صحيح ابن حبان ١٠٩٧: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، أَنَّ ابْنَ عَمْرٍو الأَوْزَاعِيَّ حَدَّثَهُ، أَنَّ يَعِيشَ بْنَ الْوَلِيدِ حَدَّثَهُ، أَنَّ مَعْدَانَ بْنَ طَلْحَةَ حَدَّثَهُ، أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ حَدَّثَهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاءَ فَأَفْطَرَ، فَلَقِيتُ ثَوْبَانَ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ، فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: صَدَقَ، أَنَا صَبَبْتُ لَهُ وَضُوءًا.
Shahih Ibnu Hibban 1097: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdushshamad bin Abdul Warits menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Husain Al Mu’allim menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami, bahwa (Ibnu) Amr Al Auza’i menceritakannya, bahwa Ya’isy bin Al Walid menceritakannya, bahwa Ma’dan bin Thalhah menceritakannya, bahwa Abu Ad-Darda menceritakannya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pemah muntah lalu ia membatalkan puasanya. Kemudian aku bertemu Tsauban di masjid Damaskus dan aku ceritakan hal tersebut kepadanya. Ia lalu berkata: “Benar, aku sendiri yang menyiramkan air untuk wudhu beliau.” 5 [5:9]
صحيح مسلم ١٠٩٧: حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَفَلَ مِنْ غَزْوَةِ خَيْبَرَ سَارَ لَيْلَهُ حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْكَرَى عَرَّسَ وَقَالَ لِبِلَالٍ اكْلَأْ لَنَا اللَّيْلَ فَصَلَّى بِلَالٌ مَا قُدِّرَ لَهُ وَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ فَلَمَّا تَقَارَبَ الْفَجْرُ اسْتَنَدَ بِلَالٌ إِلَى رَاحِلَتِهِ مُوَاجِهَ الْفَجْرِ فَغَلَبَتْ بِلَالًا عَيْنَاهُ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا بِلَالٌ وَلَا أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى ضَرَبَتْهُمْ الشَّمْسُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَهُمْ اسْتِيقَاظًا فَفَزِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْ بِلَالُ فَقَالَ بِلَالٌ أَخَذَ بِنَفْسِي الَّذِي أَخَذَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ بِنَفْسِكَ قَالَ اقْتَادُوا فَاقْتَادُوا رَوَاحِلَهُمْ شَيْئًا ثُمَّ تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ الصَّلَاةَ فَصَلَّى بِهِمْ الصُّبْحَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ { أَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي } قَالَ يُونُسُ وَكَانَ ابْنُ شِهَابٍ يَقْرَؤُهَا لِلذِّكْرَى
Shahih Muslim 1097: Telah menceritakan kepadaku [Harmalah bin Yahya At Tujibi] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Yunus] dari [Ibnu Syihab] dari [Sa'id bin Musayyab] dari [Abu Hurairah], bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari perang Khaibar, beliau terus berjalan di malam hari, ketika beliau diserang kantuk, maka beliau singgah. Beliau bersabda kepada Bilal "Hendaknya kamu yang mengawasi tidur kami malam ini!." Bilal pun shalat sekemampuan yang ditakdirkan, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidur. Begitu juga dengan para sahabatnya. Ketika mendekati fajar, Bilal bersandar kepada unta tunggangannya, rupanya kedua mata Bilal terasa berat hingga ketiduran, dengan posisi bersandar kepada untanya. Di pagi harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam belum juga bangun, demikian juga Bilal, dan tak satupun dari sahabatnya yang bangun hingga mereka terbangun oleh sinar matahari yang menyengat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akhirnya yang pertama-tama bangun. Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam merasa kaget dan menyeru: "Hei Bilal!" Bilal Menjawab: "Wahai Rasulullah, tadi nyawaku telah dipegang Dzat yang memegang nyawamu, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Beliau lalu bersabda: "Mari tuntunlah hewan tunggangan kalian." Para sahabat pun menuntun hewan tunggangannya, sesaat kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu". Beliau lalu memerintahkan Bilal supaya mengumandangkan iqamat shalat. Setelah itu Beliau mengimami shalat subuh bersama mereka. Selesai shalat, beliau bersabda: "Siapa yang terlupa shalat, lakukanlah ketika ingat, sebab Allah ta'ala berfirman "Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." QS. Toha 14. Yunus berkata: sedangkan Ibnu Syihab membacanya dengan lidzdzikraa.
