Hasil Pencarian: takdir 215 Hadits

Al-Mustadrak #227

المستدرك ٢٢٧: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، وَحدثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى، قَالُوا: ثنا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ الْبَهْرَانِيُّ، ثنا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، ثنا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «أُرِيتُ مَا يَلْقَى أُمَّتِي بَعْدِي، وَسَفْكَ بَعْضِهِمْ دِمَاءَ بَعْضٍ، وَسَبَقَ ذَلِكَ مِنَ اللَّهِ كَمَا سَبَقَ فِي الْأُمَمِ قَبْلَهُمْ، فَسَأَلْتُهُ أَنْ يُولِيَنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفَاعَةً فِيهِمْ فَفَعَلَ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَالْعِلَّةُ عِنْدَهُمَا فِيهِ أَنَّ أَبَا الْيَمَانِ حَدَّثَ بِهِ مَرَّتَيْنِ» . فَقَالَ مَرَّةً: عَنْ شُعَيْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ. وَقَالَ مَرَّةُ: عَنْ شُعَيْبٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، عَنْ أَنَسٍ. «وَقَدْ قَدَّمْنَا الْقَوْلَ فِي مِثْلِ هَذَا أَنَّهُ لَا يُنْكَرُ أَنْ يَكُونَ الْحَدِيثُ عِنْدَ إِمَامٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَنْ شَيْخَيْنِ فَمَرَّةً يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ هَذَا، وَمَرَّةً عَنْ ذَاكَ» وَقَدْ حَدَّثَنِي أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَانِئٍ النَّيْسَابُورِيُّ. قَالَ: قَالَ لَنَا أَبُو الْيَمَانِ: الْحَدِيثُ حَدِيثُ الزُّهْرِيِّ وَالَّذِي حَدَّثْتُكُمْ عَنِ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ غَلِطْتُ فِيهِ بِوَرَقَةٍ قَلَبْتُهَا. قَالَ الْحَاكِمُ: «هَذَا كَالْأَخْذِ بِالْيَدِ، فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ هَانِئٍ ثِقَةٌ مَأْمُونٌ»

Al Mustadrak 227: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq Ash-Shagham menceritakan kepada kami. Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al Muzani menceritakan kepada kami, Ali bin Muhammad bin Isa menceritakan kepada kami, mereka berkata: Abu Al Yaman Al Hakim bin Nafi Al Bahrani menceritakan kepada kami, Syu'aib bin Abu Hamzah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, Anas bin Malik menceritakan kepada kami dari Ummu Habibah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Tahukah kamu apa yang akan terjadi pada umatku sesudahku, dan pertumpahan darah yang akan terjadi di antara mereka, yang (semua itu) telah ditetapkan dalam (takdir) Allah, sebagaimana berlaku pada umat-umat sebelumnya. Aku lalu meminta kepada Allah SWT agar bisa menjadi penolong mereka dengan memberi syafaat kepada mereka, lalu Allah mengabulkannya." Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Menurut keduanya, illat-nya adalah karena di dalamnya terdapat Abu Al Yaman, yang meriwayatkan hadits ini dua kali. Di suatu riwayat dia berkata: Dari Syu'aib, dari Az-Zuhri, dari Anas. Sedangkan di riwayat lain dia berkata: Dari Syu'aib, dari Ibnu Abi Husain, dari Anas. Kami pun telah menguraikan tentang kasus seperti ini, bahwa tidak perlu diingkari bila ada salah seorang Imam yang meriwayatkan dari Al Bukhari dan Muslim, yang dalam suatu riwayat dia mengatakan dari orang ini, sedangkan di dalam riwayat lain dia mengatakan dari orang itu. Abu Al Hasan Ali bin Muhammad bin Umar menceritakan kepadaku, Yahya bin Muhammad bin Sha'id menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Hani An-Naisaburi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al Yaman mengatakan kepada kami bahwa hadits ini merupakan hadits Az-Zuhri, sedangkan hadits yang aku ceritakan kepada kalian dari Ibnu Abi Husain mengandung kesalahan lantaran kertasnya yang terbalik. Al Hakim berkata, ”Ini sama seperti mengambil dengan tangan (langsung tanpa perantara), karena Ibrahim bin Hani' adalah periwayat yang tsiqah ma 'mun."

Shahih Muslim #259

صحيح مسلم ٢٥٩: حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ دَاوُدَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ كُنْتُ مُتَّكِئًا عِنْدَ عَائِشَةَ فَقَالَتْ يَا أَبَا عَائِشَةَ ثَلَاثٌ مَنْ تَكَلَّمَ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ قُلْتُ مَا هُنَّ قَالَتْ مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ قَالَ وَكُنْتُ مُتَّكِئًا فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْظِرِينِي وَلَا تَعْجَلِينِي أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ } { وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى } فَقَالَتْ أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنْ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ فَقَالَتْ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ { لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ } أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ { وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ } قَالَتْ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ وَاللَّهُ يَقُولُ { يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ } قَالَتْ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يُخْبِرُ بِمَا يَكُونُ فِي غَدٍ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ وَاللَّهُ يَقُولُ { قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ } و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَزَادَ قَالَتْ وَلَوْ كَانَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَاتِمًا شَيْئًا مِمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ لَكَتَمَ هَذِهِ الْآيَةَ { وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ } حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ هَلْ رَأَى مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبَّهُ فَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ لَقَدْ قَفَّ شَعَرِي لِمَا قُلْتَ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ وَحَدِيثُ دَاوُدَ أَتَمُّ وَأَطْوَلُ

Shahih Muslim 259: Dan telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Ibrahim] dari [Dawud] dari [asy-Sya'bi] dari [Masruq] dia berkata: "Ketika aku duduk bersandar di samping [Aisyah], maka dia berkata: 'Wahai Abu Aisyah (Masruq)! Ada tiga perkara, barangsiapa yang memperbincangkan salah satu darinya, berarti dia telah melakukan pembohongan yang amat besar terhadap Allah.' Aku bertanya, 'Apakah tiga perkara itu? ' Aisyah menjawab, 'Pertama, barangsiapa mengklaim bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Tuhannya maka sungguh dia telah membesarkan kebohongannya terhadap Allah.' Aku yang duduk bersandar dari tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata: 'Wahai Ummul Mukminin! Berilah aku tempo, dan janganlah kamu membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman: '(Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain) ' (Qs. Al Takwir: 23). Dan Firman Allah lagi: '(Dan sungguh Muhammad telah melihat 'dia' dalam bentuk rupanya yang asal sekali lagi) ' (Qs. An Najm: 13). Maka Aisyah menjawab, 'Aku adalah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau telah menjawab dengan bersabda: "Yang dimaksud 'dia' dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.' Kemudian Aisyah berkata lagi, 'Apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa Allah: '(Dia tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat dan mengetahui hakikat segala penglihatan mata, dan Dialah Yang Maha Bersifat Lemah Lembut lagi Maha Mendalam pengetahuannya) ' (Qs. Al An'am: 103). Atau, apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah: '(Dan tidaklah layak bagi seorang manusia, bahwa Allah mengajaknya berbicara kecuali berupa wahyu (dengan diberi mimpi) atau dari balik dinding (dengan mendengar suara saja) atau dengan mengutuskan utusan (Malaikat), lalu utusan itu menyampaikan wahyu kepadanya dengan izin Allah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana) '. (Qs. Asy Syura: 51). Kemudian Aisyah berkata lagi, 'Barangsiapa yang mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyembunyikan sebagian dari kitab Allah, maka sungguh dia telah membesarkan pendustaan terhadap Allah, sebagaimana firman Allah: '(Wahai Rasulullah, sampaikanlah sesuatu yang diturunkan kepadamu, dan jika kamu tidak melakukannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya) ' (Qs. Al Maidah: 67). Kemudian Aisyah berkata: "Barangsiapa mengklaim bahwa dia mampu mengabarkan tentang takdir yang akan terjadi besok, maka sungguh dia telah membesarkan kebohongan terhadap Allah. Allah berfirman: '(Katakanlah (hai Muhammad), tidak satu pun makhluk yang di langit dan bumiyang mengetahui kegaiban kecuali Allah) '. (Qs. An Naml: 65). Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al-Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahhab] telah menceritakan kepada kami [Dawud] dengan sanad ini semisal hadits Ibnu Ulayyah, dan dia menambahkan, "Aisyah berkata: 'Kalau seandainya Muhammad telah menyembunyikan sebagian dari wahyu yang diturunkan kepadanya, niscaya dia menyembunyikan ayat ini: '(Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang mana Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, 'Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah', sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu sesuatu yang mana Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti) ' (Qs. al-Ahzab: 37). Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Ismail] dari [asy-Sya'bi] dari [Masruq] dia berkata: "Aku bertanya kepada [Aisyah], 'Apakah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Rabbnya? ' Dia menjawab, 'Mahasuci Allah, sungguh bulu kuduku merinding karena perkataan yang kamu ucapkan tadi'." Lalu dia membawakan hadits tersebut dengan kisahnya. Dan hadits Dawud lebih sempurna dan panjang."

