المستدرك ٣٠٢: حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ الْجَوْهَرِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ سَلْمَانَ، ثنا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا أَبُو الْأَسْبَاطِ الْحَارِثِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَعَلَّمُوا أَنْسَابَكُمْ تَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ» . حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى الْحِيرِيُّ، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَحْيَى، يَقُولُ: أَبُو الْأَسْبَاطِ الْحَارِثِيُّ هُوَ بِشْرُ بْنُ رَافِعٍ
Al Mustadrak 302: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Balawaih menceritakan kepada kami, Abu Bakar Muhammad bin Syadzan Al Jauhari menceritakan kepada kami, Yusuf bin Salman menceritakan kepada kami, Hatim bin Ismail menceritakan kepada kami, Abu Al -Asbath Al Haritsi menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Kenalilah nasab-nasab kalian, sehingga kalian bisa menyambung tali kekerabatan." Ali bin Isa Al Hiyari menceritakan kepada kami, Al Husain bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata, ”Abu Al Asbath Al Haritsi adalah Bisyr bin Rafi'.”
سنن الدارمي ٣٥٩: أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ ثَابِتٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ هَارُونَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتَذَاكَرُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا أَظَلَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي بِهِ الْعِلْمَ سَهَّلَ اللَّهُ طَرِيقَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Sunan Darimi 359: Telah mengabarkan kepada kami [Bisyr bin Tsabit] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] dari [Yazid bin Abu Khalid] dari [Harun] dari [ayahnya] dari [Ibnu Abbas] radliallahu 'anhu ia berkata: "Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah (masjid), mereka mempelajari Al Qur`an dan mendiskusikannya diantara mereka, kecuali Malaikat menaungi mereka dengan sayapnya sehingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya menuju surga, dan barang siapa tidak beramal shalih, (di hari kiamat) nasabnya tidak dapat sedikitpun membawa manfaat".
Grade
صحيح ابن حبان ٥٧٣: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَالِحٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ، يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ، قِيلَ: مَنْ هُمْ لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِنُورِ اللهِ مِنْ غَيْرِ أَرْحَامٍ وَلاَ انْتِسَابٍ، وُجُوهُهُمْ نُورٌ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ، ثُمَّ قَرَأَ: {أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ}.
Shahih Ibnu Hibban 573: Ahmad bin Ah bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman bin Shalih Al Azdi menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari Umarah bin Al Qa’qa’ dari Abu Zur’ah, dari Abu Hmrairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang mereka itu bukan para nabi, namun para nabi dan para syuhada iri terhadap mereka”. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka?, semoga kami mencintai mereka,” beliau menjawab, “Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena nur Allah, bukan karena hubungan keturunan juga bukan karena nasab, wajah- wajah mereka merupakan cahaya di atas mimbar-mimbar cahaya, mereka tidak merasa takut ketika manusia merasa takut, dan mereka tidak merasa sedih ketika manusia merasa sedih." kemudian beliau membaca firman Allah SWT, “Ketahuilah, sesungguhnya kekasih Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka, juga tidak bersedih hati: (Qs. Yuunus [10]: 62) 361 [1:2]
صحيح ابن خزيمة ٥٨٧: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، نا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَطَاءٍ، وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ نَسَبُهُ إِلَى جَدِّهِ، عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا، فَذَكَرَ بَعْضَ الْحَدِيثِ، وَقَالَ: ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ» ، وَرَكَعَ، ثُمَّ اعْتَدَلَ وَلَمْ يَصُبَّ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْ، وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ هَوَى إِلَى الْأَرْضِ سَاجِدًا، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ» ، ثُمَّ تَجَافَى عَضُدَيْهِ عَنْ إِبْطَيْهِ، وَفَتَحَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ، ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَيْهَا، ثُمَّ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ في مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ هَوَى سَاجِدًا، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ» ، ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ وَقَعَدَ، وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ، ثُمَّ نَهَضَ، ثُمَّ صَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ، حَتَّى إِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، ثُمَّ صَنَعَ كَذَلِكَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا، ثُمَّ سَلَّمَ " قَالَ أَبُو بَكْرٍ: مُحَمَّدُ بْنُ عَطَاءٍ هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ نا بِهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ، أنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، وَهَكَذَا قَالَ: عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَطَاءٍ
Shahih Ibnu Khuzaimah 587: Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said Al Qaththan menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Atha' menceritakan kepadaku, —ia adalah Muhammad bin Amr bin Atha' Nasabnya sampai kepada kakeknya— dari Abu Humaid As-Sa’idi, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mendirikan shalat, beliau melakukan I'tidal dengan posisi berdiri." As-Sa'idi menyebutkan bagian hadits. Dan, ia berkata, “Kemudian Rasulullah mengucapkan 'Allahu akbar', ruku lalu i'tidal. Beliau menegakkan kepalanya dan tidak ditundukkan, serta meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya kemudian beliau mengucapkan samiallahu liman hamidah, lalu mengangkat kedua tangannya ber-i'tidal sampai setiap persendian kembali pada posisinya dalam keadaan i'tidal. Kemudian turun ke tanah dalam keadaan sujud, lalu mengucapkan Allahu akbar, kemudian merenggangkan kedua lengannya dari kedua ketiaknya, melebarkan jari-jari kedua kaki, membengkokkan kaki kirinya lalu mendudukinya kemudian i'tidal, sampai masing-masing persendian (tulang) kembali pada posisinya dalam keadaan i'tidal, lalu turun dalam keadaan sujud. Kemudian mengucapkan, Allahu akbar lalu membengkokkan kakinya dan mendudukinya serta melakukan i'tidal sampai masing-masing persendian kembali pada posisinya lalu bangun kemudian melakukan hal seperti itu pada rakaat kedua sehingga apabila ia bangun dari kedua sujud, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya sampai berada sejajar dengan kedua pundaknya sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya saat beliau memulai shalat. Beliau melakukan hal seperti itu sehingga apabila tiba pada rakaat di mana shalat akan selesai, beliau membelakangkan kaki kirinya dan menduduki sebagiannya dalam keadaan duduk tawaruk lalu mengucapkan salam. ” 737 Abu Bakar berkata, “Muhammad bin Atha’ adalah Muhammad bin Amr bin Atha' Abdurrahman bin Basyar bin Al Hakam mengabarkan dengan hadits, Yahya bin Said menceritakan kepada kami. Demikianlah ia mengatakan dari Muhammad bin Atha’.
سنن أبي داوود ٧٣٣: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ الضَّبِّيِّ قَالَ خَافَ مِنْ زِيَادٍ أَوْ ابْنِ زِيَادٍ فَأَتَى الْمَدِينَةَ فَلَقِيَ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فَنَسَبَنِي فَانْتَسَبْتُ لَهُ فَقَالَ يَا فَتَى أَلَا أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا قَالَ قُلْتُ بَلَى رَحِمَكَ اللَّهُ قَالَ يُونُسُ وَأَحْسَبُهُ ذَكَرَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي سَلِيطٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْمَعْنَى قَالَ ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ
Sunan Abu Daud 733: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami [Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Anas bin Hakim Adl Dlabbi] dia berkata: "Dia pernah takut kepada Ziyad atau Ibnu Ziyad kemudian pergi ke Madinah, di sana ia bertemu dengan Abu Hurairah, katanya: dia menasabkan aku kepadanya dan aku pun menyatakan nasab kepadanya." Abu Hurairah berkata: "Wahai anak muda, maukah kamu aku ceritakan suatu hadits?" kata Anas: kataku: "Ya, semoga Allah merahmati anda." Yunus berkata: "Aku kira dia menyebutkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali akan di hisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya, Rabb kita Jalla wa 'Azza berfirman kepada MalaikatNya -Dan Dia lebih mengetahui (amalan seseorang)-: "Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang? Sekiranya sempurna, maka catatlah baginya dengan sempurna, dan jika terdapat suatu kekurangan, Allah berfirman: "Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman: "Cukupkanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya." Selanjutnya semua amal manusia di hisab dengan cara demikian." Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Humaid] dari [Al Hasan] dari [seorang laki-laki dari Bani Salith] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti hadits di atas. Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Daud bin Abu Hind] dari [Zurarah bin Aufa] dari [Tamim Ad Dari] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan makna seperti ini, beliau bersabda: "Kemudian zakat, (di hisab) seperti itu juga, kemudian semua amalan di hisab seperti itu."
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : 1. Dha'if 864 2. Dha'if 865 3. Shahih 866,
صحيح ابن حبان ٧٦٨: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَحْمُودِ بْنِ عَدِيٍّ أَبُو عَمْرٍو بِنَسَا، قَالَ: أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَاضِرُ بْنُ الْمُوَرِّعِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا جَلَسَ قَوْمٌ فِي مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.
Shahih Ibnu Hibban 768: Muhammad bin Mahmud bin Adi Abu Amr di Nasa mengabarkan kepada kami, dia berkata: Humaid bin Zanjawaih mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mahadhar bin Al Muwarri’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Al A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu duduk di dalam salah satu masjid Allah, lalu mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat (Allah SWT) akan meliputi mereka, dan para malaikat akan mengelilingi mereka. Kemudian Allah akan menyebut (nama) mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang pengamalannya terhadap Kitabullah itu lambat, maka dia tidak akan cepat mendapatkan nasabnya (keberuntungannya)” 68 [1:2]
صحيح ابن خزيمة ٧٧٧: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَدَنِيُّ، حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: أَكُونُ فِي الصَّيْدِ وَلَيْسَ عَلَيَّ إِلَّا قَمِيصٌ وَاحِدٌ أَوْ جُبَّةٌ وَاحِدَةٌ فَأَزُرُّهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ وَلَوْ بِشَوْكَةٍ» قَالَ مَرَّةً: فَقَالَ: «زُرَّهُ وَلَوْ بِشَوْكَةٍ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ، هَكَذَا نَسَبَهُ عَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ، وَأَنَا أَظُنُّهُ ابْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ، أَبُوهُ إِبْرَاهِيمُ هُوَ الَّذِي ذَكَرَهُ شُرَحْبِيلُ بْنُ سَعْدٍ أَنَّهُ دَخَلَ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ ذَكَرَهُ
Shahih Ibnu Khuzaimah 777: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad Al Madani menceritakan kepada kami, Musa bin Ibrahim menceritakan kepadaku, dari Salamah bin Al Akwa', ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , “Aku katakan, 'Aku sedang berburu dan aku tidak memiliki pakaian kecuali satu pakaian kurung atau satu jubah, apakah aku harus memberikan kancing.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ya! Walaupun dengan duri’.” 929 Murrah berkata: ia berkata, “Kancingilah, walaupun dengan duri.” Abu Bakar berkata, “Musa bin Ibrahim adalah Ibnu Abdurrahman bin Abdullah bin Abu Rabiah. Demikianlah nasabnya pada Athaf bin Khalid. Aku mengira ia adalah Ibnu Ibrahim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar bin Abu Rabiah. Ayahnya adalah Ibrahim. Disebutkan oleh Syurahbil bin Sa'd bahwa ia dan Ibrahim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar bin Abu Rabi'ah menemui Jabir bin Abdullah mengenai hadits yang panjang yang ia sebutkan.
سنن الترمذي ٩٢٢: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ وَالْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِي الرَّبِيعِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَنْ يَدَعَهُنَّ النَّاسُ النِّيَاحَةُ وَالطَّعْنُ فِي الْأَحْسَابِ وَالْعَدْوَى أَجْرَبَ بَعِيرٌ فَأَجْرَبَ مِائَةَ بَعِيرٍ مَنْ أَجْرَبَ الْبَعِيرَ الْأَوَّلَ وَالْأَنْوَاءُ مُطِرْنَا بِنَوْءٍ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
Sunan Tirmidzi 922: Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Ghailan], telah menceritakan kepada kami [Abu Daud], telah memberitakan kepada kami [Syu'bah] dan [Al Mas'udi] dari ['Alqamah bin Martsad] dari [Abu Ar Rabi'] dari [Abu Hurairah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada empat perkara yang terdapat pada ummatku, semuanya termasuk perbuatan Jahiliyyah, dan orang-orang (umat manusia) sekali-kali tidak akan meninggalkannya: Meratapi orang yang mati, memperolok-olok nasab (keturunan) seseorang, berkeyakinan menularnya penyakit seperti seekor onta yang terkena cacar diyakini akan menular kepada seratus ekor lainnya (tidak menyakini Allahlah yang memberi penyakit), dan Anwa' yakni perkataan mereka yang menyebutkan bahwa kami diberi hujan oleh bintang ini dan bintang itu." Abu 'Isa berkata: "Ini merupakan hadits hasan."
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Hasan,
سنن الدارقطني ٩٧٩: حَدَّثَنَا بِهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الْوَرَّاقُ , ثنا أَبُو سَلَمَةَ , قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الْوَاحِدِ أَبَا الرَّمَّاحِ الْكِلَابِيَّ , ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ , وَأَذَّنَ مُؤَذِّنُهُ بِصَلَاةِ الْعَصْرِ فَكَأَنَّهُ عَجَّلَهَا , فَلَامَهُ قَالَ: وَيْحَكَ أَخْبَرَنِي أَبِي , وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يَأْمُرُهُمْ بِتَأْخِيرِ الْعَصْرِ». وَرَوَاهُ حِرْمِيُّ بْنُ عُمَارَةَ , عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ هَذَا , وَقَالَ: عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ نُفَيْعٍ خَالَفَ فِي نَسَبِهِ , وَهَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ مِنْ جِهَةِ عَبْدِ الْوَاحِدِ هَذَا , لِأَنَّهُ [ص:473] لَمْ يَرْوِهِ عَنِ ابْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ غَيْرُهُ , وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي اسْمِ ابْنِ رَافِعٍ هَذَا وَلَا يَصِحُّ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَافِعٍ وَلَا عَنْ غَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ , وَالصَّحِيحُ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ وَعَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضِدُّ هَذَا , وَهُوَ التَّعْجِيلُ بِصَلَاةِ الْعَصْرِ وَالتَّبْكِيرِ بِهَا فَأَمَّا الرِّوَايَةُ الصَّحِيحَةُ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ
Sunan Daruquthni 979: Isma'il bin Muhammad Ash-Shaffar menyampaikannya kepada kami, Muhammad bin Ali Al Warraq menceritakan kepada kami, Abu Salamah menceritakan kepada kami, ia mengatakan: Aku mendengar Abdul Wahid Abu Ar-Ramah Al Kilabi, Abdurrahman bin Rafi' bin Khadij menceritakan kepada kami, ketika muadzdzin mengumandangkan adzan shalat Ashar yang seolah-olah menyegerakannya, maka ia mencelanya dan mengatakan, "Kasian engkau. Ayahku memberitahuku, ia salah seorang sahabat Nabi SAW, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengakhirkan Ashar." Khabar ini diriwayatkan juga oleh Harami bin Umarah dari Abdul Wahid, dan ia mengatakan, "Abdul Wahid bin Nufai' berbeda nasabnya. Dan hadits ini isnadnya lemah karena adanya Abdul Wahid ini, karena tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibnu Rafi' bin Khadij selain dia. Di samping itu, ada perbedaan tentang nama Ibnu Rafi'. Dan tidak benar hadits ini dari Rafi' dan tidak pula dari sahabat lainnya. Yang benar adalah dari Rafi' bin Khadij dan lebih dari satu orang sahabat Nabi SAW selain ini (yang bertentangan dengannya), yaitu menyegerakan shalat Ashar dan bergegas dalam pelaksaannya. Adapun riwayat yang shahih dari Rafi' bin Khadij adalah:
Grade
سنن الترمذي ١٠٦٥: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ مِنْ الرَّضَاعِ مَا حَرَّمَ مِنْ النَّسَبِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأُمِّ حَبِيبَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَلِيٍّ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Sunan Tirmidzi 1065: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Mani'], telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ibrahim], telah menceritakan kepada kami [Ali bin Zaid] dari [Sa'id bin Musayyab] dari [Ali bin Abu Thalib] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah mengharamkan dari jalur persusuan sebagaimana pengharaman jalur nasab." Abu Isa berkata: "Hadits semakna diriwayatkan dari 'Aisyah, Ibnu Abbas dan Ummu Habibah." Dia berkata: "Hadits Ali merupakan hadits hasan sahih."
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,