صحيح ابن حبان ١٠٤٣: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ جَامِعِ بْنِ شَدَّادٍ، أَنَّهُ سَمِعَ حُمْرَانَ بْنَ أَبَانَ يُحَدِّثُ أَبَا بُرْدَةَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ أَتَمَّ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلاَ، فَالصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ.
Shahih Ibnu Hibban 1043: Abdullah bin Muhammad Al Azdi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Wahab bin Jarir mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Jami’ bin Syaddad, bahwa ia mendengar Humran bin Aban bercerita kepada Abu Burdah, dari Utsman bin Affan, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyempurnakan wudhu sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Jalla Wa Alaa, maka shalat lima waktu yang dikerjakannya akan menghapuskan dosa-dosa yang ada diantara waktu-waktu shalat tersebut.” 11 [1:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤٤: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، فَدَعَا بِطَهُورٍ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوبَةُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَرُكُوعَهَا وَخُشُوعَهَا، إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ، مَا لَمْ يَأْتِ كَبِيرَةً، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1044: Abu Khalifah mengabarkan kepada kami, Abu Al Walid Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, Hisyam bin Abdul Malik menceritakan kepada kami, Ishaq bin Sa’id bin Amar bin Sa’id bin Al Ash menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata, “Aku bersama Utsman bin Affan lalu ia meminta air untuk berwudhu dan berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dari seorang muslim, saat waktu shalat telah datang ia langsung menyempurnakan wudhunya, ruku’nya, dan kekhusyu’annya, melainkan shalatnya itu menjadi penghapus bagi dosa-dosa (kecil)nya yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar. Dan pengampunan dosanya itu terjadi sepanjang tahun selama ia terus melaksanakan shalat sebagaimana yang diperintahkan.”12 11:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤٥: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ عَبْدِ اللهِ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: تَبْلُغُ حِلْيَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ مَبْلَغَ الْوُضُوءِ.
Shahih Ibnu Hibban 1045: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Abdul Ghaffar bin Abdullah Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Ali bin Mashar menceritakan kepada kami, dari Sa’ad bin Thariq, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perhiasan penduduk surga itu akan sampai pada batas wudhunya.”13 [ 1:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤٦: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَقْبَرَةَ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، وَدِدْتُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ؟ قَالَ: بَلْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ، وَأَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ مِنْ أُمَّتِكَ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ، أَلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ، فَلَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ، أُنَادِيهِمْ: أَلاَ هَلُمَّ، أَلاَ هَلُمَّ، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: فَسُحْقًا، فَسُحْقًا، فَسُحْقًا.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الاِسْتِثْنَاءُ يَسْتَحِيلُ فِي الشَّيْءِ الْمَاضِي، وَإِنَّمَا يَجُوزُ الاِسْتِثْنَاءُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنَ الأَشْيَاءِ. وَحَالُ الإِنْسَانِ فِي الاِسْتِثْنَاءِ عَلَى ضَرْبَيْنِ، إِذَا اسْتَثْنَى فِي إِيمَانِهِ: فَضَرْبٌ مِنْهُ يُطْلَقُ مُبَاحٌ لَهُ ذَلِكَ، وَضَرْبٌ آخَرُ إِذَا اسْتَثْنَى فِيهِ الإِنْسَانُ كَفَرَ. وَأَمَّا الضَّرْبُ الَّذِي لاَ يَجُوزُ ذَلِكَ، فَهُوَ أَنْ يُقَالَ لِلرَّجُلِ: أَنْتَ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَالْبَعْثِ وَالْمِيزَانِ، وَمَا يُشْبِهُ هَذِهِ الْحَالَةَ؟ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُولَ: أَنَا مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ حَقًّا، وَمُؤْمِنٌ بِهَذِهِ الأَشْيَاءِ حَقًّا، فَمَتَى مَا اسْتَثْنَى فِي هَذَا كَفَرَ.وَالضَّرْبُ الثَّانِي: إِذَا سُئِلَ الرَّجُلُ: إِنَّكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِي يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ، وَهُمْ فِيهَا خَاشِعُونَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ؟ فَيَقُولُ: أَرْجُو أَكُونَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. أَوْ يُقَالُ لَهُ: أَنْتَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ فَيَسْتَثْنِي أَنْ يَكُونَ مِنْهُمْ. وَالْفَائِدَةُ فِي الْخَبَرِ حَيْثُ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَقِيعَ الْغَرْقَدِ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فِيهِمْ مُؤْمِنُونَ وَمُنَافِقُونَ، فَقَالَ: إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، وَاسْتَثْنَى الْمُنَافِقِينَ أَنَّهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يُسْلِمُونَ، فَيَلْحَقُونَ بِكُمْ، عَلَى أَنَّ اللُّغَةَ تُسَوِّغُ إِبَاحَةَ الاِسْتِثْنَاءِ فِي الشَّيْءِ الْمُسْتَقْبَلِ وَإِنْ لَمْ يَشُكَّ فِي كَوْنِهِ، لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنَيْنِ}.
