سنن الدارمي ٢٨٨: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ عَنْ الْخَلِيلِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ قَالَ كُنْتُ فِي حَلْقَةٍ فِيهَا الْمَشْيَخَةُ وَهُمْ يَتَرَاجَعُونَ فِيهِمْ عَائِذُ بْنُ عَمْرٍو فَقَالَ شَابٌّ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ أَفِيضُوا فِي ذِكْرِ اللَّهِ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ فَنَظَرَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فِي أَيِّ شَيْءٍ رَآنَا ثُمَّ قَالَ بَعْضُهُمْ مَنْ أَمَرَكَ بِهَذَا فَمُرْ لَئِنْ عُدْتَ لَنَفْعَلَنَّ وَلَنَفْعَلَنَّ
Sunan Darimi 288: Telah mengabarkan kepada kami [Sa'id bin 'Amir] dari [Al Khalil bin Murrah] dari [Mu'awiyah bin Qurrah] ia berkata: "Aku pernah berada dalam satu halaqah yang diikutsertai para syaikh sedang mereka melangsungkan diskusi. Diantara mereka 'A`idz bin 'Amr. Lalu berkatalah seorang pemuda: 'Perbanyaklah dalam berdzikir, semoga kalian diberkahi! ', Orang-orang saling melihat satu sama lainnya sambil berkomentar: ' memangnya dia itu melihat kita sedang apa? ', kemudian sebagian dari mereka berkata: 'Siapakah yang memerintah dirimu untuk ngomong seperti itu?, tolong berdiri, jika kamu ulangi maka niscaya kami akan mengerjaimu dan kami akan mengerjaimu' ".
Grade
صحيح ابن خزيمة ٢٩٣: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ، وَنا بَهْزٌ يَعْنِي ابْنَ أَسَدٍ الْعَمِّيَّ، نا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ، نا إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ عَمِّهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدًا فِي الْمَسْجِدِ وَأَصْحَابُهُ مَعَهُ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ، فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: مَهْ مَهْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: «لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ» ، ثُمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذَا الْمَسْجِدَ لَا يَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنَ الْقَذَرِ وَالْبَوْلِ - أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِنَّمَا هُوَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَذِكْرِ اللَّهِ، وَالصَّلَاةِ» ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ مِنَ الْقَوْمِ: «قُمْ فَأْتِنَا بِدَلْوٍ مِنَ الْمَاءِ فَشُنَّهُ عَلَيْهِ» فَأَتَى بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ
Shahih Ibnu Khuzaimah 293: Abdullah bin Hasyim mengabarkan kepada kami, Bahz mengabarkan kepada kami —yaitu Ibnu Asad Al Ammi— Ikrimah bin Ammar mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah mengabarkan kepada kami, dari pamannya, Anas bin Malik, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di masjid, sementara para sahabat bersamanya. Tiba-tiba ada seorang Arab Badui membuang air seni di masjid. Para sahabat berkata: "Hai! Hai!" Nabi berkata kepada para sahabatnya: "Janganlah kalian menghardiknya, biarkanlah!" Kemudian beliau memanggilnya, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk kotoran dan air seni —atau sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam— Sesungguhnya masjid untuk membaca Al Qur'an, berdzikir kepada Allah dan melaksanakan Shalat". (43-ba’) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang dari kaum: "Bangunlah dan ambilkan kami seember air lalu siramlah". Lalu ia mengambil seember air kemudian menyiramkannya. 409
سنن ابن ماجه ٢٩٨: حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْبَهِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Sunan Ibnu Majah 298: Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Zakaria bin Abu Za`idah] dari [Bapaknya] dari [Khalid bin Salamah] dari [Abdullah Al Bahi] dari [Urwah] dari [Aisyah] berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) kepada Allah 'azza wajalla disetiap saat."
