Hasil Pencarian: takdir 215 Hadits

Sunan Ibnu Majah #83

سنن ابن ماجه ٨٣: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي حَيَّةَ أَبُو جَنَابٍ الْكَلْبِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ الْبَعِيرَ يَكُونُ بِهِ الْجَرَبُ فَيُجْرِبُ الْإِبِلَ كُلَّهَا قَالَ ذَلِكُمْ الْقَدَرُ فَمَنْ أَجْرَبَ الْأَوَّلَ

Sunan Ibnu Majah 83: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Ali bin Muhammad] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki'] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Hayyah Abu Janab Al Kalbi] dari [Bapaknya] dari [Ibnu Umar] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Tidak ada 'adwa (penyakit menular tanpa takdir Allah), tidak ada thiyarah (rasa pesimis) dan tidak ada hammah (keyakinan bahwa tulang bisa hidup kembali)." Maka berdirilah seorang arab badui seraya berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu terhadap unta berkoreng, kemudian semua unta tertular koreng itu?" beliau menjawab: "Semua itu adalah taqdir, (jika bukan) lalu siapakah yang menulari unta yang pertama! "

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,

Al-Mustadrak #84

المستدرك ٨٤: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَتَادَةَ السُّلَمِيِّ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: " خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ ثُمَّ خَلَقَ الْخَلْقَ مِنْ ظَهْرِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي، وَهَؤُلَاءِ لِلنَّارِ وَلَا أُبَالِي " قَالَ: فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلَى مَاذَا نَعْمَلُ، قَالَ: عَلَى مُوَافَقَةِ الْقَدَرِ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ قَدِ اتَّفَقَا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِرُوَاتِهِ، عَنْ آخِرِهِمْ إِلَى الصَّحَابَةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قَتَادَةَ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِزُهَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَيْسَ لَهُ رَاوٍ غَيْرُ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، وَكَذَلِكَ احْتَجَّ الْبُخَارِيُّ بِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى، وَلَيْسَ لَهُ رَاوٍ غَيْرُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ "

Al Mustadrak 84: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin Sulaim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Muawiyah bin Shalih mengabarkan kepada kami dari Rasyid bin Sa'ad, dari Abdurrahman bin Qatadah As-Sulami, salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah menciptakan Adam, kemudian menciptakan makhluk (keturunannya) dari punggungnya, kemudian Dia berfirman, 'Mereka untuk surga dan Aku tidak peduli. Mereka untuk neraka dan Aku juga tidak peduli'." Abdurrahman berkata, "Lalu ditanyakan kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, lalu atas apa kami berbuat?' Beliau menjawab, 'Sesuai ketentuan takdir'." Hadits ini shahih. Al Bukhari dan Muslim sepakat berhujjah dengan para periwayatnya dari yang terakhir sampai kepada sahabat. Abdurrahman bin Qatadah termasuk bani Salamah dari kalangan sahabat. Keduanya sama-sama berhujjah dengan Zuhair bin Amr dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia tidak mempunyai periwayat selain Abu Utsman An-Nahdi. Al Bukhari juga berhujjah dengan hadits Abu Sa'id bin Al Mu'alla, "Dia tidak mempunyai periwayat selain Hafsh bin Ashim."

Al-Mustadrak #87

المستدرك ٨٧: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، ثنا مُسَدَّدٌ، ثنا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، ثنا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ رُقًى كُنَّا نَسْتَرْقِي بِهَا، وَأَدْوِيَةٌ كُنَّا نَتَدَاوَى بِهَا هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ: «هُوَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ» . هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ ثُمَّ لَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَقَالَ مُسْلِمٌ فِي تَصْنِيفِهِ فِيمَا أَخْطَأَ مَعْمَرٌ بِالْبَصْرَةِ أَنَّ مَعْمَرًا حَدَّثَ بِهِ مَرَّتَيْنِ، فَقَالَ مَرَّةً: عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي خُزَامَةَ، عَنْ أَبِيهِ ". قَالَ الْحَاكِمُ: وَعِنْدِي أَنَّ هَذَا لَا يُعَلِّلُهُ، فَقَدْ تَابَعَ صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ مَعْمَرَ بْنَ رَاشِدٍ فِي حَدِيثِهِ عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ وَصَالِحٍ، وَإِنْ كَانَ فِي الطَّبَقَةِ الثَّالِثَةِ مِنْ أَصْحَابِ الزُّهْرِيِّ، فَقَدْ يُسْتَشْهَدُ بِمِثْلِهِ

