلُ عَلَى صِحَّةِ مَا ذَكَرْتُ أَنْ مَتْنَ كُلِّ خَبَرٍ يُخَالِفُ مَتْنَ الْخَبَرِ الآخَرِ، لأَنَّ فِي خَبَرِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ‏:‏ إِذَا رَأَيْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ‏.‏ وَفِي خَبَرِ إِيَاسِ بْنِ خَلِيفَةَ‏:‏ أَنَّهُ أَمَرَ عَمَّارًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ‏:‏ يَغْسِلُ مَذَاكِيرَهُ وَيَتَوَضَّأُ، وَلَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ الْمَنِيِّ الَّذِي فِي خَبَرِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ‏.‏ وَخَبَرُ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ سُؤَالٌ مُسْتَأْنَفٌ، فَيَسْأَلُ أَنَّهُ لَيْسَ بِالسُّؤَالَيْنِ الأَوَّلَيْنِ اللَّذَيْنِ ذَكَرْنَاهُمَا، لأَنَّ فِي خَبَرِ الْمِقْدَادِ‏:‏ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَمَرَهُ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ إِذَا دَنَا مِنْ أَهْلِهِ فَخَرَجَ مِنْهُ الْمَذْيُ مَاذَا عَلَيْهِ‏؟‏ فَإِنْ عِنْدِي ابْنَتَهُ‏.‏ فَذَلِكَ مَا وَصَفْنَا، عَلَى أَنَّ هَذِهِ أَسْئِلَةٌ مُتَبَايِنَةٌ، فِي مَوَاضِعَ مُخْتَلِفَةٍ، لِعِلَلٍ مَوْجُودَةٍ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهَا تَضَادُّ أَوْ تَهَاتُرٌ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1106: Abu Khalifah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al Qa’nabi menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Abu An-Nadhr maula Umar bin Ubaidullah, dari Sulaiman bin Y asar, dari Al Miqdad bin Al Aswad, bahwa Ali bin Abu Thalib menyuruhnya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang yang jika didatangi oleh istrinya maka ia keluar madzi, apakah yang harus ia perbuat (mandi ataukah wudhu saja)? Karena istriku adalah putri beliau, sehingga aku merasa malu bertanya (langsung) kepada beliau. Al Miqdad berkata, Maka aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal tersebut Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, "Apabila (salah seorang dari kalian) mendapatkan madzi tersebut, maka hendaklah ia mencuci kemaluannya, dan berwudhulah sebagaimana ia berwudhu untuk mengerjakan shalat.”22 [3:65] Abu Hatim RA berkata, “Sungguh ada sebagian orang yang mendengar hadits-hadits ini menduga, yakni orang yang tidak pernah menuntut ilmu dari tempat-tempat yang diduganya dan tidak memiliki kedalaman hadits, bahwa di antara hadits-hadits tersebut terjadi kontradiksi. Karena di dalam hadits Abu Abdurrahman As-Sulami tertulis: “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” Di dalam hadits Iyas bin Khalifah tertulis bahwa Ali menyuruh Ammar untuk bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan di dalam hadits Sulaiman bin Yasar tertulis bahwa Ali menyuruh Al Miqdad untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya di antara ketiga hadits tersebut tidak ada pertentangan. Karena hadits itu mengandung pengertian bahwa (pertama-tama) Ali menyuruh Ammar bertanya kepada Nabi, lalu ia pun menyampaikan pertanyaannya. Kemudian Ali menyuruh Al Miqdad bertanya kepada beliau, lalu ia menyampaikan pertanyaannya. Dan terakhir Ali sendiri yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalil yang melandasi argumen kami ini adalah, bahwa matan tiap-tiap hadits itu berbeda dengan matan hadits lainnya. Karena pada hadits Abdurrahman menggunakan lafazh, “Aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi, lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersabda, “Apabila kamu melihat (mengeluarkan) mani maka mandilah. ” Pada hadits Iyas bin Khalifah menggunakan lafazh, “Bahwa Ali menyuruh Ammar untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang madzi. Maka beliau menjawab, “Hendaknya ia membasuh kemaluannya kemudian berwudhu. ”. Dan tidak ada pada hadits itu yang menyebut kata “mani” sebagaimana yang terdapat pada hadits Abu Abdurrahman. Sedangkan hadits Al Miqdad bin Al Aswad berisi pertanyaan baru yang tidak ada pada dua pertanyaan sebelumnya, karena haditsnya berbunyi, “Bahwa Ali bin Abu Thalib menyuruh Al Miqdad bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang yang jika didatangi oleh istrinya maka ia keluar madzi, apakah yang harus ia perbuat (mandi ataukah wudhu saja)?. Karena istriku adalah putri beliau.” Demikianlah yang kami sifatkan, bahwa pertanyan-pertanyaan tersebut saling menjelaskan di tempat-tempat yang berbeda, dan sama sekali tidak menunjukkan adanya kontradiksi di antara ketiga hadits tersebut.

