Hasil Pencarian: taubat 586 Hadits

Sunan Abu Dawud #472

سنن أبي داوود ٤٧٢: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ بِأَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ وَلَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ وَيَقُولُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ أَوْ يُحْدِثْ فِيهِ

Sunan Abu Daud 472: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari Al A'masy dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Pahala shalat seseorang dengan berjama'ah melebihi pahala shalatnya di rumah dan di pasar sebanyak dua puluh lima derajat. Hal tersebut, karena apabila seseorang di antara kalian berwudlu, lalu memperbagus wudlunya, kemudian pergi ke masjid semata-mata karena untuk mengerjakan shalat, dan kesempatan itu hanya dipergunakan untuk shalat, maka orang tersebut tidak melangkahkan satu langkah, kecuali setiap langkahnya itu diangkat baginya satu derajat, dan dihapus darinya satu dosa, sampai dia masuk ke dalam masjid. Apabila dia telah masuk masjid, maka dia dihitung dalam keadaan shalat selama tertahan karena shalat (tidak keluar dari masjid karena menunggu shalat), dan para malaikat akan bershalawat (memohonkan rahmat dan ampunan) kepada seseorang di antara kalian, selama dia tetap berada di tempat dia mengerjakan shalatnya, mereka (para malaikat) berdoa: Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia dan terimalah taubatnya. Para malaikat itu berdoa demikian selama orang itu tidak mengganggu orang lain di tempat itu atau berhadats."

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,

Sunan Tirmidzi #526

سنن الترمذي ٥٢٦: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي ص قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَلَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي ذَلِكَ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنْ يَسْجُدَ فِيهَا وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ و قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهَا تَوْبَةُ نَبِيٍّ وَلَمْ يَرَوْا السُّجُودَ فِيهَا

Sunan Tirmidzi 526: Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Umar] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Ayyub] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas] dia berkata: saya telah melihat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sujud tilawah pada surat Shad. Ibnu Abbas berkata: namun tidak termasuk dari ayat-ayat yang ditekankan untuk sujud. Abu 'Isa berkata: ini adalah hadits hasan shahih. Para ahlul ilmi telah berselisih pendapat dalam surat ini. sebagian ahlil ilmi dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam berpendapat adanya sujud tilawah dalam surat, ini juga merupakan pendapat Sufyan ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Dan sebagian dari mereka berpendapat itu merupakan taubatnya seorang nabi dengan berpendapat tidak adanya sujud tilawah dalam surat tersebut.

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,

Musnad Ahmad #571

مسند أحمد ٥٧١: حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ النَّرْسِيُّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مَسْلَمَةُ الرَّازِيُّ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْبَجَلِيِّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ الْمُفَتَّنَ التَّوَّابَ

Musnad Ahmad 571: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku [Abdul A'la Bin Hammad An Narsi] Telah menceritakan kepada kami [Daud Bin Abdurrahman] Telah menceritakan kepada kami [Abu Abdullah Maslamah Ar Razi] dari [Abu 'Amru Al Bajali] dari [Abdul Malik Bin Sufyan Ats Tsaqafi] dari [Abu Ja'far Muhammad Bin Ali] dari [Muhammad Bin Al Hanafiyah] dari [bapaknya], dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang mukmin yang terfitnah dan selalu bertaubat."