Al Mustadrak 87: Abu Abdillah Muhammad bin Ya'qub Al Hafizh menceritakan kepada kami, Yahya bin Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Yazid bin Zurai' menceritakan kepada kami, Ma'mar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Hakim bin Hizam, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, ruqyah-ruqyah yang kami baca dan obat-obat yang kami pakai, apakah dapat menolak takdir Allah?" Beliau menjawab, "Itu termasuk takdir Allah." Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Muslim mengatakan dalam tulisannya tentang kesalahan Ma'mar di Bashrah, bahwa dia (Ma'mar) meriwayatkan haditsnya dua kali. Dia (Ma'mar) berkata di tempat lain, "Dari Az-Zuhri, dari Ibnu Abu Khuzaimah, dari ayahnya." Al Hakim berkata, "Menurutku, hal ini tidak menjadikan hadits ini ber-illat, karena Shalih bin Abu Al Akhdhar mengikuti Ma'mar bin Rasyid dalam haditsnya (yang diriwayatkan) dari Az Zuhri, dari Urwah dan Shalih. Sekalipun dia termasuk tingkatan ketiga dari sahabat-sahabat Az-Zuhri, tapi dia telah berhujjah dengan hadits serupa."

Sunan Ibnu Majah #87

سنن ابن ماجه ٨٧: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِخَطِيئَةٍ يَعْمَلُهَا

Sunan Ibnu Majah 87: Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Abdullah bin Isa] dari [Abdullah bin Abu Al Ja'd] dari [Tsauban] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Tidak menambah umur kecuali perbuatan baik, tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan sungguh, seorang laki-laki tertahan dari rizkinya karena kesalahan yang telah ia lakukan."

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Dha'if,

Al-Mustadrak #88

المستدرك ٨٨: حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي، بِبَغْدَادَ، وَأَبُو أَحْمَدَ بَكْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّيْرَفِيُّ، بِمَرْوَ، قَالَا: ثنا أَبُو قِلَابَةَ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حُمَيْدٍ، ثنا صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ رُقًى كُنَّا نَسْتَرْقِي بِهَا وَأَدْوِيَةٌ كُنَّا نَتَدَاوَى بِهَا هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ، قَالَ: «هُوَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ»

Al Mustadrak 88: Abu Bakar Ahmad bin Kamil Al Qadhi menceritakan kepada kami di Baghdad, Abu Ahmad Bakar bin Muhammad Ash- Shairafi menceritakan kepada kami di Marwa, keduanya berkata: Abu Qilabah menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Humaid menceritakan kepada kami, Shalih bin Abu Al Akhdhar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Hakim bin Hizam, dia lerkata: Aku bertanya, "Ruqyah-ruqyah yang kami baca dan obat-obat yang kami gunakan, apakah dapat menolak takdir Allah?" Nabi menjawab, "Itu termasuk takdir Allah."

Al-Mustadrak #89

المستدرك ٨٩: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ مَيْمُونٍ، ثنا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثنا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْكَرْمَانِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ مَسْرُوقٍ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: يَا أُمَّاهُ، حَدِّثِينِي بِشَيْءٍ سَمِعْتِيهِ، مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الطَّيْرُ تَجْرِي بِقَدْرٍ، وَكَانَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الْحَسَنُ» قَدِ احْتَجَّ الشَّيْخَانِ بِرُوَاةِ هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ آخِرِهِمْ، غَيْرَ يُوسُفَ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، وَالَّذِي عِنْدِي أَنَّهُمَا لَمْ يُهْمِلَاهُ بِجَرْحٍ وَلَا بِضَعْفٍ بَلْ لِقِلَّةِ حَدِيثِهِ فَإِنَّهُ عَزِيزُ الْحَدِيثِ جِدًّا "

Al Mustadrak 89: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Balawaih menceritakan kepada kami, Ishaq bin Husain bin Maimun menceritakan kepada kami, Affan bin Muslim menceritakan kepada kami, Hassan bin Ibrahim Al Kirmani menceritakan kepada kami, Sa'id bin Masruq menceritakan kepada kami dari Yusuf bin Abu Burdah bin Abu Musa, dari Abu Burdah, dia berkata: Aku mendatangi Aisyah dan berkata, "Wahai Aisyah, ceritakanlah kepadaku sesuatu yang pernah engkau dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Burung itu berjalan (tathayyur) sesuai takdir Allah'. Beliau menyukai optimisme yang baik." Al Bukhari dan Muslim berhujjah dengan para periwayat hadits ini dari yang terakhir, kecuali Yusuf bin Abu Burdah. Menurutku, Al Bukliari dan Muslim tidak meremehkannya, baik dengan menilainya cacat maupun dha'if. Bahkan sekalipun dia sedikit haditsnya, namun haditsnya tergolong sangat aziz.