صحيح مسلم ١٠٩٨: و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَيَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ يَحْيَى قَالَ ابْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ عَرَّسْنَا مَعَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ قَالَ فَفَعَلْنَا ثُمَّ دَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَقَالَ يَعْقُوبُ ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ
Shahih Muslim 1098: Dan telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Hatim] dan [Ya'kub bin Ibrahim Ad Dauraqi], keduanya dari [Yahya]. [Ibn Hatim] mengatakan: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Said] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Kisan] telah menceritakan kepada kami [Abu Hazim] dari [Abu Hurairah] katanya: Kami pernah singgah dalam suatu perjalanan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Kami tidak bangun hingga matahari terbit. Spontan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaknya setiap kalian menuntun kepala hewan tunggangannya masing-masing, sebab persinggahan ini telah didatangi setan." Abu Hurairah berkata: Kami pun melaksanakan apa yang di katakana beliau, kemudian beliau meminta air, setelah beliau berwudhu', beliau mengerjakan raka'at shalat. Ya'kub mengatakan: Kemudian beliau mengerjakan dua kali sujud. Setelah iqamat shalat dikumandangkan, beliau langsung mengerjakan shalat subuh."
صحيح ابن حبان ١١٠٠: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، قَالَ: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِيَّ، فَقَالَ لِي: مَا حَاجَتُكَ؟ قُلْتُ لَهُ: ابْتِغَاءُ الْعِلْمِ، قَالَ: فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًى بِمَا يَطْلُبُ، قُلْتُ: حَكَّ فِي نَفْسِي الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ، وَكُنْتُ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُكَ أَسْأَلُكَ: هَلْ سَمِعْتَ مِنْهُ فِي ذَلِكَ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا فِي سَفَرٍ أَوْ مُسَافِرِينَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الرُّقَادُ لَهُ بِدَايَةٌ وَنِهَايَةٌ، فَبِدَايَتُهُ النُّعَاسُ الَّذِي هُوَ أَوَائِلُ النَّوْمِ، وَصِفَتُهُ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا كُلِّمَ فِيهِ يَسْمَعُ، وَإِنْ أَحْدَثَ عَلِمَ، إِلاَّ أَنَّهُ يَتَمَايَلُ تَمَايُلاً. وَنِهَايَتُهُ زَوَالُ الْعَقْلِ، وَصِفَتُهُ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَحْدَثَ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ لَمْ يَعْلَمْ، وَإِنْ تَكَلَّمَ لَمْ يَفْهَمْ. فَالنُّعَاسُ لاَ يُوجِبُ الْوُضُوءَ عَلَى أَحَدٍ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ عَلَى أَيِّ حَالَةٍ كَانَ النَّاعِسُ، وَالنَّوْمُ يُوجِبُ الْوُضُوءَ عَلَى مَنْ وُجِدَ عَلَى أَيِّ حَالَةٍ كَانَ النَّائِمُ. عَلَى أَنَّ اسْمَ النَّوْمِ قَدْ يَقَعُ عَلَى النُّعَاسِ، وَالنُّعَاسُ عَلَى النَّوْمِ، وَمَعْنَاهُمَا مُخْتَلِفَانِ، وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِقَوْلِهِ: {لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ}، وَلَمَّا قَرَنَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَبَرِ صَفْوَانَ بَيْنَ النَّوْمِ، وَالْغَائِطِ، وَالْبَوْلِ، فِي إِيجَابِ الْوُضُوءِ مِنْهَا، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ فُرْقَانٌ، وَكَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا قَلِيلُ أَحَدِهِمَا أَوْ كَثِيرُهُ أَوْجَبَ عَلَيْهِ الطَّهَارَةَ، سَوَاءً كَانَ الْبَائِلُ قَائِمًا، أَوْ قَاعِدًا، أَوْ رَاكِعًا، أَوْ سَاجِدًا، كَانَ كُلُّ مَنْ نَامَ بِزَوَالِ الْعَقْلِ، وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ، سَوَاءً اخْتَلَفَتْ أَحْوَالُهُ، أَوِ اتَّفَقَتْ، لأَنَّ الْعِلَّةَ فِيهِ زَوَالُ الْعَقْلِ لاَ تَغَيُّرُ الأَحْوَالِ عَلَيْهِ، كَمَا أَنَّ الْعِلَّةَ فِي الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وُجُودُهُمَا لاَ تَغَيُّرُ أَحْوَالِ الْبَائِلِ وَالْمُتَغَوِّطِ فِيهِ.
