Hasil Pencarian: umrah 1236 Hadits

Musnad Syafi'i #1136

مسند الشافعي ١١٣٦: وَبِهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، كَانَ إِذَا حَلَقَ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةْ أَخَذَ مِنْ لِحْيَتِهِ وَشَارِبِهِ

Musnad Syafi'i 1136: Dan dengan sanad ini dari Ibnu Umar: Bahwa apabila ia mencukur rambutnya dalam ibadah haji atau umrah, ia mencukur pula sebagian janggut dan kumisnya. 374

Musnad Syafi'i #1139

مسند الشافعي ١١٣٩: وَبِهِ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَجَّ فِي الْفِتْنَةِ فَأَهَلَّ ثُمَّ نَظَرَ فَقَالَ: «مَا أَمْرُهُمَا إِلَّا وَاحِدٌ، أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ أَوْجَبْتُ الْحَجَّ مَعَ الْعُمْرَةِ»

Musnad Syafi'i 1139: Dan, dengan sanad ini bahwa Ibnu Umar melakukan ibadah haji di zaman fitnah, maka ia berniat ihram, kemudian memandang dan berkata, 'Tiada lain urusan keduanya (haji dan umrah) adalah satu. Aku bersumpah di hadapan kalian bahwa aku telah mewajibkan haji bersama dengan umrah." 377

Sunan Daruquthni #1175

سنن الدارقطني ١١٧٥: حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ نَصْرٍ , وَأَحْمَدُ بْنُ السِّنْدِيِّ بْنِ الْحَسَنِ , قَالَا: نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيُّ , ثنا أَبُو أَيُّوبَ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ " قَدِمَ الْمَدِينَةَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا , فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَلَمْ يَقْرَأْ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] حِينَ افْتَتَحَ الْقُرْآنَ وَقَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ , فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ أَتَاهُ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ مِنْ نَاحِيَةَ الْمَسْجِدِ , فَقَالُوا: أَتَرَكْتَ صَلَاتَكَ يَا مُعَاوِيَةُ؟ , أَنَسِيتَ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1]؟ , فَلَمَّا صَلَّى بِهِمُ الْأُخْرَى قَرَأَ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] ". قَالَ الشَّيْخُ: وَرَوَى الْجَهْرَ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ وَمِنْ أَزْوَاجِهِ غَيْرَ مَنْ سَمَّيْنَا , كَتَبْنَا أَحَادِيثَهُمْ بِذَلِكَ فِي كِتَابِ الْجَهْرِ بِهَا مُفْرَدًا , وَاقْتَصَرْنَا هَاهُنَا عَلَى مَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ طَلَبًا لِلِاخْتِصَارِ وَالتَّخْفِيفِ، وَكَذَلِكَ ذَكَرْنَا فِي ذَلِكَ الْمَوْضِعِ أَحَادِيثَ مَنْ جَهَرَ بِهَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ وَالْخَالِفِينَ بَعْدَهُمْ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ

Sunan Daruquthni 1175: Al Qadhi Abu Ath-Thahir Muhammad bin Ahmad bin Nashr dan Ahmad bin As-Sindi bin Al Hasan menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Ja'far bin Muhammad Al Firyabi menceritakan kepada kami, Abu Ayyub Sulaiman bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Isma'il bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Abdullah bin Utsman bin Khutsaim menceritakan kepada kami, dari Isma'il bin Ubaid bin Rifa'ah, dari ayahnya, dari kakeknya: Bahwa Mu'awiyah bin Abu Sufyan datang ke Madinah untuk haji atau umrah, lalu ia shalat mengimami orang-orang, namun ia tidak membaca 'Bismillaahir rahmaanir rahiim'' ketika mengawali bacaan Al Qur‘an dan ketika membaca Ummul Kitab (surah Al Faatihah). Selesai shalat, orangorang Muhajir dan Anshar mendatanginya dari setiap sudut masjid, lalu mereka berkata, 'Apakah engkau meninggalkan shalatmu wahai Mu'awiyah, atau engkau lupa (membaca) 'Bismillaahir rahmaanir rahiim'!' Kemudian ketika mengimami mereka pada shalat yang lainnya, ia membaca 'Bismillaahir rahmaanir rahiim '. " Syaikh mengatakan, "Telah diriwayatkan (pembacaan) 'Bismillaahir rahmaanir rahiim'' secara nyaring dari Nabi SAW oleh sejumlah sahabat beliau dan para istri beliau selain yang kami sebutkan. Hadits-hadits mereka kami cantumkan tersendiri pada bab tentang menyaringkan bacaan, adapun di sini kami cukupkan dengan apa yang telah kami kemukakan supaya lebih ringkas dan ringan, Demikian juga yang kami sebutkan pada bagian hadits-hadits tentang menyaringkan bacaan yang bersumber dari para sahabat Nabi SAW dan para pengikut mereka serta generasi pengganti mereka rahimahumullah."

