Hasil Pencarian: shalat berjamaah 39 Hadits

Shahih Ibnu Khuzaimah #1470

صحيح ابن خزيمة ١٤٧٠: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، نا عَبْدُ الْأَعْلَى، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمِيعِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ بِبِضْعٍ وَعِشْرِينَ صَلَاةً» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: " فَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بِضْعٍ» كَلِمَةٌ مُجْمَلَةٌ إِذِ الْبِضْعُ يَقَعُ عَلَى مَا بَيْنَ الثَّلَاثِ إِلَى الْعَشْرِ مِنَ الْعَدَدِ، وَبَيَّنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي خَبَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهَا تَفْضُلُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ، وَلَمْ يَقُلْ: لَا تَفْضُلُ إِلَّا بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ، وَأَعْلَمَ فِي خَبَرِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهَا تَفْضُلُ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً "

Shahih Ibnu Khuzaimah 1470: Ya'qub bin Ibrabim Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abdul A'la menceritakan kepada kami dari Daud bin Abu Hind, dari Sa'id bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Shalat seseorang dengan berjamaah lebih utama lebih dari dua puluh shalat dari shalatnya sendirian." Abu Bakar berkata, "Sabda beliau , 'Bid'un' adalah lafazh mujmal, sebab kalimat Bid' untuk bilangan antara tiga sampai sepuluh, dan beliau telah menjelaskan di dalam hadits bin Mas'ud bahwa shalat berjamaah mempunyai keutamaan dua puluh lima derajat dengan tidak mengatakan bahwa tidak diberikan keutamaan kecuali dua puluh lima derajat dan beliau juga telah menjelaskan di dalam hadits Ibnu Umar bahwa shalat berjamaah diberikan keutamaan dengan dua puluh tujuh derajat."

Shahih Ibnu Khuzaimah #1479

صحيح ابن خزيمة ١٤٧٩: نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، نا سُفْيَانُ، حَدَّثَنِي أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ فِتْيَانِي فَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَآمُرَ فِتْيَانًا فَيَتَخَلَّفُوا إِلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الصَّلَاةِ فَيُحَرِّقُونَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَلَوْ عَلِمَ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يُدْعَى إِلَى عَظْمٍ، إِلَى ثَرِيدٍ أَيْ لَأَجَابَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1479: Abdul Jabbar bin Al Ala' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Abu Az-Zinad menceritakan kepadaku dari Al A'raj, dari Abu Hurairah dan Ibnu Ajian serta lainnya, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sungguh aku sangat ingin memerintahkan beberapa orang pemuda untuk mendirikan shalat dan memerintahkan beberapa orang pemuda untuk mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjamaah, lalu membakar rumah-rumah mereka. Jika salah seorang di antara mereka diundang untuk makan daging dan bubur, pasti ia memenuhinya'."

Shahih Ibnu Khuzaimah #1482

صحيح ابن خزيمة ١٤٨٢: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، نا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، وَثنا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، نا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَالْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَإِنِّي لَأَهِمُّ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ، ثُمَّ آخُذُ حُزَمَ النَّارِ فَأُحَرِّقُ عَلَى أُنَاسٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الصَّلَاةِ بُيُوتَهُمْ» ، هَذَا حَدِيثُ ابْنِ نُمَيْرٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ قَالَ: «لَقَدْ هَمَمْتُ» ، وَقَالَ: «ثُمَّ آمُرُ رَجُلًا فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقُ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1482: Abdullah bin Sa'id Al Asyaj menceritakan kepada kami, Ibnu Numair menceritakan kepada kami dari Al A'masy, dan Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya shalat yang sangat berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya yang terakhir dan shalat Subuh, jika mereka mengetahui apa yang terdapat pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak dan sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat. Lalu didirikan dan aku memerintahkan seorang laki-laki mengimami shalat, lalu aku mengambil seikat kayu bakar kemudian membakar semua rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjamaah.' Ini adalah hadits Ibnu Numair. Di dalam hadits Abu Mu'awiyah. ia menyebutkan, "Sungguh aku sangat ingin." Dan menyebutkan, "Lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami shalat dengan orang-orang, lalu berangkat bersamaku orang-orang yang semuanya memegang seikat kayu bakar kepada kaum yang tidak mendatangi shalat berjamaah, kemudian aku membakar rumah-rumah mereka dengan api."