Al-Mustadrak #285

المستدرك ٢٨٥: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ، ثنا السَّرِيُّ بْنُ خُزَيْمَةَ، ثنا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، وَأَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْقَطِيعِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَيُّوبَ، أَخْبَرَنِي أَبُو صَخْرٍ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ لِابْنِ عُمَرَ صَدِيقٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ يُكَاتِبُهُ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، أَنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكَ تَكَلَّمْتَ فِي شَيْءٍ مِنَ الْقَدْرِ فَإِيَّاكَ أَنْ تُكْتَبَ إِلَيَّ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ يُكَذِّبُونَ بِالْقَدَرِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، فَقَدِ احْتَجَّ بِأَبِي صَخْرٍ حُمَيْدِ بْنِ زِيَادٍ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 285: Abu Ja'far Muhammad bin Shalih bin Hani menceritakan kepada kami, As-Sari bin Khuzaimah menceritakan kepada kami, Abu Abdurrahman Abdullah bin Yazid Al Muqri' menceritakan kepada kami. Ahmad bin Ja'far Al Qathi'i menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa'id bin Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Shakhr memberitakan kepadaku dari Nafi, dia berkata: Ibnu Umar mempunyai teman orang Syam yang sering dikirimi surat. Abdullah bin Umar lalu menulis surat kepadanya (yang isinya), "Sampai kepadaku berita bahwa engkau membahas sesuatu tentang takdir, Berhati-hatilah, jangan sampai kamu menulis kepadaku, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya akan ada pada umatku orang-orang yang mendustakan takdir'." llndits ini shahih sesuai syarat Muslim. Humaid bin Ziyad berhujjah dengan Abu Shakhr, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Al-Mustadrak #287

المستدرك ٢٨٧: حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ بَكْرُ بْنُ مُحَمَّدِ الصَّيْرَفِيُّ، بِمَرْوَ، ثنا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ الْفَضْلِ الْبَلْخِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ دِينَارٍ، حَدَّثَنِي حَكِيمُ بْنُ شَرِيكٍ الْهُذَلِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ مَيْمُونٍ الْحَضْرَمِيُّ، عَنْ رَبِيعَةَ الْجُرَشِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْقَدْرِ، وَلَا تُفَاتِحُوهُمْ» هَذَا آخِرُ كِتَابِ الْإِيمَانِ

Al Mustadrak 287: Hadits yang diceritakan kepada kami oleh Abu Ahmad Bakar bin Muhammad Ash-Shairafi di Marwa, Abdush- Shamad bin Al Fadhl Al Balkhi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Sa'id bin Abu Ayyub menceritakan kepadaku, Atha bin Dinar menceritakan kepadaku, Hakim bin Syarik Al Hudzali menceritakan kepadaku dari Yahya bin Maimun Al Hadhrami, dari Rabi'ah Al Jurasyi, dari Abu Hurairah, dari Umar bin Khaththab radliyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, 'Janganlah kalian duduk-duduk dengan kaum (pengingkar) takdir dan janganlah kalian memulai pembicaraan dengan mereka."

Shahih Bukhari #307

صحيح البخاري ٣٠٧: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا يَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ وَالْأَجَلُ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

Shahih Bukhari 307: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari ['Ubaidullah bin Abu Bakar] dari [Anas bin Malik] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata: 'Ya Rabb, (sekarang baru) sperma, Ya Rabb, segumpal darah!, Ya Rabb, segumpal daging!' Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya: 'Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya?' Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya."

Shahih Ibnu Hibban #333

صحيح ابن حبان ٣٣٣: أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْحَسَنِ الْعَطَّارُ بِالْبَصْرَةِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ الرِّشْكُ، عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الشِّخِّيرِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ‏:‏ قِيلَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، أَعُلِمَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، قِيلَ‏:‏ فَمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ‏؟‏ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 333: Sulaiman bin Al Hasan Al Athar di Bashrah mengabarkan kepada kami, Abdul Wahid bin Ghiyas menceritakan kepada kami, Hamad bin Zaid menceritakan kepada kami, Yazid Ar-Risyki menceritakan kepada kami, dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy Syikhiiri, dari Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Apakah sudah diketahui penghuni surga dan penghuni neraka? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Ya." Sahabat bertanya lagi, Kalau begitu untuk apa amalan dilakukan? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Segala-galanya Telah ditakdirkan berdasarkan tujuan untuk apakah ia dijadikan.” 46 [3:30]

Musnad Ahmad #352

مسند أحمد ٣٥٢: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنِ ابْنِ يَعْمَرَ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّا نُسَافِرُ فِي الْآفَاقِ فَنَلْقَى قَوْمًا يَقُولُونَ لَا قَدَرَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَأَخْبِرُوهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ مِنْهُمْ بَرِيءٌ وَأَنَّهُمْ مِنْهُ بُرَآءُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ فَذَكَرَ مِنْ هَيْئَتِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْنُهْ فَدَنَا فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا حَتَّى كَادَ رُكْبَتَاهُ تَمَسَّانِ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَا الْإِيمَانُ أَوْ عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ قَالَ سُفْيَانُ أُرَاهُ قَالَ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ فَمَا الْإِسْلَامُ قَالَ إِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ وَغُسْلٌ مِنْ الْجَنَابَةِ كُلُّ ذَلِكَ قَالَ صَدَقْتَ صَدَقْتَ قَالَ الْقَوْمُ مَا رَأَيْنَا رَجُلًا أَشَدَّ تَوْقِيرًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا كَأَنَّهُ يُعَلِّمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ أَوْ تَعْبُدَهُ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ كُلُّ ذَلِكَ نَقُولُ مَا رَأَيْنَا رَجُلًا أَشَدَّ تَوْقِيرًا لِرَسُولِ اللَّهِ مِنْ هَذَا فَيَقُولُ صَدَقْتَ صَدَقْتَ قَالَ أَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ بِهَا مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَقَالَ صَدَقْتَ قَالَ ذَلِكَ مِرَارًا مَا رَأَيْنَا رَجُلًا أَشَدَّ تَوْقِيرًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا ثُمَّ وَلَّى قَالَ سُفْيَانُ فَبَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهُ فَلَمْ يَجِدُوهُ قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ مَا أَتَانِي فِي صُورَةٍ إِلَّا عَرَفْتُهُ غَيْرَ هَذِهِ الصُّورَةِ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنِ ابْنِ يَعْمَرَ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ أَوْ سَأَلَهُ رَجُلٌ إِنَّا نَسِيرُ فِي هَذِهِ الْأَرْضِ فَنَلْقَى قَوْمًا يَقُولُونَ لَا قَدَرَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ مِنْهُمْ بَرِيءٌ وَهُمْ مِنْهُ بُرَآءُ قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدْنُو فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا رَتْوَةً ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدْنُو فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا رَتْوَةً ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدْنُو فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا رَتْوَةً حَتَّى كَادَتْ أَنْ تَمَسَّ رُكْبَتَاهُ رُكْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Musnad Ahmad 352: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Alqamah Bin Martsad] dari [Sulaiman Bin Buraidah] dari [Ibnu Ya'mar] dia berkata: Aku berkata kepada [Ibnu Umar]: "Kami bepergian keseluruh penjuru bumi, kemudian kami bertemu dengan suatu kaum yang mengatakan tidak ada takdir." Ibnu Umar berkata: "Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka beritahukan kepada mereka bahwa Abdullah Bin Umar berlepas diri dari mereka, dan merekapun berlepas diri darinya." Sebanyak tiga kali. Lalu dia menceritakan sebuah hadits: Ketika kami sedang berada di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba tiba seorang lelaki datang -Ibnu Umar menyebutkan ciri cirinya- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda: "Mendekatlah!" lalu lelaki tersebut mendekat, kemudian Rasulullah bersabda lagi: "Mendekatlah!" Maka lelaki tersebut semakin mendekat, sehingga kedua lutunya hampir saling bersentuhan. Lalu dia berkata: "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku apakah Iman itu?" Atau "Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?" Beliau menjawab: "Kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman kepada Taqdir." Sufyan berkata: saya mengiranya beliau menyebutkan: "Yang baik dan yang buruk." Lelaki tersebut bertanya: "Apakah Islam Itu?" Beliau menjawab: "Menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, puasa di bulan Ramadlan dan mandi dari Junub." Semua jawaban beliau dikomentari: "Benar kamu, benar kamu." Para sahabat berkata: "Kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi lelaki ini, sepertinya dia mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Kemudian dia berkata: "Wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan!" Beliau menjawab: "Kamu beribadah kepada Allah atau beribadah kepada-Nya seakan akan kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu." Kami semuanya mengatakannya: kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi lelaki ini, lalu dia berkata: "Benar kamu, benar kamu." Dia berkata: "Beritahukanlah kepadaku tentang Kiamat!" Beliau menjawab: "Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahuinya dari penanya." Dia berkata: lalu lelaki tersebut berkata: "Benar kamu." Dia selalu mengatakan demikian, dan kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi lelaki ini, lalu lelaki tersebut pergi." -Sufyan berkata:- "Kemudian sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Carilah dia!" Akan tetapi mereka tidak menemukannya, beliau berkata: "Lelaki ini adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang dien kalian, tidak pernah dia menemuiku dengan menyerupai sesuatu kecuali aku mengenalnya selain kali ini." Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Alqamah Bin Martsad] dari [Sulaiman Bin Buraidah] dari [Ibnu Ya'mar] dia berkata: aku bertanya kepada [Ibnu Umar] atau dia (Ibnu Umar) ditanya oleh seorang lelaki: "Sesungguhnya kami pernah mengembara di muka bumi ini dan bertemu dengan suatu kaum yang mengatakan tidak ada takdir." kemudian Ibnu Umar menjawab: "Jika kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar." dia mengatakannya tiga kali, kemudian dia menceritakan kepada kami dan berkata: ketika kami sedang berada di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba tiba seorang lelaki datang dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?" Beliau menjawab: "Mendekatlah!" Kemudian dia mendekat selangkah, lalu dia berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?" Beliau menjawab: "Mendekatlah!" Kemudian dia mendekat selangkah dan berkata lagi: "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?" Beliau menjawab: "Mendekatlah!" Kemudian dia mendekat selangkah sehingga kedua lututnya hampir menyentuh lutut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian dia berkata: "Wahai Rasulullah apakah Iman itu?" Kemudian Ibnu Umar menyebutkan hadits di atas secara makna.

Grade

Shahih Ibnu Hibban #361

صحيح ابن حبان ٣٦١: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ الشَّيْبَانِيُّ، وَالْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْقَطَّانُ بِالرَّقَّةِ، وَابْنُ قُتَيْبَةَ، وَاللَّفْظُ لِلْحَسَنِ، قَالُوا‏:‏ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هِشَامِ بْنِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى الْغَسَّانِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ جَدِّي، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ‏:‏ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَالِسٌ وَحْدَهُ، قَالَ‏:‏ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّ لِلْمَسْجِدِ تَحِيَّةً، وَإِنَّ تَحِيَّتَهُ رَكْعَتَانِ، فَقُمْ فَارْكَعْهُمَا، قَالَ‏:‏ فَقُمْتُ فَرَكَعْتُهُمَا، ثُمَّ عُدْتُ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَنِي بِالصَّلاَةِ، فَمَا الصَّلاَةُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ خَيْرُ مَوْضُوعٍ، اسْتَكْثِرْ أَوِ اسْتَقِلَّ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْمَلُ إِيمَانًا‏؟‏ قَالَ‏:‏ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا‏.‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَسْلَمُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ طُولُ الْقُنُوتِ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مَنْ هَجَرَ السَّيِّئَاتِ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا الصِّيَامُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ فَرْضٌ مُجْزِئٌ، وَعِنْدَ اللهِ أَضْعَافٌ كَثِيرَةٌ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ جَهْدُ الْمُقِلِّ يُسَرُّ إِلَى فَقِيرٍ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ أَعْظَمُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ آيَةُ الْكُرْسِيِّ ثُمَّ، قَالَ‏:‏ يَا أَبَا ذَرٍّ، مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلاَةِ عَلَى الْحَلْقَةِ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ الأَنْبِيَاءُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَثَلاَثَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ كَانَ أَوَّلُهُمْ‏؟‏ قَالَ‏:‏ آدَمُ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَبِيٌّ مُرْسَلٌ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، خَلَقَهُ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ، وَكَلَّمَهُ قِبَلاً ثُمَّ، قَالَ‏:‏ يَا أَبَا ذَرٍّ أَرْبَعَةٌ سُرْيَانِيُّونَ‏:‏ آدَمُ، وَشِيثُ، وَأَخْنُوخُ وَهُوَ إِدْرِيسُ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ خَطَّ بِالْقَلَمِ، وَنُوحٌ وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ‏:‏ هُودٌ، وَشُعَيْبٌ، وَصَالِحٌ، وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، كَمْ كِتَابًا أَنْزَلَهُ اللَّهُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مِائَةُ كِتَابٍ، وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ، أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلاَثُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْقُرْآنُ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا كَانَتْ صَحِيفَةُ إِبْرَاهِيمَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ كَانَتْ أَمْثَالاً كُلُّهَا‏:‏ أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى الْمَغْرُورُ، إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنِّي لاَ أَرُدُّهَا وَلَوْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ تَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ‏:‏ سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ، وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيهَا فِي صُنْعِ اللهِ، وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لاَ يَكُونَ ظَاعِنًا إِلاَّ لِثَلاَثٍ‏:‏ تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ، أَوْ مَرَمَّةٍ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ مُحَرَّمٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ بَصِيرًا بِزَمَانِهِ، مُقْبِلاً عَلَى شَأْنِهِ، حَافِظًا لِلِسَانِهِ، وَمَنْ حَسَبَ كَلاَمَهُ مِنْ عَمَلِهِ، قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيمَا يَعْنِيهِ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا كَانَتْ صُحُفُ مُوسَى‏؟‏ قَالَ‏:‏ كَانَتْ عِبَرًا كُلُّهَا‏:‏ عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ، ثُمَّ هُوَ يَفْرَحُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ، ثُمَّ هُوَ يَضْحَكُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ هُوَ يَنْصَبُ، عَجِبْتُ لِمَنْ رَأَى الدُّنْيَا وَتَقَلُّبَهَا بِأَهْلِهَا، ثُمَّ اطْمَأَنَّ إِلَيْهَا، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ غَدًا ثُمَّ لاَ يَعْمَلُ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي، قَالَ‏:‏ أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهُ رَأْسُ الأَمْرِ كُلِّهِ‏.‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ‏:‏ عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ، وَذِكْرِ اللهِ، فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ فِي الأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي‏:‏ قَالَ‏:‏ إِيَّاكَ وَكَثْرَةَ الضَّحِكِ، فَإِنَّهُ يُمِيتُ الْقَلْبَ، وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ‏:‏ عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشَّيْطَانِ عَنْكَ، وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أَمْرِ دِينِكَ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ‏:‏ عَلَيْكَ بِالْجِهَادِ، فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ أُمَّتِي قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ‏:‏ أَحِبَّ الْمَسَاكِينَ وَجَالِسْهُمْ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ‏:‏ انْظُرْ إِلَى مَنْ تَحْتَكَ وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى مَنْ فَوْقَكَ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تُزْدَرَى نِعْمَةُ اللهِ عِنْدَكَ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ‏:‏ قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ‏:‏ لِيَرُدَّكَ عَنِ النَّاسِ مَا تَعْرِفُ مِنْ نَفْسِكَ وَلاَ تَجِدْ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي، وَكَفَى بِكَ عَيْبًا أَنْ تَعْرِفَ مِنَ النَّاسِ مَا تَجْهَلُ مِنْ نَفْسِكَ، أَوْ تَجِدَ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى صَدْرِي، فقَالَ‏:‏ يَا أَبَا ذَرٍّ لاَ عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلاَ وَرَعَ كَالْكَفِّ، وَلاَ حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ‏.‏ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيُّ هَذَا، هُوَ عَائِذُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وُلِدَ عَامَ حُنَيْنٍ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَاتَ بِالشَّامِ سَنَةَ ثَمَانِينَ وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى الْغَسَّانِيُّ مِنْ كِنْدَةَ، مِنْ أَهْلِ دِمَشْقَ، مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الشَّامِ وَقُرَّائِهِمْ، سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيَّ، وَهُوَ ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَمَوْلِدُهُ يَوْمَ رَاهِطَ، فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ بْنِ يَزِيدَ، سَنَةَ أَرْبَعٍ وَسِتِّينَ، وَوَلاَّهُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَضَاءَ الْمَوْصِلِ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، وَأَهْلَ الْحِجَازِ، فَلَمْ يَزَلْ عَلَى الْقَضَاءِ بِهَا حَتَّى وَلِيَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْخِلاَفَةَ، فَأَقَرَّهُ عَلَى الْحُكْمِ فَلَمْ يَزَلْ عَلَيْهَا أَيَّامَهُ، وَعُمِّرَ حَتَّى مَاتَ بِدِمَشْقَ سَنَةَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ وَمِائَةٍ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 361: Al Hasan bin Sufyan Asy-Syaibani dan Al Husain bin Abdullah Al Qathan, serta Ibnu Qutaibah mengabarkan kepada kami —di Riqqah (Syiria Utara -ed) adapun lafazhnya dari Al Hasan— mereka berkata, Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepada kami, dari kakeknya, dari Abu Idris Al Khaulani, dari Abu Dzar, ia berkata, Suatu ketika aku masuk ke dalam masjid dan menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk sendirian. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya masjid itu mempunyai penghormatan. Dan penghormatan masjid itu adalah berupa shalat dua rakaat. Maka shalat (tahiyyatul masjid) lah." Abu Dzar berkata, Maka aku melakukan shalat tahiyyatul masjid. Setelah selesai, aku kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan duduk di hadapannya. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Sungguh engkau telah memerintahkanku untuk shalat, shalat apakah itu? Beliau menjawab, “(shalat untuk menghormati) sebaik-baiknya tempat. Perbanyak (shalat) lah kamu atau sedikitkanlah.” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Jihad di Jalan-Nya. Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya? Beliau menjawab, " Orang yang paling baik akhlaknya." Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin yang paling selamat? Beliau menjawab, “Orang yang memberikan keselamatan kepada manusia dari lisan dan tangannya. ” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Shalat apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “(shalat) yang lama berdiri, berdoa dan memohonnya." Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hijrah seperti apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Orang yang hijrah dari perbuatan jelek menuju perbuatan baik. Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah S A W, apakah puasa itu? Beliau menjawab, “(Puasa) adalah kewajiban yang mencukupkan. Dan di sisi Allah pelipatgandaan (pahala) yang banyak." Abu Dzar berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah S A W, jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Orang yang kuda tunggangannya terluka karena sayatan pedang dan darahnya mengalir (berperang di Jalan Allah SWT kemudian tewas). Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, shadaqah apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Kesungguhan orang yang punya sedikit harta di dalam menyenangkan orang faqir." Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah yang paling agung, yang pernah Allah SWT turunkan kepada engkau? Beliau menjawab: “Ayat Kursi." Lalu beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidaklah ada langit tujuh berserta Kursi itu kecuali seperti lingkaran yang terdapat di padang pasir. Dan keutamaan ‘Arsy atas Kursi itu adalah seperti keutamaan padang pasir atas lingkaran." Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada berapakah jumlah nabi seluruhnya? Beliau menjawab, “Seratus dua puluh ribu nabi. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari jumlah itu, ada berapakah jumlah rasul? Beliau menjawab, “Jumlahnya banyak, yaitu: Tiga ratus tiga belas rasul.” Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah rasul pertama?” Beliau menjawab, “Adam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah seorang nabi itu juga diutus? Beliau menjawab, “Iya, mereka juga diutus untuk umatnya. Allah SWT menciptakannya dengan kekuasaan-Nya, lalu Allah SWT tiupkan kepadanya dari Ruh-Nya, kemudian Allah SWT berbicara dengannya secara berhadapan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, empat diantara para rasul berbahasa Suryani, mereka adalah Adam, Syits, Akhnukh (Ia adalah Idris, dan orang yang pertama kali menulis dengan pena), dan Nuh. Sedangkan empat darinya adalah Arab, mereka adalah Hud, Syu ’aib, Shalih, dan nabimu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ada berapa kitab suci yang pernah Allah SWT turunkan? Beliau menjawab, " Seratus kitab (berupa shahifah), dan empat kitab suci. Allah SWT turunkan kepada Syits lima puluh shahifah, kepada Akhnukh (Idris) tiga puluh shahifah, kepada Ibrahim sepuluh shahifah, kepada Musa sebelum turunnya Kitab Suci Taurat sepuluh shahifah. Kemudian Allah SWT turunkan Kitab Suci Taurat, Injil, Zabur, dan Al Qur'an.” Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa isi Shahifah Ibrahim? Beliau menjawab, “Shahifah Ibrahim berisikan ketauladanan. Isinya sebagai berikut, “Wahai raja yang berkuasa, yang akan hancur, yang terperdaya (dengan dunia), sungguh Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan seluruh isi dunia, akan tetapi Aku mengutusmu agar kamu tidak menolak doa orang yang teraniaya, karena sungguh doa orang yang teraniaya tidak akan Aku tolak sekalipun itu dari doanya orang kafir. (Aku mengutusmu ) atas orang yang berakal selama ia tidak dikuasai oleh akalnya sendiri, akan terjadi padanya beberapa saat, “Saat dimana ia bermunajat kepada Tuhannya, saat dimana ia bermuhasabah terhadap dirinya, saat dimana ia berfikir tentang ciptaan Allah SWT, dan saat dimana ia tidak mempunyai hajat berupa makanan dan minuman. Dan bagi orang yang berakal, tidak akan melakukan perjalanan kecuali telah siap tiga hal, yaitu bekal untuk kembali, harta (yang ditinggal) di rumah80 untuk keluarga yang dinafkahi, atau (mencari) kelezatan pada perkara yang tidak di haramkan. Orang yang berakal adalah orang yang melihat (keadaan) zamannya, yang menerima keadaannya, yang menjaga lisannya, dan bila dihitung (antara) pembicaraan dan perbuatannya, maka bicaranya lebih sedikit, hanya bicara seperlunya." Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa isi Shahifah Musa? Beliau menjawab, "Shahifah Musa berisikan peringatan-peringatan. Isinya sebagai berikut: “Aku heran terhadap orang yang yakin akan datangnya kematian, kemudian ia masih saja bergembira (berfoya-foya). Aku heran terhadap orang yang yakin adanya neraka, kemudian ia masih saja tertawa-tawa. Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap takdir, kemudian ia masih saja mengejar-ngejar kedudukan. Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap adanya Hisab di akhirat, kemudian dia masih saja tidak beramal. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berikanlah aku taushiyah.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya taqwa adalah inti semua perkara. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkanlah lagi taushiyah untukku. Beliau bersabda, “Bacalah Al Qur'an, berdzikirlah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya hal itu menjadi cahaya untukmu di bumi, dan menjadi bekalmu di akhirat. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Hindarilah banyak tertawa, karena sesungguhnya hal itu dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Diamlah kamu kecuali dari (pembicaraan) yang baik, karena sesungguhnya hal itu dapat mengusir syetan darimu, dan menjadi penolong atas perkara agamamu. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Berjihadlah, karena sesungguhnya hal itu adalah ketaatan umatku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cintailah orang miskin, dan duduklah (temanilah) bersama mereka. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “(Dalam urusan dunia) Lihatlah orang yang di bawahmu dan jangan lihat orang yang di atasmu. Karena sesungguhnya hal itu lebih pantas agar nikmat Allah SWT tidak diremehkan. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku. Beliau bersabda, “Berkatalah yang benar, walaupun itu pahit.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cukuplah denganmu aib yang kamu ketahui dari manusia berupa aib yang kamu tidak ketahui dari dirimu, atau kamu temukan atas mereka pada sesuatu yang kamu kerjakan. ” Kemudian beliau memukulkan tangannya atas dadaku, lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidak ada akal seperti akal yang dipergunakan untuk berfikir. Dan tidak ada sifat wara ’ seperti menahan diri (dari larangan). Dan tidak ada kehormatan diri seperti kehormatan yang timbul dari budi pekerti yang baik” 81 Abu Hatim RA berkata, “Abu Idris Al Khaulani yang di maksud adalah ‘Aidzullah bin Abdullah. Ia lahir pada tahun hunain pada masa hidupnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan wafat di Syam tahun 80. Yahya bin Yahya Al Ghassani berasal dari Kindah, termasuk penduduk Damaskus. Ia juga termasuk ahli fiqih negeri Syam. Ia mendengar Hadits dari Abu Idris Al Khaulani, saat berumur 15 tahun. Kelahirannya antara tanggal 1-3, pada masa Mu’awiyah bin Yazid tahun 64. Sulaiman bin Malik mengangkatnya sebagai ketua Mahkamah Mosul. Ia belajar dari Sa’id bin Al Musayyab dan penduduk Hijaz. Kedudukannya di Mahkamah Mosul lalu berlangsung hingga diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Oleh Umar bin Abdul Aziz, ia masih tetap dipercaya memegang jabatannya, hingga ia wafat pada tahun 133 di Damaskus. [1:2]