Shahih Ibnu Hibban 1100: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Zirr, ia berkata: Aku datang menemui Shafwan bin Assal Al Muradi. Ia lalu bertanya kepadaku, “Apa kebutuhanmu?”. Aku menjawab, “Mencari ilmu.” Ia berkata, “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuk orang yang mencari ilmu karena mereka ridha dengan apa yang ia cari.” Aku berkata, “Ceritakanlah kepadaku mengenai mengusap dua Khuff (Sepatu kulit, yang dipakai pada musim dingin) setelah buang air besar dan buang air kecil, sementara kamu adalah salah seorang dari para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka aku datang untuk bertanya kepadamu, Apakah kamu pernah mendengar sesuatu tentang hal tersebut dan Nabi SAW?”. Ia menjawab, “Iya pernah, beliau memerintahkan kami, bahwa apabila kami berada di perjalanan (fi safarin9) - atau apabila kami bepergian- jangan melepaskan khuff kami selama tiga hari tiga malam, kecuali karena junub, namun tetap boleh mengusap karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur.” 10 [3:34] Abu Hatim berkata, ‘Tidur bagi seseorang mempunyai permulaan dan akhiran. Adapun permulaannya, bahwa seseorang apabila diajak bicara maka ia dapat mendengar, dan sekalipun ia bercerita, ia dapat mengetahuinya, namun saat itu ia dalam keadaan seperti melayang. Adapun akhirannya atau puncaknya adalah saat hilangnya akal. Keadaan orang tidur itu adalah jika ada orang lain yang bercerita pada saat itu maka ia tidak mengetahui ceritanya (tidak dapat berinteraksi karena hilangnya akal), jika ada yang berbicara maka ia tidak dapat memahami. Maka mengantuk itu tidak mewajibkannya wudhu, baik mengantuk ringan ataupun mengantuk berat. Sedangkan tidur dapat mewajibkan wudhu, walau dalam keadaan atau posisi apapun juga. Allah SWT membedakan antara mengantuk dan tidur di dalam firman-Nya, “Dia tidak mengantuk dan tidak tidur." (Qs. Al Baqarah [2]: 255) Dan tatkala nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengiringi pada hadits Shafwan di antara tidur, buang air besar, dan buang air kecil di dalam wajibnya berwudhu, padahal tidak ada perbedaan antara buang air kecil dan buang air besar, dimana masing-masing dari keduanya dapat mewajibkan seseorang untuk berwudhu baik buang airnya itu sedikit maupun banyak, Begitupun kepada orang yang buang air kecil sambil berdiri, atau duduk, atau ruku, atau sujud, maka dengan demikian semua orang yang tidur wajib atasnya untuk berwudhu, meski ia tidur dalam posisi apapun juga. Karena ilat (alasan hukumnya) adalah hilangnya akal, bukan pada perubahan keadaan. Sebagaimana ilat di dalam buang air kecil dan besar itu ada pada wujudnya, bukan pada perubahan keadaan-keadaan orang yang buang air kecil atau besar. 11
صحيح ابن حبان ١١٠١: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سِنَانٍ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ، مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ، أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَمَرَهُ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ إِذَا دَنَا مِنْ أَهْلِهِ مَاذَا عَلَيْهِ؟ فَإِنْ عِنْدِي ابْنَتَهُ وَأَنَا أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَهُ، قَالَ الْمِقْدَادُ: فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِذَا وَجَدَ ذَلِكَ، فَلْيَنْضَحْ فَرْجَهُ، وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: مَاتَ الْمِقْدَادُ بْنُ الأَسْوَدِ بِالْجُرُفِ سَنَةَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ. وَمَاتَ سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ سَنَةَ أَرْبَعٍ وَتِسْعِينَ، وَقَدْ سَمِعَ سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ الْمِقْدَادَ وَهُوَ ابْنُ دُونِ عَشْرِ سِنِينَ.