Grade
Abu Thahir Zubair 'Ali Zai : Shahih,
المستدرك ٣٠٩: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو صَخْرٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَنْ جَاءَ مَسْجِدَنَا هَذَا يَتَعَلَّمُ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ هَذَا كَانَ كَالرَّجُلِ يَرَى الشَّيْءَ يُعْجِبُهُ وَلَيْسَ لَهُ وَرُبَّمَا قَالَ: يَرَى الْمُصَلِّينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ، وَيَرَى الذَّاكِرِينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ "
Al Mustadrak 309: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Abu Shakhr mengabarkan kepada kami dari Sa'id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Barangsiapa mendatangi masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa datang untuk selain tujuan ini, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang membuatnya kagum tapi bukan miliknya." Terkadang beliau bersabda, ”Seperti orang yang melihat orang-orang sedang shalat, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka (tidak ikut shalat). (Juga) seperti orang yang melihat orang- orang yang sedang berdzikir, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka"
مسند الشافعي ٣٤٧: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، قَالَ نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ. قَالَ: ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ [ص:78] رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ. فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ» . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ فِي مَقَامِكَ شَيْئًا، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ كَأَنَّكَ تَكَعْكَعْتَ. قَالَ: «إِنِّي رَأَيْتُ، أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ، أَوْ أُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءُ» . قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بِكُفْرِهِنَّ» . قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ "
Musnad Syafi'i 347: Malik mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari Atha' bin Yasar, dari Abdullah bin Abbas , ia mengatakan: Matahari mengalami gerhana, maka Rasulullah shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri dalam waktu yang cukup lama, sama lamanya dengan membaca surah Al Baqarah. Kemudian beliau ruku cukup lama, lalu mengangkat kepala (dari ruku) dan berdiri dalam waktu yang cukup lama pula, tetapi tidak selama berdiri yang pertama tadi. Kemudian beliau ruku lagi dalam waktu yang cukup lama, tetapi tidak selama ruku yang pertama. Kemudian beliau sujud. Setelah itu beliau berdiri lagi dalam waktu yang cukup lama, tetapi tidak selama yang pertama; lalu ruku dalam waktu, yang cukup lama, tetapi tidak selama yang pertama. Kemudian beliau mengangkat (kepala dari ruku)j lalu berdiri dalam waktu yang cukup lama, tetapi tidak selama yang pertama. Setelah itu beliau ruku lagi dalam waktu yang cukup lama, tetapi tidak selama yang pertama. Setelah itu sujud, kemudian salam, sedangkan matahari telah terang kembali. Setelah itu beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena matinya seseorang, tidak pula karena hidupnya. Apabila kalian melihat hal tersebut, berdzikirlah kepada Allah” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami melihatmu mengambil sesuatu pada tempatmu, kemudian kami melihatmu seakan-akan mundur.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku melihat atau diperlihatkan kepadaku surga, maka aku berupaya untuk meraih setangkai anggur darinya. Seandainya aku dapat memetiknya, niscaya kalian akan memakan sebagian darinya selama dunia masih ada. Aku melihat atau diperlihatkan kepadaku neraka, maka aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang mengerikan seperti hari ini, dan aku melihat penghuninya kebanyakan kaum wanita.” Mereka bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena mereka kafir (ingkar).” Lalu ditanyakan, “Apakah mereka kafir terhadap Allah?” Nabi menjawab, “Mereka kafir (ingkar) terhadap suami dan ingkar terhadap kebajikannya. Seandainya engkau berbuat baik kepada seseorang dari mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak disukainya) ada pada dirimu, niscaya ia akan mengatakan, Aku belum pernah melihat suatu kebaikan pun pada dirimu.'. ” 353
صحيح ابن خزيمة ٣٥٨: نا بُنْدَارٌ، نا يَحْيَى، أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ أَخْفَاهَا لَا تَعْلَمُ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ «قَالَ لَنَا بُنْدَارٌ مَرَّةً» امْرَأَةٌ ذَاتُ حَسَبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي قَالَ أَبُو بَكْرٍ: هَذِهِ اللَّفْظَةُ لَا تَعْلَمُ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ قَدْ خُولِفَ فِيهَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ فَقَالَ: مَنْ رَوَى هَذَا الْخَبَرَ غَيْرُ يَحْيَى، لَا يَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا يُنْفِقُ يَمِينُهُ
Shahih Ibnu Khuzaimah 358: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Umar mengabarkan kepada kami, Khubaib bin Abdurrahaman menceritakan kepadaku dari Hafsh bin Ashim dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari di mana tidak ada perlindungan yang lain kecuali perlindungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang giat dalam beribadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, laki- laki yang diminta oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah', laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya, di mana tangan kanannya tidak mengetahui apa yang telah di infakkan oleh tangan kirinya serta laki-laki yang berdzikir kepada Allah di saat sunyi lalu air matanya berlinang" 477 Bundar berkata kepada kami sekali lagi, “Wanita yang memiliki keturunan yang bagus dan kecantikan lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku...’.” Abu Bakar berkata, “Redaksi ini, 'kanan tidak mengetahui apa yang dinfakkan oleh tangan kiri' adalah yang membedakan hadits riwayat Yahya bin Said. Sementara ulama yang meriwayatkan hadits selain dari Yahya, 'Tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya.”