Musnad Ahmad #368

مسند أحمد ٣٦٨: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ رَجَعَ إِلَى رَحْلِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أُقْرِئُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَوَجَدَنِي وَأَنَا أَنْتَظِرُهُ وَذَلِكَ بِمِنًى فِي آخِرِ حَجَّةٍ حَجَّهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ إِنَّ رَجُلًا أَتَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّ فُلَانًا يَقُولُ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَايَعْتُ فُلَانًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنِّي قَائِمٌ الْعَشِيَّةَ فِي النَّاسِ فَمُحَذِّرُهُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَغْصِبُوهُمْ أَمْرَهُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَقُلْتُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَا تَفْعَلْ فَإِنَّ الْمَوْسِمَ يَجْمَعُ رَعَاعَ النَّاسِ وَغَوْغَاءَهُمْ وَإِنَّهُمْ الَّذِينَ يَغْلِبُونَ عَلَى مَجْلِسِكَ إِذَا قُمْتَ فِي النَّاسِ فَأَخْشَى أَنْ تَقُولَ مَقَالَةً يَطِيرُ بِهَا أُولَئِكَ فَلَا يَعُوهَا وَلَا يَضَعُوهَا عَلَى مَوَاضِعِهَا وَلَكِنْ حَتَّى تَقْدَمَ الْمَدِينَةَ فَإِنَّهَا دَارُ الْهِجْرَةِ وَالسُّنَّةِ وَتَخْلُصَ بِعُلَمَاءِ النَّاسِ وَأَشْرَافِهِمْ فَتَقُولَ مَا قُلْتَ مُتَمَكِّنًا فَيَعُونَ مَقَالَتَكَ وَيَضَعُونَهَا مَوَاضِعَهَا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَئِنْ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ سَالِمًا صَالِحًا لَأُكَلِّمَنَّ بِهَا النَّاسَ فِي أَوَّلِ مَقَامٍ أَقُومُهُ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فِي عَقِبِ ذِي الْحِجَّةِ وَكَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَجَّلْتُ الرَّوَاحَ صَكَّةَ الْأَعْمَى فَقُلْتُ لِمَالِكٍ وَمَا صَكَّةُ الْأَعْمَى قَالَ إِنَّهُ لَا يُبَالِي أَيَّ سَاعَةٍ خَرَجَ لَا يَعْرِفُ الْحَرَّ وَالْبَرْدَ وَنَحْوَ هَذَا فَوَجَدْتُ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ عِنْدَ رُكْنِ الْمِنْبَرِ الْأَيْمَنِ قَدْ سَبَقَنِي فَجَلَسْتُ حِذَاءَهُ تَحُكُّ رُكْبَتِي رُكْبَتَهُ فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ طَلَعَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَلَمَّا رَأَيْتُهُ قُلْتُ لَيَقُولَنَّ الْعَشِيَّةَ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ مَقَالَةً مَا قَالَهَا عَلَيْهِ أَحَدٌ قَبْلَهُ قَالَ فَأَنْكَرَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ ذَلِكَ فَقَالَ مَا عَسَيْتَ أَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَقُلْ أَحَدٌ فَجَلَسَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَلَمَّا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنِّي قَائِلٌ مَقَالَةً قَدْ قُدِّرَ لِي أَنْ أَقُولَهَا لَا أَدْرِي لَعَلَّهَا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِي فَمَنْ وَعَاهَا وَعَقَلَهَا فَلْيُحَدِّثْ بِهَا حَيْثُ انْتَهَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ وَمَنْ لَمْ يَعِهَا فَلَا أُحِلُّ لَهُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيَّ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ وَكَانَ مِمَّا أَنْزَلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَرَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ لَا نَجِدُ آيَةَ الرَّجْمِ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ قَدْ أَنْزَلَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالرَّجْمُ فِي كِتَابِ اللَّهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أُحْصِنَ مِنْ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِذَا قَامَتْ الْبَيِّنَةُ أَوْ الْحَبَلُ أَوْ الِاعْتِرَافُ أَلَا وَإِنَّا قَدْ كُنَّا نَقْرَأُ لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّ كُفْرًا بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ أَلَا وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُطْرُونِي كَمَا أُطْرِيَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَقَدْ بَلَغَنِي أَنَّ قَائِلًا مِنْكُمْ يَقُولُ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَايَعْتُ فُلَانًا فَلَا يَغْتَرَّنَّ امْرُؤٌ أَنْ يَقُولَ إِنَّ بَيْعَةَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَتْ فَلْتَةً أَلَا وَإِنَّهَا كَانَتْ كَذَلِكَ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَى شَرَّهَا وَلَيْسَ فِيكُمْ الْيَوْمَ مَنْ تُقْطَعُ إِلَيْهِ الْأَعْنَاقُ مِثْلُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَلَا وَإِنَّهُ كَانَ مِنْ خَبَرِنَا حِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ عَلِيًّا وَالزُّبَيْرَ وَمَنْ كَانَ مَعَهُمَا تَخَلَّفُوا فِي بَيْتِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَخَلَّفَتْ عَنَّا الْأَنْصَارُ بِأَجْمَعِهَا فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ وَاجْتَمَعَ الْمُهَاجِرُونَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا بَكْرٍ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى إِخْوَانِنَا مِنْ الْأَنْصَارِ فَانْطَلَقْنَا نَؤُمُّهُمْ حَتَّى لَقِيَنَا رَجُلَانِ صَالِحَانِ فَذَكَرَا لَنَا الَّذِي صَنَعَ الْقَوْمُ فَقَالَا أَيْنَ تُرِيدُونَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ فَقُلْتُ نُرِيدُ إِخْوَانَنَا هَؤُلَاءِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَا لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَقْرَبُوهُمْ وَاقْضُوا أَمْرَكُمْ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَنَأْتِيَنَّهُمْ فَانْطَلَقْنَا حَتَّى جِئْنَاهُمْ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ فَإِذَا هُمْ مُجْتَمِعُونَ وَإِذَا بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ رَجُلٌ مُزَمَّلٌ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالُوا سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ فَقُلْتُ مَا لَهُ قَالُوا وَجِعٌ فَلَمَّا جَلَسْنَا قَامَ خَطِيبُهُمْ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَنَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَتِيبَةُ الْإِسْلَامِ وَأَنْتُمْ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ رَهْطٌ مِنَّا وَقَدْ دَفَّتْ دَافَّةٌ مِنْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يَخْزِلُونَا مِنْ أَصْلِنَا وَيَحْضُنُونَا مِنْ الْأَمْرِ فَلَمَّا سَكَتَ أَرَدْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ وَكُنْتُ قَدْ زَوَّرْتُ مَقَالَةً أَعْجَبَتْنِي أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا بَيْنَ يَدَيْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ كُنْتُ أُدَارِي مِنْهُ بَعْضَ الْحَدِّ وَهُوَ كَانَ أَحْلَمَ مِنِّي وَأَوْقَرَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى رِسْلِكَ فَكَرِهْتُ أَنْ أُغْضِبَهُ وَكَانَ أَعْلَمَ مِنِّي وَأَوْقَرَ وَاللَّهِ مَا تَرَكَ مِنْ كَلِمَةٍ أَعْجَبَتْنِي فِي تَزْوِيرِي إِلَّا قَالَهَا فِي بَدِيهَتِهِ وَأَفْضَلَ حَتَّى سَكَتَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَمَا ذَكَرْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَأَنْتُمْ أَهْلُهُ وَلَمْ تَعْرِفْ الْعَرَبُ هَذَا الْأَمْرَ إِلَّا لِهَذَا الْحَيِّ مِنْ قُرَيْشٍ هُمْ أَوْسَطُ الْعَرَبِ نَسَبًا وَدَارًا وَقَدْ رَضِيتُ لَكُمْ أَحَدَ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ أَيَّهُمَا شِئْتُمْ وَأَخَذَ بِيَدِي وَبِيَدِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ فَلَمْ أَكْرَهْ مِمَّا قَالَ غَيْرَهَا وَكَانَ وَاللَّهِ أَنْ أُقَدَّمَ فَتُضْرَبَ عُنُقِي لَا يُقَرِّبُنِي ذَلِكَ إِلَى إِثْمٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَأَمَّرَ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَّا أَنْ تَغَيَّرَ نَفْسِي عِنْدَ الْمَوْتِ فَقَالَ قَائِلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا جُذَيْلُهَا الْمُحَكَّكُ وَعُذَيْقُهَا الْمُرَجَّبُ مِنَّا أَمِيرٌ وَمِنْكُمْ أَمِيرٌ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ فَقُلْتُ لِمَالِكٍ مَا مَعْنَى أَنَا جُذَيْلُهَا الْمُحَكَّكُ وَعُذَيْقُهَا الْمُرَجَّبُ قَالَ كَأَنَّهُ يَقُولُ أَنَا دَاهِيَتُهَا قَالَ وَكَثُرَ اللَّغَطُ وَارْتَفَعَتْ الْأَصْوَاتُ حَتَّى خَشِيتُ الِاخْتِلَافَ فَقُلْتُ ابْسُطْ يَدَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ فَبَسَطَ يَدَهُ فَبَايَعْتُهُ وَبَايَعَهُ الْمُهَاجِرُونَ ثُمَّ بَايَعَهُ الْأَنْصَارُ وَنَزَوْنَا عَلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ قَتَلْتُمْ سَعْدًا فَقُلْتُ قَتَلَ اللَّهُ سَعْدًا وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمَا وَاللَّهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا أَمْرًا هُوَ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُحْدِثُوا بَعْدَنَا بَيْعَةً فَإِمَّا أَنْ نُتَابِعَهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا أَنْ نُخَالِفَهُمْ فَيَكُونَ فِيهِ فَسَادٌ فَمَنْ بَايَعَ أَمِيرًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَا بَيْعَةَ لَهُ وَلَا بَيْعَةَ لِلَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا قَالَ مَالِكٌ وَأَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ الرَّجُلَيْنِ اللَّذَيْنِ لَقِيَاهُمَا عُوَيْمِرُ بْنُ سَاعِدَةَ وَمَعْنُ بْنُ عَدِيٍّ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ الَّذِي قَالَ أَنَا جُذَيْلُهَا الْمُحَكَّكُ وَعُذَيْقُهَا الْمُرَجَّبُ الْحُبَابُ بْنُ الْمُنْذِرِ