Grade

Shahih Ibnu Hibban #577

صحيح ابن حبان ٥٧٧: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ أَبِي زُمَيْلٍ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمَلِيحِ الرَّقِّيُّ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي مَرْزُوقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْخَوْلاَنِيِّ، قَالَ‏:‏ قُلْتُ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ‏:‏ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِغَيْرِ دُنْيَا أَرْجُو أَنْ أُصِيبَهَا مِنْكَ، وَلاَ قَرَابَةَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ، قَالَ‏:‏ فَلأَيِّ شَيْءٍ‏؟‏ قُلْتُ‏:‏ لِلَّهِ، قَالَ‏:‏ فَجَذَبَ حُبْوَتِي، ثُمَّ قَالَ‏:‏ أَبْشِرْ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمِ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ ثُمَّ، قَالَ‏:‏ فَخَرَجْتُ فَأَتَيْتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ، فَحَدَّثْتُهُ بِحَدِيثِ مُعَاذٍ فقَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى‏:‏ حُقَّتْ مَحَبَّتِي عَلَى الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي عَلَى الْمُتَنَاصِحِينَ فِيَّ، وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي عَلَى الْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي عَلَى الْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ، وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ بِمَكَانِهِمْ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ أَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلاَنِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ ثَوْبٍ، يَمَانِيٌّ، تَابِعِيٌّ، مِنْ أَفَاضِلِهِمْ وَأَخْيَارِهِمْ، وَهُوَ الَّذِي قَالَ لَهُ الْعَنْسِيُّ‏:‏ أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللهِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ لاَ، قَالَ‏:‏ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، فَأَمَرَ بِنَارٍ عَظِيمَةٍ، فَأُجِّجَتْ وَخَوَّفَهُ أَنْ يَقْذِفَهُ فِيهَا إِنْ لَمْ يُوَاتِهِ عَلَى مُرَادِهِ، فَأَبَى عَلَيْهِ، فَقَذَفَهُ فِيهَا، فَلَمْ تَضُرَّهُ فَاسْتَعْظَمَ ذَلِكَ، وَأَمَرَ بِإخْرَاجِهِ مِنَ الْيَمَنِ، فَأُخْرِجَ فَقَصَدَ الْمَدِينَةَ، فَلَقِيَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فَسَأَلَهُ مِنْ أَيْنَ أَقْبَلَ‏؟‏ فَأَخْبَرَهُ، فقَالَ لَهُ‏:‏ مَا فَعَلَ الْفَتَى الَّذِي أُحْرِقَ‏؟‏ فقَالَ‏:‏ لَمْ يَحْتَرِقْ، فَتَفَرَّسَ فِيهِ عُمَرُ أَنَّهُ هُوَ، فقَالَ‏:‏ أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ بِاللَّهِ، أَنْتَ أَبُو مُسْلِمٍ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، فَأَخَذَ بِيَدِهِ عُمَرُ حَتَّى ذَهَبَ بِهِ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَصَّ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ، فَسُرَّا بِذَلِكَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ‏:‏ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أُرَانَا فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ أُحْرِقَ فَلَمْ يَحْتَرِقْ، مِثْلَ إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏ وَقِيلَ‏:‏ إِنَّهُ كَانَ لَهُ امْرَأَةٌ صَبِيحَةُ الْوَجْهِ، فَأَفْسَدَتْهَا عَلَيْهِ جَارَةٌ لَهُ، فَدَعَا عَلَيْهَا، وَقَالَ‏:‏ اللَّهُمَّ أَعْمِ مَنْ أَفْسَدَ عَلَيَّ امْرَأَتِي‏.‏ فَبَيْنَمَا الْمَرْأَةُ تَتَعَشَّى مَعَ زَوْجِهَا إِذْ قَالَتِ‏:‏ انْطَفَأَ السِّرَاجُ‏؟