صحيح مسلم ٥٣٩: حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ سِمَاكٍ ح و حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ وَأَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ كُلُّهُمْ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي كَامِلٍ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ
Shahih Muslim 539: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kamil Fudhail bin Husain al-Jahdari] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Utsman bin Abdullah bin Mauhab] dari [Ja'far bin Abi Tsaur] dari [Jabir bin Samurah] bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah kami harus berwudhu karena makan daging kambing?" Beliau menjawab, "Jika kamu berkehendak maka berwudhulah, dan jika kamu tidak berkehendak maka janganlah kamu berwudhu." Dia bertanya lagi, "Apakah harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?" Beliau menjawab, "Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta." Dia bertanya, "Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?" Beliau menjawab, "Ya boleh." Dia bertanya, "Apakah aku boleh shalat di kandang unta?" Beliau menjawab, "Tidak." Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Muawiyah bin Amr] dan telah menceritakan kepada kami [Zaidah] dari [Simak] --lewat jalur periwayatan lain-- dan telah menceritakan kepadaku [al-Qasim bin Zakariya'] telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] dari [Syaiban] dari [Utsman bin Abdullah bin Mauhab] dan [Asy'ats bin Abi asy-Sya'tsa'] mereka semuanya meriwayatkan dari [Ja'far bin Abi Tsaur] dari [Jabir bin Samurah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semisal hadits Abu Kamil dari Abu 'Awanah.
سنن الدارقطني ٥٤١: حَدَّثَنَا أَبُو رَوْقٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بَكْرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ رَوْحٍ , نا سُفْيَانُ , قَالَ: سَمِعْنَاهُ مِنْ عَمْرٍو يُحَدِّثُهُ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , قَالَ: سُئِلَ عُمَرُ عَنْ مَسِّ الْإِبْطِ , فَقَالَ: «يُتَوَضَّأُ مِنْهُ»
Sunan Daruquthni 541: Abu Rauq Ahmad bin Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami, Ahmad bin Rauh mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia mengatakan, "Kami mendengarnya dari Amr, ia menyampaikannya dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah, ia menuturkan, 'Umar ditanya tentang menyentuh ketiak, ia pun menjawab, 'Berwudhu karenanya'."
Grade
سنن الدارقطني ٥٤٢: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ , عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ الرَّجُلُ وَمَسَّ إِبْطَهُ أَعَادَ الْوُضُوءَ» قَالَ: وَنا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ , عَنْ أَبِي سِنَانٍ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ , قَالَ: «لَيْسَ عَلَيْهِ إِعَادَةٌ»
Sunan Daruquthni 542: Ya'qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Arafah mengabarkan kepada kami, Khalaf bin Khalifah mengabarkan kepada kami, dari Laits bin Abu Sulaim, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, ia mengatakan, "Apabila seseorang telah berwudhu lalu menyentuh ketiaknya, maka ia mengulangi wudhu." Ia juga mengatakan: Khalaf bin Khalifah menceritakan kepada kami, dari Abu Sinan, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, "Ia tidak perlu mengulangi (wudhu)."
Grade
المستدرك ٥٤٢: أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ، وَأَبُو عَوْنٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَرَازُ بِمَكَّةَ فِي آخَرِينَ، قَالُوا: ثنا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَحَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَّارُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى الْقَاضِي، قَالَا: ثنا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُعَاوِدَ فَلْيَتَوَضَّأْ، فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذَا اللَّفْظِ، إِنَّمَا أَخْرَجَاهُ إِلَى قَوْلِهِ» فَلْيَتَوَضَّأْ «فَقَطْ، وَلَمْ يَذْكُرَا فِيهِ» فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ «وَهَذِهِ لَفْظَةٌ تَفَرَّدَ بِهَا شُعْبَةُ، عَنْ عَاصِمٍ، وَالتَّفَرُّدُ مِنْ مِثْلِهِ مَقْبُولٌ عِنْدَهُمَا»
Al Mustadrak 542: Ja’far bin Muhammad bin Nushair dan Abu Aun Muhammad bin Ahmad bin Al Harraz mengabarkan kepada kami di Makkah, disertai beberapa orang, mereka berkata, “Ali bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami.” Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Isa Al Qadhi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Ashim Al Ahwal, dari Abu Al Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mendatangi keluarganya (maksudnya menyetubuhi istrinya) kemudian dia ingin mengulanginya lagi, maka dia hendaknya berwudhu, karena hal itu akan lebih membuatnya bersemangat" Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya dengan redaksi ini. Keduanya hanya meriwayatkan redaksi, "Dia hendaknya berwudhu," tanpa menyebutkan "Karena hal itu akan lebih membuatnya bersemangat." Ini merupakan redaksi yang diriwayatkan secara menyendiri oleh Syu’bah dan Ashim. Menurut Al Bukhari dan Muslim, periwayatannya secara menyendiri bisa diterima.