Shahih Ibnu Hibban #1107

صحيح ابن حبان ١١٠٧: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ الْحَذَّاءُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الرُّكَيْنُ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ عَمِيلَةَ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ‏:‏ كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، فَجَعَلْتُ أَغْتَسِلُ فِي الشِّتَاءِ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ ذُكِرَ لَهُ، فَقَالَ‏:‏ لاَ تَفْعَلْ، إِذَا رَأَيْتَ الْمَذْيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ، وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، وَإِذَا نَضَحْتَ الْمَاءَ، فَاغْتَسِلْ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1107: Umar bin Muhammad Al Hamdani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata: Abidah bin Humaid Al Hadzdza menceritakan kepada kami, ia berkata: Ar-Rukain bin Ar-Rabi’ bin Amilah menceritakan kepada kami, dari Hushain bin Qabishah, dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata: Aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka aku selalu mandi, sehingga punggungku terasa mau pecah. Karena itu, hal tersebut aku sampaikan -atau disampaikan-, kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kamu lakukan, apabila kamu melihat (mengeluarkan) madzi maka basuhlah kemaluanmu kemudian berwudhulah seperti wudhu untuk mengerjakan shalat. Dan apabila kamu mengeluarkan mani maka mandilah."23 [4:49]

Shahih Ibnu Hibban #1112

صحيح ابن حبان ١١١٢: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِدْرِيسَ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ، يَقُولُ‏:‏ دَخَلْتُ عَلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَذَكَرْنَا مَا يَكُونُ مِنْهُ الْوُضُوءُ، فَقَالَ مَرْوَانُ‏:‏ أَخْبَرَتْنِي بُسْرَةُ بِنْتُ صَفْوَانَ، أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ عَائِذٌ بِاللَّهِ أَنْ نَحْتَجَّ بِخَبَرٍ رَوَاهُ مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ وَذَوُوهُ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِنَا، لَأَنَّا لاَ نَسْتَحِلُّ الاِحْتِجَاجَ بِغَيْرِ الصَّحِيحِ مِنْ سَائِرِ الأَخْبَارِ، وَإِنْ وَافَقَ ذَلِكَ مَذْهَبَنَا، وَلاَ نَعْتَمِدُ مِنَ الْمَذَاهِبِ إِلاَّ عَلَى الْمُنْتَزَعِ مِنَ الآثَارِ، وَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ قَوْلَ أَئِمَّتِنَا‏.‏وَأَمَّا خَبَرُ بُسْرَةَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ، فَإِنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ سَمِعَهُ مِنْ مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ، عَنْ بُسْرَةَ، فَلَمْ يُقْنِعْهُ ذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ مَرْوَانُ شُرْطِيًّا لَهُ إِلَى بُسْرَةَ فَسَأَلَهَا، ثُمَّ آتَاهُمْ فَأَخْبَرَهُمْ بِمِثْلِ مَا قَالَتْ بُسْرَةُ، فَسَمِعَهُ عُرْوَةُ ثَانِيًا عَنِ الشُّرْطِيِّ، عَنْ بُسْرَةَ، ثُمَّ لَمْ يُقْنِعْهُ ذَلِكَ حَتَّى ذَهَبَ إِلَى بُسْرَةَ فَسَمِعَ مِنْهَا، فَالْخَبَرُ عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ بُسْرَةَ مُتَّصِلٌ لَيْسَ بِمُنْقَطِعٍ، وَصَارَ مَرْوَانُ وَالشُّرْطِيُّ كَأَنَّهُمَا عَارِيَتَانِ يَسْقُطَانِ مِنَ الإِسْنَادِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1112: Al Husain bin Idris Al Anshari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazam, bahwa ia mendengar Urwah bin Az-Zubair berkata: Aku pernah masuk menemui Marwan bin Al Hakam lalu kami menceritakan sesuatu perihal wudhu. Maka Marwan berkata: Busrah binti Shafwan mengabarkan kepada saya, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu."30. [1:23] Abu Hatim RA berkata, “Kami berlindung kepada Allah SWT dari mengambil dalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Marwan bin Al Hakam dan menempatkannya pada sesuatu di kitab-kitab kami. Karena kami tidak akan melepas suatu dalil dengan yang bukan shahih dari seluruh hadits-hadits, sekalipun hadits tersebut sejalan dengan madzhab kami. Dan kami tidak akan berpegang kepada suatu madzhab kecuali jika madzhab tersebut melepaskan diri dari hadits-hadits tersebut, sekalipun hal itu bertentangan dengan pendapat para imam kami. Adapun hadits Busrah yang telah kami sampaikan di atas, sesungguhnya. Urwah bin Az-Zubair mendengar hadits tersebut dari Marwan bin Al Hakam, dari Busrah. Lalu hal itu tidak membuatnya puas hingga Marwan mengutus Asy-Syurthi menemui Busrah dan bertanya kepadanya. Kemudian Marwan mendatangi mereka dan mengabari mereka dengan perkataan yang sama seperti yang dikatakan Busrah. Maka Urwah mendengarkan Marwan untuk kedua kalinya dari Asy-Syurthi, dari Busrah. Kemudian hal itu juga tidak membuat Urwah merasa puas hingga ia pergi menemui Busrah dan mendengar langsung darinya. Maka hadits dari Urwah, dari Busrah, sanadnya muttashil, bukan munqathi31 Sedangkan Marwan dan Asy-Syurthiy seakan-akan keduanya terputus dari sanad.

