مسند أحمد ٩٩٥: حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ الْبَزَّارُ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي حَيَّةَ قَالَ رَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ حَتَّى أَنْقَاهُمَا ثُمَّ مَضْمَضَ ثَلَاثًا ثُمَّ اسْتَنْشَقَ ثَلَاثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَغَسَلَ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَأَخَذَ فَضْلَ طَهُورِهِ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ ثُمَّ قَالَ أَحْبَبْتُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ كَانَ طُهُورُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ الْبَزَّارُ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ وَذَكَرَ عَبْدُ خَيْرٍ عَنْ عَلِيٍّ مِثْلَ حَدِيثِ أَبِي حَيَّةَ إِلَّا أَنَّ عَبْدَ خَيْرٍ قَالَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طُهُورِهِ أَخَذَ بِكَفَّيْهِ مِنْ فَضْلِ طَهُورِهِ فَشَرِبَ
Musnad Ahmad 995: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami [Khalaf bin Hisyam Al Bazar] telah menceritakan kepada kami [Abu Al Ahwash] dari [Abu Ishaq] dari [Abu Hayyah] berkata: Saya melihat [Ali] radliyallahu 'anhu berwudhu. Dia membasuh kedua tangannya sampai bersih kemudian berkumur tiga kali, berisitinsyaq tiga kali, membasuh wajahnya tiga kali, kedua lengannya tiga kali, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya sampai mata kakinya. Lalu dia mengambil sisa air wudlunya dan meminumnya sambil berdiri seraya berkata: "Saya hendak memperlihatkan kepada kalian bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu." Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami [Khalaf bin Hisyam Al Bazar] telah menceritakan kepada kami [Abu Al Ahwash] dari [Abu Ishaq] berkata: [Abdu Khair] meriwayatkan dari [Ali] radliyallahu 'anhu sebagaimana hadits Abu Hayyah, kecuali dia berkata: "Jika telah selesai dari wudlunya, dia mengambil sisa air wudlu dengan kedua tangannya lalu meminumnya."
Grade
صحيح ابن خزيمة ٩٩٧: ثنا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْبَزَّازُ، ثنا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ النُّعْمَانِ، ثنا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ بِلَالٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَنَامَ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَأَمَرَ بِلَالًا، فَأَذَّنَ، فَتَوَضَّؤُوا، ثُمَّ صَلَّوَا الرَّكْعَتَيْنِ، ثُمَّ صَلَّوَا الْغَدَاةَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي خَبَرِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: فَأَمَرَ بِلَالًا، فَأَذَّنَ، ثُمَّ أَقَامَ، فَصَلَّى بِنَا
Shahih Ibnu Khuzaimah 997: Abu Yahya dan Muhammad bin Abdurrahim Al Bazzar menceritakan kepada kami, Abdushshamad bin Nu'man menceritakan kepada kami, Abu Ja'far Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa'id, dari Ibnu Al Musayib, dari Bilal, ia berkata, "Kami bepergian bersama Rasulullah dan beliau tertidur sampai terbit matahari, kemudian beliau memerintahkan Bilal maka adzan pun dikumandangkan. Setelah itu mereka berwudhu lantas shalat dua rakaat lalu shalat Subuh.” Abu Bakar berkata, “Di dalam hadits riwayat Abdurrahman bin Abdullah bin Mas'ud, dari ayahnya, ia berkata, 'Maka beliau memerintahkan Bilal maka adzan pun dikumandangkan. Setelah itu iqamah dikumandangkan maka beliau shalat mengimami kami'.”
صحيح ابن خزيمة ٩٩٨: نا بُنْدَارٌ، ثنا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ، حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَعْرَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لِيَأْخُذْ كُلُّ إِنْسَانٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ» ، فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ، فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، وَصَلَّى الْغَدَاةَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَفِي خَبَرِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ، وَكَذَلِكَ فِي خَبَرِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ
Shahih Ibnu Khuzaimah 998: Bundar menceritakan kepada kami, Yahya -yaitu Ibnu Sa'id- menceritakan kepada kami, Yazid bin Kaisan menceritakan kepada kami, Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami pernah tidur bersama-sama Rasulullah dan tidak terbangun sampai terbit matahari, kemudian Rasulullah berkata, 'Masing-masing orang hendaknya memegang tali tunggangannya, karena tempat yang kita singgahi ini terdapat syetan.' Maka kami pun melaksanakannya, lalu beliau meminta air lantas berwudhu, kemudian shalat dua sujud lantas iqamah dikumandangkan shalat, lalu beliau shalat Subuh.” Abu Bakar berkata, “Sedangkan di dalam hadits riwayat Abdurrahman bin Abdullah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, 'Kemudian shalat dua rakaat lalu shalat Subuh' Begitu juga yang disebutkan di dalam hadits riwayat Al Hasan, dari Imran bin Hushain.”