Grade

Shahih Ibnu Hibban #1239

صحيح ابن حبان ١٢٣٩: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ‏:‏ بَعَثَ رَسُولُ اللهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ‏:‏ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ سَيِّدُ أَهْلِ الْيَمَامَةِ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ‏:‏ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ عِنْدِي يَا مُحَمَّدُ خَيْرٌ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ، تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتَرَكَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى كَانَ الْغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ‏:‏ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ مَا قُلْتُ لَكَ‏:‏ إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ تَقْتُلْ تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتَرَكَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ، فَقَالَ لَهُ‏:‏ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ‏؟‏ فَقَالَ‏:‏ عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ تَقْتُلْ تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ‏:‏ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، يَا مُحَمَّدُ وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ كُلِّهَا إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ دِينَكَ أَحَبَّ الدِّينِ كُلِّهِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ بَلَدٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ، فَقَدَ أَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلاَدِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ، فَمَاذَا تَرَى‏؟‏ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ، قَالَ لَهُ قَائِلٌ‏:‏ صَبَوْتَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ لاَ، وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلاَ وَاللَّهِ لاَ تَأْتِيكُمْ مِنَ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ، حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ فِي هَذَا الْخَبَرِ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَةِ التِّجَارَةِ إِلَى دُورِ الْحَرْبِ لأَهْلِ الْوَرَعِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1239: Umar bin Muhammad Al Hamdani telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Isa bin Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Laits telah mengabarkan kepada kami dari Sa’id Al Maqburi bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus tentara berkuda ke arah Najed. Pasukan itu datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah bernama Tsumamah bin Utsal, pemimpin penduduk Yamamah. Kemudian mereka mengikatnya di salah satu tiang masjid. 48 Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dan menghampirinya. Beliau bertanya, “Apa pendapatmu wahai Tsumamah?”. Ia menjawab, “Pendapatku baik wahai Muhammad! Jika engkau membunuhku, berarti engkau membunuh orang yang diperhitungkan darahnya. Jika engkau memberikan anugerah, berarti engkau telah memberikan anugerah kepada orang yang pandai berterima kasih. Jika engkau menginginkan harta, maka mintalah. Engkau akan diberi berapapun yang engkau inginkan.”Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkannya sampai keesokan harinya. Kemudian beliau bertanya kepada Tsumamah, “Apa pendapatmu wahai Tsumamah?”. Tsumamah menjawab, “(pendapatku) apa yang telah aku katakan kepadamu, “Jika engkau memberikan anugerah, berarti engkau telah memberikan anugerah kepada orang yang pandai berterimakasih. Jika engkau membunuhku, berarti engkau membunuh orang yang diperhitungkan darahnya. Jika engkau menginginkan harta, maka mintalah. Engkau akan diberi berapapun yang engkau inginkan.”Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkannya sampai setelah keesokan hari. Kemudian beliau bertanya kepada Tsumamah, “Apa pendapatmu wahai Tsumamah? Tsumamah menjawab, “Pendapatku apa yang telah aku katakan kepadamu, “Jika engkau memberikan anugerah, berarti engkau telah memberikan anugerah kepada orang yang pandai berterimakasih. Jika engkau membunuhku, berarti engkau membunuh orang yang diperhitungkan darahnya. Jika engkau menginginkan harta, maka mintalah. Engkau akan diberi berapapun yang engkau inginkan.”Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda, “Lepaskan Tsumamah”. Kemudian ia berjalan ke sebuah pohon kurma yang letaknya berdekatan dengan masjid. Ia mandi lalu masuk ke dalam masjid. Setelah itu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Wahai Muhammad! Demi Alah, Tidak ada satupun wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu. Sungguh, wajahmu kini menjadi wajah yang paling aku cintai dari seluruh wajah manusia. Demi Allah! Tidak ada satupun agama yang lebih aku benci selain agamamu. Sungguh, agamamu kini menjadi agama yang paling aku cintai dari seluruh agama. Demi Allah! Tidak ada negeri yang lebih aku benci selain negerimu. Sungguh, negerimu kini menjadi negeri yang paling aku cintai dari seluruh negeri. Sungguh, tentara berkudamu telah menangkapku, padahal aku ingin umrah. Lalu apa pendapatmu?”. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun memberikan kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya untuk melakukan umrah. Ketika ia datang ke Makkah, seseorang bertanya kepadanya, “Apa kamu telah bersenang-senang?”. Ia menjawab, “Tidak, bahkan aku masuk Islam di hadapan Muhammad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demi Allah! Tidak akan datang kepada kalian satu biji gandum pun dari Yamamah sampai mendapat izin dari Rasulullah SAW” 49 [95:1] Abu Hatim RA. berkata, “Hadits ini mengandung dalil yang membolehkan berniaga ke negara-negara musuh bagi ahli takwa.”