Musnad Ahmad 368: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq Bin Isa Ath Thabba'] Telah menceritakan kepada kami [Malik Bin Anas] Telah menceritakan kepadaku [Ibnu Syihab] dari ['Ubaidillah Bin Abdullah Bin 'Utbah Bin Mas'ud] bahwa [Ibnu Abbas] telah mengabarkan kepadanya, bahwa [Abdurrahman Bin Auf] kembali ke kendaraannya. Ibnu Abbas berkata: "Aku akan bertamu kepada Abdurrahman Bin Auf, dan dia menjumpaiku ketika aku menunggunya. Peristiwa itu terjadi di Mina pada musim haji terakhir yang dilaksanakan oleh Umar Bin Al Khaththab. Abdurrahman berkata: "Sesungguhnya seorang lelaki mendatangi Umar Bin Al Khaththab kemudian berkata: "Seandaianya Umar telah meniggal dunia, maka aku akan membai'at si fulan." Umar menjawab: "Aku masih hidup di tengah orang-orang, maka aku peringatkan mereka yang hendak merebut kepemimpinan orang-orang." Abdurrahman Bin Auf berkata: aku berkata: "Wahai Amirul Mukminin, jangan kamu lakukan hal itu! karena musim haji ini telah berkumpul kalangan bawah dan kaum bodoh dari mereka, dan sesungguhnya merekalah yang mendominasi di majlismu, jika kamu berdiri di tengah orang-orang, aku khawatir kamu akan mengatakan suatu perkataan yang karenanya mereka akan lalai, sehingga mereka tidak dapat memahaminya dan tidak pula menempatkannya pada tempatnya, akan tetapi (tangguhkanlah apa yang hendak kamu katakan) itu sampai tiba di Madinah, sesungguhnya Madinah adalah tempat Hijrah dan Sunnah, dan kamu dapat menyelesaikan (masalah ini) dengan para ulama dan orang-orang terhormat mereka, sehingga kamu dapat mengatakan apa yang akan kamu katakan dengan tenang, kemudian mereka memahami perkataanmu dan menempatkannya sesuai pada tempatnya." Kemudian Umar berkata: "Apabila aku tiba di Madinah dalam keadaan selamat dan sehat, pasti akan aku sampaikan hal itu kepada orang-orang di tempat pertama kali aku menginjakkan kakiku." Maka ketika kami sampai di Madinah menjelang bulan Dzul Hijjah dan bertepatan dengan hari Jum'at, aku (Abdurrahman) segera pergi Shakkatul A'ma", -aku bertanya kepada Malik: "Apa maksudnya Shakkatul A'ma?" Dia menjawab: "Maksudnya dia tidak perduli pada waktu apa pergi, tidak perduli waktu panas atau dingin dan yang semisalnya."- kemudian aku mendapati Sa'id Bin Zaid telah mendahuluiku berada di sisi kanan mimbar, lalu aku duduk dihadapannya sambil menempelkan lututku kepada lututnya, tidak lama kemudian Umar muncul, ketika aku melihatnya aku berkata: "Sore ini pasti akan disampaikan di atas mimbar ini suatu perkataan yang belum pernah sebelumnya seorangpun mengatakannya." Abdurrahman Bin Auf berkata: "Sa'id Bin Zaid mengingkari (perkataanku) itu, lalu dia berkata: "Apa? Kamu berharap dia mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh seorangpun?" Kemudian Umar duduk di atas mimbar, dan setelah Mu'adzin diam (selesai mengumandangkan adzan), dia [(Umar)] berdiri lalu memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian berkata: "Amma ba'du, wahai manusia, sesungguhnya aku akan mengatakan suatu perkataan yang aku telah ditakdirkan untuk mengatakannya, aku tidak tahu, boleh jadi itu karena ajalku telah berada di hadapanku, barangsiapa memahami dan mengerti perkataan itu, hendaknya dia menceritakannya ke tempat manapun kendaraanya sampai. Barangsiapa yang tidak memahaminya, maka aku tidak menghalalkannya untuk berdusta kepadaku, sesungguhnya Allah Tabaraka Wa ta'ala telah mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran, dan Dia telah menurunkan Al Kitab kepada beliau, diantara ayat yang diturunkan kepada beliau adalah ayat tentang hukum rajam, kemudian kami membacanya dan memahaminya, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerapkan hukum rajam dan kamipun menerapkannya sepeninggal beliau. Aku khawatir dalam waktu yang lama nanti manusia akan mengatakan: 'Sesungguhnya kami tidak menemukan ayat (tentang hukum) rajam.' Lalu sebuah kewajiban yang telah Allah turunkan akan ditinggalkan. Sesungguhnya hukum rajam adalah hak dalam Kitab Allah bagi siapa saja yang melakukan perbuatan zina jika dia telah Muhshon (pernah menikah) baik laki-laki maupun perempuan, apabila ada bukti, hamil atau ada pengakuan. Ketahuilah sesungguhnya kita pernah membaca: "Janganlah kalian membenci bapak bapak kalian, karena hal tersebut dapat membuat kalian kafir", katahuilah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana dikultuskannya Isa Bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: 'hambaNya dan utusanNya.'" Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa ada seseorang diantara kalian yang mengatakan: 'seandainya umar meninggal, maka aku akan membai'at si fulan.' Janganlah seseorang menjadi tertipu dengan mengatakan: 'sesungguhnya pembai'atan Abu Bakar itu terjadi dengan sekonyong-konyong.' Ketahuilah bahwa pembai'atan itu memang terjadi demikian. Ketahuilah bahwa Allah telah menjaga keburukan pembai'atan itu, dan hari ini tidak ada diantara kalian orang yang telah lebih dahulu dari kalian, yang keutamaannya tidak dapat disaingi oleh seseorangpun yang seperti Abu Bakar, ketahuilah bahwa diantara berita yang (sampai kepada) kami ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat adalah bahwa Ali, Zubair dan orang-orang yang bersama keduanya, berselisih di rumah Fathimah Binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, juga semua kaum Anshar berselisih dengan kami di Tsaqifah Bani Sa'idah, kemudian kaum Muhajirin berkumpul dengan Abu Bakar dan aku berkata kepadanya: "Wahai Abu Bakar, berangkatlah bersama kami menuju saudara-saudara kita, yaitu kaum Anshar." Kemudian kami pergi hingga bertemu dengan dua orang lelaki Shalih, dan keduanya menceritakan kepada kami tentang apa yang orang-orang (kaum Anshar) lakukan. Kedua orang tersebut bertanya: "Hendak kemana kalian wahai kaum Muhajirin?" Aku menjawab: "Kami hendak pergi kepada saudara-saudara kami yaitu kaum Anshar." Keduanya berkata: "Janganlah kalian mendekati mereka, putuskanlah urusan kalian wahai kaum Muhajirin." Aku berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kami akan mendatangi mereka." Kemudian kami pergi hingga berjumpa dengan mereka di Tsaqifah Bani Sa'idah dan mereka sedang berkumpul, di tengah-tengah mereka ada seorang lelaki yang sedang berselimut, aku bertanya: "Siapakah orang ini?" mereka (kaum Anshar) menjawab: "Sa'd Bin Ubadah." Aku bertanya: "Kenapa dia?" Mereka menjawab: "Sakit." Setelah kami duduk, penceramah mereka (kaum Anshar) berdiri lalu memuji Allah dengan pujian yang layak untuk Allah, dan berkata: "Amma ba'du, kami adalah Ansharullah (penolong agama Allah) dan pasukan Islam, sedangkan kalian wahai kaum Muhajirin adalah kelompok dari kami, sesungguhnya telah datang sekelompok orang dari kalian -yang berjalan dengan perlahan- yang akan memotong kami dari pangkal kami, dan akan mengusir kami dari wilayah kami." Ketika penceramah tersebut diam aku hendak angkat bicara dan telah menyiapkan suatu perkataan yang mengagetkan, aku hendak mengatakan perkataan itu dihadapan Abu Bakar, dan menghindari kemarahan terhadapnya, dan dia orangnya lebih lembut dan lebih tenang dari pada aku, kemudian Abu Bakar berkata: "Pelan pelan!" Aku benci bila harus marah kepadanya, karena dia orangnya lebih lembut dan lebih tenang dari pada aku. Demi Allah, jika dia tidak meninggalkan satu kalimatpun yang mengagumkanku dalam perkataan yang telah aku persiapkan itu kecuali dia mengucapkannya secara spontan dengan lebih baik, sehingga akhirnya dia diam. Kemudian dia berkata: "Amma ba'du, apa yang telah kalian sebutkan tentang kebaikan, kalian adalah ahlinya. Akan tetapi bangsa Arab tidak mengenal hal ini kecuali untuk penduduk Quraisy. Mereka adalah bangsa arab yang paling pertengahan garis keturunan dan tempat tinggalnya. Sesungguhnya aku telah meridlai salah satu dari kedua orang ini untuk kalian, mana diantara keduanya yang akan kalian kehendaki." Abu Bakar memegang tanganku dan tangan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah, sehingga aku tidak dapat memaksa dia mengatakan selain itu. Demi Allah, seharusnya aku maju kemudian leherku dipenggal, itu adalah lebih aku sukai, sebab hal itu tidak dapat mendekatkan aku kepada dosa, dari pada aku menjadi pemimpin suatu kaum sementara diantara mereka ada Abu Bakar, kecuali jika itu merubah diriku saat (aku) mati. Kemudian salah seorang dari kaum Anshar berkata: "Anaa judzailuha al muhakkak (aku adalah kayu unta yang berkudis itu agar dia dapat berjalan dengan cepat)" wa 'udzaikuha al murojjab (pohon kurma yang ditopang oleh pohon atau kayu karena dikhawatirkan roboh karena sangat tinggi dan buahnya lebat), dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada pemimpin wahai sekalian kaum Quraisy." -aku (Ishaq Bin 'Isa Ath Thabba') berkata kepada Malik: "Apa makna "Anaa judzailuha al muhakkak wa 'udzaikuha al murojjab?" Malik menjawab: "Seolah dia mengatakan akulah malapetakanya."- Umar berkata: "Suara suara yang tidak dapat difahami semakin banyak dan semakin meninggi, sehingga aku khawatir terjadi perselisihan, kemudian aku berkata: "Bukalah tanganmu wahai Abu Bakar!" Lalu dia membuka tangannya dan aku membai'atnya, kaum Muhajirin membai'atnya lalu kaum Ansharpun membai'atnya. Kemudian kami melompat kepada Sa'd Bin Ubadah, dan salah seorang dari mereka (kaum Anshar) berkata: "Kalian telah membunuh Sa'd." Aku menjawab: "Allah yang telah membunuh Sa'd." Umar berkata: "Demi Allah, kami tidak menemukan hal yang lebih kuat dari pada membai'at Abu Bakar dalam pertemuan kami, kami khawatir jika orang-orang itu telah terpisah dari kami, sementara bai'at belum ada, maka mereka akan membuat sebuah pembai'atan setelah kami. Dengan demikian, boleh jadi kami akan mengikuti mereka pada sesuatu yang tidak kami ridlai atau berseberangan dengan mereka, sehingga akan terjadi kehancuran. Maka barangsiapa membai'at seorang pemimpin tanpa musyawarah kaum muslimin, sesungguhnya bai'atnya tidak sah, dan tidak ada hak membai'at bagi orang yang membai'atnya, dikhawatirkan keduanya (orang yang membai'at dan dibai'at) akan dibunuh." Malik berkata: dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Urwah Bin Az Zubair: bahwa kedua orang lelaki yang ditemuinya adalah Uwaimir Bin Sa'idah dan Ma'n Bin Adi. Ibnu Syihab berkata: "Sa'id Bin Al Musayyib telah mengabarkan kepadaku bahwa orang yang mengatakan: "anaa judzailuha al muhakkak wa 'udzaikuha al murojjab" adalah Al Hubab Bin Al Mundzir."

Grade

Shahih Ibnu Hibban #413

صحيح ابن حبان ٤١٣: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ، يُحَدِّثُ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ، قَالَ‏:‏ انْقَلَبَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ إِلَى مَنْزِلِهِ بِمِنًى، فِي آخِرِ حَجَّةٍ حَجَّهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، فقَالَ‏:‏ إِنَّ فُلاَنًا يَقُولُ‏:‏ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ بَايَعْتُ فُلاَنًا‏.‏ قَالَ عُمَرُ‏:‏ إِنِّي قَائِمٌ الْعَشِيَّةَ فِي النَّاسِ، وَأُحَذِّرُهُمْ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَغْصِبُوهُمْ أَمْرَهُمْ‏.‏ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ‏:‏ فَقُلْتُ‏:‏ لاَ تَفْعَلْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَإِنَّ الْمَوْسِمَ يَجْمَعُ رَعَاعَ النَّاسِ، وَغَوْغَاءَهُمْ، وَإِنَّ أُولَئِكَ الَّذِينَ يَغْلِبُونَ عَلَى مَجْلِسِكَ إِذَا أَقَمْتَ فِي النَّاسِ، فَيَطِيرُوا بِمَقَالَتِكَ، وَلاَ يَضَعُوهَا مَوَاضِعَهَا أَمْهِلْ حَتَّى تَقْدُمَ الْمَدِينَةَ، فَإِنَّهَا دَارُ الْهِجْرَةِ، فَتَخْلُصَ بِعُلَمَاءِ النَّاسِ وَأَشْرَافِهِمْ، وَتَقُولُ مَا قُلْتَ مُتَمَكِّنًا، وَيَعُونَ مَقَالَتَكَ، وَيَضَعُونَهَا مَوَاضِعَهَا‏.‏ فقَالَ عُمَرُ‏:‏ لَئِنْ قَدِمْتَ الْمَدِينَةَ سَالِمًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَأَ تَكَلَّمَنَّ فِي أَوَّلِ مَقَامٍ أَقُومُهُ‏.‏ فَقَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي عَقِبِ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ عَجَّلْتُ الرَّوَاحَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَوَجَدْتُ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ قَدْ سَبَقَنِي، فَجَلَسَ إِلَى رُكْنِ الْمِنْبَرِ الأَيْمَنِ، وَجَلَسْتُ إِلَى جَنْبِهِ تَمَسُّ رُكْبَتِي رُكْبَتَهُ، فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ طَلَعَ عُمَرُ، فَقُلْتُ لِسَعِيدٍ‏:‏ أَمَا إِنَّهُ سَيَقُولُ الْيَوْمَ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ مَقَالَةً لَمْ يَقُلْهَا مُنْذُ اسْتُخْلِفَ، قَالَ‏:‏ وَمَا عَسَى أَنْ يَقُولَ‏؟‏ فَجَلَسَ عُمَرُ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ، قَالَ‏:‏ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي قَائِلٌ لَكُمْ مَقَالَةً قُدِّرَ لِي أَنْ أَقُولَهَا، لاَ أَدْرِي لَعَلَّهَا بَيْنَ يَدَيْ أَجْلِي، فَمَنْ عَقَلَهَا وَوَعَاهَا، فَلْيُحَدِّثْ بِهَا حَيْثُ انْتَهَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْقِلْهَا، فَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيَّ‏:‏ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ، فَكَانَ فِيمَا أَنْزَلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ، فَقَرَأَ بِهَا، وَرَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ، وَأَخَافُ إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ‏:‏ مَا نَجْدُ آيَةَ الرَّجْمِ فِي كِتَابِ اللهِ، فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللَّهُ، وَالرَّجْمُ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ، أَوْ كَانَ حَمْلٌ، أَوِ اعْتِرَافٌ، وَايْمُ اللهِ، لَوْلاَ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ‏:‏ زَادَ عُمَرُ فِي كِتَابِ اللهِ، لَكَتَبْتُهَا‏.‏ أَلاَ وَإِنَّا كُنَّا نَقْرَأُ لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ، فَإِنَّ كُفْرًا بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ، ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا‏:‏ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ‏.‏ أَلاَ وَإِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّ فُلاَنًا، قَالَ‏:‏ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ، بَايَعْتُ فُلاَنًا، فَمَنْ بَايَعَ امْرَأً مِنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّهُ لاَ بَيْعَةَ لَهُ، وَلاَ لِلَّذِي بَايَعَهُ، فَلاَ يَغْتَرَّنَّ أَحَدٌ فَيَقُولُ‏:‏ إِنَّ بَيْعَةَ أَبِي بَكْرٍ كَانَتْ فَلْتَةً، أَلاَ وَإِنَّهَا كَانَتْ فَلْتَةً، إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ وَقَى شَرَّهَا وَلَيْسَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَنْ تُقْطَعُ إِلَيْهِ الأَعْنَاقُ مِثْلَ أَبِي بَكْرٍ أَلاَ وَإِنَّهُ كَانَ مِنْ خَيْرِنَا يَوْمَ تَوَفَّى اللَّهُ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏ إِنَّ الْمُهَاجِرِينَ اجْتَمَعُوا إِلَى أَبِي بَكْرٍ، وَتَخَلَّفَ عَنَّا الأَنْصَارُ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ، فَقُلْتُ لأَبِي بَكْرٍ‏:‏ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى إِخْوَانِنَا مِنَ الأَنْصَارِ نَنْظُرُ مَا صَنَعُوا، فَخَرَجْنَا نَؤُمُّهُمْ، فَلَقِيَنَا رَجُلاَنِ صَالِحَانِ مِنْهُمْ، فَقَالاَ‏:‏ أَيْنَ تَذْهَبُونَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ‏؟‏ فَقُلْتُ‏:‏ نُرِيدُ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ، قَالَ‏:‏ فَلاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تَأْتُوهُمْ، اقْضُوا أَمَرَكُمْ، يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ فَقُلْتُ‏:‏ وَاللَّهِ لاَ نَرْجِعُ حَتَّى نَأْتِيَهُمْ، فَجِئْنَاهُمْ، فَإِذَا هُمْ مُجْتَمِعُونَ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ، وَإِذَا رَجُلٌ مُزَّمِّلٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ، فَقُلْتُ مَنْ هَذَا‏؟‏ فَقَالُوا‏:‏ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ، قُلْتُ‏:‏ مَا لَهُ‏؟‏ قَالُوا‏:‏ وَجِعٌ، فَلَمَّا جَلَسْنَا قَامَ خَطِيبُهُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ، قَالَ‏:‏ أَمَّا بَعْدُ، فَنَحْنُ أَنْصَارُ اللهِ وَكَتِيبَةُ الإِسْلاَمِ، وَقَدْ دَفَّتْ إِلَيْنَا يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مِنْكُمْ دَافَّةٌ، وَإِذَا هُمْ قَدْ أَرَادُوا أَنْ يَخْتَصُّوا بِالأَمْرِ، وَيُخْرِجُونَا مِنْ أَصْلِنَا‏.‏ قَالَ عُمَرُ‏:‏ فَلَمَّا سَكَتَ، أَرَدْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ، وَقَدْ كُنْتُ زَوَّرْتُ مَقَالَةً قَدْ أَعْجَبَتْنِي أُرِيدُ أَنْ أَقُولَهَا بَيْنَ يَدَيْ أَبِي بَكْرٍ، وَكُنْتُ أُدَارِي مِنْهُ بَعْضَ الْحَدِّ، وَكَانَ أَحْلَمَ مِنِّي وَأَوْقَرَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَقَالَ‏:‏ اجْلِسْ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُغْضِبَهُ، فَتَكَلَّمَ، فَوَاللَّهِ مَا تَرَكَ مِمَّا زَوَّرْتُهُ فِي مَقَالَتِي إِلاَّ قَالَ مِثْلَهُ فِي بَدِيهَتِهِ أَوْ أَفْضَلَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ، قَالَ‏:‏ أَمَّا بَعْدُ، فَمَا ذَكَرْتُمْ مِنْ خَيْرٍ، فَأَنْتُمْ أَهْلُهُ، وَلَنْ يَعْرِفَ الْعَرَبُ هَذَا الأَمْرَ إِلاَّ لِهَذَا الْحَيِّ مِنْ قُرَيْشٍ، هُمْ أَوْسَطُ الْعَرَبِ دَارًا وَنَسَبَا، وَقَدْ رَضِيتُ لَكُمْ أَحَدَ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ، فَبَايِعُوا أَيَّهُمَا شِئْتُمْ، وَأَخَذَ بِيَدِي وَيَدِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ، وَهُوَ جَالِسٌ بَيْنَنَا، فَلَمْ أَكْرَهُ شَيْئًا مِنْ مَقَالَتِهِ غَيْرَهَا، كَانَ وَاللَّهِ لأَنْ أُقَدَّمَ فَتُضْرَبَ عُنُقِي فِي أَمْرٍ لاَ يُقَرِّبُنِي ذَلِكَ إِلَى إِثْمٍ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُؤَمَّرَ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ، فقَالَ فَتَى الأَنْصَارِ‏:‏ أَنَا جُذَيْلُهَا الْمُحَكَّكُ، وَعُذَيْقُهَا الْمُرَجَّبُ، مِنَّا أَمِيرٌ وَمِنْكُمْ أَمِيرٌ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، فَكَثُرَ اللَّغَطُ، وَخَشِيتُ الاِخْتِلاَفَ، فَقُلْتُ‏:‏ ابْسُطْ يَدَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ، فَبَسَطَهَا، فَبَايَعْتُهُ، وَبَايَعَهُ الْمُهَاجِرُونَ وَالأَنْصَارُ، وَنَزَوْنَا عَلَى سَعْدٍ، فقَالَ قَائِلٌ‏:‏ قَتَلْتُمْ سَعْدًا فَقُلْتُ‏:‏ قَتَلَ اللَّهُ سَعْدًا فَلَمْ نَجِدْ شَيْئًا هُوَ أَفْضَلَ مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ، خَشِيتُ إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ أَنْ يُحْدِثُوا بَعْدَنَا بَيْعَةً، فَإِمَّا أَنْ نُبَايِعَهُمْ عَلَى مَا لاَ نَرْضَى، وَإِمَّا أَنْ نُخَالِفَهُمْ، فَيَكُونُ فَسَادًا وَاخْتِلاَفًا، فَبَايَعْنَا أَبَا بَكْرٍ جَمِيعًا، وَرَضِينَا بِهِ‏.‏ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ قَوْلُ عُمَرَ‏:‏ قَتَلَ اللَّهُ سَعْدًا يُرِيدُ بِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 413: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, ia berkata, Suraij bin Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata, Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku mendengar Az-Zuhn bercerita dan Ubaidillah bin Abdullah, ia berkata, “Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, ia berkata, Abdurrahman bin ‘Auf kembali ke rumahnya di Mina, di akhir musim haji yang dilaksanakan oleh Umar bin Khaththab. Ia lalu berkata, “Sesungguhnya fulan berkata, Seandainya Umar telah mati, sungguh aku akan membai‘at fulan.” Umar berkata, “Sungguh aku akan berdiri (untuk berbicara) sore nanti, di (tengah) orang-orang, maka aku akan memperingatkan mereka yang ingin merampas kepemimpinan orang-orang.” Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Wahai Amirul Mukminin jangan lakukan itu pada saat sekarang, karena sesungguhnya pada musim haji kali ini kalangan bawah dan kaum bodoh mereka berkumpul, dan sesungguhnya merekalah yang akan mendominasi majlismu. Aku khawatir, jika engkau berbicara kepada mereka hari ini mengenai masalah yang engkau akan bicarakan, maka mereka tidak dapat memahami perkataan itu dan tidak pula menempatkannya pada tempatnya. Tangguhkanlah dulu hingga engkau tiba di Madinah. Karena sesungguhnya Madinah adalah tempat hijrah, dan engkau dapat menyelesaikan (masalah ini) dengan kaum cendekia dan orang- orang yang terhormat. Sehingga dengan demikian, engkau dapat mengatakan apa yang akan engkau katakan dengan tenang, kemudian mereka pun dapat memahami perkataanmu dan menempatkannya pada tempat yang semestinya. Umar berkata, “Seandainya aku tiba di Madinah dalam keadaan selamat, insya Allah, aku akan mengutarakan pembicaraan ini pada orang-orang yang berada di tempat pertama yang aku singgahi.” Maka tatkala Umar tiba di Madinah di akhir bulan Dzulhijjah, di hari Jum’at, aku (Abdurrahman) segera pergi dalam keadaan sangat panas. Aku kemudian menjumpai Sa’id bin Zaid yang ternyata telah mendahuluiku. Ia duduk di pojok sisi kanan mimbar, dan aku lalu duduk di sampingnya seraya menempelkan lututku dengan lututnya. Tidak lama kemudian Umar muncul dan langsung menuju mimbar. Aku lalu berkata kepada Sa’id bin Zaid: “Lihatlah, sungguh ia akan berkata di atas mimbar ini, pada hari ini, suatu perkataan yang belum pemah diucapkan oleh siapapun sebelumnya”. Sa’id bin Zaid berkata, “Apakah yang ia harapkan untuk mengatakan suatu perkataan yang tidak pemah dikatakan oleh seorangpun?” Umar kemudian duduk di atas mimbar, lalu mengucapkan memuji dan menyanjung Allah SWT dengan pujian yang layak untuk-Nya. Lalu beliau berkata, “Amma ba'du. Sesungguhnya aku akan mengatakan suatu perkataan yang telah ditakdirkan untukku untuk mengatakannya. Mungkin karena ajalku telah dekat. Barangsiapa yang memahami dan mengerti perkataan ini, hendaknya dia menceritakan ke tempat manapun ia singgahi. Dan barangsiapa yang tidak memahaminya, maka tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendustakanku: Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan menurunkan kepadanya berupa kitab Al Qur'an. Di antara yang diturunkan kepada beliau adalah ayat (tentang hukuman) rajam. Kita telah membacanya, mengertinya, dan memahaminya, serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pemah menerapkan rajam, dan kita pun juga pemah merajam sepeninggal beliau. Aku takut jika dalam waktu yang lama nanti, akan ada manusia yang mengatakan: ‘Demi Allah SWT, kami tidak menemukan ayat tentang (hukuman) rajam di dalam Al Qur’an’, lalu sebuah kewajiban yang telah Allah SWT turunkan akan ditinggalkan. Sesungguhnya (hukuman) rajam adalah hak dalam Al Qur’an bagi siapa saja yang melakukan perzinaan jika ia telah muhshan (pemah menikah), baik laki-laki maupun perempuan, dan terdapat bukti, atau terjadi hamil (di luar nikah), atau juga adanya pengakuan. Demi Allah SWT, seandainya tidak ada manusia yang akan mengatakan: “Umar telah menambahkan isi Al Qur'an, niscaya aku akan menuliskannya. Ketahuilah sesungguhnya kita pemah membaca: ‘Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, karena hal itu dapat membuat kalian kafir’. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana putra Maryam di puji secara berlebihan. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah oleh kalian semua: “Hamba-Nya dan utusan-Nya.” 144 Ketahuilah, sesungguhnya telah sampai kepadaku, bahwa seseorang dari kalian berkata, “Demi Allah SWT, seandainya Umar telah wafat, aku sungguh akan mem bai’at si fulan.” Janganlah seseorang menjadi tertipu dengan mengatakan: “Sesungguhnya pembai’atan Abu Bakar itu terjadi sekonyong-konyong”. Ketahuilah bahwa sesungguhnya meskipun pembai’atan itu memang terjadi demikian, namun Allah SWT telah menjaga keburukannya,145 dan hari ini tidak ada di antara kalian orang yang telah lebih dahulu dari kalian, keutamaannya tidak dapat disaingi oleh seseorangpun, seperti Abu Bakar 146. Sesungguhnya ia adalah orang yang terbaik di antara kita. Sesungguhnya Kaum Muhajirin berkumpul dengan Abu Bakar. Sementara Kaum Anshar sedang menentang kami di Saqifah Bani Sa’idah. Aku lalu berkata kepada Abu Bakar, “Berangkatlah bersama kami menuju saudara-saudara kita dari kaum Anshar, kita lihat apa yang sedang mereka kerjakan di sana.” Kami kemudian pergi menuju mereka. Ketika kami hampir sampai, tiba-tiba kami bertemu dengan dua orang shalih dari kaum Anshar. Keduanya bertanya, “Kalian hendak pergi kemana wahai kaum Muhajirin?” aku menjawab, “Kami hendak pergi menemui saudara-saudara kami dari kaum Anshar.” salah seorang dari keduanya berkata, “Janganlah kalian mendatangi mereka, kerjakanlah urusan kalian, wahai kaum Muhajirin.” Aku lalu menjawab, “Demi Allah SWT, kami tidak akan kembali hingga kami mendatangi mereka.” Kemudian kami tiba di tempat mereka (Anshar), yang saat itu sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Ketika itu, di sela-sela pundak mereka tampak seseorang yang sedang berselimut. Aku bertanya, “Siapakah ini?” Mereka menjawab, “Sa’ad bin Ubadah”. Aku bertanya lagi, “Kenapa dia?”. Mereka menjawab, “Dia sedang sakit.” Maka ketika kami telah duduk, penceramah Anshar berdiri, lalu ia memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak untuk-Nya. Lalu ia berkata, “Amma ba 'du. Kami semua adalah Anshaarullah (Para penolong Allah SWT), dan batalion Islam. Dan sesungguhnya telah datang kepada kami- wahai kaum Muslimin 147, sekelompok orang dari kalian yang berjalan dengan perlahan148. Dan sesungguhnya mereka menghendaki untuk membicarakan suatu perkara, dan (juga) akan mengusir kami dari asal kami.” Umar berkata, Ketika penceramah itu telah menyelesaikan pembicaraannya, aku hendak angkat bicara dan telah mempersiapkan/memperindah149 suatu perkataan yang mengagumkan. Aku hendak mengatakan perkataan itu di hadapan Abu Bakar, dan menghindari kemarahan terhadapnya150. Dan ia lebih lembut dan lebih tenang dariku. Kemudian ia memegang tanganku dan berkata, “Duduklah. Aku benci bila harus marah kepadanya. Abu Bakar lalu melanjutkan pembicaraannya. Maka demi Allah SWT, ia tidak meninggalkan satu kalimatpun yang mengagumkanku dalam perkataan yang telah kusiapkan kecuali ia mengatakannya secara spontan. Kemudian Abu Bakar memuji dan memuja Allah SWT dengan pujian yang memang layak untuk-Nya. Lalu ia berkata, “Amma ba’du, apa yang telah kalian sebutkan tentang kebaikan, kalian adalah ahlinya. (Namun) bangsa Arab tidak mengenal hal ini kecuali untuk penduduk Quraisy. Mereka adalah bangsa Arab yang paling moderat garis keturunan dan tempat tinggal(nya). Sesungguhnya aku telah meridhai salah satu dari kedua orang ini untuk kalian. Bai’atlah di antara keduanya yang mana yang kalian hendaki.” Abu Bakar lalu memegang tanganku (Umar) dan tangan Abu ‘Ubaidah Al Jarrah sehingga aku tidak dapat memaksanya mengatakan selain itu. Demi Allah SWT, lebih baik leherku dipenggal, sebab hal itu dapat menjauhkanku dari dosa, dan hal itu lebih aku cintai daripada menjadi pemimpin suatu kaum yang diantara mereka terdapat Abu Bakar. Kemudian seorang pemuda dari kaum Anshar berkata, “Anaa judzailuhaa' 151 Al muhakkak" (aku bagaikan kayu yang menuntun unta agar ia dapat berjalan cepat) wa ‘udaiquhaa al mujarab152 (pohon kurma yang ditopang oleh pohon atau kayu, yang dikhawatirkan akan roboh). Kami mempunyai pemimpin dan kalian juga mempunyai pemimpin wahai bangsa Quraisy. Umar berkata, “Percampuran suara dengan bahasa yang tidak dapat dipahami menjadi banyak, dan suara-suara pun semakin meninggi, hingga aku khawatir terjadi perselisihan. Aku kemudian berkata, “Bukalah tanganmu wahai Abu Bakar.” Abu Bakar kemudian membukanya. Lalu aku membaiatnya, kaum Muhajirin membai'atnya, dan kaum Anshar pun membai’atnya. Kami kemudian melompati Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu seseorang dari Anshar berkata, “Kalian telah membunuh Sa’ad”. Aku menjawab, “Allah SWT lah yang membunuh Sa’ad. Dan sesungguhnya kami tidak menemukan hal yang lebih kuat/penting daripada membai ’at Abu Bakar dalam pertemuan kami. Kami khawatir jika orang-orang itu telah berpisah dari kami, sementara bai’at belum ada, maka mereka akan membuat pembai’atan setelah kami. Dengan demikian, bisa jadi kami akan mengikuti mereka pada sesuatu yang tidak kami ridhai atau berseberangan dengan mereka, sehingga akan terjadi kehancuran dan perselisihan. Maka kami semua membaiat Abu Bakar, dan kami ridha dengannya. 153 Abu Hatim berkata, Perkataan Umar: Allah SWT telah membunuh Sa’ad, maksudnya adalah bahwa ia mati dalam keadaan syahid. 154 [2:43]