سنن الدارقطني ٨٣١: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ الْفَضْلِ الْكَاتِبُ , حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ , ثنا أَبُو عَاصِمٍ , نا عُثْمَانُ بْنُ سَعْدٍ الْقُرَشِيُّ , ثنا ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ , قَالَ: جَاءَتْ خَالَتِي فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ أَقَعَ فِي النَّارِ إِنِّي أَدَعُ الصَّلَاةَ سَنَتَيْنِ أَوْ سِنِينَ لَا أُصَلِّي , فَقَالَتِ: انْتَظِرِي حَتَّى يَجِيءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَجَاءَ فَقَالَتْ: هَذِهِ فَاطِمَةُ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا , فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قُولِي لَهَا فَلْتَدَعِ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ شَهْرٍ أَيَّامَ قُرْئِهَا ثُمَّ لِتَغْتَسِلْ فِي كُلِّ يَوْمٍ غُسْلًا وَاحِدًا ثُمَّ الطَّهُورُ بَعْدُ لِكُلِّ صَلَاةٍ , وَلْتُنَظِّفْ وَلْتَحْتَشِيَ فَإِنَّمَا هُوَ دَاءٌ عَرَضَ أَوْ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ أَوْ عِرْقٌ انْقَطَعَ»
Sunan Daruquthni 831: Muhammad bin Sahl bin Al Fadhl Al Katib menceritakan kepada kami, Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Utsman bin Sa'd Al Qurasyi mengabarkan kepada kami, Ibnu Abi Mulaikah menceritakan kepada kami, ia menuturkan, "Bibiku, yakni Fathimah binti Hubaisy, datang kepada Aisyah lalu berkata, 'Sungguh aku takut terjerumus ke dalam neraka. Aku telah meninggalkan shalat selama dua tahun -atau ia mengatakan: sudah beberapa tahun aku tidak melaksanakan shalat-.' Aisyah berkata, 'Tunggulah sampai Nabi SAW datang.' Lalu beliau datang, Aisyah pun berkata, 'Ini Fathimah, ia menceritakan demikian dan demikian.' Nabi SAW bersabda, 'Katakan kepadanya, hendaknya ia meninggalkan shalat setiap bulannya selama hari-hari haidnya (saja), kemudian (setelah itu berlalu) hendaknya ia mandi satu kali setiap hari, kemudian bersuci setiap kali hendak shalat, dan hendaknya ia membersihkan (darah) dan menyumbatnya, karena sesungguhnya itu adalah penyakit atau gangguan syetan atau urat darah yang terputus'."
Grade
صحيح ابن خزيمة ٨٣١: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ، ثنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ، وَالْمَرْأَةُ الْحَائِضُ»
Shahih Ibnu Khuzaimah 831: Abdullah bin Hisyam menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Jabir bin Yazid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anjing dan perempuan haid membatalkan shalat.”
سنن الدارقطني ٨٣٢: حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدٍ , ثنا أَبُو مَسْعُودٍ , ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ مُبَشِّرٍ , ثنا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ , قَالَا: نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ , عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ , قَالَتْ: سَأَلَتِ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَتْ: إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ , فَقَالَ: «لَا وَلَكِنْ دَعِي قَدْرَ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا ثُمَّ اغْتَسِلِي وَاسْتَثْفِرِي وَصَلِّي»
Sunan Daruquthni 832: Sunan Daruquthni 832: Abu Shalih Abdurrahman bin Sa'id menceritakan kepada kami, Abu Mas'ud menceritakan kepada kami {h} Ibnu Mubasysyir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Sinan menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi', dari Sulaiman bin Yasar, dari Ummu Salamah, ia menuturkan, "Seorang wanita bertanya kepada Nabi SAW, ia berkata, 'Sesungguhnya aku ini wanita yang mengalami istihadhah dan tidak pernah suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?' Beliau bersabda, 'Tidak. Akan tetapi, tinggalkanlah (shalat) selama hari-hari yang biasanya engkau haid, kemudian (setelah itu berlalu) mandilah dan sumbatlah (darahnya), lalu shalatlah.