Musnad Ahmad #1264

مسند أحمد ١٢٦٤: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي أَبَانُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ وَقَفْتُ مَعَ الْحُسَيْنِ فَلَمْ أَزَلْ أَسْمَعُهُ يَقُولُ لَبَّيْكَ حَتَّى رَمَى الْجَمْرَةَ فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مَا هَذَا الْإِهْلَالُ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُهِلُّ حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْجَمْرَةِ وَحَدَّثَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهَلَّ حَتَّى انْتَهَى إِلَيْهَا

Musnad Ahmad 1264: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu 'Adi] dari [Muhammad bin Ishaq] telah menceritakan kepadaku [Aban bin Shalih] dari [Ikrimah] berkata: Saya melakukan wukuf bersama [Husain], dan saya tetap mendengarnya membaca: LABAIKA sampai dia melempar jumrah. Maka saya bertanya: "Wahai Abu Abdullah, ihram apa itu?" Dia menjawab: "Saya mendengar [Ali bin Abu Thalib] radliyallahu 'anhu berihram sampai di tempat jumrah. Dan dia telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berihram sampai pada tempat tersebut."

Grade

Musnad Ahmad #1277

مسند أحمد ١٢٧٧: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَيَّاشٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ ثُمَّ أَرْدَفَ أُسَامَةَ فَجَعَلَ يُعْنِقُ عَلَى نَاقَتِهِ وَالنَّاسُ يَضْرِبُونَ الْإِبِلَ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ وَيَقُولُ السَّكِينَةَ أَيُّهَا النَّاسُ وَدَفَعَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ فَأَتَى جَمْعًا فَصَلَّى بِهَا الصَّلَاتَيْنِ يَعْنِي الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ ثُمَّ بَاتَ بِهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ وَقَفَ عَلَى قُزَحَ فَقَالَ هَذَا قُزَحُ وَهُوَ الْمَوْقِفُ وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ قَالَ ثُمَّ سَارَ فَلَمَّا أَتَى مُحَسِّرًا قَرَعَهَا فَخَبَّتْ حَتَّى جَازَ الْوَادِيَ ثُمَّ حَبَسَهَا وَأَرْدَفَ الْفَضْلَ ثُمَّ سَارَ حَتَّى أَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى الْمَنْحَرَ فَقَالَ هَذَا الْمَنْحَرُ وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ ثُمَّ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ شَابَّةٌ مِنْ خَثْعَمَ فَقَالَتْ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ قَدْ أَفْنَدَ وَقَدْ أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ فَهَلْ يُجْزِئُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ فَأَدِّي عَنْ أَبِيكِ قَالَ وَلَوَى عُنُقَ الْفَضْلِ فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ لَوَيْتَ عُنُقَ ابْنِ عَمِّكَ قَالَ رَأَيْتُ شَابًّا وَشَابَّةً فَخِفْتُ الشَّيْطَانَ عَلَيْهِمَا قَالَ وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ أَفَضْتُ قَبْلَ أَنْ أَحْلِقَ قَالَ فَاحْلِقْ أَوْ قَصِّرْ وَلَا حَرَجَ قَالَ وَأَتَى زَمْزَمَ فَقَالَ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سِقَايَتَكُمْ لَوْلَا أَنْ يَغْلِبَكُمْ النَّاسُ عَلَيْهَا لَنَزَعْتُ

Musnad Ahmad 1277: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Adam] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abdurrahman bin 'Ayyasy] dari [Zaid bin Ali] dari [Bapaknya] dari ['Ubaidullah bin Abu Rafi'] dari [Ali] radliyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wukuf di Arafah dan bersabda: "Ini adalah tempat wukuf dan Arafah semuanya adalah tempat wukuf." Lalu beliau membonceng Usamah bertolak dan berjalan secara perlahan sementara orang-orang berdesakan ke kanan dan ke kiri, maka beliau menoleh seraya berkata: "Tenanglah wahai manusia tenanglah wahai manusia." beliau bertolak ketika matahari telah tenggelam. sampai di Muzdalifah, beliau menjama' dua Shalat yaitu shalat Maghrib dan shalat Isya' dan menginap di sana, Pada pagi harinya beliau berdiri di Quzah seraya berkata: "Ini adalah Quzah tempat berhenti dan semua jam'un (Muzdalifah) adalah tempat berhenti." Ali radliyallahu 'anhu berkata: Kemudian beliau melanjutkan perjalanan, tatkala sampai di Muhassir, beliau memukul untanya dan unta tersebut menurut saja hingga beliau dapat melewati lembah itu. Beliau mengekang untanya dan memboncengkan Al Fadll dan melanjutkan perjalanannya sampai di Jumrah dan melempar di sana. Beliau juga mendatangi tempat penyembelihan dan bersabda: "Ini adalah tempat menyembelih dan Mina semuanya adalah tempat menyembelih." Kemudian seorang wanita muda dari Khats'am berkata: "Sesungguhnya bapakku adalah orang yang sudah tua renta, padahal dia mempunyai kewajiban haji, apakah boleh jika saya menghajikannya?" beliau menjawab: "Ya, lakukanlah." Ali radliyallahu 'anhu berkata: Beliau memalingan leher Al Fadll, maka Al Abbas berkata: "Wahai Rasulullah, kenapa anda memalingkan leher anak pamanmu?" beliau menjawab: "Saya melihat seorang pemuda dan seorang gadis, saya takut setan menguasai keduanya." Ali radliyallahu 'anhu berkata: setelah itu seorang laki-laki menemui beliau dan berkata: "Saya telah thawaf ifadlah sebelum saya bercukur?" beliau menjawab: "Cukurlah atau pendekkanlah, dan tidak mengapa." Lalu beliau mendatangi Zamzam, dan bersabda: "Wahai Bani Abdul Muththalib, tugas memberi minuman kepada manusia adalah tugas kalian. Kalau saja bukan karena manusia dapat mengalahkan kalian dalam hal ini niscaya saya akan mencabut (tugas itu)."

Grade

Sunan Abu Dawud #1280

سنن أبي داوود ١٢٨٠: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي وَقَالَ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا قَالَ شُعْبَةُ ثُمَّ لَقِيتُ عَاصِمًا بَعْدُ بِالْمَدِينَةِ فَحَدَّثَنِيهِ وَقَالَ أَشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ فِي دُعَائِكَ

Sunan Abu Daud 1280: Telah menceritakan kepada Kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada Kami [Syu'bah] dari ['Ashim bin 'Ubaidullah] dari [Salim bin Abdullah] dari [ayahnya] dari [Umar Rhadhiyallahu 'anhu], ia berkata: Aku meminta izin kepada Rasulullah shalllallahu 'alaihi wa sallam untuk melaksanakan umrah, lalu beliau mengizinkan aku dan beliau berkata: "Wahai saudaraku, janganlah kamu lupakan Kami dalam doamu!" Umar berkata: kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak aku suka untuk digantikan untukku dengan dunia. Syu'bah berkata: kemudian bertemu 'Ashim setelah itu di Madinah lalu ia menceritakan hal tersebut kepadaku dan ia berkata: "Wahai saudaraku, sertakanlah Kami dalam doamu."

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Dha'if,

Sunan Darimi #1338

سنن الدارمي ١٣٣٨: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ وَأَبُو الْوَلِيدِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

Sunan Darimi 1338: Telah mengabarkan kepada kami [Sa'id? bin 'Amir] dan [Abu Al Walid] dari [Syu'bah] dari [Sulaiman Asy Syaibani] dari [Abdullah bin Syaddad] dari [Maimunah], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas khumrah (tikar kecil untuk muka)."

Grade

Musnad Ahmad #1362

مسند أحمد ١٣٦٢: حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ قَالَ سَأَلْتُ طَاوُسًا عَنْ رَجُلٍ رَمَى الْجَمْرَةَ بِسِتِّ حَصَيَاتٍ فَقَالَ لِيُطْعِمْ قَبْضَةً مِنْ طَعَامٍ قَالَ فَلَقِيتُ مُجَاهِدًا فَسَأَلْتُهُ وَذَكَرْتُ لَهُ قَوْلَ طَاوُسٍ فَقَالَ رَحِمَ اللَّهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَمَا بَلَغَهُ قَوْلُ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَمَيْنَا الْجِمَارَ أَوْ الْجَمْرَةَ فِي حَجَّتِنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسْنَا نَتَذَاكَرُ فَمِنَّا مَنْ قَالَ رَمَيْتُ بِسِتٍّ وَمِنَّا مَنْ قَالَ رَمَيْتُ بِسَبْعٍ وَمِنَّا مَنْ قَالَ رَمَيْتُ بِثَمَانٍ وَمِنَّا مَنْ قَالَ رَمَيْتُ بِتِسْعٍ فَلَمْ يَرَوْا بِذَلِكَ بَأْسًا

Musnad Ahmad 1362: Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritkan kepada kami [Abdul Warits] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Najih] berkata: saya bertanya kepada Thawus tentang seorang lelaki yang melempar jumrah dengan enam kerikil. Dia menjawab: "Hendaknya dia memberi makan dengan segenggam makanan." Ibnu Abu Najih berkata: Kemudian aku bertemu [Mujahid], maka aku pun menanyakan kepadanya dan menyebutkan pendapat Thawus, maka dia menjawab: "Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Abdurrahman, tidakkah sampai kepadanya perkataan [Sa'd bin Malik] bahwa dia berkata: Kami melempar beberapa jumrah atau satu jumrah dalam ritual haji kami (yang kami jalani) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian kami duduk saling berdiskusi, di antara kami ada yang berkata: 'Aku telah melempar enam kerikil, ' diantara kami ada yang berkata: 'Aku melempar tujuh kerikil, ' diantara kami ada yang berkata: 'Aku telah melempar delapan kerikil, ' dan diantara kami ada yang berkata: 'Aku melempar sembilan kerikil, ' dan mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan satu kesalahan."

Grade

Shahih Ibnu Hibban #1371

صحيح ابن حبان ١٣٧١: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ الْفَزَارِيَّ، يُحَدِّثُ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ‏:‏ رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ أَمَرَ بِالْبُدْنِ فَنُحِرَتْ- وَالْحَلاَّقُ جَالِسٌ عِنْدَهُ- فَسَوَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَوْمَئِذٍ شَعْرَهُ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَبَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَقِّ جَانِبِهِ الأَيْمَنِ عَلَى شَعْرِهِ، ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ‏:‏ احْلِقْ فَحَلَقَ، فَقَسَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرَهُ يَوْمَئِذٍ بَيْنَ مَنْ حَضَرَهُ مِنَ النَّاسِ- الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ- ثُمَّ قَبَضَ بِيَدِهِ عَلَى جَانِبِ شِقِّهِ الأَيْسَرِ عَلَى شَعْرِهِ، ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ‏:‏ احْلِقْ، فَحَلَقَ، فَدَعَا أَبَا طَلْحَةَ الأَنْصَارِيَّ، فَدَفَعَهُ إِلَيْهِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ فِي قِسْمَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرَهُ بَيْنَ أَصْحَابِهِ أَبْيَنُ الْبَيَانِ بِأَنَّ شَعْرَ الإِنْسَانِ طَاهِرٌ، إِذِ الصَّحَابَةُ إِنَّمَا أَخَذُوا شَعْرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَتَبَرَّكُوا بِهِ، فَبَيْنَ شَادٍ فِي حُجْزَتِهِ، وَمُمْسِكٍ فِي تِكَّتِهِ، وَآخِذٍ فِي جَيْبِهِ، يُصَلُّونَ فِيهَا، وَيَسْعَوْنَ لِحَوَائِجِهِمْ وَهِيَ مَعَهُمْ، وَحَتَّى إِنَّ عَامَّةً مِنْهُمْ أَوْصَوْا أَنْ تُجْعَلَ تِلْكَ الشَّعَرَةُ فِي أَكْفَانِهِمْ وَلَوْ كَانَ نَجِسًا لَمْ يَقْسِمْ عَلَيْهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّيْءَ النَّجِسَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَتَبَرَّكُونَ بِهِ عَلَى حَسَبِ مَا وَصَفْنَا، فَلَمَّا صَحَّ ذَلِكَ مِنَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحَّ ذَلِكَ مِنْ أُمَّتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ شَيْءٌ طَاهِرٌ، وَمِنْ أُمَّتِهِ ذَلِكَ الشَّيْءُ بِعَيْنِهِ نَجِسًا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1371: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Abdurrahman bin Sahm, ia berkata, Aku mendengar Abu Ishaq Al Fazari menceritakan sebuah hadits dari Hisyam bin Hasan dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melempar jumrah pada hari raya qurban. Kemudian beliau menyuruh menyembelih unta. Unta pun di sembelih -sementara tukang cukur duduk di samping beliau-. Pada saat itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merapihkan rambut dengan tangannya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggenggam sisi bagian kanan dari rambutnya. Lalu beliau bersabda ke arah tukang cukur, “Cukurlah!”. Maka tukang cukur pun mencukurnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membagi-bagikan rambutnya pada hari itu kepada manusia yang menyaksikan peristiwa itu -satu lembar atau dua lembar rambut-. Kemudian beliau menggenggam sisi bagian kiri dari rambutnya dengan tangannya. Setelah itu beliau memanggil Abu Thalhah Al Anshari. Beliau pun memberikan (rambut itu) kepadanya.” 253 [8:5] Abu Hatim berkata, “Perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang membagi- bagikan rambut kesegenap sahabatnya merupakan penjelasan yang paling nyata bahwa rambut manusia itu suci. Karena para sahabat mengambil rambut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semata-mata karena ingin mendapat berkah. Maka, dari balik tali pengikat celana atau kain, dari balik penahan ikat pinggang, dan dari balik celah kantung pakaian, mereka shalat dengan membawa rambut beliau. Mereka mencari rejeki untuk kebutuhan mereka dengan membawa rambut beliau yang selalu menyertai mereka. Bahkan kebanyakan dari mereka berwasiat agar rambut beliau disisipkan di dalam kain kafan mereka. Seandainya rambut dikatakan najis, niscaya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan membagi- bagikan benda najis, sementara beliau tahu bahwa mereka mengambil berkah dari rambut beliau seperti yang telah kami gambarkan tadi. Ketika hukum itu shahih dari Nabi, maka shahih pula untuk umatnya. Karena mustahil dari nabi sesuatu itu suci, sementara untuk umatnya, sesuatu itu najis.” 254