سنن النسائي ١٣٥٥: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ قُدَامَةَ بْنِ وَبَرَةَ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِينَارٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِنِصْفِ دِينَارٍ
Sunan Nasa'i 1355: Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Sulaiman] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qatadah] dari [Qudamah bin Wabarah] dari [Samurah bin Jundub] dia berkata: Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat jum'at tanpa ada udzur (alasan yang dibenarkan), hendaklah dia bersedekah dengan satu dinar, jika dia tidak bisa maka dengan setengah dinar.
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Dha'if,
صحيح ابن حبان ١٣٥٥: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ النَّضْرِ، فِي عَقِبِ خَبَرِ أَبِي حَمْزَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يَقُولُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الْمُسْتَحَاضَةِ فَقَالَ: تَدَعُ الصَّلاَةَ أَيَّامَهَا، ثُمَّ تَغْتَسِلُ غُسْلاً وَاحِدًا، ثُمَّ تَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ.
Shahih Ibnu Hibban 1355: Muhammad bin Ahmad bin An-Nadhar telah mengabarkan kepada kami sebuah hadits setelah mengemukakan hadits Abu Hamzah, ia berkata, Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin Syaqiq telah menceritakan kepada kami, ia berkata Aku mendengar ayahku berkata, Abu Awanah telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah ditanya tentang wanita yang mengeluarkan darah istihadhah. Beliau bersabda, “Ia harus meninggalkan shalat pada hari-hari haidhnya. Kemudian ia mandi satu kali. Setelah itu ia berwudhu setiap kali hendak shalat.”232 [82:1]
سنن ابن ماجه ١٣٦٩: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ سَأَلْتُ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَالنَّاسُ مُتَوَافِرُونَ أَوْ مُتَوَافُونَ عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يُخْبِرُنِي أَنَّهُ صَلَّاهَا يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ أُمِّ هَانِئٍ فَأَخْبَرَتْنِي أَنَّهُ صَلَّاهَا ثَمَانَ رَكَعَاتٍ
Sunan Ibnu Majah 1369: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Uyainah] dari [Yazid bin Abu Ziyad] dari [Abdullah Ibnul Harits] ia berkata: "Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan aku bertanya, banyak orang-orang yang meninggalkan shalat dluha hingga aku tidak mendapatkan seseorang yang memberitahuku bahwasanya ia -yakni Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- melaksanakannya (shalat dluha) selain [Ummu Hani`]. Ia mengabarkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakannya dengan mengerjakan delapan raka'at. "
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,
سنن الدارمي ١٤٠٣: أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
Sunan Darimi 1403: Telah mengabarkan kepada kami [Utsman bin Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir] dari [Ayahnya] dari [Aisyah radliallahu 'anha] ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak meninggalkan shalat empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sebelum Subuh."
Grade
صحيح مسلم ١٤٣٢: و حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ وَهُوَ ابْنُ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ يَعْنِي أَخَاهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنِي الْحَكَمُ بْنُ مِينَاءَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَأَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
Shahih Muslim 1432: Dan telah menceritakan kepadaku [Al Hasan bin Ali Al Hulwani] telah menceritakan kepada kami [Abu Taubah] telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah] yaitu Ibnu Sallam dari [Zaid] yakni saudaranya, bahwa ia mendengar [Abu Sallam] ia berkata: telah menceritakan kepadaku [Al Hakam bin Mina`] bahwa [Abdullah bin Umar] dan [Abu Hurairah] keduanya telah menceritakan kepadanya, bahwa keduanya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di atas mimbarnya: "Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum'at menghentikan perbuatannya, ataukah mereka ingin Allah membutakan hati mereka, dan sesudah itu mereka benar-benar menjadi orang yang lalai."
صحيح ابن حبان ١٤٥٣: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ إِلاَّ تَرْكُ الصَّلاَةِ.
Shahih Ibnu Hibban 1453: Abu Khalifah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Katsir Al Abdi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan Ats-Tsauri lelah mengabarkan kepada kami sebuah hadits dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada (pembatas) antara seorang hamba dan kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” 386 [25:3]
صحيح ابن حبان ١٤٥٩: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى آذَتْنَا الشَّمْسُ، فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ رَاحِلَتَهُ ثُمَّ يَتَنَحَّى عَنْ هَذَا الْمَنْزِلِ ثُمَّ دَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: فِي تَأْخِيرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ عَنِ الْوَقْتِ الَّذِي أَثْبَتَهُ إِلَى أَنْ خَرَجَ مِنَ الْوَادِي دَلِيلٌ صَحِيحٌ، عَلَى أَنَّ تَارِكَ الصَّلاَةِ إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا لاَ يَكُونُ كَافِرًا، إِذْ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَدَاءِ الصَّلاَةِ فِي وَقْتِ انْتِبَاهِهِمْ مِنْ مَنَامِهِمْ، وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالتَّنَحِّي عَنِ الْمَنْزِلِ الَّذِي نَامُوا فِيهِ، وَالْفَرْضُ لاَزِمٌ لَهُمْ قَدْ جَازَ وَقْتُهُ.
Shahih Ibnu Hibban 1459: Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Fudhail telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami berhenti (di sebuah tempat peristirahatan musafir) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam. Kami belum terbangun hingga matahari menyengat tubuh kami. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Hendaklah setiap laki-laki dari kalian mengambil kendaraan. Kemudian tinggalkan tempat ini! " Kemudian beliau minta dibawakan air. Setelah itu beliau berwudhu dan sujud sebanyak dua kali. Lalu shalat pun dilaksanakan'. 399 [25:3] Abu Hatim berkata, “Perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengakhirkan shalat dari waktu yang sudah ditetapkan hingga beliau keluar dari lembah menjadi dalil yang shahih bahwa orang yang meninggalkan shalat sampai keluar waktunya tidak dihukumi kafir. Karena jika dihukumi kafir, niscaya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada mereka agar segera menunaikan shalat saat mereka terbangun dari tidur, dan niscaya beliau tidak memerintahkan supaya mereka meninggalkan tempat di mana mereka tertidur pulas. Jadi shalat fardhu wajib mereka lakukan namun waktunya boleh (ditunda)”
صحيح ابن حبان ١٤٦٣: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عَمْرٍو، بِالْفُسْطَاطِ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْعَلاَءِ الزُّبَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرٍ، حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ عَمِّهِ، عَنْ بُرَيْدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: بَكِّرُوا بِالصَّلاَةِ فِي يَوْمِ الْغَيْمِ، فَإِنَّهُ مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ فَقَدْ كَفَرَ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَطْلَقَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمَ الْكُفْرِ عَلَى تَارِكِ الصَّلاَةِ، إِذْ تَرْكُ الصَّلاَةِ أَوَّلُ بِدَايَةِ الْكُفْرِ، لأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَرَكَ الصَّلاَةَ وَاعْتَادَهُ ارْتَقَى مِنْهُ إِلَى تَرْكِ غَيْرِهَا مِنَ الْفَرَائِضِ، وَإِذَا اعْتَادَ تَرْكَ الْفَرَائِضِ أَدَّاهُ ذَلِكَ إِلَى الْجَحْدِ فَأَطْلَقَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمَ النِّهَايَةِ الَّتِي هِيَ آخِرُ شُعَبِ الْكُفْرِ عَلَى الْبِدَايَةِ الَّتِي هِيَ أَوَّلُ شُعَبِهَا وَهِيَ تَرْكُ الصَّلاَةِ.
Shahih Ibnu Hibban 1463: Yahya bin Amr di Al Fusthath telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala Az-Zubaidi404 telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Himyar405 telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Auza’i telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Qilabah dari pamannya dari Buraidah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bersegeralah melaksanakan shalat (di awal waktu) pada hari mendung. Karena sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat, ia benar-benar telah kafir.”406 [25:3] Abu Hatim berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan kata kufur kepada orang yang meninggalkan shalat karena407 meninggalkan shalat merupakan awal dari kekufuran. Karena bila seseorang meninggalkan shalat dan membiasakan meninggalkan shalat, niscaya akan meningkat ke arah meninggalkan kefardhuan yang lain. Jika ia terbiasa meninggalkan kefardhuan, maka dapat mengakibatkan ia menjadi kufur. Jadi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan, “Proses akhir” yang merupakan ujung dari cabang kekufuran, kepada “proses pertama”yang merupakan awal dari cabang kekufuran. Proses pertama tersebut adalah meninggalkan shalat.”
صحيح ابن حبان ١٤٧٠: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، عَنْ دَاوُدَ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَاجِرِ، عَنْ بُرَيْدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: بَكِّرُوا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ يَوْمَ الْغَيْمِ، فَإِنَّهُ مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ.قَالَ الشَّيْخُ: وَهِمَ الأَوْزَاعِيُّ فِي صَحِيفَتِهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، فَقَالَ عَنْ أَبِي الْمُهَاجِرِ وَإِنَّمَا هُوَ أَبُو الْمُهَلَّبِ عَمُّ أَبِي قِلاَبَةَ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنُ مُعَاوِيَةَ بْنِ زَيْدٍ الْجَرْمِيُّ.
Shahih Ibnu Hibban 1470: Abu Khalifah telah mengabarkan kepada kami ja berkata, “Musaddad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Daud dari Al Auza’i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Qilabah dari Abu Al Muhajir dari Buraidah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah melaksanakan shalat Ashar (di awal waktu) pada hari mendung. Karena sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka sia-sialah amalnya. ”414 [54:2] Syaikh berkata, “Al Auza’i di dalam lembaran tulisannya dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Qilabah mengalami kekeliruan. Di sana ia berkata, 'Dari Abu Qilabah', padahal yang sebenarnya adalah Abu Al Muhallab. Abu Al Mahlab sendiri bernama Amr415 bin Mu’awiyah bin Zaid Al Jurmi."
مسند الشافعي ١٤٧١: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: قَالَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي»
Musnad Syafi'i 1471: Malik mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia mengatakan: Fatimah binti Abu Hubaisy pernah mengatakan kepada Rasulullah , "Sesungguhnya aku seringkali dalam keadaan tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?" Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya hal itu hanyalah darah penyakit (keputihan) dan bukan darah haid. Karena itu apabila masa haidmu datang, tinggalkanlah shalatmu; dan apabila kebiasaan masa haidmu telah berlalu, maka cucilah darahmu (yakni mandi jinabahlah kamu), kemudian shalatlah."701