Sunan Ibnu Majah #89

سنن ابن ماجه ٨٩: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مَجُوسَ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُكَذِّبُونَ بِأَقْدَارِ اللَّهِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ وَإِنْ لَقِيتُمُوهُمْ فَلَا تُسَلِّمُوا عَلَيْهِمْ

Sunan Ibnu Majah 89: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mushaffa Al Himshi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Baqiyah bin Al Walid] dari [Al Auza'i] dari [Ibnu Juraij] dari [Abu Zubair] dari [Jabir bin Abdullah] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya majusinya umat ini adalah orang-orang yang mendustakan takdir Allah. Jika mereka sakit maka janganlah kalian jenguk, jika mereka mati jangan kalian layat dan jika berjumpa dengan mereka maka janganlah kalian ucapkan salam."

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Dha'if,

Al-Mustadrak #90

المستدرك ٩٠: أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ تَمِيمٍ الْحَنْظَلِيُّ، بِبَغْدَادَ، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيُّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، ثنا سُفْيَانُ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ، بِمَرْوَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، قَالَا: ثنا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ حَتَّى يَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ بَعَثَنِي بِالْحَقِّ، وَيُؤْمَنُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَيُؤْمَنُ بِالْقَدَرِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَقَدْ قَصَّرَ بِرِوَايَتِهِ بَعْضُ أَصْحَابِ الثَّوْرِيِّ، وَهَذَا عِنْدَنَا مِمَّا لَا يُعْبَأُ» .

Al Mustadrak 90: Abu Al Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Hanzhali mengabarkan kepada kami di Baghdad, Abdul Malik bin Muhammad bin Abdullah Ar-Raqasyi menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami. Abu Al Abbas Muhammad bin Ahmad Al Mahbubi mengabarkan kepada kami di Marwa, Ahmad bin Sayyar dan Muhammad bin Katsir menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Rib'i bin Hirasi, dari Ali bin Abi Thalib, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidak beriman seorang hamba sampai dia beriman kepada empat hal, yaitu: (1) bersaksi (mengakui atau menyatakan) bahwa tidak ada tuhan selain Allah, (2) (bersaksi bahwa) aku adalah utusan Allah yang diutus dengan (membawa) kebenaran, (3) beriman kepada Hari Kebangkitan setelah mati, dan (4) beriman kepada takdir." Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Sebagian sahabat Ats-Tsauri telah memperpendek (meringkas) periwayatannya, dan menurut kami hal ini tidak perlu dihiraukan.

Al-Mustadrak #92

المستدرك ٩٢: حَدَّثَنَاهُ يَحْيَى بْنُ مَنْصُورٍ الْقَاضِي، ثنا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الطَّالَقَانِيُّ، ثنا جَرِيرٌ، وَحدثنا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ، قَالَا: ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنْبَأَ جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيٍّ، عَنْ عَلِيٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ: يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ بَعَثَنِي بِالْحَقِّ، وَأَنَّهُ مَبْعُوثٌ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَيُؤْمَنُ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ "

Al Mustadrak 92: Yahya bin Manshur Al Qadhi menceritakannya kepada I kami, Ali bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ismail Ath-Thaliqani menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami. Muhammad bin Shalih bin Hani' menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abu Thalib dan Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Jarir memberitakan (kepada kami) dari Manshur, dari Ribi'i, dari Ali, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidak beriman seorang hamba sampai dia beriman kepada empat hal, yaitu (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, (2) bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah yang diutus dengan (membawa) kebenaran, (3) mengakui adanya hari Kebangkitan setelah mati, dan (4) beriman kepada takdir seluruhnya."

Al-Mustadrak #93

المستدرك ٩٣: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ سَلْمَانَ الْفَقِيهُ، ثنا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَشْعَثِ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، وَشَيْبَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَا: ثنا جَرِيرٌ، وَأَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، ثنا يَزِيدُ بْنُ صَالِحٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبَانَ، قَالَا: ثنا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَزَالُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُؤَامِرًا - أَوْ قَالَ مُقَارِبًا - مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا فِي الْوِلْدَانِ وَالْقَدَرِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَا نَعْلَمُ لَهُ عِلَّةً وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 93: Abu Bakar Ahmad bin Salman Al Faqih mengabarkan kepada kami, Abu Daud Sulaiman bin Al Asy'ats menceritakan kepada kami, Sulaim bin Harb dan Syaiban bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami. Abu Bakar bin Abdullah mengabarkan kepadaku, Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami, Yazid bin Shalih dan Muhammad bin Aban menceritakan kepada kami, Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Raja Al Utharidi berkata: Aku pernah mendengar Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Senantiasa perkara umat ini lurus -atau sedang- sampai mereka membicarakan tentang anak-anak orang musyrik dan takdir." Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Kami tidak mengetahui ada Illat-nya, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.