‏ قَالَ زَوْجُهَا‏:‏ لاَ، فَقَالَتْ‏:‏ فَقَدْ عَمِيتُ، لاَ أُبْصِرُ شَيْئًا، فَأُخْبِرَتْ بِدَعْوَةِ أَبِي مُسْلِمٍ عَلَيْهَا، فَأَتَتْهُ فَقَالَتْ‏:‏ أَنَا قَدْ فَعَلْتُ بِامْرَأَتِكَ ذَلِكَ، وَأَنَا قَدْ غَرَّرْتُهَا وَقَدْ تُبْتُ، فَادْعُ اللَّهَ يَرُدُّ بَصَرِي إِلَيَّ، فَدَعَا اللَّهَ وَقَالَ‏:‏ اللَّهُمَّ رُدَّ بَصَرَهَا، فَرَدَّهُ إِلَيْهَا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 577: Abu Ya'la mengabarkan kepada kami, Makhalad bin Abu Zumail menceritakan kepada kami, Abui Malih Ar-Raqi menceritakan kepada kami, dari Hubaib bin Abu Marzuq, dari Atha’ bin Abu Rabah, dari Abu Muslim Al Khaulani, berkata, aku berkata kepada Muadz bin Jabal, “Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu bukan karena dunia yang aku harap untuk mendapatkannya darimu dan bukan karena kedekatan antara diriku dan dirimu,” maka ia bertanya, “Lalu atas dasar apa kamu mencintaiku?” aku menjawab, “Aku mencintaimu karena Allah,” maka ia menarik selendangku, kemudian berkata, “Berbahagialah jika memang kamu benar, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada di bawah naungan Arsy pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, para nabi dan para syuhada iri terhadap kedudukan mereka.” (perawi) berkata, “Kemudian aku keluar, lalu mendatangi Ubadah bin Ash-Shamit dan aku menyampaikan kepadanya mengenai hadits dari Mu’adz, maka Ubadah bin Ash-Shamit berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dengan hadits qudsi, “Allah SWT berfirman, ‘Kecintaanku berhak diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena- Ku, orang-orang yang saling menasihati karena-Ku, orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku, orang-orang yang saling memberi karena-Ku, dan mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, para nabi dan orang-orang yang jujur iri dengan kedudukan mereka.365Abu Hatim berkata, “Abu Muslim Al Khaulani adalah Abdullah bin Tsuwab, seorang tabi’in dari Yaman, termasuk pembesar tabi'in, Al Ansi366 pernah bertanya kepadanya, "Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, ia menjawab, “Tidak”, ia (Al Ansi) bertanya kembali, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?”, ia menjawab, “Ya”, maka ia menyuruh untuk membuat api yang besar, maka api itupun dinyalakan dan menakut- nakutinya bahwa ia akan dilempar ke dalamnya apabila ia tidak mengikuti apa yang ia inginkan, namun ia (Al Khaulani) tetap enggan untuk menuruti apa yang Al Ansi inginkan, maka Al Ansi melemparnya kc dalam api yang telah dinyalakan tersebut (namun api tersebut tidak melukainya), maka api pun semakin membesar. Kemudian Al Ansi memerintahkan untuk mengeluarkannya dari Yaman, maka ia keluar menuju Madinah, lalu bertemu dengan Umar bin Khaththab, ia (Umar) bertanya kepadanya dari mana ia datang, maka ia pun memberitahunya. Maka dia pun bertanya, “Apa yang terjadi dengan seorang pemuda yang dibakar?” ia menjawab, “la tidak terbakar.” Maka umar berfirasat bahwa orang yang dibakar tersebut adalah dirinya (Al Khaulani), kemudian berkata, “Aku bersumpah demi Allah, bahwa kamu adalah Abu Muslim?”, ia menjawab, “Ya”, maka Umar mengajaknya untuk bertemu dengan Abu Bakar, dan menceritakan kisah Al Khaulani, maka iapun senang dengan kisah tersebut, dan Abu Bakar berkata: “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memperlihatkan kepada umat ini, seseorang yang dibakar namun ia tidak terbakar, sebagaimana Ibrahim shallallahu 'alaihi wa sallam.” 367 Dikatakan bahwa ia mempunyai seorang istri cantik, kemudian budaknya merusak wajahnya, maka Al Khaulani berdo’a, “Ya Allah, butakanlah orang yang telah merusak wajah istriku.” Maka ketika ia sedang makan malam bersama suaminya, ia berkata, “Lampu padam”, suaminya berkata, “Tidak,” maka ia berkata, “Aku telah buta, aku tidak bisa melihat sesuatupun,” maka iapun diberi tahu tentang do’a Abu Muslim atasnya, maka ia berkata, “Aku telah melakukan hal itu terhadap istrimu, aku telah menipunya, namun aku telah bertaubat, maka berdo’alah kepada Allah SWT agar Dia mengembalikan penglihatanku,” maka iapun berdo’a kepada Allah SWT, “Ya Allah SWT, kembalikanlah penglihatannya,” maka Allah SWT pun mengembalikan penglihatannya. [1:2]