المستدرك ٥٤٣: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَتَّابٍ. . . أَبُو الْأَحْوَصِ مُحَمَّدُ بْنُ الْهَيْثَمِ الْقَاضِي، ثنا سَعِيدُ بْنُ كَثِيرِ بْنِ عُفَيْرٍ، وَيَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُكَيْرٍ، قَالَا: ثنا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، قُلْتُ: كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ، أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ؟ قَالَتْ: «كُلُّ ذَلِكَ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ، وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ،» قُلْتُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ قُتَيْبَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ شَوَاهِدَهُ بِأَلْفَاظِهَا. وَقَدْ تَابَعَهُ غُضَيْفُ بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ عَائِشَةَ
Al Mustadrak 543: Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Attab mengabarkan kepada kami [...], Abu Al Ahwash Muhammad bin Al Haitsam Al Qadhi menceritakan kepada kami, Sa’id bin Katsir bin Ufair dan Yahya bin Abdullah bin Bukair menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Laits bin Sa’ad menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Abdullah bin Abu Qais, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, “Apa yang Rasulullah perbuat ketika junub, mandi sebelum tidur atau tidur dulu sebelum mandi?” Aisyah menjawab, “Semuanya pernah dilakukan beliau, kadang-kadang mandi dulu baru tidur, dan kadang-kadang wudhu dulu baru tidur.” Aku lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelonggaran dalam masalah ini.” Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari Qutaibah tanpa menyebutkan hadits-hadits syahid-nya dengan redaksi tersebut. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ghudhaif bin Al Harits dari Aisyah.
سنن الدارقطني ٥٤٣: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْحَسَنُ بْنُ يَحْيَى , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ , عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ , قَالَ: «إِذَا مَسَّ الرَّجُلُ إِبْطَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ»
Sunan Daruquthni 543: Al Husain bin Isma'il menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dari Umar bin Khaththab, ia mengatakan, "Apabila seseorang menyentuh ketiaknya, maka hendaklah ia berwudhu."
Grade
سنن الدارقطني ٥٤٥: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ صَاعِدٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُنْقِدٍ الْخَوْلَانِيُّ بِمِصْرَ , نا إِدْرِيسُ بْنُ يَحْيَى الْخَوْلَانِيُّ أَبُو عَمْرٍو الْمِصْرِيُّ , نا الْفَضْلُ بْنُ الْمُخْتَارِ , نا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ , عَنْ شُعْبَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْوُضُوءُ مِمَّا يَخْرُجُ وَلَيْسَ مِمَّا يَدْخُلُ»
Sunan Daruquthni 545: Abu Muhammad Yahya bin Muhammad bin Sha'id menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Munqid Al Kahulani mengabarkan kepada kami di Mesir, Idris bin Yahya Al Khaulani Abu Amr Al Mishri mengabarkan kepada kami, Al Fadhl bin Al Mukhtar mengabarkan kepada kami, Ibnu Abi Dzi'b mengabarkan kepada kami, dari Syu'bah maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Berwudhu adalah karena sesuatu yang keluar (dari tubuh) dan bukan karena sesuatu yang masuk (ke dalam tubuh)."
Grade
صحيح ابن خزيمة ٥٤٥: نا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ، نا إِسْمَاعِيلُ - يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ - نا يَحْيَى بْنُ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادِ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا - قَالَ رِفَاعَةُ: وَنَحْنُ مَعَهُ - إِذْ جَاءَ رَجُلٌ كَالْبَدَوِيِّ فَصَلَّى فَأَخَفَّ صَلَاتَهُ، ثُمَّ انْصَرَفَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَيْكَ، فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَرَجَعَ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، وَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَفَعَلَ ذَلِكَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ، وَيَقُولُ: «وَعَلَيْكَ، فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَخَافَ النَّاسُ وَكَبُرَ عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونَ مَنْ أَخَفَّ صَلَاتَهُ لَمْ يُصَلِّ، فَقَالَ الرَّجُلُ فِي آخِرِ ذَلِكَ: فَأَرِنِي أَوْ عَلِّمْنِي فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَجَلْ، إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَتَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَكَ اللَّهُ، ثُمَّ تَشَهَّدْ، فَأَقِمْ، ثُمَّ كَبِّرْ، فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ بِهِ وَإِلَّا فَاحْمَدِ اللَّهَ، وَكَبِّرْهُ، وَهَلِّلْهُ، ثُمَّ ارْكَعْ فَاطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ اعْتَدِلْ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ فَاعْتَدِلْ سَاجِدًا، ثُمَّ اجْلِسْ فَاطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ قُمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُكَ، وَإِنِ انْتَقَصْتَ مِنْهَا شَيْئًا انْتَقَصْتَ مِنْ صَلَاتِكِ» قَالَ: وَكَانَتْ هَذِهِ أَهْوَنُ عَلَيْهِمْ مِنَ الْأُولَى، أَنَّ مَنِ انْتَقَصَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا انْتَقَصَ مِنْ صَلَاتِهِ وَلَمْ يَذْهَبْ كُلُّهَا
