مسند الشافعي ١٣٤: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الْوُضُوءُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
Musnad Syafi'i 134: Sa'id bin Salim mengabarkan kepada kami dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Muhammad bin Ali Al Hanafiyah, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda “Kunci shalat adalah wudhu, yang mengharamkan dari segala sesuatu- adalah takbir dan yang menghalalkan – dari segala sesuatu - adalah salam”141
مسند الشافعي ١٣٥: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ رِفَاعَةَ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَلْيَتَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ، ثُمَّ لِيُكَبِّرْ، فَإِنْ كَانَ مَعَهُ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ قَرَأَ بِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَلْيُكَبِّرْ، ثُمَّ لِيَرْكَعْ حَتَّى يَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ لِيَقُمْ حَتَّى يَطْمَئِنَّ قَائِمًا، ثُمَّ يَسْجُدْ حَتَّى يَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ لِيَرْفَعْ رَأْسَهُ فَلْيَجْلِسْ حَتَّى يَطْمَئِنَّ جَالِسًا، فَمَنْ نَقَصَ مِنْ هَذَا فَإِنَّمَا يَنْقُصُ مِنْ صَلَاتِهِ»
Musnad Syafi'i 135: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Ali bin Yahya bin Khallad, dari ayahnya dari kakeknya, Rifa'ah bin Malik bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda “Apabila seseorang di antara kailan bermaksud mendirikan shalat hendaklah berwudhu seperti apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kemudian bertakbir. Apabila ia hafal sesuatu dari Al Qur'an hendaklah ia membacanya, dan jika tidak hafal sesuatupun dari Al-Qur'an, hendaklah membaca tahmid dan takbir kepada Allah SWT. Setelah itu hendaklah ruku hingga tuma'ninah dalam keadaan ruku. kemudian bangkit hingga tuma'ninah dalam keadaan berdiri (i'tidal), kemudian sujud hingga tuma'ninah dalam keadaan sujud kemudian mengangkat kepalanya lalu duduk hingga tuma'ninah dalam keadaan duduk Barangsiapa yang mengurangi sesuatu dari hal tersebut, sesungguhnya ia telah mengurangi sebagian dari shalatnya.”142
سنن الدارقطني ١٣٥: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ , نا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «كُنَّا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ» . تَابَعَهُ أَيُّوبُ , وَمَالِكٌ , وَابْنُ جُرَيْجٍ وَغَيْرُهُمْ
Sunan Daruquthni 135: Al Husain bin Isma'il mengabarkan kepada kami, Abu Hisyam Ar-Rifa'i mengabarkan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmad mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah, dari Nafi', dari Ibnu Umar, ia mengatakan, "Kami pada masa Rasulullah SAW, ada seorang laki-laki dan perempuan berwudhu dari satu bejana." Ayyub, Malik, Ibnu Juraij dan yang lainnya me-mutaba'ah riwayat ini.
Grade
سنن الدارقطني ١٣٨: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ , وَأَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ , نا شَرِيكٌ , عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: حَدَّثَتْنِي مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «تَوَضَّأَ بِفَضْلِ غُسْلِهَا مِنَ الْجَنَابَةِ» . وَقَالَ الرَّمَادِيُّ: تَوَضَّأَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهَا مِنَ الْجَنَابَةِ
Sunan Daruquthni 138: Al Husain bin Isma'il menceritakan kepada kami, Zaid bin Akhzam dan Ahmad bin Manshur mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Daud menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, "Maimunah binti Al Harits menceritakan kepadaku, bahwa Nabi SAW berwudhu dengan air sisa mandi junubnya." Ar-Ramadi menyebutkan (dengan redaksi): "Berwudlu dengan sisa air (mandi) junubnya."
Grade
صحيح ابن خزيمة ١٣٨: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْوَاهِبِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قُلْتُ: تَوَضَّأَ ابْنُ عُمَرَ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ عَمَّنْ ذَاكَ؟ قَالَ: حَدَّثَتْهُ أَسْمَاءُ بِنْتُ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرٍ حَدَّثَهَا، " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَرَ بِالْوَضُوءِ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ، فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَمَرَ بِالسِّوَاكِ لِكُلِّ صَلَاةٍ ". فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَى أَنَّ بِهِ قُوَّةً عَلَى ذَلِكَ فَكَانَ لَا يَدَعُ الْوُضُوءَ لِكُلِّ صَلَاةٍ
Shahih Ibnu Khuzaimah 138: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Khalid Al Wahibi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, ia berkata, Aku berkata (22 -ba), “Ibnu Umar berwudhu setiap hendak melaksanakan shalat, baik ia dalam keadaan suci atau tidak, dari siapa hal itu?” la berkata, “Asma' binti Zaid bin Al Khaththab menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Hanzhalah bin Abu Amir menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diperintah untuk berwudhu setiap kali akan melaksanakan shalat, baik dalam keadaan masih suci atau tidak. Sewaktu hal itu terasa berat bagi beliau, beliau diperintah untuk bersiwak setiap kali hendak melaksanakan shalat. Ibnu Umar memandang bahwa ia memiliki kemampuan untuk itu, sehingga ia tidak pernah meninggalkan wudhu setiap kah hendak shalat.” 243
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Ibnu Ishaq Telah Menjelaskan Dengan "Menceritakan" Pada Riwayat Ahmad Dan Al Hakim, Maka Sanadnya Hasan,
صحيح ابن خزيمة ١٤٠: نا عَلِيُّ بْنُ مَعْبَدٍ، نا رَوْحُ بْنُ عِبَادَةَ، نا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «هَذَا الْخَبَرُ فِي الْمُوَطَّأِ» عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: «لَوْلَا أَنْ يَشُقَّ عَلَى أُمَّتِهِ لَأَمَرَهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وَضُوءٍ» وَرَوَاهُ الشَّافِعِيُّ، وَبِشْرُ بْنُ عُمَرَ كَرِوَايَةِ رَوْحٍ
Shahih Ibnu Khuzaimah 140: Ali bin Ma’bad mengabarkan kepada kami, Rauh bin Ubadah mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kalau saja aku tidak memberatkan ummatku, tentu aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.”245 Abu Bakar berkata, “Hadits ini disebutkan dalam AlMuwaththa' dari Abu Hurairah, “Kalau saja beliau tidak memberatkan ummat, tentu beliau memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan berwudhu.” Asy Syafi’i, Bisyr bin Umar meriwayatkannya seperti riwayat Rauh.”
Grade
صحيح ابن خزيمة ١٤٤: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ ثَابِتٍ، وَقَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا فَلَمْ يَجِدُوا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَاهُنَا مَاءٌ» ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضْعَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ الَّذِي فِيهِ الْمَاءُ، ثُمَّ قَالَ: «تَوَضَّئُوا بِسْمِ اللَّهِ» ، فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَفُورُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ، وَالْقَوْمُ يَتَوَضَّئُونَ حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ آخِرِهِمْ قَالَ ثَابِتٌ: فَقُلْتُ لِأَنَسٍ: كَمْ تُرَاهُمْ كَانُوا؟ قَالَ: «نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 144: Muhammad bin Yahya dan Abdurrahman bin Bisyr Ibnu Al Hakam mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Tsabit dan Qatadah, dari Anas, ia berkata, “Beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencari air wudhu, tapi mereka tidak menemukan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Di sini ada air?" Lalu kulihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan di tempat yang di dalamnya ada air, kemudian beliau bersabda, “Berwudhulah kalian dengan menyebut nama Allah." Aku melihat air memancar dari sela jari-jari beliau, sedang orang-orang berwudhu sampai orang yang terakhir.” Tsabit berkata, “Aku bertanya kepada Anas, “Engkau lihat berapa di antara mereka?” Ia menjawab, “Kira-kira tujuh puluh (orang).” 249
Grade
صحيح ابن خزيمة ١٤٨: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، نا ابْنُ عَجْلَانَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَغَرَفَ غَرْفَةً فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ غَرَفَ غَرْفَةً فَغَسَلَ وَجْهَهُ، ثُمَّ غَرَفَ غَرْفَةً فَغَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى، وَغَرَفَ غَرْفَةً فَغَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى، وَغَرَفَ غَرْفَةً فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَبَاطِنَ أُذُنَيْهِ وَظَاهِرَهُمَا وَأَدْخَلَ أُصْبُعَيْهِ فِيهِمَا، وَغَرَفَ غَرْفَةً فَغَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى، وَغَرَفَةً فَغَسَلَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى»
Shahih Ibnu Khuzaimah 148: Abdullah bin Sa’id Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, Ibnu Ajian mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari Atha' bin Yasar dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu lalu menciduk air satu cidukan, beliau berkumur dan menghirup air ke hidung. Kemudian menciduk air satu cidukan, beliau membasuh wajah, kemudian menciduk air satu cidukan, beliau membasuh tangan kanan. Beliau menciduk air satu cidukan lalu membasuh tangan kiri. Beliau menciduk satu cidukan lalu mengusap kepala, bagian dalam dan luar kedua telinga, beliau memasukkan dua jari ke dalamnya. Beliau menciduk air lagi satu cidukan lalu membasuh kaki kanan dan air satu cidukan lagi beliau membasuh kaki kiri.” 253
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Isnaduhu Hasan,
صحيح ابن خزيمة ١٤٩: نا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ الْمِصْرِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْبَرْقِيُّ قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْهَادِ وَهُوَ يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 149: Shalih bin Abdurrahman bin Amr bin Al Harits Al Mishri dan Ahmad bin Abdullah bin Abdurrahman Al Barqi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Ibnu Abu Maryam menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayyub mengabarkan kepada kami, Abu Al Had -ia adalah Yazid bin Abdullah- mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Ibrahim dari Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bila salah seorang di antara kamu bangun dari tidur, wudhulah, lalu hiruplah air ke hidung tiga kali, karena syetan bermalam di atas batang hidungnya.”254
صحيح ابن خزيمة ١٥٠: نا الزَّعْفَرَانِيُّ، وَزِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ، وَإِسْحَاقُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ سِنَانٍ الْمَدَائِنِيُّ، وَرِزْقُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، وَالْجَمَاعَةُ قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنِ الْوُضُوءِ قَالَ: «أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَخَلِّلِ الْأَصَابِعَ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا»
Shahih Ibnu Khuzaimah 150: Az-Za’farani, Ziad bin Yahya Al Hassani, Ishaq bin Hatim bin Sinan Al Mada'ini dan Rizqullah bin Musa serta sekelompok orang mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Yahya bin Sulaim menceritakan kepada kami, Isma’il bin Katsir menceritakan kepada kami dari Ashim bin Laqith bin Shabirah dari ayahnya, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, sela-selailah jari dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali kamu sedang berpuasa.”255
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Isnaduhu Shahih, Dan Ia Memiliki Pengiring Yang Diriwayatkan Al Hakim,