صحيح ابن حبان ٣٦١: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ الشَّيْبَانِيُّ، وَالْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْقَطَّانُ بِالرَّقَّةِ، وَابْنُ قُتَيْبَةَ، وَاللَّفْظُ لِلْحَسَنِ، قَالُوا: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هِشَامِ بْنِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى الْغَسَّانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ جَدِّي، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَالِسٌ وَحْدَهُ، قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّ لِلْمَسْجِدِ تَحِيَّةً، وَإِنَّ تَحِيَّتَهُ رَكْعَتَانِ، فَقُمْ فَارْكَعْهُمَا، قَالَ: فَقُمْتُ فَرَكَعْتُهُمَا، ثُمَّ عُدْتُ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَنِي بِالصَّلاَةِ، فَمَا الصَّلاَةُ؟ قَالَ: خَيْرُ مَوْضُوعٍ، اسْتَكْثِرْ أَوِ اسْتَقِلَّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْمَلُ إِيمَانًا؟ قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَسْلَمُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: طُولُ الْقُنُوتِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ هَجَرَ السَّيِّئَاتِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا الصِّيَامُ؟ قَالَ: فَرْضٌ مُجْزِئٌ، وَعِنْدَ اللهِ أَضْعَافٌ كَثِيرَةٌ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جَهْدُ الْمُقِلِّ يُسَرُّ إِلَى فَقِيرٍ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: آيَةُ الْكُرْسِيِّ ثُمَّ، قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلاَةِ عَلَى الْحَلْقَةِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ الأَنْبِيَاءُ؟ قَالَ: مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ: ثَلاَثُ مِائَةٍ وَثَلاَثَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ كَانَ أَوَّلُهُمْ؟ قَالَ: آدَمُ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَبِيٌّ مُرْسَلٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، خَلَقَهُ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ، وَكَلَّمَهُ قِبَلاً ثُمَّ، قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ أَرْبَعَةٌ سُرْيَانِيُّونَ: آدَمُ، وَشِيثُ، وَأَخْنُوخُ وَهُوَ إِدْرِيسُ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ خَطَّ بِالْقَلَمِ، وَنُوحٌ وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ: هُودٌ، وَشُعَيْبٌ، وَصَالِحٌ، وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمْ كِتَابًا أَنْزَلَهُ اللَّهُ؟ قَالَ: مِائَةُ كِتَابٍ، وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ، أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلاَثُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْقُرْآنُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا كَانَتْ صَحِيفَةُ إِبْرَاهِيمَ؟ قَالَ: كَانَتْ أَمْثَالاً كُلُّهَا: أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى الْمَغْرُورُ، إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنِّي لاَ أَرُدُّهَا وَلَوْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ تَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ: سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ، وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيهَا فِي صُنْعِ اللهِ، وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لاَ يَكُونَ ظَاعِنًا إِلاَّ لِثَلاَثٍ: تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ، أَوْ مَرَمَّةٍ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ مُحَرَّمٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ بَصِيرًا بِزَمَانِهِ، مُقْبِلاً عَلَى شَأْنِهِ، حَافِظًا لِلِسَانِهِ، وَمَنْ حَسَبَ كَلاَمَهُ مِنْ عَمَلِهِ، قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيمَا يَعْنِيهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا كَانَتْ صُحُفُ مُوسَى؟ قَالَ: كَانَتْ عِبَرًا كُلُّهَا: عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ، ثُمَّ هُوَ يَفْرَحُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ، ثُمَّ هُوَ يَضْحَكُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ هُوَ يَنْصَبُ، عَجِبْتُ لِمَنْ رَأَى الدُّنْيَا وَتَقَلُّبَهَا بِأَهْلِهَا، ثُمَّ اطْمَأَنَّ إِلَيْهَا، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ غَدًا ثُمَّ لاَ يَعْمَلُ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي، قَالَ: أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهُ رَأْسُ الأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ: عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ، وَذِكْرِ اللهِ، فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ فِي الأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي: قَالَ: إِيَّاكَ وَكَثْرَةَ الضَّحِكِ، فَإِنَّهُ يُمِيتُ الْقَلْبَ، وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشَّيْطَانِ عَنْكَ، وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أَمْرِ دِينِكَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ: عَلَيْكَ بِالْجِهَادِ، فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ أُمَّتِي قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ: أَحِبَّ الْمَسَاكِينَ وَجَالِسْهُمْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ: انْظُرْ إِلَى مَنْ تَحْتَكَ وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى مَنْ فَوْقَكَ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تُزْدَرَى نِعْمَةُ اللهِ عِنْدَكَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ: قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ: لِيَرُدَّكَ عَنِ النَّاسِ مَا تَعْرِفُ مِنْ نَفْسِكَ وَلاَ تَجِدْ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي، وَكَفَى بِكَ عَيْبًا أَنْ تَعْرِفَ مِنَ النَّاسِ مَا تَجْهَلُ مِنْ نَفْسِكَ، أَوْ تَجِدَ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى صَدْرِي، فقَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ لاَ عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلاَ وَرَعَ كَالْكَفِّ، وَلاَ حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ. قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيُّ هَذَا، هُوَ عَائِذُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وُلِدَ عَامَ حُنَيْنٍ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَاتَ بِالشَّامِ سَنَةَ ثَمَانِينَ وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى الْغَسَّانِيُّ مِنْ كِنْدَةَ، مِنْ أَهْلِ دِمَشْقَ، مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الشَّامِ وَقُرَّائِهِمْ، سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيَّ، وَهُوَ ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَمَوْلِدُهُ يَوْمَ رَاهِطَ، فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ بْنِ يَزِيدَ، سَنَةَ أَرْبَعٍ وَسِتِّينَ، وَوَلاَّهُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَضَاءَ الْمَوْصِلِ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، وَأَهْلَ الْحِجَازِ، فَلَمْ يَزَلْ عَلَى الْقَضَاءِ بِهَا حَتَّى وَلِيَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْخِلاَفَةَ، فَأَقَرَّهُ عَلَى الْحُكْمِ فَلَمْ يَزَلْ عَلَيْهَا أَيَّامَهُ، وَعُمِّرَ حَتَّى مَاتَ بِدِمَشْقَ سَنَةَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ وَمِائَةٍ.
Shahih Ibnu Hibban 361: Al Hasan bin Sufyan Asy-Syaibani dan Al Husain bin Abdullah Al Qathan, serta Ibnu Qutaibah mengabarkan kepada kami —di Riqqah (Syiria Utara -ed) adapun lafazhnya dari Al Hasan— mereka berkata, Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepada kami, dari kakeknya, dari Abu Idris Al Khaulani, dari Abu Dzar, ia berkata, Suatu ketika aku masuk ke dalam masjid dan menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk sendirian. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya masjid itu mempunyai penghormatan. Dan penghormatan masjid itu adalah berupa shalat dua rakaat. Maka shalat (tahiyyatul masjid) lah." Abu Dzar berkata, Maka aku melakukan shalat tahiyyatul masjid. Setelah selesai, aku kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan duduk di hadapannya. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Sungguh engkau telah memerintahkanku untuk shalat, shalat apakah itu? Beliau menjawab, “(shalat untuk menghormati) sebaik-baiknya tempat. Perbanyak (shalat) lah kamu atau sedikitkanlah.” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Jihad di Jalan-Nya. Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya? Beliau menjawab, " Orang yang paling baik akhlaknya." Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin yang paling selamat? Beliau menjawab, “Orang yang memberikan keselamatan kepada manusia dari lisan dan tangannya. ” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Shalat apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “(shalat) yang lama berdiri, berdoa dan memohonnya." Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hijrah seperti apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Orang yang hijrah dari perbuatan jelek menuju perbuatan baik. Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah S A W, apakah puasa itu? Beliau menjawab, “(Puasa) adalah kewajiban yang mencukupkan. Dan di sisi Allah pelipatgandaan (pahala) yang banyak." Abu Dzar berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah S A W, jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Orang yang kuda tunggangannya terluka karena sayatan pedang dan darahnya mengalir (berperang di Jalan Allah SWT kemudian tewas). Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, shadaqah apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Kesungguhan orang yang punya sedikit harta di dalam menyenangkan orang faqir." Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah yang paling agung, yang pernah Allah SWT turunkan kepada engkau? Beliau menjawab: “Ayat Kursi." Lalu beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidaklah ada langit tujuh berserta Kursi itu kecuali seperti lingkaran yang terdapat di padang pasir. Dan keutamaan ‘Arsy atas Kursi itu adalah seperti keutamaan padang pasir atas lingkaran." Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada berapakah jumlah nabi seluruhnya? Beliau menjawab, “Seratus dua puluh ribu nabi. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari jumlah itu, ada berapakah jumlah rasul? Beliau menjawab, “Jumlahnya banyak, yaitu: Tiga ratus tiga belas rasul.” Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah rasul pertama?” Beliau menjawab, “Adam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah seorang nabi itu juga diutus? Beliau menjawab, “Iya, mereka juga diutus untuk umatnya. Allah SWT menciptakannya dengan kekuasaan-Nya, lalu Allah SWT tiupkan kepadanya dari Ruh-Nya, kemudian Allah SWT berbicara dengannya secara berhadapan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, empat diantara para rasul berbahasa Suryani, mereka adalah Adam, Syits, Akhnukh (Ia adalah Idris, dan orang yang pertama kali menulis dengan pena), dan Nuh. Sedangkan empat darinya adalah Arab, mereka adalah Hud, Syu ’aib, Shalih, dan nabimu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ada berapa kitab suci yang pernah Allah SWT turunkan? Beliau menjawab, " Seratus kitab (berupa shahifah), dan empat kitab suci. Allah SWT turunkan kepada Syits lima puluh shahifah, kepada Akhnukh (Idris) tiga puluh shahifah, kepada Ibrahim sepuluh shahifah, kepada Musa sebelum turunnya Kitab Suci Taurat sepuluh shahifah. Kemudian Allah SWT turunkan Kitab Suci Taurat, Injil, Zabur, dan Al Qur'an.” Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa isi Shahifah Ibrahim? Beliau menjawab, “Shahifah Ibrahim berisikan ketauladanan. Isinya sebagai berikut, “Wahai raja yang berkuasa, yang akan hancur, yang terperdaya (dengan dunia), sungguh Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan seluruh isi dunia, akan tetapi Aku mengutusmu agar kamu tidak menolak doa orang yang teraniaya, karena sungguh doa orang yang teraniaya tidak akan Aku tolak sekalipun itu dari doanya orang kafir. (Aku mengutusmu ) atas orang yang berakal selama ia tidak dikuasai oleh akalnya sendiri, akan terjadi padanya beberapa saat, “Saat dimana ia bermunajat kepada Tuhannya, saat dimana ia bermuhasabah terhadap dirinya, saat dimana ia berfikir tentang ciptaan Allah SWT, dan saat dimana ia tidak mempunyai hajat berupa makanan dan minuman. Dan bagi orang yang berakal, tidak akan melakukan perjalanan kecuali telah siap tiga hal, yaitu bekal untuk kembali, harta (yang ditinggal) di rumah80 untuk keluarga yang dinafkahi, atau (mencari) kelezatan pada perkara yang tidak di haramkan. Orang yang berakal adalah orang yang melihat (keadaan) zamannya, yang menerima keadaannya, yang menjaga lisannya, dan bila dihitung (antara) pembicaraan dan perbuatannya, maka bicaranya lebih sedikit, hanya bicara seperlunya." Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa isi Shahifah Musa? Beliau menjawab, "Shahifah Musa berisikan peringatan-peringatan. Isinya sebagai berikut: “Aku heran terhadap orang yang yakin akan datangnya kematian, kemudian ia masih saja bergembira (berfoya-foya). Aku heran terhadap orang yang yakin adanya neraka, kemudian ia masih saja tertawa-tawa. Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap takdir, kemudian ia masih saja mengejar-ngejar kedudukan. Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap adanya Hisab di akhirat, kemudian dia masih saja tidak beramal. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berikanlah aku taushiyah.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya taqwa adalah inti semua perkara. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkanlah lagi taushiyah untukku. Beliau bersabda, “Bacalah Al Qur'an, berdzikirlah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya hal itu menjadi cahaya untukmu di bumi, dan menjadi bekalmu di akhirat. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Hindarilah banyak tertawa, karena sesungguhnya hal itu dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Diamlah kamu kecuali dari (pembicaraan) yang baik, karena sesungguhnya hal itu dapat mengusir syetan darimu, dan menjadi penolong atas perkara agamamu. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Berjihadlah, karena sesungguhnya hal itu adalah ketaatan umatku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cintailah orang miskin, dan duduklah (temanilah) bersama mereka. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “(Dalam urusan dunia) Lihatlah orang yang di bawahmu dan jangan lihat orang yang di atasmu. Karena sesungguhnya hal itu lebih pantas agar nikmat Allah SWT tidak diremehkan. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku. Beliau bersabda, “Berkatalah yang benar, walaupun itu pahit.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cukuplah denganmu aib yang kamu ketahui dari manusia berupa aib yang kamu tidak ketahui dari dirimu, atau kamu temukan atas mereka pada sesuatu yang kamu kerjakan. ” Kemudian beliau memukulkan tangannya atas dadaku, lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidak ada akal seperti akal yang dipergunakan untuk berfikir. Dan tidak ada sifat wara ’ seperti menahan diri (dari larangan). Dan tidak ada kehormatan diri seperti kehormatan yang timbul dari budi pekerti yang baik” 81 Abu Hatim RA berkata, “Abu Idris Al Khaulani yang di maksud adalah ‘Aidzullah bin Abdullah. Ia lahir pada tahun hunain pada masa hidupnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan wafat di Syam tahun 80. Yahya bin Yahya Al Ghassani berasal dari Kindah, termasuk penduduk Damaskus. Ia juga termasuk ahli fiqih negeri Syam. Ia mendengar Hadits dari Abu Idris Al Khaulani, saat berumur 15 tahun. Kelahirannya antara tanggal 1-3, pada masa Mu’awiyah bin Yazid tahun 64. Sulaiman bin Malik mengangkatnya sebagai ketua Mahkamah Mosul. Ia belajar dari Sa’id bin Al Musayyab dan penduduk Hijaz. Kedudukannya di Mahkamah Mosul lalu berlangsung hingga diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Oleh Umar bin Abdul Aziz, ia masih tetap dipercaya memegang jabatannya, hingga ia wafat pada tahun 133 di Damaskus. [1:2]
سنن الدارمي ٣٧٩: أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ بَلَغَنِي أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ كَانَ يَقُولُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ لَا تَعَلَّمْ الْعِلْمَ لِتُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِتُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ تُرَائِيَ بِهِ فِي الْمَجَالِسِ وَلَا تَتْرُكْ الْعِلْمَ زُهْدًا فِيهِ وَرَغْبَةً فِي الْجَهَالَةِ يَا بُنَيَّ اخْتَرْ الْمَجَالِسَ عَلَى عَيْنِكَ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَاجْلِسْ مَعَهُمْ فَإِنَّكَ إِنْ تَكُنْ عَالِمًا يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ جَاهِلًا يُعَلِّمُوكَ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِرَحْمَتِهِ فَيُصِيبَكَ بِهَا مَعَهُمْ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَلَا تَجْلِسْ مَعَهُمْ فَإِنَّكَ إِنْ تَكُنْ عَالِمًا لَا يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ جَاهِلًا زَادُوكَ غَيًّا وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِعَذَابٍ فَيُصِيبَكَ مَعَهُمْ
Sunan Darimi 379: Telah mengabarkan kepada kami [Al Hakam bin Nafi'] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Ibnu Abu Hasan] dari [Syahr bin Hausyab] berkata: Telah sampai kepadaku Lukman Al Hakim berkata kepada anaknya: wahai anakku, janganlah anda mempelajari ilmu untuk menandingi para ulama, atau untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang bodoh atau untuk berbuat riya dalam majlis-majlis, dan janganlah kamu meninggalkan ilmu karena alasan tidak selera dan senang dalam kebodohan. Wahai anakku, pilihlah majlis-majilis yang kau pandang baik oleh matamu, jika kamu melihat suatu kaum berdzikir kepada Allah, duduklah bersama mereka, sesungguhnya jika engkau menjadi seorang alim, ilmumu memberi manfaat kepadamu dan jika kamu menjadi orang bodoh, mereka akan mengajarimu, dan semoga Allah membuka rahmatNya untuk mereka sehingga rahmat itu akan turut diberikan kepadamu sekaligus orang-orang yang bersamamu. Dan jika kamu melihat suatu kaum yang tidak berdzikir kepada Allah, janganlah duduk bersama mereka, karena jika kamu seorang alim, ilmumu tidak memberi manfaat kepadamu, dan jika kamu seorang yang bodoh, mereka tidak menambah kepadamu kecuali kebodohan. Siapa tahu Allah menimpakan adzab atas mereka, dan adzab itu menimpamu bersama mereka ".