صحيح ابن حبان ١٠٣٧: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، وَأَبُو خَيْثَمَةَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، أَنَّ أَبَا كَبْشَةَ السَّلُولِيَّ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ ثَوْبَانَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ، وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: هَذِهِ اللَّفْظَةُ مِمَّا ذَكَرْنَا فِي كُتُبِنَا، أَنَّ الْعَرَبَ تُطْلِقُ الاِسْمَ بِالْكُلِّيَّةِ عَلَى جُزْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ شَيْءٍ يُطْلَقُ اسْمُ ذَلِكَ الشَّيْءِ عَلَى جُزْءٍ مِنْ أَجْزَائِهِ. فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ، أَطْلَقَ اسْمَ الإِيمَانِ عَلَى الْمُحَافِظِ عَلَى الْوُضُوءِ، وَالْوُضُوءُ مِنْ أَجْزَاءِ الإِيمَانِ، كَذَلِكَ اسْمُ الإِيمَانِ عَلَى الْمُفْرِدِ الْعَمَلَ بِهِ، لأَنَّهُ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ الإِيمَانِ عَلَى حَسَبِ مَا ذَكَرْنَاهُ.وَخَبَرُ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ ثَوْبَانَ خَبَرٌ مُنْقَطِعٌ، فَلِذَلِكَ تَنَكَّبْنَاهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1037: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, Suraij bin Yunus dan Abu Khaitsamah menceritakan kepada kami, Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami, Hassan bin ‘Athiyah menceritakan kepadaku, bahwa Abu Kabasyah As-Saluli bercerita, bahwa ia mendengar Tsauban berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bertindak tepatlah, mendekatkan dirilah (kepada Allah), dan beramallah, bahwasanya sebaik-baik amal kailan adalah shalat, dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu kecuali orang mu 'min.” 1 [1:2] Abu Hatim berkata, “Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Tidak ada yang dapat menjaga wudhu kecuali orang mu'min; Beliau mengucapkan nama iman atas orang yang menjaga wudhu, padahal wudhu itu adalah bagian dari keimanan. Begitu juga nama iman atas satuan-satuan amalan lainnya. Adapun hadits Salim bin Abu Al Ju’di dari Tsauban adalah hadits munqathi’ (terputus sanadnya) 2, karena itulah kami kemudian menjauhinya.
سنن الدارمي ١٠٣٧: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَا بَأْسَ بِفَضْلِ وَضُوءِ الْمَرْأَةِ مَا لَمْ تَكُنْ جُنُبًا أَوْ حَائِضًا
Sunan Darimi 1037: Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Khalid] dari [Muhamad bin Ishaq] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] radliallahu 'anhu ia berkata: "Tidak mengapa (menggunakan) sisa air wudhu seorang wanita selama tidak junub atau haid".
Grade
صحيح ابن حبان ١٠٣٨: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ بِالْبَصْرَةِ حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ إِسْبَاغُ الْوُضُوءُ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: مَعْنَاهُ الرِّبَاطُ مِنَ الذُّنُوبِ، لأَنَّ الْوُضُوءَ يُكَفِّرُ الذُّنُوبَ.
Shahih Ibnu Hibban 1038: Al Fadhl bin Al Hubab Al Jumahi di Bashrah mengabarkan kepada kami, Al Qa’nabi menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Al Ala bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang suatu perbuatan yang dapat melebur dosa-dosa dan dapat mengangkat derajat?” (yaitu) menyempurnakan wudhu waktu badan kedinginan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menantikan waktu shalat berikutnya sesudah menyelesaikan shalat yang pertama. Itulah ikatan (diri), itulah ikatan (diri), itulah ikatan (diri)."3 [1:2] Abu Hatim berkata : Maknanya adalah mengikat diri dari tidak berbuat dosa, karena wudhu itu dapat menghapuskan dosa-dosa.
صحيح ابن حبان ١٠٣٩: أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ بِحَرَّانَ، حَدَّثَنَا هَوْبَرُ بْنُ مُعَاذٍ الْكَلْبِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحِيمِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ، عَنْ شُرَحْبِيلِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيُكَفَّرُ بِهِ الذُّنُوبَ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكْرُوهَاتِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، فَذَلِكَ الرِّبَاطُ.
Shahih Ibnu Hibban 1039: Abu Arubah di Harran mengabarkan kepada kami, Haubar bin Mu’adz Al Kalbi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Salamah4 menceritakan kepada kami, dari Abu Abdurrahim, dari Zaid bin Abu Unaisah, dari Syurahbil bin Sa’ad, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian kutunjukkan tentang suatu perbuatan yang dapat melebur kesalahan- kesalahan dan dapat menghapuskan dosa-dosa?” Mereka menjawab, “Mau wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Beliau bersabda, “(yaitu) menyempurnakan wudhu waktu badan kedinginan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menantikan waktu shalat berikutnya sesudah menyelesaikan shalat yang pertama. Itulah ikatan (diri).”5 [1:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤٠: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سِنَانٍ الطَّائِيُّ بِمَنْبَجٍ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ، وَمَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ.