Shahih Ibnu Hibban #1113

صحيح ابن حبان ١١١٣: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ مُسَرَّحٍ الْحَرَّانِيُّ أَبُو بَدْرٍ بِسَرْغَامَرْطَا مِنْ دِيَارِ مُضَرَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ مَرْوَانَ بْنَ الْحَكَمِ حَدَّثَهُ، عَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ، قَالَ‏:‏ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عُرْوَةُ فَسَأَلَ بُسْرَةَ فَصَدَّقَتْهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1113: Ahmad bin Khalid bin Abdul Malik bin Ubaidullah bin Musarrah Al Harani Abu Badar di Samarghamartha di perkampungan Bani Mudhar mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’aib bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Urwah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, bahwa Marwan bin Al Hakam menceritakan kepadanya, dari Busrah binti Shafwan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu.” Marwan berkata: Kemudian Urwah memungkiri hal itu dan ia bertanya langsung kepada Busrah, kemudian Busrah membenarkannya. 32 [1:23]

Shahih Ibnu Hibban #1114

صحيح ابن حبان ١١١٤: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَرْوَانَ، عَنْ بُسْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ،، قَالَ عُرْوَةُ‏:‏ فَسَأَلْتُ بُسْرَةَ، فَصَدَّقَتْهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1114: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Rafi’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abu Fudaik menceritakan kepada kami, ia berkata: Rabi’ah bin Utsman mengabarkan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Marwan, dari Busrah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.” Urwah berkata: Kemudian saya bertanya kepada Busrah, dan ia membenarkannya. 33 [1:23]

Shahih Ibnu Hibban #1115

صحيح ابن حبان ١١١٥: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ بُسْرَةَ، قَالَتْ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ، فَلْيُعِدِ الْوُضُوءَ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ لَوْ كَانَ الْمُرَادُ مِنْهُ غَسْلَ الْيَدَيْنِ كَمَا، قَالَ بَعْضُ النَّاسِ‏:‏ لَمَّا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ فَلْيُعِدِ الْوُضُوءَ، إِذِ الإِعَادَةُ لاَ تَكُونُ إِلاَّ لِلْوُضُوءِ الَّذِي هُوَ لِلصَّلاَةِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1115: Al Fadhl bin Al Hubab Al Jumahi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al Mubarak menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Busrah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia mengulang kembali wudhu”34 [1:23] Abu Hatim berkata, “Seandainya yang dimaksud di dalam hadits ini adalah membasuh kedua tangan sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah bersabda: “Maka hendaklah ia mengulang kembali wudhunya. ” Karena mengulang disini bermakna mengulang berwudhu untuk mengerjakan shalat.

Shahih Ibnu Hibban #1116

صحيح ابن حبان ١١١٦: أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قُرَيْشٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَرْوَانَ، عَنْ بُسْرَةَ، قَالَتْ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1116: Abu Nu’aim Abdurrahman bin Quraisy mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah bin Yazid Al Muqri' menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Al Walid Al Adani menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata: Hisyam bin Urwah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Marwan, dari Busrah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat. ”35 [1:23]

Shahih Ibnu Khuzaimah #1116

صحيح ابن خزيمة ١١١٦: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، ثنا يَحْيَى، ثنا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ، ثنا أَبُو حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَعْرَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لِيَأْخُذْ كُلُّ إِنْسَانٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ» ، فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ حِينَ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، وَصَلَّى الْغَدَاةَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1116: Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, Yazid bin Kaisan menceritakan kepada kami, Abu Hazim menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami pernah beristirahat sebentar bersama Rasulullah dan kami tidak bangun sampai terbit matahari, lalu Rasulullah berkata, ‘Hendaknya setiap orang memegang tali hewan tunggangannya, ketahuilah sesungguhnya tempat yang kita singgah ini terdapat syetan.’ Maka kami kemudian melakukannya, lalu beliau meminta air dan berwudhu lantas Shalat dua rakaat. Tatkala iqamah dikumandangkan beliau pun shalat Subuh’.”

Musnad Syafi'i #1117

مسند الشافعي ١١١٧: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَعَفَ انْصَرَفَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ

Musnad Syafi'i 1117: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi', dari Ibnu Umar: Bahwa ia apabila mengalami mimisan (dalam shalatnya), maka ia pergi dan berwudhu, kemudian kembali tanpa berkata sepatah pun. 363

Shahih Ibnu Hibban #1117

صحيح ابن حبان ١١١٧: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلْمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ ذَكْوَانَ الدِّمَشْقِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ نَمِرٍ الْيَحْصَبِيُّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ بُسْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ، وَالْمَرْأَةُ مِثْلُ ذَلِكَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1117: Abdullah bin Muhammad bin Salm mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad bin Dzakwan Ad- Dimasyqi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Namir Al Yahshubi menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Busrah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu. Sedangkan bagi perempuan (hukumnya) sama juga." 36[1:23]