Shahih Ibnu Khuzaimah #1513

صحيح ابن خزيمة ١٥١٣: نا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ، عَنْ حَدِيثِ عَبَّادِ بْنِ زِيَادٍ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، أَخْبَرَهُ أَنَّ الْمُغِيرَةِ بْنَ شُعْبَةَ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ تَبُوكَ قَالَ الْمُغِيرَةُ: فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدَ النَّاسَ قَدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَصَلَّى لَهُمْ، فَأَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ، فَصَلَّى مَعَ النَّاسِ الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ، فَلَمَّا سَلَّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتِمُّ صَلَاتَهُ، فَأَفْزَعَ ذَلِكَ الْمُسْلِمِينَ، فَأَكْثَرُوا التَّسْبِيحَ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ ثُمَّ قَالَ: «أَحْسَنْتُمْ» ، - أَوْ قَالَ: «أَصَبْتُمْ» -، يَغْبِطُهُمْ أَنْ صَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «فِي الْخَبَرِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ إِذَا حَضَرَتْ وَكَانَ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ غَائِبًا عَنِ النَّاسِ أَوْ مُتَخَلِّفًا عَنْهُمْ فِي سَفَرٍ، فَجَائِزٌ لِلرَّعِيَّةِ أَنْ يُقَدِّمُوا رَجُلًا مِنْهُمْ يَؤُمُّهُمْ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حَسَّنَ فِعْلَ الْقَوْمِ أَوْ صَوَّبَهُ إِذْ صَلَّوَا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا بِتَقْدِيمِهِمْ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ لِيَؤُمَّهُمْ، وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِانْتِظَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَّا إِذَا كَانَ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ حَاضِرًا فَغَيْرُ جَائِزٍ أَنْ يَؤُمَّهُمْ أَحَدٌ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ زَجَرَ عَنْ أَنْ يُؤَمَّ السُّلْطَانُ بِغَيْرِ أَمْرِهِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1513: Muhammad bin Rafi' memberitakan kepada kami, Abdurrazzaq memberitakan kepada kami, Ibnu Juraij memberitakan kepada kami, Ibnu Syihab menceritakan kepada kami dari Ibad bin Ziyad bahwasanya Urwah bin Al Mughirah bin Syu'bah memberitakan kepadanya bahwasanya Al Mughirah bin Syu'bah (ayahnya) memberitakan kepadanya bahwa Suatu ketika Al Mughirah ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perang tabuk, kemudian aku pergi berangkat ke medan perang bersama beliau, hingga akhirnya kami bertemu dengan beberapa orang sahabat yang sedang melaksanakan shalat bersama Abdurrahman bin Auf. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ikut shalat jama'ah bersama mereka dan hanya mendapat satu rakaat yang terakhir. Ketika Abdurrahman memberikan salam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri kembali untuk menyempurnakan shalatnya yang tertinggal. Hal itu tentu membuat terkejut para sahabat yang lain. Meski demikian, mereka pun tetap larut dalam berzikir dan bertasbih. Saat usai melaksanakan shalatnya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam langsung menemui para sahabat seraya berkata: "Sungguh kalian telah melakukan perbuatan yang baik, yaitu karena mereka telah melaksanakan shalat berjamaah tepat pada waktunya." Abu Bakar berkata: "Dalam hadits ini ada petunjuk bahwasanya apabila telah datang waktu shalat, sementara imam besar tidak ada atau terlambat datang, maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk memilih dan menunjuk seseorang di antara mereka untuk menjadi imam. Hal itu disebabkan karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memuji tindakan para sahabat menunjuk Abdurrahman bin Auf untuk menjadi imam shalat mereka tepat pada waktunya, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak memerintahkan mereka untuk menunggu kedatangan beliau. Akan tetapi, manakala imam besar itu ada di antara kaum muslimin, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk menunjuk seseorang menjadi imam shalat mereka tanpa adanya izin dari imam besar. Hal itu disebabkan karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang seorang penguasa untuk menjadi imam shalat tanpa ada perintahnya.