Shahih Ibnu Hibban 1046: Al Fadhl bin Al Hubab Al Jumahi mengabarkan kepada kami, Al Qa’nabi menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Al Ala bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke sebuah pekuburan lalu mengucap: “Assalaamu alaikum daara qaumin mu’miniina innaa insya Allahu bikum laahiqun (Assalaamu ’alikum hai perkampungan kaum mukminin dan kami Insya Allah menyusul kalian), aku ingin sekali dapat melihat saudara-saudara kita.”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bukankah kami ini (juga) saudaramu?”. Beliau menjawab: “Kalian adalah shahabatku, (maksudnya adalah) saudara-saudara kita yang akan datang di kemudian hari, dan aku adalah orang yang paling dahulu sampai di Telaga.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang hidup dari umatmu setelah engkau?” Beliau menjawab: “Kalau seorang mempunyai kuda yang putih mukanya di tengah-tengah kawanan kuda yang hitam, bukankah ia dapat mengenal kudanya?” Mereka menjawab: “Tentu saja Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Beliau bersabda, “-Demikian pula kaum mukminin akan datang kelak dengan tanda muka yang cemerlang karena bekas wudhu, sedangkan aku orang yang paling dahulu sampai di Telaga itu. perhatikanlah, bahwa akan diusir satu rombongan orang dari telagaku itu seakan-akan mengusir unta yang sesat. Aku memanggil-manggil mereka: “Marilah-marilah. ”Seruanku itu dijawab oleh orang: "Mengapa mereka dipanggil, padahal mereka telah memeluk agama lain sesudah wafatmu?"Aku menjawab:"Jika demikian enyahlah jauh-jauh.” 14 Abu Hatim berkata, “Pengecualian (istitsna’) itu mustahil ada pada sesuatu yang lampau, pengecualian itu hanya boleh untuk hal-hal yang akan datang." Keadaan manusia di dalam pengecualian terbagi menjadi dua bagian, apabila ia mengecualikan di dalam keimanannya: maka satu bagian itu dihukumi boleh (mubah). Dan bagian lainnya kafir/kufur. Adapun satu bagian yang tidak mempebolehkannya adalah apabila seseorang berkata kepada orang lainnya: “Apakah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, surga, neraka, hari pembangkitan, dan timbangan amal, serta sesuatu yang menyerupainya?" Maka wajib atas orang itu menjawabnya dengan: “Aku orang yang beriman kepada Allah secara benar, dan kepada segala sesuatu itu secara benar." Apabila ia keluar dari ini, maka ia kafir. Adapun bagian kedua: Jika seseorang ditanya, “Apakah kamu termasuk orang mukmin yang selalu mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan termasuk orang yang khusyu dalam beribadah, serta orang yang berpaling dari bermain-main?" maka ia menjawab: “Aku berharap termasuk dari golongan tersebut, insya Allah.” Atau dikatakan kepadanya, “Apakah kamu termasuk penduduk surga?", lalu ia mengatakan bahwa ia bukanlah termasuk penduduk surga. Adapun faedah dalam hadits ini saat beliau bersabda, "Dan kami Insya Allah menyusul kalian; bahwa beliau masuk di kuburan umum para ahahabatnya, yang didalamnya terdapat orang mukmin dan orang munafik. Maka beliau mengucap, "Sesungguhnya kami -Insya Allah- akan menyusul kalian. ” Ini juga menunjukkan bahwa dalam bahasa boleh mengecualikan pada sesuatu yang akan datang sekalipun hal itu masih diragukan keberadaannya, berdasarkan firman Allah Azza wa Jaila: “esungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman.” 15 (Qa. Al Fath [48): 27)
سنن الدارمي ١٠٤٦: أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَمَّادٍ قَالَ سَأَلْتُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُصَافَحَةِ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ وَالْمَجُوسِيِّ وَالْحَائِضِ فَلَمْ يَرَ فِيهِ وُضُوءًا
Sunan Darimi 1046: Telah mengabarkan kepada kami [Ja'far bin 'Aun] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Hammad] ia berkata: "Aku pernah bertanya kepada [Ibrahim] tentang berjabat tangan dengan seorang (yang beragama) yahudi, nashrani, majusi dan wanita yang haid, maka ia berpendapat tidak harus berwudhu (setelah berjabat tangan) ".
Grade
صحيح ابن حبان ١٠٤٧: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا كَامِلُ بْنُ طَلْحَةَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ تَرَ مِنْ أُمَّتِكَ؟ قَالَ: غُرٌّ مُحَجَّلُونَ بُلْقٌ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ.
Shahih Ibnu Hibban 1047: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Kamil bin Thalhah menceritakan kepada kami, Hamad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Zirr, dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bagaimana engkau mengenali umatmu yang belum pernah engkau lihat?” Beliau menjawab: “(dari) kecemerlangan wajah mereka yang disebabkan dari bekas-bekas wudhu mereka:” 16
صحيح ابن حبان ١٠٤٨: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرِدُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ سِيمَا أُمَّتِي لَيْسَ لأَحَدٍ غَيْرِهَا.
