سنن الدارقطني ١٧٢: نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّنْعَانِيُّ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ » تَوَضَّأَ بِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ ". إِبْرَاهِيمُ هُوَ ابْنُ أَبِي يَحْيَى ضَعِيفٌ , وَتَابَعَهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي حَبِيبَةَ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ
Sunan Daruquthni 172: Muhammad bin Isma'il Al Farisi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim AshShan'ani mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Daud bin Al Hushain, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah: Bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan air sisa minum binatang buas. Ibrahim adalah Ibnu Abi Yahya, ia lemah. Di-mutaba‘ah oleh riwayat Ibrahim bin Isma'il bin Abu Habibah, namun ia pun tidak kuat dalam periwayatan hadits.
Grade
سنن الدارقطني ١٧٣: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ , نا الشَّافِعِيُّ , نا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ , عَنِ ابْنِ أَبِي حَبِيبَةَ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ بِمَا أَفْضَلَتِ الْحُمُرُ؟ , قَالَ: «وَبِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ». ابْنُ أَبِي حَبِيبَةَ ضَعِيفٌ أَيْضًا , وَهُوَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي حَبِيبَةَ.
Sunan Daruquthni 173: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Asy-Syafi'i mengabarkan kepada kami, Sa'id bin Salim mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abi Habibah, dari Daud bin Al Hushain, dari ayahnya, dari Jabir, ia mengatakan, "Dikatakan kepada Rasulullah, 'Apa boleh kami berwudhu dengan air sisa minum keledai?' Beliau menjawab, 'Bahkan dengan air sisa minum binatang buas." Ibnu Abi Habibah lemah juga, yakni Ibrahim bin Isma'il bin Abu Habibah.
Grade
صحيح ابن خزيمة ١٧٣: نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَنَّ مَالِكًا حَدَّثَهُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ - وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ جَدُّ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى -: هَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُرِيَنِي كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ: نَعَمْ «فَدَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ» قَالَ مَالِكٌ: «هَذَا أَعَمُّ الْمَسْحِ وَأَحَبُّهُ إِلَيَّ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 173: Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Wahab mengabarkan kepada kami bahwa Malik menceritakan kepadanya dari Amr bin Yahya Al Mazini dari ayahnya, bahwa ia berkata kepada Abdullah bin Zaid bin Ashim —ia termasuk sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia kakek Amr bin Yahya—, “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu?” Abdullah bin Zaid berkata, “Ya.” Ia meminta air wudhu lalu menuangkan pada kedua tangannya, membasuh kedua tangan dua kali, lalu berkumur dan menghirup air ke hidung tiga kali, membasuh wajah tiga kali (27-1), membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai ke siku, lalu mengusap kepala dengan kedua tangannya, mengusap bagian depan dan belakang, memulai bagian depan kepala, lalu menjalankan kedua tangan ke tengkuk, mengembalikan kedua tangan sampai ke tempat semula, kemudian membasuh kedua kaki. Malik berkata, “Ini usapan yang paling merata dan paling kusukai.” 279
صحيح ابن حبان ١٧٣: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ وَاضِحٍ الْهَاشِمِيُّ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَعْنِي لاِبْنِ عُمَرَ: إِنَّ أَقْوَامًا يَزْعُمُونَ أَنْ لَيْسَ قَدَرٌ قَالَ: هَلْ عِنْدَنَا مِنْهُمْ أَحَدٌ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَأَبْلِغْهُمْ عَنِّي إِذَا لَقِيتَهُمْ: إِنَّ ابْنَ عُمَرَ يَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْكُمْ، وَأَنْتُمْ بُرَآءُ مِنْهُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ، إِذْ جَاءَ رَجُلٌ لَيْسَ عَلَيْهِ سَحْنَاءُ سَفَرٍ، وَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ، يَتَخَطَّى حَتَّى وَرَكَ، فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا الإِسْلاَمُ؟ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَأَنْ تُقِيمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَحُجَّ وَتَعْتَمِرَ، وَتَغْتَسِلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَأَنْ تُتِمَّ الْوُضُوءَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَنَا مُسْلِمٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا الإِيمَانُ؟ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْمِيزَانِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَنَا مُؤْمِنٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا الإِحْسَانُ؟ قَالَ: الإِحْسَانُ أَنْ تَعْمَلَ لِلَّهِ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنَّكَ إِنْ لاَ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ هَذَا، فَأَنَا مُحْسِنٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: فَمَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ نَبَّأْتُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا، قَالَ: أَجَلْ، قَالَ: إِذَا رَأَيْتَ الْعَالَةَ الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبِنَاءِ، وَكَانُوا مُلُوكًا، قَالَ: مَا الْعَالَةُ الْحُفَاةُ الْعُرَاةُ؟ قَالَ: الْعُرَيْبُ، قَالَ: وَإِذَا رَأَيْتَ الأَمَةَ تَلِدُ رَبَّتَهَا، فَذَلِكَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ نَهَضَ فَوَلَّى. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيَّ بِالرَّجُلِ، فَطَلَبْنَاهُ كُلَّ مَطْلَبٍ فَلَمْ نَقْدِرْ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تَدْرُونَ مَنْ هَذَا؟ هَذَا جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ لَيُعَلِّمَكُمْ دِينَكُمْ، خُذُوا عَنْهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا شُبِّهَ عَلَيَّ مُنْذُ أَتَانِي قَبْلَ مَرَّتِي هَذِهِ، وَمَا عَرَفْتُهُ حَتَّى وَلَّى. قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: تَفَرَّدَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ بِقَوْلِهِ خُذُوا عَنْهُ، وَبِقَوْلِهِ: تَعْتَمِرَ وَتَغْتَسِلَ وَتُتِمَّ الْوُضُوءَ.
Shahih Ibnu Hibban 173: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Yiisufbin Wadhih Al Hasyimi menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari ayahnya dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata: Aku bertanya (kepada Ibnu Umar), “Wahai Abu Abdurrahman, -maksudnya Ibnu Umar- ada kelompok orang yang mengklaim tidak ada qadar (takdir).” Ibnu Umar bertanya, “Apakah di antara kita sekarang ada seseorang dari golongan mereka?” Aku menjawab, ‘Tidak ada.” Ibnu Umar berkata: Jika engkau bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka dariku bahwa Ibnu Umar berlepas diri kepada Allah dari kalian dan kalian berlepas diri dariku. Umar bin Khaththab menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di depan orang-orang, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tidak ada raut muka kelelahan akibat perjalanan. Dan dia juga bukan penduduk daerah setempat. Dia lewat dan duduk dengan menyandarkan tubuh di atas pinggul (posisi duduknya seperti tasyahud akhir, penerj) tepat berada di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu ia bertanya, “Wahai Muhamad, apa itu Islam?.” Beliau menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan berumrah, mandi karena berjunub (hadats besar), menyempurnakan wudhu, dan berpuasa di bulan ramadhan.” Dia kembali bertanya, “Apabila aku melakukan itu, apakah aku seorang muslim?” Beliau menjawab, “Benar.” Laki-laki itu berkata, “Kamu benar.” Dia kembali bertanya, “Wahai Muhammad, apa iman itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, percaya terhadap surga, neraka, timbangan (penimbangan amal), percaya terhadap kebangkitan setelah kematian, percaya terhadap ketentuan Allah (takdir); ketentuan yang baik ataupun ketentuan yang buruk” Laki-laki itu kembali bertanya, ‘‘Apabila aku melakukan itu, apakah aku seorang mukmin?” Beliau menjawab; “Benar” Dia berkata, “Kamu benar.” Lalu dia kembali bertanya, “Wahai Muhammad, apa itu ihsan?” Beliau menjawab, “Ihsan adalah engkau beramal semata-mata karena Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia pasti melihatmu. Laki-laki itu kembali bertanya, “Jika aku melakukan itu, apakah aku seorang muhsin (orang yang melakukan ihsan)?” Beliau menjawab; “Benar” Dia berkata, “Kamu benar.” Dia kembali bertanya, “Lalu kapan terjadinya kiamat?” Beliau menjawab, “Mahasuci Allah! Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih tahu daripada orang yang bertanya. Namun jika engkau mau, aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya.” Dia menjawab, “Baiklah!” Beliau berkata, “Jika engkau melihat orang miskin, yang tidak mengenakan alas kaki dan telanjang, saling berlomba dalam membangun gedung- gedung tinggi, dan mereka telah menjadi raja-raja.” Dia bertanya, “Apa itu orang miskin yang tidak mengenakan alas kaki dan telanjang?” Beliau menjawab, “Orang Arab pinggiran.” Beliau berkata, “Dan jika engkau melihat seorang hamba sahaya melahirkan tuannya, itu sebagian tanda- tanda kiamat.” Laki-laki itu berkata, “Kamu benar.” Kemudian dia bangkit berdiri, lalu beranjak pergi. Setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. bersabda, “Datangkan laki-laki itu kepadaku!“ Maka, kami mencarinya di setiap sudut [dengan sungguh- sungguh], tetapi tidak juga mampu menemukannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. pun bersabda; “Tahukah kalian siapa dia? Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. Oleh karena itu, ambillah pelajaran darinya. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, aku tidak keliru mengenal penyerupaannya semenjak dia mendatangiku sebelum kedatangannya kali sekarang ini, aku tidak mengenalnya (dengan baik) kecuali setelah ia pergi." [1:1] Abu Hatim berkata: Sulaiman At-Taimi sendirian saja yang meriwayatkan dengan teks hadits, “Ambillah pelajaran darinya” dan teks, “Melaksanakan ibadah haji dan umrah, mandi junub, dan menyempurnakan wudhu.”
صحيح ابن خزيمة ١٧٤: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، حَدَّثَنَا الْأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ عَنِ الْوُضُوءِ، فَتَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، فَقَالَ: «مَنْ زَادَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ أَوِ اعْتَدَى وَظَلَمَ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 174: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Al Asyja’i menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Musa bin Abu Aisyah dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa seorang Arab pedalaman mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya kepada beliau tentang wudhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa menambahi, maka ia telah berbuat keburukan dan zhalim atau melewati batas dan zhalim.”280
صحيح ابن خزيمة ١٧٥: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ مُوسَى بْنِ سَالِمٍ أَبِي جَهْضَمٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنَا جُلُوسًا عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: " وَاللَّهِ مَا خَصَّنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ دُونَ النَّاسِ إِلَّا ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ: أَمَرَنَا أَنْ نُسْبِغَ الْوُضُوءَ، وَلَا نَأْكُلَ الصَّدَقَةَ، وَلَا نُنْزِيَ الْحَمِيرَ عَلَى الْخَيْلِ " نا يَعْقُوبُ الدَّوْرَقِيُّ، نا ابْنُ عُلَيَّةَ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ سَالِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ: ابْنِ عَبَّاسٍ بِمِثْلِهِ وَزَادَ قَالَ مُوسَى، فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حَسَنٍ، فَقُلْتُ: إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي بِكَذَا وَكَذَا، فَقَالَ: «إِنَّ الْخَيْلَ كَانَتْ فِي بَنِي هَاشِمٍ قَلِيلَةً فَأَحَبَّ أَنْ يُكْثِرَ فِيهِمْ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 175: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Hammad bin Zaid mengabarkan kepada kami dari Musa bin Salim Abu Jahdham, Abdullah bin Ubaidullah bin Abbaa menceritakan kepadaku, ia berkata: Kami pernah duduk di sisi Ibnu Abbas, lalu ia berkata, “Demi Allah, Tidak pernah Rasulullah memberi sesuatu kekhususan kepada kita diluar orang-orang, kecuali tiga hal; beliau memerintahkan kita untuk menyempurnakan wudhu, tidak makan sedekah dan tidak menjantani keledai di atas kuda.” 281 Ya’qub Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Ibnu Ulaiyah mengabarkan kepada kami, Musa bin Salim mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas. Ia berkata, “Ibnu Abbas berkata dengan hadits yang sama.” la menambahkan, “Musa berkata, 'Aku pernah bertemu Abdullah bin Hasan, lalu aku berkata, ’Sesungguhnya Abdullah bin Ubaidullah menceritakan begini dan begini kepadaku’.” Ia berkata, “Sesungguhnya dulu kuda di kalangan Bani Hasyim itu sedikit, aku suka memperbanyak.”
صحيح ابن خزيمة ١٧٦: نا ابْنُ أَبِي صَفْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، نا سُفْيَانُ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: الصَّفْقَةُ بِالصَّفْقَتَيْنِ رَبًّا، وَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِسْبَاغِ الْوُضُوءِ "
Shahih Ibnu Khuzaimah 176: Ibnu Abu Shafwan Muhammad bin Utaman Ata-Tnaqafl mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Simak dari Abdurrahman bin Abdullah ia adalah Ibnu Mas’ud - dari ayahnya, ia berkata, “Satu akad jual beli diikat dengan dua akad adalah riba“, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memerintahkan kita menyempurnakan wudhu.” 282
صحيح ابن خزيمة ١٧٧: نا أَبُو مُوسَى، حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُو عَاصِمٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يُكَفِّرُ اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَزِيدُ فِيِ الْحَسَنَاتِ» قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ» ، ثُمَّ ذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «هَذَا الْخَبَرُ لَمْ يَرْوِهِ، عَنْ سُفْيَانَ غَيْرُ أَبِي عَاصِمٍ، فَإِنْ كَانَ أَبُو عَاصِمٍ قَدْ حَفِظَهُ فَهَذَا إِسْنَادٌ غَرِيبٌ، وَهَذَا خَبَرٌ طَوِيلٌ قَدْ خَرَّجْتُهُ فِي أَبْوَابٍ ذَوَاتِ عَدَدٍ، وَالْمَشْهُورُ فِي هَذَا الْمَتْنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، لَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ» نا مُوسَى، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ قَالَ أَبُو مُوسَى: نا، وَقَالَ أَحْمَدُ: أَخْبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ
Shahih Ibnu Khuzaimah 177: Abu Musa mengabarkan kepada kami, Adh-Dhahhak bin Makhlad (Abu Ashim) menceritakan kepadaku, Sufyan mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Abu Bakr menceritakan kepadaku dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tidak mau aku tunjukkan sesuatu yang menyebabkan Allah menghapus dosa dan menambah kebagusan?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu, karena hal-hal yang tidak disenangi dan menanti tiba waktu shalat berikutnya setelah melakukan shalat” Kemudian ia menyebutkan hadits selengkapnya. Abu Bakar berkata, “Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Abu Ashim dari Sufyan (27-ba'). Jika Abu Ashim betul-betul menyimpannya, maka ini adalah sanad gharib.” Ini hadits panjang yang telah saya takhrij dalam banyak bab. Yang masyhur dalam matan hadits ini adalah Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Sa’id bukan dari Abdullah bin Abu Bakar. Musa dan Ahmad bin Abdah menceritakan kepada kami, Abu Musa berkata, Abu Amir menceritakan kepada kami, sedang Ahmad berkata, Abu Amir mengabarkan kepada kami, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. 283
صحيح ابن خزيمة ١٧٨: نا أَبُو خَيْثَمَةَ عَلِيُّ بْنُ عَمْرِو بْنِ خَالِدٍ الْحَرَّانِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي، نا زُهَيْرٌ، نا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا لَبِسْتُمْ وَإِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَءُوا بِأَيَامِنِكُمْ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 178: Abu Khaitsamah Ali bin Amr bin Khalid Al Harani mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Zuhair mengabarkan kepada kami, Al A'masy mengabarkan kepada kami dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bila kamu berpakaian dan bila kamu berwudhu, mulailah dengan bagian kananmu."284
صحيح ابن خزيمة ١٨١: نا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْمُهَلَّبِيُّ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ قَالَ: سَمِعْتُ الْأَوْزَاعِيَّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ، وَعَلَى عِمَامَتِهِ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 181: Al Qasim bin Muhammad bin Abbad bin Abbad Al Muhallabi mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Daud mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Aku mendengar Al Auza’i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Ja’far bin Amr bin Umayah Adh-Dhamri dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai berwudhu dan mengusap khuf serta surban beliau.” 287