Shahih Ibnu Khuzaimah #1536

صحيح ابن خزيمة ١٥٣٦: نا بُنْدَارٌ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا شُعْبَةُ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُخْتَارِ يُحَدِّثُ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: «أَنَّهُ كَانَ هُوَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمُّهُ وَخَالَتُهُ، فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ أَنَسًا عَنْ يَمِينِهِ، وَأُمَّهُ وَخَالَتَهُ خَلْفَهُمَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1536: Bundar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far memberitakan kepada kami, Syu'bah memberitakan kepada kami, "aku pernah mendengar Abdullah bin Mukhtar meriwayatkan hadits dari Musa bin Anas yang didengarnya langsung dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah, ia, ibu Anas bin Malik, dan bibinya sedang melaksanakan shalat berjamaah. Kemudian Rasulullah menempatkan Anas bin Malik di sebelah kanannya sedangkan ibu dan bibi berada di belakangnya."

Shahih Ibnu Khuzaimah #1539

صحيح ابن خزيمة ١٥٣٩: نا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْمُهَلَّبِيُّ، وَزِيدُ بْنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ قَالُوا: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، ثنا سَلَمَةُ بْنُ نُبَيْطٍ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ أَبِي هِنْدَ، عَنْ نُبَيْطِ بْنِ شَرِيطٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ؟» قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: «مُرُوا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ، وَمُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ» - فَذَكَرُوا الْحَدِيثَ، وَقَالُوا فِي الْحَدِيثِ - وَأَذَّنَ وَأَقَامَ، وَأَمَرُوا أَبَا بَكْرٍ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ؟» قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: " جِيئُونِي بِإِنْسَانٍ أَعْتَمِدُ عَلَيْهِ، فَجَاءُوا بِبَرِيرَةَ وَرَجُلٍ آخَرَ، فَاعْتَمَدَ عَلَيْهِمَا، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَأُجْلِسَ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ، فَذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ يَتَنَحَّى، فَأَمْسَكَهُ حَتَّى فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ ثُمَّ ذَكَرُوا الْحَدِيثَ وَهَذَا حَدِيثُ الْقَاسِمِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1539: Qasim bin Muhammad bin Ibad bin Ibad Al Mahlabi, Zaid bin Akhram Ath-Thai dan Muhammad bin Yahya Al Azdi memberitakan kepada kami, dan mereka berkata, Abdullah bin Daud menceritakan kepada kami, Salama bin Nabith menceritakan kepada kami, dari Nuaim bin Abi Hindun, dari Nubaith bin Syarith, dan dari Salim bin Ubaid bahwasanya ia berkata, "suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menderita sakit hingga jatuh pingsan, tak lama kemudian, beliau siuman kembali seraya bertanya, 'Apakah waktu shalat telah tiba?' aku menjawab, 'ya, waktu shalat telah tiba hai Rasulullah.' Kemudian beliau bersabda, 'Suruhlah Bilal untuk mengumandangkan adzan dan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat!' lalu mereka menceritakan hadits tersebut secara terperinci, 'selanjutnya Bilal mulai mengumandangkan adzan dan iqamah. Kemudian Abu Bakar dipersilahkan untuk menjadi imam shalat bagi kaum muslimin. Lalu Rasulullah mulai siuman dan berkata, 'apakah iqamat telah dikumandangkan?' aku menjawab, 'ya. Iqamat untuk shalat telah dikumandangkan hai Rasulullah.' kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Kalau begitu, tolong panggil seseorang untuk tempat aku bersandar!' kemudian para sahabat memanggil Barirah dan seorang sahabat lainnya untuk tempat bersandar Rasulullah. Lalu Rasulullah pergi menuju ke masjid untuk shalat berjamaah dan duduk tepat di samping Abu Bakar. Menyadari kehadiran Rasulullah, Abu Bakar segera menyingkir dari mihrab. Akan tetapi Rasulullah segera mencegahnya hingga shalat berakhir.' selanjutnya mereka menyebutkan hadits tersebut, 'ini adalah hadits qasim'."