Shahih Ibnu Hibban 1101: Umar bin Sa’id bin Sinan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Abu An-Nadhr maula Umar bin Ubaidullah, dari Sulaiman bin Yasar, dari Al Miqdad bin Al Aswad, bahwasanya Ali bin Abu Thalib menyuruhnya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang mendekati istrinya (lalu keluar madzi dari kemaluannya), apakah yang harus ia perbuat (mandi ataukah wudhu saja)? Karena istriku adalah putri beliau, sehingga aku merasa malu bertanya (langsung) kepada beliau. Al Miqdad berkata: Maka aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal tersebut. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, “Apabila (salah seorang dari kalian) mendapatkan madzi tersebut, maka hendaklah ia mencuci kemaluannya, dan berwudhulah sebagaimana ia berwudhu untuk shalat.”12 [1:78] Abu Hatim berkata, “Al Miqdad bin Al Aswad wafat di Juruf pada tahun 33 H sedangkan Sulaiman bin Yasar wafat pada tahun 94H. 13 Dan itu berarti, Sulaiman bin Yasar sungguh mendengar dari Al Miqdad pada saat ia berumur di bawah 10 tahun.
صحيح ابن خزيمة ١١٠١: نا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، نا بِشْرٌ يَعْنِي ابْنَ الْمُفَضَّلِ، نا أَبُو مَسْلَمَةَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: زُرْتُ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَوَافَقْتُ لَيْلَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَحَرٍ طَوِيلٍ، فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، فَقُمْتُ فَتَوَضَّأْتُ، ثُمَّ جِئْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ، فَلَمَّا عَلِمَ أَنِّي أُرِيدُ الصَّلَاةَ مَعَهُ أَخَذَ بِيَدِي فَحَوَّلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، فَأَوْتَرَ بِتِسْعٍ أَوْ سَبْعٍ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَوَضَعَ جَنْبَهُ حَتَّى سَمِعْتُ ضَفِيزَهُ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَانْطَلَقَ، فَصَلَّى. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: هَاتَانِ الرَّكْعَتَانِ اللَّتَانِ ذَكَرَهُمَا ابْنُ عَبَّاسٍ فِي هَذَا الْخَبَرِ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ، كَمَا أَخْبَرَتْ عَائِشَةُ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ بِهِمَا رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ اللَّتَيْنِ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ صَلَاةِ الْفَرِيضَةِ
Shahih Ibnu Khuzaimah 1101: Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli menceritakan kepada kami, Bisyr —yaitu Ibnu Al Mufadhdhal— menceritakan kepada kami, Abu Salamah menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Aku pernah mengunjungi bibiku Maimunah yang bertepatan dengan malamnya Nabi SAW. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangun di malam yang panjang, kemudian beliau menyempurnakan wudhu lalu berdiri mengerjakan shalat. Maka aku pun bangun dan mengambil air wudhu lalu mendatanginya dan berdiri di sampingnya. Ketika beliau mengetahui bahwa aku ingin shalat bersamanya maka beliau menarik tanganku dan memindahkanku ke sisi kanannya. Beliau shalat witir dengan sembilan atau tujuh rakaat, lalu shalat dua rakaat dan setelah itu berbaring dengan meletakkan (memiringkan) sisi badannya sampai terdengar dengusan nafasnya, kemudian iqamah pun dikumandangkan untuk shalat dan beliau pun shalat.” Abu Bakar berkata, “Shalat dua rakaat yang keduanya telah disebutkan oleh Ibnu Abbas di dalam hadits ini mengandung pengertian bahwa yang dimaksudkan adalah shalat dua yang dikerjakan Nabi setelah shalat witir sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah atau mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang dimaksud adalah shalat dua rakaat sunah Subuh yang dikerjakan beliau sebelum melaksanakan shalat fardhu.”
صحيح ابن خزيمة ١١٠٢: نا بُنْدَارٌ، نا أَبُو دَاوُدَ، نا أَبُو حَرَّةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنْ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ، فَقَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ تَجَوَّزَ بِرَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَنَامُ وَعِنْدَ رَأْسِهِ طَهُورُهُ وَسِوَاكُهُ، فَيَقُومُ فَيَتَسَوَّكُ، وَيَتَوَضَّأُ، وَيُصَلِّي، وَيَتَجَوَّزُ بِرَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي ثَمَانِ رَكَعَاتٍ يُسَوِّي بَيْنَهُنَّ فِي الْقِرَاءَةِ، وَيُوتِرُ بِالتَّاسِعَةِ، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَخَذَ اللَّحْمَ، جَعَلَ الثَّمَانِ سِتًّا، وَيُوتِرُ بِالسَّابِعَةِ، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يُقْرَأُ فِيهِمَا بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَإِذَا زُلْزِلَتْ
Shahih Ibnu Khuzaimah 1102: Bundar menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Abu Harrah menceritakan kepada kami dari Al Hasan, dari Sa’id bin Hisyam Al Anshari bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang shalatnya Rasulullah di malam hari, maka Aisyah menjawab, “Apabila Rasulullah telah selesai shalat Isya maka beliau shalat yang melebihi dari dua rakaat, kemudian tidur dan di dekat kepalanya air untuk bersuci serta siwak. Ketika beliau bangun maka beliau bersiwak dan berwudhu lalu shalat lebih dari dua rakaat, kemudian berdiri dan shalat delapan rakaat dengan bacaan surah yang sama panjangnya lantas shalat witir pada rakaat yang kesembilan dan kemudian shalat dua rakaat sambil duduk. Tatkala usia Rasulullah mulai menua dan banyak daging (menjadi gemuk) beliau mengurangi delapan rakaat menjadi enam rakaat dan shalat witir pada rakaat yang ketujuh, lalu beliau shalat dua rakaat sambil duduk dengan membaca surah pada kedua rakaat tersebut dengan Qul yaa ayyuhal Kaafiruun dan Idzaa zulzilat.”
صحيح ابن حبان ١١٠٣: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ، قَالَ: كُنْتُ أَلْقَى مِنَ الْمَذْيِ شِدَّةً، فَكُنْتُ أُكْثِرُ الاِغْتِسَالَ مِنْهُ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا يُجْزِئُكَ مِنْهُ الْوُضُوءُ، فَقُلْتُ: فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي مِنْهُ؟ قَالَ: يَكْفِيكَ أَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1103: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, Abu Khaitsamah menceritakan kepada kami, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Sa’id bin Ubaid bin As-Sabaq menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Sahal bin Hunaif, ia berkata: Aku selalu keluar madzi, karena itu aku selalu mandi. Maka aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal tersebut. Beliau menjawab, “Sesungguhnya cukup bagimu berwudhu” Aku bertanya, “Bagaimanakah dengan madzi yang mengenai pakaianku?” Beliau menjawab, “Cukuplah kamu ambil air sepenuh telapak tanganmu, lalu kamu percikan pada bagian pakaian yang kamu ketahui terkena madzi. ” 17 [1:78]
صحيح ابن حبان ١١٠٤: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ الْمَاءَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ، وَإِذَا رَأَيْتَ الْمَنِيَّ فَاغْتَسِلْ.
Shahih Ibnu Hibban 1104: Umar bin Muhammad bin Al Hamdani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Utsman Al Ijli menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain bin Ali menceritakan kepada kami, dari Za'idah, dari Abu Hushain, dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata: Aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi, lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersabda, “Apabila kamu melihat (mengeluarkan) madzi maka basuhlah kemaluanmu dan wudhulah. Dan apabila kamu melihat (mengeluarkan) mani maka mandilah.” 18 [3:65]
صحيح ابن حبان ١١٠٥: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ خَلِيفَةَ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، أَنَّ عَلِيًّا أَمَرَ عَمَّارًا أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَذْيِ، فَقَالَ: يَغْسِلُ مَذَاكِيرَهُ وَيَتَوَضَّأُ.
Shahih Ibnu Hibban 1105: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Umayyah bin Bistham menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh bin Al Qasim menceritakan kepada kami, dari19 Ibnu Abu Najih, dari Atha, dari Iyas bin Khalifah, dari Rafi’ bin Khadij, bahwa Ali menyuruh Ammar20 untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang madzi. Maka beliau menjawab, “Hendaknya ia membasuh kemaluannya kemudian berwudhu.”21 [3:65]