Grade
سنن الدارمي ٨٣٢: أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زَكَرِيَّا قَالَ أَبُو مُحَمَّد هُوَ أَبُو سَعْدٍ الصَّغَّانِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ الرَّبِيعِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ أَدْنَى الْحَيْضِ ثَلَاثٌ
Sunan Darimi 832: Telah mengabarkan kepada kami [Al Hakam bin Al Mubarak] Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abu Zakaria] -Abu Muhammad berkata: Dia adalah Abu Sa'ad As Shaghani-, dari [Sufyan] dari [Ar Rabi'] dari [Al Hasan] ia berkata: "(Masa) haid terpendek adalah tiga hari".
Grade
سنن الدارمي ٨٣٣: أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ أَدْنَى الْحَيْضِ يَوْمٌ
Sunan Darimi 833: Telah mengabarkan kepada kami [Al Hakam bin Al Mubarak] telah mengabarkan kepada kami [Makhlad bin Yazid] dari [Ma'qil bin Ubaidullah] dari ['Atha`] ia berkata: "(Masa) haid terbanyak adalah sehari".
Grade
سنن الدارقطني ٨٣٣: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , عَنْ صَخْرِ بْنِ جُوَيْرِيَةَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ , أَنَّهُ حَدَّثَهُ رَجُلٌ , عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تُهَرَاقُ دَمًا لَا يَفْتُرُ عَنْهَا , فَسَأَلَتْ أُمُّ سَلَمَةَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: «لِتَنْظُرْ عَدَدَ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الَّتِي كَانَتْ تَحِيضُ قَبْلَ ذَلِكَ وَعَدَّدَهُنَّ فَلْتَتْرُكِ الصَّلَاةَ قَدْرَ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْتَغْتَسِلْ وَتَسْتَثْفِرْ بِثَوْبٍ وَتُصَلِّي»
Sunan Daruquthni 833: Ali bin Abdullah bin Mubasysyir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Sinan mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, dari Shakhr bin Juwairiyah, dari Nafi', dari Sulaiman bin Yasar, bahwa seorang laki-laki menyampaikan kepadanya, dari Ummu Salamah istri Nabi SAW: "Bahwa seorang wanita mengalami pendarahan yang tidak pernah berhenti, lalu Ummu Salamah bertanya kepada Nabi SAW, beliau pun bersabda, 'Hendaknya ia memperhatikan jumlah harihari yang biasanya ia mengalami haid sebelum itu (sebelum menderita istihadhah), lalu hendaklah ia meninggalkan shalat selama masa tersebut. Kemudian (setelah itu berlalu), bila datang waktu shalat, hendaklah ia mandi dan menyumbat (darah) dengan kain, lalu mengerjakan shalat."
Grade
صحيح ابن خزيمة ٨٣٣: ثناه أَبُو مُوسَى حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى، ثنا مَعْمَرٌ ح وَثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَنَّ مَالِكًا، حَدَّثَهُ ح وَحَدَّثَنَا يَعْقُوبُ الدَّوْرَقِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ مَالِكٍ، فِي خَبَرِ مَعْمَرٍ: «وَمَرَّتِ الْأَتَانُ بَيْنَ يَدَيِ النَّاسِ، فَلَمْ يَقْطَعْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةَ» وَفِي خَبَرِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مَالِكٍ: وَأَنَا عَلَى حِمَارٍ فَتَرَكْتُهُ بَيْنَ الصَّفِّ، وَدَخَلْتُ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمْ يَعِبْ عَلَيَّ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَلَيْسَ فِي هَذَا الْخَبَرِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَتَانَ تَمُرُّ، وَلَا تَرْتَعُ بَيْنَ يَدَيِ الصُّفُوفِ، وَلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْلِمَ بِذَلِكَ فَلَمْ يَأْمُرْ مَنْ مَرَّتِ الْأَتَانُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِعَادَةِ الصَّلَاةِ، وَالْخَبَرُ ثَابِتٌ صَحِيحٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْكَلْبَ الْأَسْوَدَ، وَالْمَرْأَةَ الْحَائِضَ، وَالْحِمَارَ، يَقْطَعُ الصَّلَاةَ وَمَا لَمْ يَثْبُتْ خَبَرٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضِدِّ ذَلِكَ لَمْ يَجُزِ الْقَوْلُ وَالْفُتْيَا بِخِلَافِ مَا ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Shahih Ibnu Khuzaimah 833: Abu Musa meriwayatkannya kepada kami, Abdul A’la menceritakan kepadaku, Ma’mar menceritakan kepada kami (Ha") Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami bahwa Malik meriwayatkan kepadanya (Ha') Ya’qub Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Malik di dalam hadits riwayat Ma’mar, (ia berkata), “Kedua keledai betina itu melintas di hadapan orang-orang dan tidak membatalkan shalat mereka.’’ Di dalam hadits riwayat Abdurrahman dari Malik, (ia berkata), “Sedangkan aku menunggang keledai lalu aku melepasnya di antara barisan shalat, kemudian aku ikut shalat dan beliau tidak mencelaku.” Abu Bakar berkata, “Di dalam hadits ini tidak terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa Nabi melihat keledai betina tersebut melintas atau merumput di antara barisan-barisan shalat dan Nabi juga tidak mengetahui perkara tersebut sehingga beliau tidak memerintahkan orang-orang yang dilintasi keledai untuk mengulang shalat. Maka hadits yang benar dan Nabi yaitu hadits yang menyebutkan bahwa anjing hitam dan perempuan yang haid serta keledai membatalkan shalat. Selama tidak ada hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang menetapkan sebaliknya maka tidak diperbolehkan berpendapat atau berfatwa dengan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.”
سنن الدارقطني ٨٣٤: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْحَارِثِ الْوَاسِطِيُّ , نا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ , أنا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْكَرْمَانِيُّ , أنا عَبْدُ الْمَلِكِ , عَنِ الْعَلَاءِ , قَالَ: سَمِعْتُ مَكْحُولًا , يَقُولُ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَكُونُ الْحَيْضُ لِلْجَارِيَةِ وَالثَّيِّبِ الَّتِي قَدْ أَيِسَتْ مِنَ الْحَيْضِ أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَلَا أَكْثَرَ مِنْ عَشَرَةِ أَيَّامٍ , فَإِذَا رَأَتِ الدَّمَ فَوْقَ عَشَرَةِ أَيَّامٍ فَهِيَ مُسْتَحَاضَةٌ فَمَا زَادَ عَلَى أَيَّامِ أَقْرَائِهَا قَضَتْ , وَدَمُ الْحَيْضِ أَسْوَدُ خَاثِرٌ تَعْلُوهُ حُمْرَةٌ , وَدَمُ الْمُسْتَحَاضَةِ أَصْفَرُ رَقِيقٌ فَإِنْ غَلَبَهَا فَلْتَحْتَشِي كُرْسُفًا , فَإِنْ غَلَبَهَا فَلْتُعْلِيهَا بِأُخْرَى , فَإِنْ غَلَبَهَا فِي الصَّلَاةِ فَلَا تَقْطَعِ الصَّلَاةَ وَإِنْ قَطَرَ». لَا يُثْبَتُ عَبْدُ الْمَلِكِ , وَالْعَلَاءُ ضَعِيفَانِ وَمَكْحُولٌ لَا يُثْبَتُ سَمَاعُهُ
Sunan Daruquthni 834: Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sulaiman bin Al Harits Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Amr bin Aun mengabarkan kepada kami, Hassan bin Ibrahim Al Kirmani memberitahukan kepada kami, Abdul Malik memberitahukan kepada kami, dari Al 'Ala\ ia mengatakan: Aku mendengar Makhul mengatakan, dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Haid tidak akan dialami oleh gadis perawan dan tidak pula wanita janda yang sudah menopause kurang dari tiga hari dan tidak lebih dari sepuluh hari. Bila wanita melihat darah lebih dari sepuluh hari, berarti ia mustahadhah, juga pendarahan yang melebihi jumlah hari-hari yang biasanya haid. Darah haid itu berwarna hitam gelap kemerah-merahan, sedangkan darah istihadhah agak pucat kekuning-kuningan. Jika terjadi pendarahan hendaknya menggunakan kapas, jika tidak teratasi maka hendaknya menggunakan cara lainnya (untuk menyumbat), dan bila masih tetap keluar ketika shalat, hendaknya tidak membatalkan shalat walaupun darah menetes" Hadits ini tidak valid. Abdul malik dan Al 'Ala' lemah, sementara mendengarnya Makhul juga tidak valid.