Shahih Ibnu Khuzaimah 545: Ali bin Hujr As-Sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail —yaitu Ibnu Hujr— mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ali bin yahya bin Khalad bin Rafi’ Az-Zuraqi dari ayahnya, dari kakeknya dari Rifaah bin Rafi’, "Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di masjid —Rifaah berkata, “Sementara saat itu kami bersama beliau— tiba-tiba seorang laki-laki datang, sepertinya ia adalah orang Badui, kemudian ia melaksanakan shalat dengan cepat lalu selesai dan berpaling. Kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Wa alaika, kembalilah dan shalatlah, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat." Ia lalu kembali dan melaksanakan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi, lalu beliau membalas salamnya. Beliau bersabda, “wa alaika Kembalilah lalu shalatlah, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat” Orang A'rabi tersebut melakukan hal itu hingga dua atau tiga kali. Dan, setiap selesai ia mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau mengucap salam dan bersabda, “Wa alaika, kembalilah lalu shalatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum melakukan shalat.” Banyak orang menjadi takut dan mereka membesar-besarkan masalah (71-ba') lalu berasumsi bahwa barang siapa yang mempercepat pelaksanaan shalat, maka ia dianggap belum melaksanakan shalat. Laki-laki tersebut diakhir pembicaraan ia berkata, “Beritahukanlah aku atau ajarilah aku, karena aku adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tentu! Apabila engkau melaksanakan shalat, maka berwudhulah sebagaimana Allah SWT memberitahukanmu, kemudian bacalah syahadat, lalu dirikanlah shalat, kemudian lakukanlah takbiratul Ihram. Apabila engkau mampu membaca Al Qur'an, maka bacalah dan apabila tidak, maka bacalah hamdalah, bacalah takbir dan tahlil kemudian rukulah, dan thuma'ninah-lah dalam rukuk, kemudian i'tidal-lah dalam berdiri, lalu bersujudlah, dan i'tidal-lah dalam sujud, kemudian duduklah lalu duduklah, dan thuma'ninah-lah dalam duduk, kemudian bangunlah. Apabila kamu melakukan hal tersebut, maka shalatmu telah sempurna. Apabila hal-hal tersebut kurang, maka berkuranglah nilai shalatmu.684 Perawi berkata, “Hal ini lebih ringan dari keterangan pertama bahwa barang siapa yang berkurang sedikit saja dari hal tersebut, maka pahala shalatnya juga berkurang, tetapi tidak lenyap semuanya.”
سنن الدارقطني ٥٤٦: حَدَّثَنَا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا صَالِحُ بْنُ مُقَاتِلٍ , ثنا أَبِي , ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو أَيُّوبَ , عَنْ حُمَيْدٍ , عَنْ أَنَسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «احْتَجَمَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يَزِدْ عَنْ غَسْلِ مَحَاجِمِهِ». حَدِيثٌ رَفَعَهُ ابْنُ أَبِي الْعِشْرِينَ , وَوَقَفَهُ أَبُو الْمُغِيرَةِ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , وَهُوَ الصَّوَابُ
Sunan Daruquthni 546: Abu Sahl bin Ziyad menceritakan kepada kami, Shalih bin Muqatil mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Daud Abu Ayyub menceritakan kepada kami, dari Humaid, dari Anas: "Bahwa Nabi SAW berbekam, lalu melaksanakan shalat dan tidak berwudhu lagi dan tidak lebih dari membasuh bekas bekamnya." Ini hadits yang dimarfuan oleh Ibnu Abi Al Isyrin namun dimauqufkan oleh Abu Al Mughirah dari Al Auza'i, dan inilah yang shahih.
Grade
المستدرك ٥٤٦: وَأَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، أَنْبَأَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ الْجُنَيْدِ، ثنا الْمُعَافَى بْنِ سُلَيْمَانَ، ثنا زُهَيْرٌ، وَثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْمُزَنِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، ثنا زُهَيْرٌ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَبُو إِسْحَاقَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، وَلَا أَرَاهُ يُحْدِثُ وُضُوءًا بَعْدَ الْغُسْلِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَلَهُ شَاهِدٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ مُلَخَّصٌ مُفَسَّرٌ، وَلَمْ يَشُكَّ فِيهِ الرَّاوِي»
Al Mustadrak 546: Abdullah bin Musa mengabarkan kepada kami, Ali bin Al Husain bin Al Junaid memberitakan (kepada kami), Al Mu’afa bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, Abu Muhammad Al Muzani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Al Hadhrami menceritakan kepada kami, Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Abu Ishaq menceritakan kepada kami dari Al Aswad, dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh, dan aku tidak melihat beliau memperbarui wudhunya (tidak berwudhu) setelah mandi.” Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Hadits ini memiliki syahid sesuai syarat Muslim yang ringkas dan mufassar, tanpa ada keraguan pada periwayatnya: