صحيح ابن حبان ٩٢٤: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُرَيْمُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يَقُولُ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَتُوبُ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً.
Shahih Ibnu Hibban 924: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Huraim bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’tamir bin, Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dalam sehari aku memohon ampunan (bertaubat) sebanyak tujuh puluh kali.” 98 [5:12]
صحيح ابن حبان ٩٢٥: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.
Shahih Ibnu Hibban 925: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya dalam sehari aku memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT lebih dari tujuh puluh kali.”99 [5:12]
صحيح ابن حبان ٩٢٩: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، أَخْبَرَنِي، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَجُلاً مِنْ جُهَيْنَةَ يُقَالُ لَهُ: الأَغَرُّ، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُحَدِّثُ ابْنَ عُمَرَ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ يُرِيدُ بِهِ: اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ. وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ: فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، وَكَانَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتَقْصِيرِهِ فِي الطَّاعَاتِ الَّتِي وَظَّفَهَا عَلَى نَفْسِهِ، لأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مِنْ أَخْلاَقِهِ إِذَا عَمِلَ خَيْرًا أَنْ يُثْبِتَهُ فَيَدُومَ عَلَيْهِ، فَرُبَّمَا اشْتَغَلَ فِي بَعْضِ الأَوْقَاتِ عَنْ ذَلِكَ الْخَيْرِ الَّذِي كَانَ يُوَاظِبُ عَلَيْهِ بِخَيْرٍ آخَرَ، مِثْلُ اشْتِغَالِهِ بِوَفْدِ بَنِي تَمِيمٍ وَالْقِسْمَةِ فِيهِمْ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الظُّهْرِ، فَلَمَّا صَلَّى الْعَصْرَ أَعَادَهُمَا، فَكَانَ اسْتِغْفَارُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلتَّقْصِيرِ فِي خَيْرٍ اشْتَغَلَ عَنْهُ بِخَيْرٍ ثَانٍ عَلَى حَسَبِ مَا وَصَفْنَا.
Shahih Ibnu Hibban 929: Al Fadhl bin Al Hubab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al Walid menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Amar bin Murrah, ia mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Burdah berkata: aku mendengar seseorang dari suku Juhainah, yang dipanggil dengan nama Al Aghar, termasuk shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bercerita, bahwa Ibnu Umar mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, taubatlah kalian kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” [1:104] Abu Hatim RA berkata: Sabda Nabi SAW: Wahai manusia, taubatlah kalian kepada Tuhan kalian.” maksudnya adalah: “Minta ampunlah (beristighfarlah) kalian kepada Tuhan kalian.” Demikian juga pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali. Istighfamya beliau karena penundaan yang beliau lakukan terhadap perbuatan-perbuatan ketaatan yang sudah biasa beliau kerjakan. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu mempunyai akhlak salah satunya adalah apabila beliau mengerjakan suatu perbuatan ketaatan, maka beliau selalu mengerjakannya dan membiasakannya. Kerapkali beliau disibukkan dengan satu ketaatan dari ketaatan yang lain hingga salah salah satunya tertinggal, sebagaimana beliau pernah di sibukkan dari shalat dua raka'at setelah Zhuhur sebab kedatangan delegasi Bani Tamim hingga beliau tertinggal mengerjakannya, maka beliau mengqadha (mengganti) nya dengan mengerjakan shalat dua rakaat sebelum zhuhur itu setelah shalat Ashar. Istighfar beliau adalah karena penundaan mengerjakan ketaatan yang disebabkan karena mengakhirkan ibadah-ibadah sunah dari waktunya, biasanya hal tersebut dikarenakan kesibukkan beliau mengerjakan ketaatan yang lainnya, yang menurut kondisi pada saat itu, perbuatan itu lebih utama di dahulukan dari pada perbuatan ketaatan lainnya. Jadi beliau beristighfar bukan karena dosa yang beliau lakukan.
صحيح ابن حبان ٩٣٠: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ وَرْدَانَ بِمِصْرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ فِيهِ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}.
Shahih Ibnu Hibban 930: Isma'il bin Daud bin Wardan di Mesir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Isa bin Hamad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepada kami, dari Ibnu ‘Ajian, dari Al Qa’qa’ bin Hakim, (dari Abu Shalih), dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila seorang hamba keliru berbuat suatu perbuatan dosa, maka hatinya ternoda dengan satu titik hitam. Jika ia meninggalkannya dan beristighfar (memohon ampunan) serta bertaubat, maka hatinya akan dikilapkan. Jika ia mengulangi lagi perbuatan dosa itu, maka titik hitam itu akan ditambahkan lagi. Jika mengulangi lagi, maka titik hitamnya ditambahkan pula, hingga hatinya dipenuhi dengan titik hitam. Inilah noda hitam yang telah Allah SWT jelaskan pada firman- Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. ” 107 (Qs. Al Muthaffifin [83]: 14) [3:65]
صحيح ابن حبان ٩٤٧: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ طَلِيقِ بْنِ قَيْسٍ الْحَنَفِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: رَبِّ أَعِنِّي وَلاَ تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلاَ تَنَصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي، وَلاَ تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ، رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا، لَكَ ذَاكِرًا، لَكَ أَوَّاهًا، لَكَ مِطْوَاعًا، لَكَ مُخْبِتًا أَوَّاهًا مُنِيبًا، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي.
Shahih Ibnu Hibban 947: Al Fadhi bin Al Hubab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Katsir Al Abadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Amar bin Murrah, dari Abdullah bin Al Harits, dari Thulaiq bin Qais Al Hanafi, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selalu membaca, “Rabbi a'innii wa laa tu'in ‘alayya, wanshurnii wa laa tanshur 'alayaa, wamkur lii wa laa tamkur alayya, wahdinii, wa yassiril huda lii, wanshurnii ‘ala man bagha alayya. Rabbij’alnii laka syaakiran, laka dzaakiran. laka awwaahan, laka mithwaa'an, laka mukhbitan awwaahan muniiban. Rabbi taqabbal tawbatii, waghsil hawbatii, wa ajib da’watii, wa tsabbit hujjatii, wahdi qalbii, wa saddid lisaanii, waslul sakhiimata qalbii (Ya Tuhanku bantulah aku dan jangalah Engkau membantu musuhku. Tolonglah aku menghadapi/mengalahkan musuh dan janganlah Engkau menolong musuh-untuk mengalahkan aku. Berilah aku siasat-untuk mengalahkan musuh- dan janganlah Engkau memberi siasat untuk mengalahkan aku. Tunjukilah aku, serta mudahkanlah petunjuk kepadaku dan tolonglah aku terhadap orang yang menganiaya aku. Ya Tuhanku, jadikanlah aku sebagai sebagai orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, orang yang banyak mengingat- Mu, orang yang selalu takut kepada-Mu, orang yang selalu taat kepada-Mu, orang yang selalu khusyu dan tawadhu kepada-Mu, orang yang selalu penghiba dan suka kembali-Mu (taubat) ya Tuhanku, terimalah taubatku, cucilah dosaku, perkenankanlah doaku, tunjukilah hatiku, benarkanlah lisanku, tetapkanlah hujjahku, dan lepaskanlah kedengkian hatiku).”141 [5:12]
صحيح ابن حبان ٩٤٨: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ: حَدَّثَنِي سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحَارِثِ الْمُعَلِّمُ، قَالَ: حَدَّثَنِي طَلِيقُ بْنُ قَيْسٍ الْحَنَفِيُّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو، فَيَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي وَلاَ تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلاَ تَنَصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلاَ تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ لِيَ الْهُدَى، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا، لَكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا. رَبِّ اقْبَلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَبُو صَالِحٍ مَا حَدَّثَنَا عَنْهُ أَبُو يَعْلَى إِلاَّ هَذَا الْحَدِيثَ.
Shahih Ibnu Hibban 948: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yahya bin Sa’id Al Qaththan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepadaku, ia berkata: Amar bin Murrah menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Al Harits Al Mu’allim menceritakan kepadaku, ia berkata: Thulaiq bin Qais Al Hanafi menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu membaca: 'Allahumma a'innii wa laa tu’in ‘alayya, wanshurnii wa laa tanshur ‘alayya, wamkur lii wa laa tamkur ‘alayya, wahdinii, wa yassiril huda lii, wanshurnii 'ala man bagha 'alayya. Allahummaj’alnii laka syakkaaran, laka dzakkaaran, laka mithwaa ’an, laka mukhbitan awwaahan muniiban. Rabbi iqbal tawbatii, waghsil hawbatii, wa tsabbit hujjatii, wa saddid lisaanii, waslul sakhiimata qalbii (Ya Allah bantulah aku menghadapi musuh dan jangalah Engkau membantu musuh mengalahkan aku. Tolonglah aku menghadapi/mengalahkan musuh dan janganlah Engkau menolong musuh-untuk mengalahkan aku. Berilah aku siasat-untuk mengalahkan musuh- dan janganlah Engkau memberi siasat untuk mengalahkan aku. Tunjukilah aku, serta mudahkanlah petunjuk kepadaku dan tolonglah aku terhadap orang yang menganiaya aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai sebagai orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, orang yang banyak mengingat-Mu, orang yang selalu taat kepada-Mu, orang yang selalu khusyu’ dan tawadhu’ kepada-Mu, orang yang selalu penghiba dan suka kembali-Mu (taubat). Ya Tuhanku terimalah taubatku, cucilah dosaku, tetapkanlah hujjahku, dan lepaskanlah kedengkian hajiku).”143 [5:12] Abu Hatim RA berkata, Muhammad bin Yahya bin Sa’id Abu Shalih144; Abu Ya’la tidak pernah menceritakan kepada kami darinya kecuali pada hadits ini.
سنن النسائي ٩٤٨: أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ الْمِقْسَمِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ فِي ص وَقَالَ سَجَدَهَا دَاوُدُ تَوْبَةً وَنَسْجُدُهَا شُكْرًا
Sunan Nasa'i 948: Telah mengabarkan kepada kami [Ibrahim bin Hasan Al Miqsami] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Hajaj bin Muhammad] dari [Umar bin Dzar] dari [Bapaknya] dari [Sa'id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas] bahwa: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah sujud ketika membaca surat Shaad, lalu beliau bersabda: "Nabi Daud bersujud dalam surat Shaad untuk taubat, sedangkan kita sujud untuk bersyukur."
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,
صحيح البخاري ١٠٥٣: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي مُسْلِمٍ عَنْ طَاوُسٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ قَالَ سُفْيَانُ وَزَادَ عَبْدُ الْكَرِيمِ أَبُو أُمَيَّةَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ سُفْيَانُ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي مُسْلِمٍ سَمِعَهُ مِنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Shahih Bukhari 1053: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Abu Muslim] dari [Thawus] bahwa dia mendengar Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila berdiri melaksanakan shalat malam, Beliau memulainya dengan membaca doa (istiftah: "Allahumma lakal hamdu. Anta qayyimus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu lakal mulkus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu anta malikus samaawaati wal ardli. Wa lakal hamdu antal haqq wa wa'dukal haqq wa liqaa-uka haqq wa qauluka haqq wal jannatu haqq wan naaru haqq wan nabiyyuuna haqq wa muhammadun shallallhu wa salam haqq was saa'atu haq. Allahumma laka aslamtu wa bika aamantu wa 'alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khashamtu wa ilaika haakamtu, faghfirlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a'lantu. Antal muqaddimu wa antal mu'akhiru laa ilaaha illaa anta" aw "laa ilaaha ghoiruka". (Ya Allah bagi-Mu lah segala pujian. Engkaulah Yang Maha Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu lah segala pujian, milikMu kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkau cahaya langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkaulah raja di langit dan di bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMulah segala puian, Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janjiMu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengaMu adalah benar, firmanMu benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan para nabiMu benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam benar dan hari qiyamat benar. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku bertawakal, kepada-Mu lah aku bertaubat (kembali), karena hujah yang Kau berikan kepadaku aku memusuhi siapapun yang menentang (syariat-Mu) dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah aku dari dosa yang lalu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan atau yang aku tampakkan. Engkaulah yang Awal dan yang Akhir dan tidak ada ilah yang berhaq disembah selain Engkau atau tidak ada ilah selainMu) Berkata Sufyan: Dan ditambahkan oleh ['Abdul Karim Abu Umayah]: "Wa laa haula wa laa quwwata illaa billah" (Tidak ada daya dan upaya kecuali Engkau). Berkata Sufyan dari [Sulaiman bin Abu Muslim] dia mendengarnya dari [Thawus] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
سنن الدارمي ١٠٦٠: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ سُئِلَ سُفْيَانُ أَيُجَامِعُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِذَا انْقَطَعَ عَنْهَا الدَّمُ قَبْلَ أَنْ تَغْتَسِلَ فَقَالَ لَا فَقِيلَ أَرَأَيْتَ إِنْ تَرَكَتْ الْغُسْلَ يَوْمَيْنِ أَوْ أَيَّامًا قَالَ تُسْتَتَابُ
Sunan Darimi 1060: Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] ia berkata: " [Sufyan] pernah ditanya, apakah seorang laki-laki boleh menggauli isterinya jika darah (haidnya) Telah berhenti sebelum ia mandi?", ia menjawab: "Tidak boleh", ditanyakan: "Bagaimana pendapatmu jika ia meninggalkan mandi dua atau beberapa hari?", ia menjawab: "Hendaknya ia segera diminta untuk bertaubat".
Grade
سنن النسائي ١٠٦٨: أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَالَ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا يَدْعُو عَلَى أُنَاسٍ مِنْ الْمُنَافِقِينَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ }
Sunan Nasa'i 1068: Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata: telah memberitakan kepada kami ['Abdurrazzaq] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Bapaknya] bahwa Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengangkat kepalanya dari ruku' terakhir pada shalat Subuh mengucapkan: "Ya Allah, laknatlah si Fulan dan si Fulan." Beliau mendoakan kejelekan kepada kalangan munafik, lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: {Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim} (Aali 'Imraan: 128).
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,