سنن الدارقطني ٣٤٠٦: نا أَبُو صَالِحٍ الْأَصْبَهَانِيُّ , نا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ , أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الصَّامِتِ ابْنَ عَمِّ أَبِي هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ , يَقُولُ: جَاءَ الْأَسْلَمِيُّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّهُ أَصَابَ امْرَأَةً حَرَامًا أَرْبَعَ مَرَّاتٍ , كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ , فَأَقْبَلَ فِي الْخَامِسَةِ فَقَالَ كَلِمَةً: «أَنِكْتَهَا؟» , قَالَ: نَعَمْ , قَالَ: «حَتَّى غَابَ [ص:268] ذَلِكَ مِنْهَا كَمَا يَغِيبُ الْمِرْوَدُ فِي الْمُكْحُلَةِ , وَالرِّشَاءُ فِي الْبِئْرِ؟» , قَالَ: نَعَمْ , قَالَ: «هَلْ تَدْرِي مَا الزِّنَى؟» , قَالَ: نَعَمْ أَتَيْتُ مِنْهَا حَرَامًا مَا يَأْتِي الرَّجُلُ مِنَ امْرَأَتِهِ حَلَالًا , قَالَ: «فَمَا تُرِيدُ بِهَذَا الْقَوْلِ؟» , قَالَ: «أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي» , فَأَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَ , فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِهِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: انْظُرْ إِلَى هَذَا الَّذِي سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَمْ تَدَعْهُ نَفْسُهُ حَتَّى رُجِمَ رَجْمَ الْكِلَابِ , فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ سَارَ سَاعَةً حَتَّى مَرَّ بِجِيفَةِ حِمَارٍ شَائِلٍ بِرِجْلِهِ , فَقَالَ: «أَيْنَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ» , قَالَا: نَحْنُ ذَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَالَ: «انْزِلَا فَكُلَا مِنْ جِيفَةِ هَذَا الْحِمَارِ» , قَالَا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَنْ يَأْكُلُ مِنْ هَذَا؟ , قَالَ: «مَا نِلْتُمَا مِنْ عِرْضِ أَخِيكُمَا آنِفًا أَشَدُّ مِنْ أَكْلِ الْمَيْتَةِ , وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الْآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيهَا»
Sunan Daruquthni 3406: Abu Shalih Al Ashbahani menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Abu Ar-Rabi' menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Abu Az-Zubair menceritakan kepadaku, bahwa Abdurrahman bin Ash-Shamit —anak paman Abu Hurairah— menceritakan kepadanya, dia mendengar Abu Hurairah berkata, "Ada seorang Aslami yang pernah datang menemui Rasulullah SAW dan mengaku telah melakukan perbuatan haram bersama seorang wanita. Kesaksian itu kemudian ia ungkapkan sebanyak empat kali. Namun semuanya ditolak Nabi SAW, barulah pada kali kelima Rasulullah mau mendengarnya. Beliau lalu bertanya kepadanya, "Apa engkau memeluknya? Ia menjawab, "Ya." Beliau lanjut berkata, "Sampai masuk seperti masuknya batang celak ke dalam botolnya atau seperti ember masuk ke sumur? Ia menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi, "Engkau tahu arti zina?" Ia menjawab, "Ya, aku melakukan perbuatan haram yang hanya halal bila dilakukan suami istri." Beliau bertanya lagi, "Lalu apa motivasimu menceritakan hal ini!" Ia menjawab, "Aku ingin Anda mensucikan diriku." Akhirnya Nabi SAW memerintahkan agar ia dirajam. Setelah itu beliau mendengar ada dua orang yang bercakap-cakap, "Lihatlah orang itu, Allah telah menutup aibnya, tapi ia tak membiarkan dirinya sehingga dirajam layaknya seekor anjing." Mendengar itu, Rasulullah SAW hanya diam sampai melewati bangkai seekor keledai. Beliau berkata, "Mana si fulan dan si fulan?" Mereka yang tadi bercakap menyahut, "Kami di sini ya Rasulullah." Beliau berkata kepada mereka berdua, "Turunlah dan makan daging bangkai keledai itu." Mereka berkata, "Ya Nabi Allah, ampunan dari Allah untuk Anda siapa yg mau makan itu?!" Beliau bersabda, "Apa yang kalian gunjingkan tadi tentang orang yang dirajam itu lebih buruk daripada makan bangkai. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh dia sekarang berada di sungai surga sedang mandi menyelam di dalamnya."
