سنن الدارقطني ٥٥٣: حَدَّثَنَا ابْنُ الصَّوَّافِ , نا حَامِدٌ , نا سُرَيْجٌ , نا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ , عَنْ نُعَيْمِ بْنِ الضَّمْضَمِ , عَنِ الضَّحَّاكِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «الْبَحْرُ مَاءٌ طَهُورٌ لِلْمَلَائِكَةِ إِذَا نَزَلُوا تَوَضَّئُوا وَإِذَا صَعِدُوا تَوَضَّئُوا»
Sunan Daruquthni 553: Ibnu Ash-Shawwaf menceritakan kepada kami, Hamid mengabarkan kepada kami, Suraij mengabarkan kepada kami, Ali bin Tsabit mengabarkan kepada kami, dari Nu'aim bin Adh-Dhamdham, dan Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, "Laut adalah air suci (lagi menyucikan) bagi malaikat. Apabila turun (ke bumi) mereka berwudhu, dan apabila naik mereka juga berwudhu."
Grade
سنن الدارقطني ٥٥٤: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَالْقَاسِمُ أَخُوهُ , قَالَا: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا جَرِيرٌ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ , عَنْ عِيسَى بْنِ حطانٍ , عَنْ مُسْلِمِ بْنِ سَلَّامٍ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ طَلْقٍ الْحَنَفِيِّ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُعِدْ صَلَاتَهُ»
Sunan Daruquthni 554: Al Husain bin Isma'il dan saudaranya,' yakni Al Qasim, menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami, dari Ashim bin Sulaiman Al Ahwal, dari isa bin Hiththan, dari Muslim bin Sallam, dari Ali bin Thalq Al Hanafi, ia mengatakan, "Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila seseorang di antara kalian buang angin (kentut) di dalam shalat, maka hendaklah berbalik lalu berwudhu dan mengulangi shalatnya'."
Grade
المستدرك ٥٥٤: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مَزْيَدٍ الْبَيْرُوتِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ نَافِعٍ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبً، وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّونَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا، وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ} [التوبة: 108] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَثْنَى عَلَيْكُمْ خَيْرًا فِي الطُّهُورِ فَمَا طُهُورُكُمْ هَذَا؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ، وَالْغُسْلُ مِنَ الْجَنَابَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ مَعَ ذَلِكَ غَيْرُهُ؟» قَالُوا: لَا، غَيْرَ أَنَّ أَحَدَنَا إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالْمَاءِ، قَالَ: «هُوَ ذَاكَ» . " هَذَا حَدِيثٌ كَبِيرٌ صَحِيحٌ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ، فَإِنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، وَعُتْبَةَ بْنَ أَبِي حَكِيمٍ مِنْ أَئِمَّةِ أَهْلِ الشَّامِ، وَالشَّيْخَانِ إِنَّمَا أَخَذَا مُخَّ الرِّوَايَاتِ، وَمِثْلُ هَذَا الْحَدِيثِ لَا يُتْرَكُ لَهُ، قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ: مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ أَعْرَفُ النَّاسِ بِحَدِيثِ الشَّامِيِّينَ، وَلَهُ شَاهِدٌ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ "
Al Mustadrak 554: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Al Walid bin Mazid Al Bairuti memberitakan (kepada kami), Muhammad bin Syu’aib bin Syabur menceritakan kepada kami, Utbah bin Abu Hakim menceritakan kepadaku dari Thalhah bin Nafi', bahwa dia menceritakan kepadanya, dia berkata: Abu Ayyub, Jabir bin Abdullah dan Anas bin Malik, mereka semua orang-orang Anshar menceritakan kepadaku dari Rasulullah tentang ayat, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Qs. At-Taubah [9]: 108) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai orang-orang Anshar, sesungguhnya Allah memuji kalian yang baik dalam bersuci. Apakah bersuci yang kalian lakukan?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, kami berwudhu untuk shalat dan mandi junub." Rasulullah lalu bertanya, "Adakah selain itu yang kalian lakukan'?" Mereka menjawab, "Tidak ada, hanya saja apabila salah seorang dari kami selesai buang air besar, maka dia suka beristinja dengan air." Nabi lalu bersabda, "Itulah yang dimaksud." Hadits ini shahih, yang terkenal tentang kitab Thaharah, karena Muhammad bin Syu’aib bin Syabur dan Utbah bin Abu Hakim merupakan salah seorang Imam penduduk Syam, dan Al Bukhari serta Muslim [...] hanya mengambil inti dari riwayat-riwayat ini. Hadits seperti ini tidak ditinggalkan. Ibrahim bin Ya’qub berkata, “Muhammad bin Syu’aib merupakan orang yang paling mengetahui hadits orang-orang Syam.” Hadits ini memiliki syahid dengan sanad yang shahih.
سنن الدارقطني ٥٥٥: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ , أَنَّ دَاوُدَ بْنَ رُشَيْدٍ حَدَّثَهُمْ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ أَبِيهِ , وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا قَاءَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ , أَوْ قَلَسَ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ , ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى مَا مَضَى مِنْ صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ». قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: فَإِنْ تَكَلَّمَ اسْتَأْنَفَ
Sunan Daruquthni 555: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami dengan cara dibacakan kepadanya dan aku mendengar, bahwa Daud bin Rusyaid menceritakan kepada mereka, Isma'il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, Abdul malik bin Abdul Aziz bin Juraij menceritakan kepadaku, dari ayahnya dan dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang di antara kalian muntah dalam shalatnya atau gumoh maka hendaklah ia berbalik lalu berwudhu, kemudian melanjutkan shalat yang telah dilaksanakannya selama ia tidak berbicara.” Ibnu Juraij mengatakan, "Apabila ia telah berbicara, maka hendaknya mengulangi dari awal."
Grade
سنن الدارقطني ٥٥٦: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , ثنا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التَّرْقُفِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , حَدَّثَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا قَاءَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ , أَوْ قَلَسَ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ , وَلْيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ». قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ , وَحَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ.
Sunan Daruquthni 556: Abu Abdillah Al Husain bin Isma'il menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Abdullah At-Turqufi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, Isma'il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia mengatakan, "Rasulullah SAW bersabda, Apabila seseorang di antara kalian muntah dalam shalatnya atau gumoh maka hendaklah ia berbalik lalu berwudhu dan melanjutkan shalatnya yang telah dilaksanakannya selama ia tidak berbicara'," Ibnu Juraij mengatakan: Dan Ibnu Mulaikah menceritakan kepadaku, dari Aisyah, dari Nabi SAW, seperti itu.
Grade
المستدرك ٥٥٦: أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ حِبَّانَ الْأَنْصَارِيُّ، ثُمَّ الْمَازِنِيُّ مَازِنُ بَنِي النَّجَّارِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: أَرَأَيْتَ وُضُوءَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ، أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ، عَنْ مَنْ هُوَ؟ قَالَ: حَدَّثَتْهُ أَسْمَاءُ بِنْتُ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرٍ الْغَسِيلَ، حَدَّثَهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان أَمَرَ بِالْوُضُوءِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ، أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ، فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَوَضَعَ عَنْهُمُ الْوُضُوءَ إِلَّا مِنْ حَدَثٍ» . وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَرَى أَنَّ بِهِ قُوَّةً عَلَى ذَلِكَ فَفَعَلَهُ حَتَّى مَاتَ. «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» إِنَّمَا اتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «كَانَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوَضُوءٍ وَاحِدٍ»
Al Mustadrak 556: [...J ayahku dari Abu Ishaq, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban Al Anshari, kemudian Al Mazini, Mazin bani An- Najjar, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar, dia berkata: Aku berkata kepadanya, "Bagaimana menurutmu tentang wudhu yang dilakukan Abdullah bin Umar untuk setiap shalat, baik dia dalam keadaan suci maupun tidak suci? Dari siapakah dia mendapatkannya?" Dia berkata, “Asma binti Zaid bin Al Khaththab menceritakan bahwa Abdullah bin Hanzhalah bin Abu Amir Al Ghasil menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah menyuruh berwudhu untuk setiap shalat, baik dalam keadaan suci maupun tidak suci. Kemudian ketika beliau melihat hal tersebut memberatkan (umatnya), beliau pun menyuruh untuk bersiwak setiap akan shalat dan meninggalkan wudhu kecuali bagi yang berhadats. Sedangkan yang dilakukan Abdullah adalah karena dia merasa mampu melakukannya, maka dia melakukannya sampai wafat’ Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, namun Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Keduanya hanya sepakat pada hadits Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, bahwa Nabi berwudhu untuk setiap shalat, tapi pada tahun penaklukan Makkah, beliau menunaikan seluruh shalat dengan satu wudhu.
المستدرك ٥٥٧: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ، ثنا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ جَابِرٍ وَهُوَ عَقِيلُ بْنُ جَابِرٍ سَمَّاهُ سَلَمَةُ الْأَبْرَشُ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ مِنْ نَخْلٍ فَأَصَابَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَافِلًا أَتَى زَوْجُهَا وَكَانَ غَائِبًا، فَلَمَّا أُخْبِرَ الْخَبَرَ حَلَفَ لَا يَنْتَهِي حَتَّى يُهْرِيقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمًا، فَخَرَجَ يَتْبَعُ أَثَرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلًا، فَقَالَ: «مَنْ رَجُلٌ يَكْلَؤُنَا لَيْلَتَنَا هَذِهِ» فَانْتُدِبَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَا: نَحْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَكُونَا بِفَمِ الشِّعْبِ» قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ قَدْ نَزَلُوا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ الْوَادِي، فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ الرَّجُلَانِ إِلَى فَمِ الشِّعْبِ، قَالَ الْأَنْصَارِيُّ لِلْمُهَاجِرِيِّ: أَيُّ اللَّيْلِ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَنْ أَكْفِيَكَهُ؟، قَالَ: اكْفِنِي أَوَّلَهُ، فَاضْطَجَعَ الْمُهَاجِرِيُّ، وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّي، قَالَ: وَأَتَى زَوْجُ الْمَرْأَةِ فَلَمَّا رَأَى شَخَصَ الرَّجُلِ عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيَّةُ الْقَوْمِ، قَالَ: فَرَمَاهُ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ، قَالَ: فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَثَبَتَ قَائِمًا يُصَلِّي، ثُمَّ رَمَاهُ بِسَهْمٍ آخَرَ فَوَضَعَهُ فِيهِ، فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَثَبَتَ قَائِمًا يُصَلِّي، ثُمَّ عَادَ لَهُ الثَّالِثَةَ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ أَهَبَّ صَاحِبَهُ، فَقَالَ: اجْلِسْ فَقَدْ أَثْبَتُ فَوَثَبَ، فَلَمَّا رَآهُمَا الرَّجُلُ عَرَفَ أَنَّهُ قَدْ نَذَرَ بِهِ، فَهَرَبَ، فَلَمَّا رَأَى الْمُهَاجِرِيُّ مَا بِالْأَنْصَارِيِّ مِنَ الدِّمَاءِ، قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، أَفَلَا أَهْبَبْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَاكَ، قَالَ: كُنْتُ فِي سُورَةٍ أَقْرَؤُهَا فَلَمْ أُحِبَّ أَنْ أَقْطَعَهَا حَتَّى أُنْفِذَهَا، فَلَمَّا تَابَعَ عَلَيَّ الرَّمْيَ رَكَعْتُ فَآذَنْتُكَ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْلَا أَنْ أُضَيِّعَ ثَغْرًا، أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِهِ لَقُطِعَ نَفَسِي قَبْلَ أَنْ أَقْطَعَهَا، أَوْ أُنْفِذَهَا «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، فَقَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ بِأَحَادِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، فَأَمَّا عَقِيلُ بْنُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ فَإِنَّهُ أَحْسَنُ حَالًا مِنْ أَخَوَيْهِ مُحَمَّدٍ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَهَذِهِ سُنَّةٌ ضَيِّقَةٌ قَدِ اعْتَقَدَ أَئِمَّتُنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ خُرُوجَ الدَّمِ مِنْ غَيْرِ مَخْرَجِ الْحَدَثِ لَا يُوجِبُ الْوُضُوءَ "
Al Mustadrak 557: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdul Jabbar menceritakan kepada kami, Yunus bin Bukair menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Shadaqah bin Yasar menceritakan kepadaku dari Ibnu Jabir —yaitu Aqil bin Jabir, yang diberi nama Salamah Al Abrasi—, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah pada perang Dzatur Riqa’ di sebuah pohon kurma, lalu salah seorang tentara muslim menyetubuhi istri seorang laki-laki musyrik. Ketika Rasulullah pulang, suami dari perempuan tersebut datang setelah sebelumnya dia tidak ada (pergi). Ketika dia diberitahu kabar tersebut, dia bersumpah tidak akan berhenti (untuk balas dendam) sampai darah mengalir pada sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia lantas keluar mengikuti jejak Rasulullah hingga beliau berhenti di suatu tempat. Beliau bersabda, "Siapakah yang mau menjaga kami malam ini?" Tampillah seorang laki-laki Muhajirin dan seorang laki-laki Anshar. Keduanya berkata, "Kami, wahai Rasulullah." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tetaplah kalian berada di mulut jalanan bukit ini." Rasulullah kemudian berhenti di suatu di jalanan di lembah. Ketika keduanya keluar menuju mulut jalan, orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, ((Malam apakah yang lebih kamu sukai agar aku berjaga-jaga?” Orang Muhajirin berkata, “Biarkan aku beristirahat terlebih dahulu.” Orang Muhajirin tersebut pun tidur, sementara orang Anshar berdiri untuk menunaikan shalat." Lalu datanglah suami dari perempuan yang disetubuhi tadi. Ketika dia melihat kondisi laki-laki tersebut, dia tahu bahwa orang tersebut merupakan penjaga (yang menjaga), maka dia memanahnya dengan anak panah hingga menancap di tubuhnya. Tapi laki-laki tersebut mencabutnya lalu membuangnya seraya tetap berdiri menunaikan shalat. Kemudian dia memanahnya dengan anak panah yang lain, tapi laki-laki tersebut mencabutnya kembali lalu membuangnya dan tetap berdiri shalat. Kemudian dia mengulanginya untuk ketiga kalinya, tapi laki-laki tersebut mencabutnya lagi dan membuangnya, lalu ruku, kemudian membangunkan temannya. Temannya tersebut lalu berkata, “Duduklah, karena aku telah siap (menggantikan).” Dia kemudian duduk. Ketika laki-laki tersebut (suami dari perempuan yang disetubuhi) melihat keduanya, dia baru tahu bahwa keduanya telah beijanji (untuk saling bergantian berjaga), maka dia pun lari. Ketika orang Muhajirin melihat kondisi orang Anshar yang penuh darah, dia berkata, “Subhanallah, mengapa kamu tidak membangunkanku ketika kamu dipanah untuk pertama kali?” Dia menjawab, “Aku sedang membaca suatu surah dan aku tidak ingin memotongnya sebelum aku selesai membacanya. Ketika serangan panah terus-menerus menimpaku, aku pun ruku, lalu memberitahumu. Demi Allah, seandainya tidak karena takut akan kehilangan batas wilayah yang Rasulullah perintahkan agar aku menjaganya, pastilah nyawaku sudah terenggut sebelum aku memotongnya atau menyelesaikannya.” Sanad hadits ini shahih. Muslim berhujjah dengan hadits- hadits Muhammad bin Ishaq. Aqil bin Jabir bin Abdullah Al Anshari lebih baik kondisinya daripada kedua saudaranya (Muhammad dan Abdurrahman). Ini merupakan Sunnah yang sempit, karena para imam kita berkeyakinan berdasarkan hadits ini, bahwa keluarnya darah tanpa adanya hadats tidak mewajibkan wudhu.
سنن الدارقطني ٥٥٨: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ الْفَضْلِ الْكَاتِبُ , نا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ الْفَرَائِضِيُّ , نا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَلَسَ أَوْ قَاءَ أَوْ رَعَفَ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُتِمَّ عَلَى صَلَاتِهِ».
Sunan Daruquthni 558: Muhammad bin Sahl bin Al Fudhail Al Katib menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid Al Faraidzi mengabarkan kepada kami, Ar-Rabi' bin Nafi' mengabarkan kepada kami, dari Isma'il bin Ayyasy, dari Ibnu Juraij, dari ayahnya, ia mengatakan, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa gumoh atau muntah atau mimisan, maka hendaklah ia berwudhu lalu menyempurnakan shalatnya' "
Grade
صحيح مسلم ٥٥٩: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ وَقَالَ أَبُو الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ فَأُتِيَ بِطَعَامٍ فَذَكَرُوا لَهُ الْوُضُوءَ فَقَالَ أُرِيدُ أَنْ أُصَلِّيَ فَأَتَوَضَّأَ
Shahih Muslim 559: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya at-Tamimi] dan [Abu ar-Rabi' az-Zahrani] berkata [Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Hammad bin Zaid] dan berkata [Abu ar-Rabi'] telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Amru bin Dinar] dari [Sa'id bin al-Huwairits] dari [Ibnu Abbas] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari WC, lalu beliau dibawakan makanan, maka mereka mengingatkan beliau untuk berwudhu, maka beliau bersabda, "Saya ingin shalat, maka saya berwudhu."
صحيح مسلم ٥٦٠: و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُا كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ مِنْ الْغَائِطِ وَأُتِيَ بِطَعَامٍ فَقِيلَ لَهُ أَلَا تَوَضَّأُ فَقَالَ لِمَ أَأُصَلِّي فَأَتَوَضَّأَ
Shahih Muslim 560: Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Uyainah] dari [Amru] dari [Sa'id bin al-Huwairits] saya mendengar [Ibnu Abbas] berkata: "Kami pernah di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau datang dari WC, dan beliau dibawakan makanan, maka dikatakan kepada beliau, 'Tidakkah kamu berwudhu?.' Maka beliau bersabda, 'Mengapa harus berwudhu, apakah saya akan shalat sehingga harus berwudhu'."