Shahih Ibnu Hibban #593

صحيح ابن حبان ٥٩٣: أَخْبَرَنَا ابْنُ سَلْمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ أَبِي هِلاَلٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيَّ حَدَّثَهُ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ قَالَ‏:‏ كَلِمَاتٌ لاَ يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ أَوْ مَجْلِسِ بَاطِلٍ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ إِلاَّ كَفَّرَتْهُنَّ عَنْهُ، وَلاَ يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ، إِلاَّ خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ‏:‏ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ‏.‏قَالَ عَمْرٌو‏:‏ حَدَّثَنِي بِنَحْوِ ذَلِكَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 593: Ibnu Salm mengabarkan kepada kami, ia berkata, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, ia berkata, Amr bin Al Harits mengabarkan kepadaku, bahwa Sa’id bin Abu Hilal menceritakan kepadanya, bahwa Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi menceritakan kepadanya, dari Abdullah bin Amru bahwasanya ia berkata, “Suatu kalimat yang tidaklah seseorang mengucapkannya ketika ia berdiri dari majlis laghwi (sendau gurau) ataupun batil sebanyak tiga kali, melainkan kalimat tadi akan mengapus kesalahan-kesalahannya, dan tidaklah ia mengucapkannya setelah majlis kebaikan dan majlis dzikir, melainkan majlis tersebut tadi akan ditutup dengan kalimat-kalimat tersebut atas orang tersebut, sebagaimana selembar kertas ditutup dengan cap; (kalimat tersebut yaitu) Subhanakkallahumma wa bihamdika, La Ilaha illa Anta, Astaghfiruka wa Atubu Ilaik (Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu). 384 Al Amru berkata, “Abdurrahman bin Abu Amru385 menceritakan kepadaku dengan cerita seperti itu, dari Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 386 [1:2]

Shahih Ibnu Hibban #594

صحيح ابن حبان ٥٩٤: أَخْبَرَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْجَنَدِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زِيَادٍ اللَّحْجِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو قُرَّةَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ‏:‏ مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ كَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، ثُمَّ قَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ‏:‏ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 594: Al Mufadhdhal bin Muhammad bin Ibrahim Al Janadi387 mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ali bin Ziyad Al-Lahji menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Qurrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraih, dari Musa bin Uqbah, dari Suhail bin Abu Shalih, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa duduk di suatu majlis yang di dalamnya terdapat senda gurau, kemudian ia berdo’a sebelum berdiri; Subhanakallahumma Rabbana bihamdika, La Ilaha illa Anta, Astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu), kecuali akan diampuni apa-apa yang terjadi dalam majlis tersebut.”388 [1:2]

Sunan Tirmidzi #598

سنن الترمذي ٥٩٨: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَال سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ } وَ { يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنْ الرِّوَايَاتِ مِنْ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتْ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الْآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَاهُنَا الْقُوَّةُ و قَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