Grade
صحيح البخاري ٣٥١٤: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ }
Shahih Bukhari 3514: Telah bercerita kepada kami [Musaddad] telah bercerita kepada kami ['Abdullah bin Daud] dari [Fudlail bin Ghazwan] dari [Abu Hazim] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau datangi istri-istri beliau. Para istri beliau berkata: "Kami tidak punya apa-apa selain air." Maka kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang banyak: "Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?" Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata: "Aku". Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata: "Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ini." Istrinya berkata: "Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anakku." Sahabat Anshar itu berkata: "Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu!" Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka beliau berkata: "Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua." Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya: (Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung) (QS. Al-Hasyr: 9).
سنن الدارقطني ٣٦٦٢: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي عِيَاضُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , وَغَيْرُهُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ , قَالَ: «حَضَرْتُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَلَّقَهَا ثَلَاثَ تَطْلِيقَاتٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْفَذَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَكَانَ مِمَّا صَنَعَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَّةٌ فَمَضَتِ السُّنَّةُ بَعْدُ فِي الْمُتَلَاعِنَيْنِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا ثُمَّ لَا يَجْتَمِعَانِ أَبَدًا»
Sunan Daruquthni 3662: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A'la menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahab menceritakan kepada kami, Iyadh bin Abdullah dan lainnya mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Sahal bin Sa'd AsSa'idi, dia berkata, "Aku pernah menghadiri dua orang yang melakukan li‘an di masa Rasulullah SAW. Sang suami kemudian menjatuhkan talak tiga kepada istrinya dan Rasulullah SAW mengabulkannya, dan ia menjadi Sunnah dan berlakulah Sunnah antar suami istri yang melakukan li'an untuk dipisahkan dan tidak bisa bersatu lagi selamanya."
Grade
سنن الدارقطني ٣٧٣٦: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ , نا عُمَرُ بْنُ شِبْهٍ , نا عَبْدُ الْوَهَّابِ , نا أَيُّوبُ , عَنْ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَبِيدَةَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا} [النساء: 35] , قَالَ جَاءَ رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ , فَأَمَرَهُمْ فَبَعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا وَقَالَ لِلْحَكَمَيْنِ: «هَلْ تَدْرِيَانِ مَا عَلَيْكُمَا؟ , إِنَّ عَلَيْكُمَا إِنْ رَأَيْتُمَا أَنْ تُفَرِّقَا أَنْ تُفَرِّقَا» , فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ: رَضِيتُ بِكِتَابِ اللَّهِ بِمَا عَلَيَّ فِيهِ وَلِيَّ , وَقَالَ الرَّجُلُ: أَمَّا الْفُرْقَةُ فَلَا , فَقَالَ عَلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «كَذَبْتَ وَاللَّهِ حَتَّى تُقِرَّ بِمِثْلِ الَّذِي أَقَرَّتْ بِهِ»
Sunan Daruquthni 3736: Ibrahim bin Hammad menceritakan kepada kami, Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami dari Muhammad, dari Ubaidah tentang ayat berikut ini, "Jika kamu takut perselisihan antar keduanya (suami dan istri) maka utuslah seorang hakim dari kalangan suami dan satu lagi dari kalangan istri", (Qs. An-Nisaa' [4]: 35) dia berkata, "Ada seorang pria dan wanita (suami istri) datang kepada Ali RA dan masingmasing membawa rombongan. Ali kemudian memerintahkan mereka memilih satu orang untuk menjadi hakim dari keluarga si pria dan satu lagi dari keluarga si wanita. Ketika mereka sudah mengutus masing-masing satu, Ali berkata, 'Tahan dulu, sebelum aku memberitahu kalian apa yang harus kalian lakukan, apa kalian tahu yang harus dilakukan? Jika kalian menganggap mereka lebih baik bersatu maka putuskanlah agar mereka bersatu. Tapi jika kalian anggap lebih baik berpisah maka pisahkanlah.' Kemudian Ali berkata kepada pihak wanita, 'Apa kamu ridha terhadap keputusan mereka?' Ia menjawab, 'Ya, aku ridha terhadap Kitab Allah untukku maupun atasku.' Lalu ia berkata kepada pihak pria, 'Apa kamu ridha terhadap keputusan mereka?' Ia menjawab, 'Tidak, tapi aku ridha kalau mereka memutuskan untuk bersatu dan tidak ridha kalau berpisah.' Ali berkata kepadanya, 'Bohong kamu! Demi Allah, kamu tidak bisa bebas sebelum kamu ridha terhadap apa yang ia (istrimu) ridhai'."
Grade
سنن الدارقطني ٣٨٢٧: نا ابْنُ صَاعِدٍ , نا أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَخْزُومِيُّ , نا سُفْيَانُ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جُمْهَانَ مَوْلَى الْأَسْلَمِيِّ , عَنْ أُمِّ بَكْرَةَ الْأَسْلَمِيَّةِ , أَنَّهَا اخْتَلَعَتْ مِنْ زَوْجِهَا فِي زَمَانِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ , فَقَالَ عُثْمَانُ: «هِيَ تَطْلِيقَةٌ إِلَّا أَنْ يَكُونَا سَمَّيَا شَيْئًا فَهُوَ عَلَى مَا سَمَّيَاهُ»
Sunan Daruquthni 3827: Ibnu Sha'id menceritakan kepada kami, Abu Ubaidullah Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Jumhan maula Al Aslami, dari Ummu Bakarah Al Aslamiyah bahwa ia pernah meng-khulu' suaminya pada masa Utsman bin Affan dan Utsman berkata kepadanya, "Ia sama dengan talak, kecuali kalau keduanya (suami istri) mensyaratkan sesuatu, maka harus sesuai dengan yang mereka syaratkan itu."
Grade
صحيح مسلم ٣٩٩٦: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مِمَّا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعَثَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَعَهُ شَيْءٌ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسٍ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ نَحْوَ حَدِيثِ يَزِيدَ
Shahih Muslim 3996: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah]: Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun]: Telah mengabarkan kepada kami [Ibnu 'Aun] dari [Ibnu Sirin] dari [Anas bin Malik] ia berkata: Suatu ketika bayi milik Abu Thalhah jatuh sakit. Bayi tersebut kemudian meninggal tatkala Abu Thalhah sedang keluar rumah. Saat Abu Thalhah kembali kerumah dia bertanya kepada Ummu Sulaim: "Bagaimana keadaan anakku? Dia menjawab: "Aku lihat dia sekarang lebih tenang dari sebelumnya." Kemudian, seperti biasa, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuk suaminya. Selesai makan malam, keduanya tidur dan melakukan hubungan suami istri. Tak lama setelah itu, Ummu Sulaim mulai menceritakan keadaan anaknya yang sebenarnya, bahwa dia telah dikuburkan. Keesokan harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya menceritakan hal itu. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Apakah kalian sudah menjadi pengantin semalaman?" Abu Thalhah menjawab: "Ya." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan: "Ya Allah berkatilah mereka berdua." Ketika Ummu Sulaim melahirkan seorang anak, Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas): "Bawalah anak ini ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!" Maka anak itu aku bawa ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan beberapa buah kurma. Lalu beliau mengambil anak itu sambil bertanya: "Adakah sesuatu yang di bawa bersamanya?" Para sahabat menjawab: "Ya ini ada beberapa buah kurma." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil kurma itu dan langsung mengunyahnya. Setelah itu, beliau ambil kurma yang telah dikunyahnya itu dan memasukannya ke dalam mulut bayi tersebut, beliau menggerak-gerakan mulut bayi tersebut dan memberinya nama Abdullah. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar]: Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Mas'adah]: Telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Aun] dari [Muhammad] dari [Anas] dengan cerita ini sebagaimana Hadits Yazid.
سنن الدارقطني ٤٣٢٢: نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْحَرَّانِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ زُهَيْرٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو أُمَيَّةَ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْقَطَّامِيِّ , نا أَبُو الْمُهَزِّمِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَتْ: إِنَّ فُلَانًا تَزَوَّجَ وَقَدْ أَرْضَعْتُهُمَا , قَالَ: «فَكَيْفَ أَرْضَعْتِهِمَا؟» , قَالَتْ: أَرْضَعْتُ الْجَارِيَةَ وَهِيَ ابْنَةُ سَنَتَيْنِ وَنِصْفٍ , وَأَرْضَعْتُ الْغُلَامَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثِ سِنِينَ , فَقَالَ: «اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ فَلْيُضَاجِعْهَا هَنِيئًا مَرِيئًا وَلَا رَضَاعَ بَعْدَ الْفِطَامِ , وَإِنَّمَا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا فِي الْمَهْدِ». ابْنُ الْقَطَّامِيِّ ضَعِيفٌ
Sunan Daruquthni 4322: Muhammad bin Al Husain Al Harrani menceritakan kepada kami, Ahmad bin Yahya bin Zuhair menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Sa'id Abu Umayyah menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Al Quthami menceritakan kepada kami, Abu Al Muhazzim menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, "Sesungguhnya Fulan telah menikah, padahal dulu aku menyusui keduanya (suami istri tersebut)." Beliau bertanya, "Bagaimana engkau menyusui keduanya?" Dia menjawab, "Aku menyusui yang perempuan ketika dia berusia dua setengah tahun, dan aku menyusui yang laki-laki ketika dia berusia tiga tahun." Beliau pun bersabda, "Berangkatlah engkau, lalu katakan kepadanya, agar dia mencampurinya, tidak ada dosa maupun rintangan. Tidak dianggap penyusuan setelah disapih, karena sesungguhnya penyusuan itu selama dalam buaian. Ibnu Al Quthami adalah perawi dha‘if.
Grade
صحيح البخاري ٤٣٧٩: حَدَّثَنَا مُقَدَّمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَمِّي الْقَاسِمُ بْنُ يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ وَقَدْ سَمِعَ مِنْهُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا رَمَى امْرَأَتَهُ فَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَلَاعَنَا كَمَا قَالَ اللَّهُ ثُمَّ قَضَى بِالْوَلَدِ لِلْمَرْأَةِ وَفَرَّقَ بَيْنَ الْمُتَلَاعِنَيْنِ
Shahih Bukhari 4379: Telah menceritakan kepada kami [Muqaddam bin Muhammad bin Yahya] Telah menceritakan kepada kami pamanku [Al Qasim bin Yahya] dari ['Ubaidullah] -dia telah mendengar darinya- dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwa Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada seorang lelaki meli'an (menuduh) isterinya dan tidak mengakui janin yang dikandungnya adalah anaknya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan keduanya untuk saling mulaa'anah (saling bersumpah) sebagaimana firman Allah. Kemudian Rasulullah memutuskan anaknya milik sang istri dan memisahkan suami istri yang saling mulaa'anah.
مسند أحمد ٦٧٣٣: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ وَذَكَرَ عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَلَدِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ أَنَّهُ يَرِثُ أُمَّهُ وَتَرِثُهُ أُمُّهُ وَمَنْ قَفَاهَا بِهِ جُلِدَ ثَمَانِينَ وَمَنْ دَعَاهُ وَلَدَ زِنًا جُلِدَ ثَمَانِينَ
Musnad Ahmad 6733: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub], [bapakku] telah menceritakan kepada kami dari [Muhammad bin Ishaq] dia berkata: ['Amru bin Syu'aib] menyebutkan dari [bapaknya] dari [kakeknya], dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam menetapkan bahwa anak dari suami istri yang saling li'an (melaknat), maka anak tersebut akan mewarisi harta ibunya dan juga sebalikknya, dan barangsiapa menuduh ibunya berzina maka ia harus dijilid sebanyak delapan puluh kali, dan barangsiapa memanggil anaknya dengan anak zina maka ia juga harus dijilid delapan puluh kali."
Grade
مسند أحمد ٩٠٨٦: حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ يَعْنِي ابْنَ بَهْرَامَ قَالَ حَدَّثَنَا شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ بَيْنَمَا رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ لَهُ فِي السَّلَفِ الْخَالِي لَا يَقْدِرَانِ عَلَى شَيْءٍ فَجَاءَ الرَّجُلُ مِنْ سَفَرِهِ فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ جَائِعًا قَدْ أَصَابَتْهُ مَسْغَبَةٌ شَدِيدَةٌ فَقَالَ لِامْرَأَتِهِ أَعِنْدَكِ شَيْءٌ قَالَتْ نَعَمْ أَبْشِرْ أَتَاكَ رِزْقُ اللَّهِ فَاسْتَحَثَّهَا فَقَالَ وَيْحَكِ ابْتَغِي إِنْ كَانَ عِنْدَكِ شَيْءٌ قَالَتْ نَعَمْ هُنَيَّةً نَرْجُو رَحْمَةَ اللَّهِ حَتَّى إِذَا طَالَ عَلَيْهِ الطَّوَى قَالَ وَيْحَكِ قُومِي فَابْتَغِي إِنْ كَانَ عِنْدَكِ خُبْزٌ فَأْتِينِي بِهِ فَإِنِّي قَدْ بَلَغْتُ وَجَهِدْتُ فَقَالَتْ نَعَمْ الْآنَ يَنْضَجُ التَّنُّورُ فَلَا تَعْجَلْ فَلَمَّا أَنْ سَكَتَ عَنْهَا سَاعَةً وَتَحَيَّنَتْ أَيْضًا أَنْ يَقُولَ لَهَا قَالَتْ هِيَ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهَا لَوْ قُمْتُ فَنَظَرْتُ إِلَى تَنُّورِي فَقَامَتْ فَوَجَدَتْ تَنُّورَهَا مَلْآنَ جُنُوبَ الْغَنَمِ وَرَحْيَيْهَا تَطْحَنَانِ فَقَامَتْ إِلَى الرَّحَى فَنَفَضَتْهَا وَأَخْرَجَتْ مَا فِي تَنُّورِهَا مِنْ جُنُوبِ الْغَنَمِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَوَالَّذِي نَفْسُ أَبِي الْقَاسِمِ بِيَدِهِ عَنْ قَوْلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَخَذَتْ مَا فِي رَحْيَيْهَا وَلَمْ تَنْفُضْهَا لَطَحَنَتْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Musnad Ahmad 9086: Telah menceritakan kepada kami [Hasyim Ibnul Qasim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abdul Hamid] -yaitu Ibnu Bahram- berkata: telah menceritakan kepada kami [Syahr bin Hausyab] berkata: [Abu Hurairah] berkata: Pada zaman dahulu ada seorang suami istri yang tidak mampu, maka ketika sang suami pulang dari safar, ia menemui istrinya dalam keadaan sangat lapar, lalu ia berkata pada istrinya: "Apakah kamu memiliki sedikit makanan?" sang istri menjawab: "Tenanglah, akan datang rizki Allah kepadamu, " namun ia mendesak isterinya seraya berkata: "Celaka kamu, carilah jika memang kamu masih mempunyai sedikit makanan, " sang istri berkata: "Sebentar! kita berharap rahmat Allah akan datang, " hingga ketika sang suami sudah begitu lama menahan lapar yang menyerang, ia berkata: "Celaka kamu, bawakanlah aku makanan, karena aku sudah tidak kuat lagi dan hampir mati, " maka sang istri menjawab: "Iya, janganlah terburu-buru, sekarang panggang rotinya sedang menyala." Maka ketika suaminya diam beberapa saat, ia berbicara dalam hatinya, "Mungkin lebih baik jika aku melihat ke komporku (panggang roti), " lalu ia pun berdiri dan melihat panggang rotinya, namun tiba-tiba ia mendapatkan panggang rotinya telah penuh dengan rusuk kambing dan gilingannya dalam keadaan berputar membuat roti, maka iapun menuju gilingannya mengibas-ngibaskan seraya mengeluarkan rusuk-rusuk kambing dari tempatnya." Abu Hurairah berkata: "Demi Dzat yang jiwa Abul Qasim berada dalam genggaman-Nya, dari sabda Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, andai saja ia hanya mengambil roti dan tidak mengibas-ngibasnya, tentu gilingan itu akan memasakkan roti untuknya hingga hari kiamat."
Grade