Grade
سنن الدارمي ٨٣٤: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيُّ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ إِذَا رَأَتْ الدَّمَ قَبْلَ حَيْضِهَا يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ فَهُوَ مِنْ الْحَيْضِ
Sunan Darimi 834: Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abdullah Ar Raqasyi] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah meneritakan kepada kami [Yunus] dari [Al Hasan] ia berkata: "Apabila seorang wanita melihat darah sebelum (masa haid biasanya) sehari atau dua hari, itu adalah adalah darah haid".
Grade
سنن الدارقطني ٨٣٥: حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السَّمَّاكِ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْهَيْثَمِ الْبَلَدِيُّ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ الْمِصِّيصِيُّ , ثنا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْكَرْمَانِيُّ , ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ , سَمِعْتُ الْعَلَاءَ , قَالَ: سَمِعْتُ مَكْحُولًا , يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَقَلُّ مَا يَكُونُ مِنَ الْحَيْضِ لِلْجَارِيَةِ الْبِكْرِ وَالثَّيِّبِ ثَلَاثٌ , وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُ مِنَ الْمَحِيضِ عَشَرَةُ أَيَّامٍ , فَإِذَا رَأَتِ الدَّمَ أَكْثَرَ مِنْ عَشَرَةِ أَيَّامٍ فَهِيَ مُسْتَحَاضَةٌ تَقْضِي مَا زَادَ عَلَى أَيَّامِ أَقْرَائِهَا , وَدَمُ الْحَيْضِ لَا يَكُونُ إِلَّا دَمًا أَسْوَدَ عَبِيطًا تَعْلُوهُ حُمْرَةٌ , وَدَمُ الْمُسْتَحَاضَةِ رَقِيقٌ تَعْلُوهُ صُفْرَةٌ , فَإِنْ كَثُرَ عَلَيْهَا فِي الصَّلَاةِ فَلْتَحْتَشِي كُرْسُفًا فَإِنْ ظَهْرَ الدَّمُ عَلَتْهَا بِأُخْرَى , فَإِنْ هُوَ غَلَبَهَا فِي الصَّلَاةِ فَلَا تَقْطَعِ الصَّلَاةَ وَإِنْ قَطَرَ , وَيَأْتِيهَا زَوْجُهَا وَتَصُومُ». وَعَبْدُ الْمَلِكِ هَذَا رَجُلٌ مَجْهُولٌ وَالْعَلَاءُ هُوَ ابْنُ كَثِيرٍ وَهُوَ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ وَمَكْحُولٌ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي أُمَامَةَ شَيْئًا
Sunan Daruquthni 835: Abu Amr Utsman bin Ahmad bin As-Sammak menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Al Haitsam Al Baladi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Mahdi Al Mishshishi menceritakan kepada kami, Hassan bin Ibrahim Al Kirmani menceritakan kepada kami, Abdul Malik menceritakan kepada kami: Aku mendengar Al 'Ala' mengatakan: Aku mendengar Makhul menyampaikan hadits dari Abu Umamah, ia mengatakan, "Rasulullah SAW bersabda, 'Masa haid paling sedikit yang dialami oleh gadis perawan dan wanita janda adalah tiga hari, dan masa haid paling lama adalah sepuluh hari. Bila wanita melihat darah lebih dari sepuluh hari, berarti ia mustahadhah, ia harus mengqadha (shalat yang ditinggalkan) pada masa yang melebihi hari-hari haidnya. Darah haid itu hanya berupa darah hitam gelap kemerah-merahan, sedangkan darah istihadhah agak pucat kekuning-kuningan. Jika terjadi pendarahan yang banyak ketika shalat, hendaklah menggunakan kapas, jika darah masih juga keluar, hendaknya menggunakan cara lainnya. jika masih juga keluar ketika shalat, maka hendaknya tidak memutuskan shalat walaupun darahnya menetes. Dan suaminya boleh menggaulinya, dan ia pun harus berpuasa (pada suci wajib puasa)." Abdul Malik di sini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui kredibilitasnya), sedangkan Al 'Ala' adalah Ibnu Katsir, ia lemah dalam periwayatan hadits, sementara Makhul sebenarnya tidak pernah mendengar apa pun dari Abu Umamah.
Grade