Shahih Ibnu Hibban #1565

صحيح ابن حبان ١٥٦٥: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الدُّولاَبِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الأَسْوَدِ الْعَامِرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ‏:‏ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلاَةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ مِنْ مِنًى، فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ إِذَا رَجُلاَنِ فِي آخِرِ النَّاسِ لَمْ يُصَلِّيَا، فَأُتِيَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا، فَقَالَ‏:‏ مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنْا‏؟‏ قَالاَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا، قَالَ‏:‏ فَلاَ تَفْعَلاَ، إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا، ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ، فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ‏.‏قَالَ الشَّيْخُ‏:‏ قَوْلُهُ فَلاَ تَفْعَلاَ لَفْظَةُ زَجْرٍ مُرَادُهَا ابْتِدَاءُ أَمْرٍ مُسْتَأْنَفٍ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1565: Ahmad bin Ali bin Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Shabah Ad-Dulabi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Husyaim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ya’la bin Atha telah mengabarkan kepada kami sebuah hadits dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad Al Amiri dari ayahnya, ia berkata, “Aku telah menyaksikan hajinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku mengerjakan shalat Shubuh bersama beliau di Masjid Al Khaif di Mina. Pada saat beliau telah selesai shalat, beliau mendapatkan dua orang di belakang barisan jama’ah tidak ikut shalat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya kepada mereka, "Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut shalat bersama kami?". Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah mengerjakan shalat dalam peijalanan kami”. Beliau bersabda, "Janganlah kalian berdua berbuat demikian, bila kalian berdua telah mengerjakan shalat di perjalanan, kemudian kalian berdua mendatangi masjid yang sedang dilaksanakan shalat berjamaah, maka shalatlah kalian berdua bersama mereka, karena hal itu menjadi sunnah bagi kalian berdua”548 [8:2] Asy-Syaikh berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berdua berbuat demikian”, adalah lafazh sanggahan namun bertujuan perintah.

Shahih Ibnu Khuzaimah #1636

صحيح ابن خزيمة ١٦٣٦: نا أَبُو هَاشِمٍ زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ، وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَا: ثنا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ، ح وَثنا بُنْدَارٌ، نا مُحَمَّدٌ، ح وَحَدَّثَنَا الصَّنْعَانِيُّ، ثنا خَالِدٌ قَالَا: ثنا شُعْبَةُ، وَثنا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، وَشُعْبَةُ، وَشَرِيكٌ، ح وَثنا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، نا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، كُلُّهُمْ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ أَبِيهِ، وَقَالَ هُشَيْمٌ - وَهَذَا حَدِيثُهُ - قَالَ: ثنا جَابِرُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ الْعَامِرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ قَالَ: فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ يَعْنِي مَسْجِدَ مِنًى - فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ فِي آخِرِ الْقَوْمِ وَلَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ، فَقَالَ: «عَلَيَّ بِهِمَا» ، فَأُتِيَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا، فَقَالَ: «مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا؟» قَالَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا قَالَ: «فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ» . وَقَالَ بُنْدَارٌ: «فَأَتَيْتُمَا الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ» ، وَفِي حَدِيثِ وَكِيعٍ: «ثُمَّ جِئْتُمْ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ» . وَزَادَ الصَّنْعَانِيُّ: وَالنَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ، وَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1636: Abu Hasyim Ziyad bin Ayyub dan Ahmad bin Mani' memberitakan kepada kami dan berkata, "Husyaim memberitakan kepada kami, Ya'la bin 'Atha memberitakan kepada kami, Ha, Bundar memberitakan kepada kami, Muhammad memberitakan kepada kami, Ha, Ash-Shan'ani memberitakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami, dan berkata, 'Syu'bah memberitakan kepada kami, Ahmad bin Mani' memberitakan kepada kami, Yazid bin Harun memberitakan kepada kami, Hisyam bin Hasan memberitakan kepada kami, Syu'bah dan Syarik memberitakan kepada kami, Ha, Salm bin Junadah memberitakan kepada kami, Waki' memberitakan kepada kami, dari Sufyan,semuanya dari Ya'la bin 'Atha, dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad, dari bapaknya. Sementara itu, Husyaim pernah berkata, ini adalah haditsnya. Lalu Husyaim juga berkata, 'Jabir bin Yazid bin Al Aswad Al 'Amiri telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari bapaknya yang berkata, 'Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah haji. Kemudian kami melaksanakan shalat shubuh di masjid Al Khif, yaitu nama sebuah masjid di kota Mina. Usai melaksanakan ibadah shalat shubuh, tiba-tiba beliau melihat dua orang laki-laki dari rombongan lain yang belum melaksanakan shalat shubuh. Kemudian Rasulullah berkata, 'Aku harus mengingatkan kedua orang laki-laki itu' lalu beliau temui keduanya seraya berkata, 'Mengapa kamu tidak melaksanakan shalat berjama'ah bersama kami? kedua orang laki-laki menjawab, 'Wahai Rasulullah, tadi kami telah melaksanakan shalat shubuh di perjalanan. Lalu Rasulullah kembali berkata kepada keduanya, 'Sebaiknya jangan kalian ulangi lagi tindakan kalian itu. Apabila kalian berdua telah melaksanakan shalat di perjalanan, lalu kalian berdua melihat kaum muslimin tengah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, maka shalatlah kalian berdua bersama mereka, karena shalat kalian yang di perjalanan itu hukumnya menjadi sunnah'." Lalu Bundar berkata, "lalu kalian berdua menemui imam yang belum shalat..." Sementara dalam hadits Waki' disebutkan, "kemudian kalian tiba di masjid dan melihat kaum muslimin sedang melaksanakan shalat berjama'ah." Kemudian Ash-Shan'ani menambahkan, "selanjutnya kaum muslimin memegang tangan Rasulullah dan selanjutnya mengusap wajah mereka dengan tangan tersebut, maka ternyata tangannya itu lebih dingin daripada salju dan lebih wangi daripada minyak kasturi."