Shahih Ibnu Hibban 1048: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Yahya bin Zakaria bin Abu Za'idah menceritakan kepada kami, dari Abu Malik Al Asyja’i, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Akan datang (kepadaku) manusia yang berwajah putih dan putih ujung kaki dan tangannya karena bekas wudhu. Itulah tanda dari umatku, yang tidak terdapat pada seorangpun dari umat yang lain.”17
صحيح ابن حبان ١٠٤٩: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلْمٍ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغَ الْمَنْكِبَيْنِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ.
Shahih Ibnu Hibban 1049: Abdullah bin Muhammad bin Salam mengabarkan kepada kami, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, Amar bin Al Harits mengabarkan kepada kami, dari Sa’id bin Abu Hilal, dari Nu’aim bin Abdullah, bahwa ia melihat Abu Hurairah berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua kakinya hingga hampir sampai kepada kedua pundaknya, kemudian ia membasuh kedua kakinya hingga mengangkat kedua pahanya, lalu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya umatku di hari kiamat (dipanggil) dengan cahaya di wajah, tangan, dan kaki karena bekas wudhu.” Barangsiapa di antara kamu ada yang mampu untuk memperpanjang cahayanya (karena bekas wudhu), maka hendaklah ia melakukannya.“ 18 [1:2]
سنن الدارمي ١٠٤٩: أَخْبَرَنَا الْمُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ كَانَ لَا يَرَى بَأْسًا أَنْ تُوَضِّئَ الْحَائِضُ الْمَرِيضَ
Sunan Darimi 1049: Telah mengabarkan kepada kami [Al Mu'alla bin `Asad] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Mugirah] dari [Ibrahim]: "Ia (berpendapat) Tidak mengapa seorang wanita yang sedang haid (membantu) membantu wudhu orang sakit".
Grade
صحيح ابن حبان ١٠٥٠: أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ بِعَسْقَلاَنَ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ صَالِحٍ يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُدَّامَ أَنْفُسِنَا نَتَنَاوَبُ الرِّعْيَةَ رِعْيَةَ إِبِلِنَا فَكُنْتُ عَلَى رِعْيَةِ الإِبِلِ، فَرُحْتُهَا بِعَشِيٍّ، فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ، فَسَمِعْتُهُ، يَقُولُ: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ، يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ، قَالَ: فَقُلْتُ: مَا أَجْوَدَ هَذِهِ، فَقَالَ رَجُلٌ: الَّذِي قَبْلَهَا أَجْوَدُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا هُوَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قُلْتُ: مَا هُوَ يَا أَبَا حَفْصٍ؟ قَالَ: إِنَّهُ، قَالَ آنِفًا، قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ: مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ وَضُوئِهِ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلاَّ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ لَهُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ، قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ: وَحَدَّثَنِيهِ رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: أَبُو عُثْمَانَ هَذَا يُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ حَرِيزَ بْنَ عُثْمَانَ الرَّحَبِيَّ، وَإِنَّمَا اعْتِمَادُنَا عَلَى هَذَا الإِسْنَادِ الأَخِيرِ، لأَنَّ حَرِيزَ بْنَ عُثْمَانَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فِي الْحَدِيثِ.
Shahih Ibnu Hibban 1050: Ibnu Qutaibah di Asqalan mengabarkan kepada kami, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, aku mendengar Mu'awiyah bin Shalih bercerita dari Abu Utsman, dari Jubair bin Nufair, dari Uqbah bin Amir, ia berkata: Kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para pelayan yang bergantian menggembala -menggembala unta kami- maka aku juga menggembalakan unta, kemudian pada waktu sore aku beristirahat dan aku jumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lalu aku mendengar beliau bersabda, "Tidaklah salah seorang dari kalian yang berwudhu lalu ia membaguskan (menyempurnakan) wudhunya, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka'at, dengan menghadapkan hati dan wajahnya (Saat shalat), maka sungguh ia wajib (masuk surga)." Uqbah berkata, “Lalu aku berkata, “Betapa hebatnya ini.” Seseorang kemudian berkata: “Yang sebelumnya itu justru yang lebih hebat.” Aku lalu memandang orang itu, dan ternyata ia adalah Umar bin Al Khaththab. Aku bertanya, “Perkara apakah yang lebih hebat itu wahai Abu Hafash?” Umar berkata, “Beliau bersabda sesaat sebelum kedatanganmu, "Tidaklah dari seseorang yang berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, setelah itu ia membaca kalimat ini ketika ia telah menyelesaikan wudhunya: Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu, melainkan pintu-pintu surga yang delapan akan dibukakan untuknya, yang ia boleh masuk dari pintu mana saja ia mau."19 [1:2] Mu’awiyah bin Shalih berkata, “Rabi'ah bin Yazid menceritakannya kepadaku, dari Abu Idris, dari Uqbah bin Amir." Abu Hatim berkata, “Abu Utsman yang ini mungkin adalah Hariz bin Utsman Ar-Rahbi. Sandaran kami hanyalah atas sanad yang terakhir ini, karena Hariz bin Utsman tidak mempunyai persoalan di dalam hadits.” 20