Grade
سنن الدارمي ٣٨٣: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ شَابُورَ سَمِعَ شَهْرَ بْنَ حَوْشَبٍ يَقُولُ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ لَا تَعَلَّمْ الْعِلْمَ لِتُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ تُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَتُرَائِيَ بِهِ فِي الْمَجَالِسِ وَلَا تَتْرُكْ الْعِلْمَ زَهَادَةً فِيهِ وَرَغْبَةً فِي الْجَهَالَةِ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَاجْلِسْ مَعَهُمْ إِنْ تَكُنْ عَالِمًا يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ جَاهِلًا عَلَّمُوكَ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِرَحْمَتِهِ فَيُصِيبَكَ بِهَا مَعَهُمْ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَلَا تَجْلِسْ مَعَهُمْ إِنْ تَكُنْ عَالِمًا لَمْ يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ جَاهِلًا زَادُوكَ غَيًّا أَوْ عِيًّا وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِسَخَطٍ فَيُصِيبَكَ بِهِ مَعَهُمْ
Sunan Darimi 383: Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Daud bin Syabur] ia mendengar [Syahr bin Hausyab] berkata: " Luqman berkata kepada anaknya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempelajari ilmu untuk menandingi para ulama, atau untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang bodoh atau untuk berbuat riya dalam majlis-majlis, dan janganlah kamu meninggalkan ilmu karena tidak selera terhadapnya(malas belajar) dan senang dalam kebodohan. Jika kamu melihat suatu kaum berdzikir kepada Allah, duduklah bersama mereka, sebab Jikalah engkau menjadi seorang alim, ilmumu akan memberi manfaat kepadamu dan jika kamu menjadi orang bodoh mereka akan mengajarimu, siapa tahu Allah membukakan rahmatNya untuk mereka sehingga kamu juga memperolehnya bersama mereka. Sebaliknya jika kamu melihat suatu kaum yang tidak berdzikir kepada Allah, janganlah duduk bersama mereka, karena jika kamu seorang alim, ilmumu tidak akan memberi manfaat, dan jika kamu seorang yang bodoh, mereka tidak menambah kepadamu kecuali kebodohan. Siapa tahu Allah menimpakan murka-Nya, sehingga murka-Nya juga menimpamu bersama mereka' ".
Grade
موطأ مالك ٣٨٣: و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
Muwatha' Malik 383: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setan mengikat bagian belakang kepala salah seorang dari kalian ketika dia tidur dengan tiga ikatan. Dalam setiap ikatan, dia hendak membuat malam menjadi panjang. Setan berkata 'Tidurlah! ' Jika salah seorang dari kalian bangun, kemudian berdzikir kepada Allah maka terlepas satu ikatannya. Jika (salah seorang dari kalian) berwudlu, maka terlepaslah satu ikatan lagi. Jika shalat maka terlepas satu ikatan lagi, hingga pada pagi hari dalam keadaan giat serta tenang jiwanya, namun jika tidak seperti itu, niscaya dia pada pagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas."