صحيح ابن حبان ١٤٢٨: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي مَعْشَرٍ، بِحَرَّانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو الْبَجَلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ، فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ، فَدَعَانِي فَقَالَ: ادْنُ فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.
Shahih Ibnu Hibban 1428: Al Husain bin Muhammad bin Abu Ma’syar di Harran telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman bin Amr Al Bajali telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Zuhair bin Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al A’masy telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Syaqiq dari Hudzaifah, ia berkata, Aku pemah berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hingga berakhir di sebuah tempat pembuangan sampah milik suatu kaum. Lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. Aku pun menjauh, namun beliau memanggilku dan bersabda, “Mendekatlah! ”, maka aku mendekat hingga berdiri di dekat tumitnya. Kemudian beliau berwudhu dan mengusap sepasang khuffiiya.” 343 [2:4]
صحيح ابن حبان ١٤٣٦: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ هِلاَلِ بْنِ يِسَافٍ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ قَيْسٍ الأَشْجَعِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَاسْتَنْثِرْ، وَإِذَا اسْتَجْمَرْتَ فَأَوْتِرْ.
Shahih Ibnu Hibban 1436: Al Fadhl bin Al Hubbab Al Jumahi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Katsir Al Abdi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan Ats-Tsauri telah mengabarkan kepada kami sebuah hadits dari Manshur dari Hilal bin Yisaf dari Salamah bin Qais Al Asyja’i, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Apabila kamu berwudhu, maka hiruplah air melalui hidung. Dan apabila kamu beristinja, maka lakukan dengan hitungan ganjil.354 (78:1)
صحيح ابن حبان ١٤٣٨: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، وَأَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، يَقُولاَنِ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الاِسْتِنْثَارُ هُوَ إِخْرَاجُ الْمَاءِ مِنَ الأَنْفِ، وَالاِسْتِنْشَاقُ: إِدْخَالُهُ فِيهِ، فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ أَرَادَ فَلْيَسْتَنْشِقْ، فَأَوْقَعَ اسْمَ الْبِدَايَةِ الَّذِي هُوَ الاِسْتِنْشَاقُ عَلَى النِّهَايَةِ الَّذِي هُوَ الاِسْتِنْثَارُ، لأَنَّهُ لاَ يُوجَدُ الاِسْتِنْثَارُ إِلاَّ بِتَقَدُّمِ الاِسْتِنْشَاقِ لَهُ، وَالاِسْتِجْمَارُ هُوَ الاِسْتِطَابَةُ، وَهُوَ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ عَنِ الْمَخْرَجَيْنِ.
Shahih Ibnu Hibban 1438: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yunus telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Ibnu Syihab, ia berkata, Abu Idris Al Khulani telah menceritakan kepadaku sebuah hadits bahwa ia mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa yang berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air melalui hidung. Dan barangsiapa yang beristinja dengan batu, maka hendaklah ia lakukan dengan ganjil.”356 [52:1] Abu Hatim berkata, “ الاِسْتِنْثَارُ ” artinya mengeluarkan air melalui hidung. Sedangkan “ الاِسْتِنْشَاقُ” artinya memasukkan air ke dalam hidung. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam “ مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ” maksudnya “ فَلْيَسْتَنْشِقْ” (maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidung -dengan cara dihirup oleh hidung-). Jadi, beliau membahasakan proses awal, yaitu menghirup air dengan hidung, melalui kata yang menunjukkan proses akhir, yaitu mengeluarkan air melalui hidung. Karena mengeluarkan air melalui hidung tidak mungkin terwujud tanpa didahului oleh menghirupnya dengan hidung. Yang dimaksud لاِسْتِجْمَارُ adalah لاِسْتِطَابَةُ yang berarti meghilangkan najis dari lubang qubul dan dubur.
صحيح ابن حبان ١٤٣٩: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلِ الْمَاءَ فِي أَنْفِهِ، ثُمَّ لِيَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ.
Shahih Ibnu Hibban 1439: Abu Khalifah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Al Qa’nabi telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Malik dari Abu Az-Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, maka hendaklah ia menjadikan air ke dalam hidung. Kemudian hendaklah ia mengeluarkannya. Dan barangsiapa yang beristinja, maka hendaklah ia lakukan dengan hitungan ganjil.”357
صحيح ابن حبان ١٤٥٩: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى آذَتْنَا الشَّمْسُ، فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ رَاحِلَتَهُ ثُمَّ يَتَنَحَّى عَنْ هَذَا الْمَنْزِلِ ثُمَّ دَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: فِي تَأْخِيرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ عَنِ الْوَقْتِ الَّذِي أَثْبَتَهُ إِلَى أَنْ خَرَجَ مِنَ الْوَادِي دَلِيلٌ صَحِيحٌ، عَلَى أَنَّ تَارِكَ الصَّلاَةِ إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا لاَ يَكُونُ كَافِرًا، إِذْ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَدَاءِ الصَّلاَةِ فِي وَقْتِ انْتِبَاهِهِمْ مِنْ مَنَامِهِمْ، وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالتَّنَحِّي عَنِ الْمَنْزِلِ الَّذِي نَامُوا فِيهِ، وَالْفَرْضُ لاَزِمٌ لَهُمْ قَدْ جَازَ وَقْتُهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1459: Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Fudhail telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami berhenti (di sebuah tempat peristirahatan musafir) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam. Kami belum terbangun hingga matahari menyengat tubuh kami. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Hendaklah setiap laki-laki dari kalian mengambil kendaraan. Kemudian tinggalkan tempat ini! " Kemudian beliau minta dibawakan air. Setelah itu beliau berwudhu dan sujud sebanyak dua kali. Lalu shalat pun dilaksanakan'. 399 [25:3] Abu Hatim berkata, “Perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengakhirkan shalat dari waktu yang sudah ditetapkan hingga beliau keluar dari lembah menjadi dalil yang shahih bahwa orang yang meninggalkan shalat sampai keluar waktunya tidak dihukumi kafir. Karena jika dihukumi kafir, niscaya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada mereka agar segera menunaikan shalat saat mereka terbangun dari tidur, dan niscaya beliau tidak memerintahkan supaya mereka meninggalkan tempat di mana mereka tertidur pulas. Jadi shalat fardhu wajib mereka lakukan namun waktunya boleh (ditunda)”
صحيح ابن حبان ١٤٦١: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهْلِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا هِشَامٌ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ: سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ عَرَّسْنَا فَغَلَبَتْنَا أَعْيُنُنَا وَمَا أَيْقَظَنَا إِلاَّ حَرُّ الشَّمْسِ، فَكَانَ الرَّجُلُ يَقُومُ إِلَى وَضُوئِهِ دَهِشًا، فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَوَضَّأُوا، ثُمَّ أَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ، ثُمَّ صَلُّوا رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ فَصَلَّى الْفَجْرَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَرَّطْنَا، أَفَلاَ نُعِيدُهَا لِوَقْتِهَا مِنَ الْغَدِ؟ فَقَالَ: يَنْهَاكُمْ رَبُّكُمْ عَنِ الرِّبَا، وَيَقْبَلُهُ مِنْكُمْ؟ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ.
Shahih Ibnu Hibban 1461: Muhammad bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hisyam telah mengabarkan kepada kami sebuah hadits dari Al Hasan dari Imran bin Hushain, ia berkata, “Kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Ketika waktu sudah sampai pada penghujung malam, kami berhenti di sebuah peristirahatan. Mata kami dilanda rasa kantuk yang luar biasa (kami tertidur), dan tidak ada yang membangunkan kami kecuali terik matahari. Setiap laki-laki berdiri untuk wudhu dengan perasaan bingung. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berwudhu. Mereka pun berwudhu. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk adzan, maka Bilal pun mengumandangkan Kemudian mereka melaksanakan shalat dua raka’at fajar (qabliyah shubuh). Setelah itu beliau memerintahkan Bilal untuk iqamat. Maka Bilal pun iqamat. Lalu beliau melaksanakan shalat Shubuh. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah kami harus mengulangi shalat pada waktunya besok?”. Beliau menjawab, “Tuhan kalian melarang kalian melakukan riba. Namun Dia menerima riba (menambah shalat) dari kalian. Sungguh, kelalaian hanya terjadi pada saat terjaga (tidak tidur). ” 401 [25:3]
صحيح ابن خزيمة ١٤٨٧: نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُرَادِيُّ، نا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، ح، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، نا أَبِي، وَشُعَيْبٌ قَالَا: أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، وَنَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ التَّمِيمِيِّ، عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَصَلَّاهَا مَعَ الْإِمَامِ، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 1487: Ar-Rabi' bin Sulaiman Al Muradi menceritakan kepada kami, Syu'aib menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami (Ha') dan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam menceritakan kepada kami, ayahku dan Syu'aib menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Abdullah bin Abu Salamah dan Nafi' bin Jubair bin Muth'im, dari Mu'adz bin Abdurrahman bin Utsman At-Tamimi dari Humran maula Utsman bin Affan, dari Utsman bin Affan, ia berkata. "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian pergi menunaikan shalat fardhu lalu ia mengerjakannya bersama imam niscaya diampuni dosa-dosanya."
صحيح ابن خزيمة ١٤٨٨: نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا جَرِيرٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، ح، وَثنا الدَّوْرَقِيُّ، وَسَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ قَالَا: ثنا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، وَقَالَ الدَّوْرَقِيُّ قَالَ: ثنا الْأَعْمَشُ، ح، وَثنا بُنْدَارٌ، وَأَبُو مُوسَى قَالَا: ثنا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، ح، وَثنا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ الْعَسْكَرِيُّ، نا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ ذَكْوَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ بِبِضْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً، وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَا يُرِيدُ غَيْرَهَا، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً» ، هَذَا حَدِيثُ بُنْدَارٍ، وَقَالَ أَبُو مُوسَى: أَوْ حَطَّ عَنْهُ، وَقَالَ بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، وَسَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، وَالدَّوْرَقِيُّ: وَحَطَّ عَنْهُ، وَقَالَ الدَّوْرَقِيُّ: حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ
Shahih Ibnu Khuzaimah 1488: Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Al A'masy (Ha') Ad-dauraqi dan Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami dari Al A'masy, Ad-Dauraqi berkata: Al A'masy menceritakan kepada kami (Ha') Bundar dan Abu Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ibnu Abu Adi menceritakan kepada kami dari Syu'bah, dari Sulaiman (Ha') Bisyir bin Khalid Al Askari menceritakan kepada kami, Muhammad -yaitu Ibnu Ja'far- menceritakan kepada kami dari Syu'bah, dari Sulaiman, dari Dzakwan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Shalatnya seseorang di antara kamu dengan berjamaah lebih utama lebih dua puluh derajat dari shalatnya sendirian di rumah dan di pasar. Begitu pula, salah seorang di antara kamu apabila ia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu pergi mengerjakan shalat dengan tidak mengharapkan selain itu niscaya tidaklah ia melangkahkan kakinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya." Ini adalah hadits Bundar. Abu Musa menyebutkan, "Atau dihapuskan darinya." Bisyir bin Khalid dan Salam bin Junadah serta Ad-Dauraqi menyebutkan, "Dan dihapuskan darinya." Ad-Dauraqi berkata, "Sampai ia masuk ke dalam masjid."
صحيح ابن خزيمة ١٤٨٩: نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، نا شُعَيْبٌ، ثنا اللَّيْثُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَتَوَضَّأُ أَحَدُكُمْ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ وَيُسْبِغُهُ، ثُمَّ يَأْتِي الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ، إِلَّا تَبَشْبَشَ اللَّهُ إِلَيْهِ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِطَلْعَتِهِ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 1489: Ar-Rabi' bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Syu'aib menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami dari Sa'id bin Abu Sa'id, dari Abu Ubaidah, dari Sa'id bin Yasar bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah salah seorang di antara kamu berwudhu dan memperbaiki wudhunya serta menyempurnakannya lalu pergi ke masjid dengan niat hanya untuk shalat maka Allah akan tersenyum kepadanya sebagaimana halnya keluarga yang ditinggalkan tersenyum dengan kedatangannya (setelah beberapa lama pergi)'."
صحيح ابن خزيمة ١٥٠٢: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، وَسَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ الدَّوْرَقِيُّ: ثنا الْأَعْمَشُ قَالَ: سَلْمٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، فَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ "
Shahih Ibnu Khuzaimah 1502: Ya'qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, Ad-Dauraqi berkata: Al A'masy menceritakan kepada kami, Sallam berkata: dari Al A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu berwudhu lalu pergi ke masjid tidak bermaksud kecuali shalat, tidak menginginkan kecuali shalat, maka apabila ia masuk ke masjid maka ia dalam keadaan shalat selama shalat itu mengikatnya, dan para malaikat akan bershalawat atas salah seorang di antara kamu selama ia masih berada di tempat duduknya yang dipergunakan shalat padanya, mereka mendoakan: 'Ya Allah, ampunilah ia, ya Allah, kasihanilah ia, ya Allah, berilah taubat atas dirinya.' Selama tidak berbuat kesalahan di dalamnya, selama tidak berhadats di dalamnya."