Shahih Ibnu Hibban 1040: Umar bin Sa’id bin Sinan Ath-Tha'i mengabarkan kepada kami di Manbaj, Ahmad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Suhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba yang muslim- atau mukmin- berwudhu lalu ia membasuh wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya semua dosa akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh mata bersamaan dengan basuhan air itu dan bersamaan dengan tetesan terakhir dari air basuhan itu, atau yang seperti ini. Kemudian apabila ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar dari tangannya semua dosa yang dilakukan oleh kedua tangan bersamaan dengan basuhan air itu dan bersamaan dengan tetesan terakhir dari air basuhan itu, sehingga (dengan demikian) ia menjadi orang yang suci dari dosa.”6 [1:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤١: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِدْرِيسَ الأَنْصَارِيُّ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حُمْرَانَ، أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ جَلَسَ عَلَى الْمَقَاعِدِ، فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَآذَنَهُ بِصَلاَةِ الْعَصْرِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ قَالَ: لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَوْلاَ آيَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ لَمَّا حَدَّثْتُكُمُوهُ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَا مِنِ امْرِئٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ، ثُمَّ يُصَلِّي الصَّلاَةَ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الْأُخْرَى حَتَّى يُصَلِّيَهَا.قَالَ مَالِكٌ: أُرَاهُ يُرِيدُ هَذِهِ الآيَةَ: {أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ}.
Shahih Ibnu Hibban 1041: Al Husain bin Idris Al Anshari mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Humran, bahwa Utsman bin Affan duduk di atas tempat duduk, lalu seorang muadzin dan langsung mengumandangkan adzan Ashar. Umar kemudian mengambil air lalu berwudhu dan berkata, “Sungguh aku akan menceritakan pada kalian sebuah hadits yang seandainya itu bukan satu ayat dari Kitab Allah SWT maka tidaklah aku ceritakan hal itu kepada kalian.” Ia lalu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dari seseorang yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu melaksanakan shalat, melainkan Allah SWT akan mengampuni dosa yang ada di antara waktu shalat fardhu itu sampai menjelang shalat fardhu yang lain bila ia mengerjakannya.”7 Malik berkata, “Hadits ini menerangkan ayat: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan- perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Qs. Huud [11]: 114) 8. [1:2]
صحيح ابن حبان ١٠٤٢: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ مَوْهَبٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُمْ غَزَوْا غَزْوَةَ السَّلاَسِلِ، فَفَاتَهُمُ الْعَدُوُّ، فَرَابَطُوا، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَى مُعَاوِيَةَ وَعِنْدَهُ أَبُو أَيُّوبَ، وَعُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ، فَقَالَ عَاصِمٌ: يَا أَبَا أَيُّوبَ، فَاتَنَا الْعَدُوُّ الْعَامَ، وَقَدْ أُخْبِرْنَا أَنَّهُ مَنْ صَلَّى فِي الْمَسَاجِدِ الأَرْبَعَةِ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ، قَالَ: يَا ابْنَ أَخِي، أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ مِنْ ذَلِكَ؟ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَنْ تَوَضَّأَ كَمَا أُمِرَ، وَصَلَّى كَمَا أُمِرَ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، أَكَذَلِكَ يَا عُقْبَةُ؟ قَالَ: نَعَمْ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الْمَسَاجِدُ الأَرْبَعَةُ: مَسْجِدُ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدُ الْمَدِينَةِ، وَمَسْجِدُ الأَقْصَى، وَمَسْجِدُ قُبَاءٍ. وَغَزَاةُ السَّلاَسِلِ كَانَتْ فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ، وَغَزَاةُ السَّلاَسِلِ كَانَتْ فِي أَيَّامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Shahih Ibnu Hibban 1042: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah mengabarkan kepada kami, Yazid bin Mauhab menceritakan kepada kami, Al-Laits bin Sa’ad menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Sufyan bin Abdurrahman, dari Ashim bin Sufyan Ats-Tsaqafi, bahwasanya mereka pernah berperang pada perang Salasil, kemudian musuh menyandera dan mengikat mereka, lalu mereka dikembalikan/dipulangkan kepada Mu’awiyah yang saat itu kebetulan disampingnya ada Abu Ayub dan Uqbah bin Amir. Ashim lalu berkata, “Wahai Abu Ayub musuh telah menyandera kami selama setahun dan sungguh kami telah dikabari bahwasanya barangsiapa yang shalat di empat masjid, maka dosanya akan diampuni.” Abu Ayyub berkata, “Wahai keponakanku, maukah kutunjukkan kepadamu amalan yang lebih mudah dari itu? Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan wudhu yang sesuai dengan yang diajarkan, dan shalat sesuai dengan yang diajarkan, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” “Bukankan demikian wahai Uqbah?” Uqbah menjawab: “Iya.” 9 Abu Hatim berkata, “Empat masjid yang dimaksud adalah Masjil Haram, Masjid Madinah, Masjidil Aqsha, dan Masjid Quba’.” Perang As-Salasil terjadi pada masa Khilafiah Mu’awiyah, sedangkan perang Salasil teijadi pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 10