Sunan Tirmidzi 598: Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin 'Ala'] telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami ['Abbad bin Manshur] telah menceritakan kepada kami [Al Qasim bin Muhammad] dia berkata: saya mendengar [Abu Hurairah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menerima sedekah dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk kalian sebagaimana kalian membesarkan anak kuda kalian, sampai-sampai sesuap makanan akan menjadi sebesar gunung Uhud." Dan pembenaran hal itu ada di dalam kitab Allah azza wa jalla: {Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat} (QS. At Taubah: 104). Dan: {Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah} (QS. Al Baqarah: 276) Abu 'Isa berkata: ini adalah hadits hasan shahih, telah diriwayatkan dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti hadits diatas. Para ulama telah memberi penjelasan tentang hadits diatas dan hadits-hadits lain yang memuat sifat-sifat Rabb dan NuzulNya setiap malam ke langit dunia, mereka berkata: riwayat-riwayat tersebut semuanya shahih dan wajib untuk diimani serta tidak boleh dipertanyakan bagaimana hakekat shifat tersebut. Diriwayatkan dari Malik bin Anas, Sufyan bin 'Uyainah, Abdullah bin Al Mubarak mereka semuanya berkata tentang sifat-sifat Allah, Imanilah sifat-sifat tersebut sebagaimana telah diriwayatkan tanpa mengatakan bagaimana hakekatnya, demikianlah perkataan para ulama Ahlus sunnah wal jama'ah. Adapun golongan Jahmiyyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat tersebut bahkan mengatakan bahwa menetapkan sifat untuk Allah merupakan tasybih (menyerupakan Allah dengan hambanya) kemudian mereka menta'wilkan ayat-ayat yang memuat shifat-shifat Allah seperti tangan, pendengaran, penglihatan dan menafsirkannya tidak seperti penafsiran para ulama, mereka berkata: Sesungguhnya Allah tidak menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan arti dari tangan ialah kekuatan. Ishaq bin Ibrahim berkata: Yang dinamakan dengan tasybih ialah jika dia mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluq, pendengaran Allah seperti pendengaran makhluq dan jika terbukti dia mengatakannya maka itu merupakan tasybih, adapun jika dia mengatakan sebagaimana Allah berfirman: bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran dan penglihatan tanpa menyatakan bagaimana hakekatnya serta tidak menyamakannya dengan sifat makhluq, maka hal ini tidak termasuk tasybih dan ini sesuai dengan firman Allah: {Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat}. (QS. Asy Syuraa: 11)

Grade

Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Dha'if,

Shahih Ibnu Hibban #612

صحيح ابن حبان ٦١٢: أَخْبَرَنَا ابْنُ نَاجِيَةَ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْتَامٍ، حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْحَرَّانِيُّ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ خَيْثَمَةَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ‏:‏ قِيلَ لَهُ‏:‏ أَنْتَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ النَّدَمُ تَوْبَةٌ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 612: Ibnu Najiyah Abdul Hamid bin Muhammad bin Mustam mengabarkan kepada kami, Makhlad bin Yazid Al Harrani menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Khaitsamah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Dikatakan kepadanya, "Apakah kamu mendengar sabda Rasulullah SAW: Penyesalan adalah taubat?, la menjawab, “Ya.” 406 [1:2]

Shahih Ibnu Hibban #613

صحيح ابن حبان ٦١٣: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا مَحْفُوظُ بْنُ أَبِي تَوْبَةَ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ السَّهْمِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ حُمَيْدًا الطَّوِيلَ، يَقُولُ‏:‏ قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ‏:‏ أَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ النَّدَمُ تَوْبَةٌ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 613: Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, Mahfuzh bin Abu Tsaubah menceritakan kepada kami, Utsman bin ShaJih As-Sahami menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Ayyub, ia berkata, aku mendengar Hamid Ath-Thawil berkata: Akn berkata kepada Anas bin Malik, Apakah Rasulullah bersabda, “Penyesalan itu adalah taubat?”. Ia menjawab, “Ya” 407 [1:2]

Shahih Ibnu Hibban #614

صحيح ابن حبان ٦١٤: أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ، أَخْبَرَنَا الْمُسَيَّبُ بْنُ وَاضِحٍ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ خَيْثَمَةَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ النَّدَمُ تَوْبَةٌ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 614: Abu Arubah mengabarkan kepada kami, Al Musayyab bin Wadhih mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Asbath menceritakan kepada kami, dari Malik bin Mighwal, dari Manshur, dari Khaitsamah, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Penyesalan itu adalah taubat.” 408 [ 1:2]