Shahih Ibnu Hibban #2064

صحيح ابن حبان ٢٠٦٤: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى، وَعَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَيَانٍ السُّكَّرِيُّ، قَالاَ‏:‏ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ فِي هَذَا الْخَبَرِ دَلِيلٌ أَنَّ أَمْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِتْيَانِ الْجَمَاعَاتِ أَمْرُ حَتْمٍ لاَ نَدْبٍ، إِذْ لَوْ كَانَ الْقَصْدُ فِي قَوْلِهِ‏:‏ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ يُرِيدُ بِهِ فِي الْفَضْلِ لَكَانَ الْمَعْذُورُ إِذَا صَلَّى وَحْدَهُ كَانَ لَهُ فَضْلُ الْجَمَاعَةِ، فَلَمَّا اسْتَحَالَ هَذَا وَبَطَلَ ثَبَتَ أَنَّ الأَمْرَ بِإِتْيَانِ الْجَمَاعَةِ أَمْرُ إِيجَابٍ لاَ نَدْبٍ‏.‏وَأَمَّا الْعُذْرُ الَّذِي يَكُونُ الْمُتَخَلِّفُ عَنْ إِتْيَانِ الْجَمَاعَاتِ بِهِ مَعْذُورًا، فَقَدْ تَتَبَّعْتُهُ فِي السُّنَنِ كُلِّهَا فَوَجَدْتُهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْعُذْرَ عَشْرَةُ أَشْيَاءَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2064: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada, kami, dia berkata: Zakariya bin Yahya dan Abdnl Hamid bin Bayan As-Sukkari menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Husyaim menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang mendengar adzan, tetapi tidak mendatanginya, maka shalatnya tidak sah, kecuali berhalangan."468 [1:6] Abu Hatim RA berkata: Khabar ini merupakan dalil bahwa perintah Nabi menunaikan shalat berjamaah adalah wajib, bukan sunah, karena apabila maksud sabda beliau “maka tidak sah shalatnya, kecuali berhalangan” adalah keutamaannya, maka orang yang berhalangan bila shalat sendirian akan mendapatkan keutamaan jamaah. Adapun halangan yang menyebabkan seseorang boleh meninggalkan shalat jamaah, saya telah menelitinya dalam seluruh Sunnah, dan saya temukan 10 halangan tersebut: (disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini—ed).

Shahih Ibnu Hibban #2397

صحيح ابن حبان ٢٣٩٧: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بِسْطَامٍ بِالْأُبُلَّةِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ‏:‏ دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ أَلاَ مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَلْيُصَلِّ مَعَهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2397: Al Husain bin Ahmad bin Bistham mengabarkan kepada kami di Ubullah, dia berkata: Abdullah bin Mu'awiyah Al Jumahi menceritakan kepada kami, dia berkata: Wuhaib261 bin Khalid menceritakan kepada kami dari Sulaiman An-Naji, dari Abu Al Mutawakkil, dari Abu Sa'id Al Khudri, dia berkata, "Seorang laki-laki masuk masjid, dan Rasulullah telah selesai melaksanakan shalat, maka berkatalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, hendaknya shalat berjamaah dengannya'."262 [97:2]